KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 27


__ADS_3

Malvino, Andara dan Sandrina pun segera masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi ke rumah sakit jiwa yang sudah di tunjukan Mbok Darmi sebelumnya.


Mobil mereka melaju membelah jalanan raya yang sudah di padati cukup banyak kendaraan berlalu lalang. Keadaan makin bertambah ramai di sekitar saat banyak orang-orang mulai beraktifitas.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit jiwa. Setelah menepikan mobil di depan area Rumah Sakit, mereka pun segera turun dan memasuki lobi.


Tanpa mengalami kesulitan, Malvino pun langsung mendapatkan informasi tentang keberadaan Sinta yang sudah lama mengidap gangguan mental dan masih di rawat di sana.


Seorang suster mengantarkan mereka menuju sebua ruang isolasi dimana Sinta di rawat.


Sebuah ruangan yang cukup sepi dan sedikit terlihat menyeramkan. Sandrina nampak ketakutan saat melihat beberapa orang yang terkena gangguan mental berada di sekelilingnya saat melewati beberapa koridor.


Krieeet,


Derit suara pintu kamar di buka oleh suster yang mengantar mereka. Pemandangan yang tak nyaman di lihat saat mereka mulai memasuki sebuah kamar dengan satu meja kecil di sudut ruangan dan sebuah ranjang besi dengan kasur beralaskan sprei putih yang tampak kusut.


Di atas tempat tidur itu nampak seorang wanita tengah memandang ke luar jendela seakan kedatangan orang-orang itu tak membuatnya merasa terusik. Dia tetap memandang keluar tak pedulikan siapa yang masuk ke kamarnya.


Rambut wanita itu terlihat gimbal, dengan menggunakan pakaian khusus orang gila yang mengikat kedua tangannya. Dia Sinta Ibu kandung dari Kaliya. Andara yakin tak salah orang apalagi saat Sinta mulai menoleh ketika bahunya di tepuk oleh Suster yang mengantar mereka. Garis wajah wanita itu masih dapat Andara kenali, sama persis dengan yang ia lihat dalam foto yang terpajang di rumah bekas pembunuhan.


Mata Sinta yang semula menatap hampa kini mulai berkeliaran dan melebarkan kelopak tatkala netranya tertuju pada sebuah boneka yang berada dalam genggaman Sandrina.


Melotot, membelalak membuat wajah wanita bernama Sinta makin terlihat menyeramkan. Sandrina pun sampai bersembunyi di balik tubuh kedua orang tuanya dengan memeluk boneka Kaliya.


" Bu Sinta, ada keluarga ibu yang mau menjenguk. Ibu pasti kangen sama mereka, iya kan? " kata Suster tersebut yang mengira jika Malvino dan Andara adalah kerabat Sinta. Karena memang mereka mengaku sebagai keluarga Sinta agar bisa di izinkan masuk ke sana.

__ADS_1


Selama ini keluarga Sinta yang asli sudah tak lagi menjenguk Sinta. Mungkin mereka malu dengan keadaan Sinta apalagi Sinta menjadi tersangka dalam pembunuhan yang menewaskan anak dan suaminya sendiri. Hal itu mencoreng nama baik keluarga Sinta hingga mereka seakan sudah tak ingin lagi menganggap Sinta sebagai bagian dari keluarga mereka.


" Bisa tinggalkan kami sebentar Sus? " pinta Malvino.


Suster itu mengerutkan dahi karena tak mungkin membiarkan mereka berada di dalam bersama Sinta. Khawatir Sinta mengamuk.


" Tapi pak,, "


" Sebentar saja Sus, saya ingin membicarakan masalah pribadi. Dari hati ke hati dengan Sinta, " kata Malvino meyakinkan.


" Baiklah, kalau begitu saya tunggu di luar, tapi hanya sepuluh menit saja. " Suster itu melirik jam tangannya.


" Iya Sus, makasih. " Malvino lega akhirnya Suster itu memberi izin dan kini Suster itu pun keluar dari kamar dan menunggu di depan pintu yang sudah di tutup rapat.


Mata Sinta begitu tajam menatap Malvino dan Andara secara bergantian. Tanpa berucap sedikitpun.


