KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 7


__ADS_3

Andara baru saja pulang kerja. Badannya terasa capek dan lemas, padahal jelas-jelas di kantor tadi ia mengabaikan pekerjaan nya yang seabreg setelah beberapa hari di tinggal cuti. Walaupun ada Hana yang menghandel sebagian tugas nya tetap saja, kerjaan Andara masih cukup banyak.


Kebanyakan Andara melamun di kantor ketimbang menyelesaikan tugasnya. Kepala Andara pun terasa berat sampai ke tengkuk, ia pikir mungkin masuk angin setelah perjalanan kemarin.


Saat kaki Andara melangkah masuk ke ruang televisi, ia melihat kue di atas meja yang di duga kue pemberian Anwar. Entah kenapa setiap kali mengingat pria bernama Anwar, Andara begitu tak suka. Jangan kan melihat wajah Anwar, lihat kue pemberian dari nya saja rasanya sebal. Mungkin karena sikap Anwar padanya yang kurang sopan saat menatap dirinya dengan nakal hingga sampai sekarang Andara masih kesal dengan pria bernama Anwar itu, atau ada hal lain yang sukar di jelaskan?


Biasanya Andara tak pernah ambil pusing dengan hal sepele semacam itu tapi pada Anwar rasanya Andara tak bisa terima.


Sempat tertahan sejenak, kini Andara pun kembali melanjutkan langkahnya. Mbok Darmi yang mengetahui kedatangan Andara pun segera menghampiri.


" Mana Sandrina Mbok? " tanya Andara seraya melepas blazzer yang ia kenakan.


" Non Sandrina ada di dalam kamar, " jawab Mbok Darmi.


" Kalau gitu aku ke mandi dulu, tolong siapkan makan malam buat aku sama Sandrina saja mbok, kayaknya Pak Malvino bakal pulang telat malam ini, " ujar Andara.


" Iya Bu. " Mbok Darmi pun kembali ke belakang untuk menyiapkan makan malam mereka.


Sedang Andara langsung masuk kamar, membersihkan diri dan setelah itu berganti pakaian dengan baju tidur.


Bergegas Andara menuju kamar Sandrina untuk mengajaknya makan malam.


Saat tiba di depan pintu kamar anaknya, Andara berhenti sejenak menatap pintu kamar tersebut dengan wajah tegang mengingat sesuatu yang di alami nya akhir-akhir ini. Hal yang janggal dan sulit di jelaskan, baru kali ini ia alami.


Perlahan di raihnya knop pintu kemudian ia dorong perlahan.


" Mami sudah pulang? " Sandrina yang semula duduk di tepi ranjang tengah bermain boneka, kini berlari kecil menghampiri Andara.

__ADS_1


" Iya nak, Mami baru pulang. Kita makan malam yuk ! " ajak Andara setelah mencium kening Sandrina.


" Nggak tunggu Papi datang dulu? " tanya Sandrina karena memang kebiasaan mereka seperti itu, menunggu Malvino datang baru mereka makan malam bersama.


" Nggak nak, Papi pulang agak malam kayaknya. "


" Yuk kita ke dapur, " ajak Andara sambil menarik lengan putrinya.


Pukul 21.45


Andara duduk di ruang televisi, sementara Sandrina sudah tidur di kamarnya. Tak biasanya Sandrina langsung tidur tanpa harus ia temani atau sekedar mendengarkan dongeng. Andara pikir mungkin Sandrina lelah setelah seharian bermain bersama teman baru nya.


Kepala Andara masih terasa berat, ia bersandar di sofa sambil memindahkan chanel televisi. Namun tak satupun tayangan yang menarik, hingga ia biarkan televisi itu menyala sedang ia sendiri kini memainkan gawainya. Jenuh dan bosan, itu yang Andara rasakan sekarang. Harusnya saat lelah dan tak enak badan seperti sekarang ini ia tidur di kamar bukan malah berdiam diri menunggu Malvino datang. Tapi seberat dan sepusing apapun yang ia rasakan saat ini, rasa kantuk itu menguap begitu saja.