" Apa ini buku diary milik anda Bu Sinta? Mungkin ini bisa di jadikan bukti jika anda tidak bersalah dalam kasus ini, atau mungkin ibu punya bukti lain yang lebih kuat? " tanya Malvino menunjukkan sebuah buku diary yang di bawa Andara dari rumah bekas Sinta dulu.


Kini mata Sinta tertuju pada buku itu, seketika peringainya berubah. Dari datar menjadi marah. Wajah nya yang pias kini memerah dengan mata membulat dan gigi mengerat rapat.


Andara jadi ngeri melihat reaksi Sinta seperti sekarang, ia memeluk erat Sandrina yang bersembunyi di pinggangnya.


Dalam beberapa detik ekspresi kemarahan Sinta kembali berubah menjadi tersenyum menyeringai ke arah boneka Kaliya. Seakan Sinta melihat putrinya dan terjadi komunikasi batin antara mereka.


" Bu Sinta. Kami akan membantu membongkar kasus ini, saya dan istri sudah berjanji pada Kaliya putri ibu untuk membantunya menemukan pembunuh itu. Apa benar pelakunya adalah orang bernama Anwar? " tanya Malvino.

__ADS_1


Kembali netra Sinta menatap tajam Malvino. Kemudian mengangguk pelan, dan mulai tertawa terbahak-bahak. Malvino merasa wajar dengan perubahan ekspresi wanita bernama Sinta itu, namanya juga orang gila ya pasti akan bersikap aneh. Tiba-tiba marah, tiba-tiba tertawa. Seperti yang terjadi pada Sinta sekarang.


Namun Andara merasakan ada hal lain yang entah apa itu. Andara tiba-tiba saja teringat perkataan makhluk halus di penginapan tadi yang memberinya peringatan untuk hati-hati. Apa mungkin ada rencana lain dari Kaliya dan juga Sinta ibunya?


Andara terus memikirkan semua itu.


" Maaf Pak, Bu. Waktu kalian sudah habis, " suara Suster membuyarkan lamunan Andara. Namun tak serta merta menghentikan tawa Sinta yang berujung sebuah tangis pilu. Benar-benar sulit di artikan.


Malvino, Andara dan Sandrina pun segera meninggalkan tempat tersebut, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


" Jadi apa yang akan kita lakukan? " tanya Andara saat mereka sudah berada di dalam mobil kembali.


" Kita pulang dulu, sementara ini kita tak punya cukup bukti menuduh Anwar sebagai pelaku pembunuhan Kaliya dan ayahnya. Polisi juga tak akan percaya begitu saja pada kita, apalagi kita tak tau menahu tentang keluarga Kaliya, " kata Malvino kembali menyetir mobil.


Hujan deras mengguyur kota tersebut. Kilatan dan petir bersahut-sahutan menambah keadaan kian mencekam.


Mobil mereka pun melaju menembus derasnya guyuran air hujan. Saat melintasi rest area, Andara sempat melongok ke luar jendela. Netranya melihat Kosim berdiri di pinggir jalan dengan mengangkat tangan seakan memerintahkan mereka untuk berhenti. Tapi sayang Malvino tak melihat Kosim, hanya Andara yang melihat arwah juru parkir itu.


Saat ini mobil mereka melewati sebuah jalanan berkelok dengan sisi kanan sebuah tebing dan sisi kirinya sebuah jurang.


Jalanan licin membuat Malvino kesulitan menyeimbangkan laju kendaraanya yang akhirnya sebuah kecelakaan pun tak dapat di hindarkan.


Malvino berniat membanting stir ke kiri untuk menghindari mobil lain yang datang dari arah berlawanan yang mengambil jalannya. Hingga mobil Malvino pun hampir tergelincir ke jurang seandainya tak ada pagar pembatas yang kokoh di tempat tersebut. Dan beruntung kecepatan mobil Malvino tak begitu tinggi, namun tetap saja kecelakaan itu membuat ketiganya mengalami luka cukup serius dan tak sadarkan diri.


Beberapa orang yang berada di tempat itu pun langsung menolong mereka keluar dari mobil. Dan melarikan ketiganya ke Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2