Tap,,tap,,


Andara segera menoleh ke belakang saat merasa ada derap langkah berjalan tepat di belakang sofa.


Mata Andara begitu awas menatap ke sekeliling ruangan yang hanya menggunakan cahaya redup.


Sekelebatan bayangan hitam tertangkap oleh netra nya di beberapa titik. Hingga ia memutuskan untuk beranjak memastikan siapa yang berada di sana.


Sengaja langkahnya ia pelankan, mengendap-endap sambil terus mengawasi setiap sudut ruang yang di lewati nya.


Hingga akhirnya Andara melihat sosok anak kecil dengan ikatan pita di rambutnya tengah memegang sebuah boneka yang tak asing baginya. Persis dengan boneka baru Sandrina, hanya saja yang ini begitu kotor di penuhi percikan darah di bagian perut dan wajahnya.


Sosok anak kecil itu berdiri kaku di dekat pintu kamar Sandrina. Dengan wajah tertunduk, rambutnya terjuntai menutupi wajahnya hingga Andara tak bisa melihat nya dengan jelas. Tubuh Andara sedikit bergetar, keringat dingin pun membasahi kening.

__ADS_1


Saat Andara memperhatikan dengan seksama ia baru sadar jika di perut anak kecil itu tertancap sebuah belati. Sontak ia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang di lihat nya.


" Aaaakkk !! " Andara menjerit menutup wajah dengan kedua telapak tangan saat merasakan ada seseorang di belakang yang bahkan menyentuh pundaknya.


" Mam ! Kamu kenapa? " Rupanya itu Malvino suami Andara.


Perlahan Andara membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, Andara pun berhambur ke pelukan Malvino saat tau jika suaminya lah yang barusan membuatnya kaget. Semula ia pikir sosok anak kecil menyeramkan tadi.


" Apa kamu melihat sosok itu lagi? " selidik Malvino yang baru saja pulang kerja.


Tanpa bersuara, Andara mengangguk cepat. Kepalanya masih bersembunyi pada dada bidang Malvino.


" Tenang ya, sekarang ada aku. Kamu gak perlu takut lagi. " Malvino membelai rambut panjang istrinya sementara mata nya kini menyapu ke sekeliling ruangan dimana mereka berdiri. Menelisik setiap sudut gelap, memastikan tak ada lagi sosok yang di lihat istrinya.


Merasa tak ada sesuatu apapun yang di lihatnya, Malvino mengajak Andara masuk ke kamar mereka dengan terus memeluk Andara yang masih syok dan ketakutan.


Andara duduk di ranjang kemudian Malvino memberi Andara minum agar istrinya itu lebih tenang.


" Mami lihat apa? " tanya Malvino dengan menggenggam jemari Andara yang dingin dan berkeringat.


Benak Andara mengingat apa yang di lihatnya tadi, kemudian ia menceritakan pada Malvino suaminya.


" Tadi aku lihat ada sosok anak kecil berdiri di depan pintu kamar Sandrina. Anak kecil itu berlumuran darah, dan pada perutnya tertancap sebuah bela-ti. Yang anehnya lagi ia memegang boneka persis dengan milik Sandrina. Apa mungkin boneka itu penyebab semua ini? " kata Andara mulai curiga.


" Boneka? " Malvino berpikir sejenak.


" Boneka seperti itu banyak di jual di mana-mana. Mungkin kebetulan saja sama, " lanjut Malvino.

__ADS_1


" Mendingan kamu tidur, istirahat. " Malvino menarik selimut dan membantu Andara berbaring.


Mata Andara terpejam, sosok anak kecil itu terus menghantui pikirannya. Ia baru sadar jika sosok yang ia lihat begitu mirip dengan yang ada dalam mimpinya tempo hari. Dan lagi Andara yakin sosok itu juga yang menampakan diri di dalam mobil. Di lihat dari pakaian, rambut, tubuh semua sama persis. Tapi siapa sosok itu? Dan apa memang boneka yang di beli Sandrina tak ada hubungannya dengan semua ini seperti kata suaminya?


__ADS_2