KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 9


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Andara berjalan masuk saat ia sampai ke rumahnya.


" Sandrina apa yang terjadi sama kamu? Apa ada yang sakit? Kamu baik-baik saja? " Andara langsung menghujani berbagai pertanyaan karena rasa khawatir terhadap putrinya yang baru saja tenggelam di kolam renang.


" Aku baik-baik saja Mami, " jawab Sandrina pelan.


" Kamu tenang ya, Sandrina gak kenapa-kenapa. " Malvino menggenggam jemari istrinya.


" Pap gimana aku bisa tenang mendengar Sandrina tenggelam ? Lagian Mbok Darmi kemana aja gak bisa jagain Sandrina dengan baik? Terus gimana ceritanya Sandrina bisa sampai tercebur ke kolam padahal selama ini gak pernah terjadi hal seperti itu, bahkan sejak Sandrina kecil aman-aman saja, " cerocos Andara dengan rasa panik yang tak kunjung reda.


" Jangan salahin orang lain. Mungkin Mbok Darmi sibuk kerja, dan musibah bisa datang kapan saja. " Malvino lagi-lagi menenangkan istrinya.


" Aku juga gak tau kenapa Sandrina bisa sampai tenggelam karena pas aku datang dia sudah berada di dalam air. Aku juga belum tanya dia, pasti Sandrina masih syok, " ucap Malvino.


" Sayang,, pokoknya kamu janji jangan main-main lagi ke dekat kolam. Mami yang trauma kalau gini, " ujar Andara dengan memeluk putrinya.


" Tadi Sandrina cuma mau ambil boneka yang jatuh ke kolam. " Sandrina mulai mengingat kejadian yang di alaminya.


" Itu berarti kamu main nya terlalu dekat sama kolam, harusnya kamu duduk saja di kursi taman belakang, gak usah dekat-dekat kolam. Sandrina kan tau sendiri kalau kolam yang itu dalam, " tegur Malvino dengan halus.


" Sandrina emang lagi duduk di kursi, tapi teman Sandrina yang jatuhin bonekanya ke kolam, " kata Sandrina membela diri.


" Teman? " Malvino menautkan kedua alisnya.


" Itu pasti anaknya Anwar. Iyakan? " Andara marah mendengar penjelasan dari Sandrina barusan. Kini kekesalannya bukan hanya pada Anwar tapi juga anaknya yang membuat Sandrina celaka.


Sandrina mengangguk pelan.


" Anwar tetangga baru kita itu? " tanya Malvino.


" Iya, " jawab Andara.


" Dia suka main kesini, besok-besok kamu gak perlu lagi main sama dia. " Andara kini jadi over protective.

__ADS_1


" Ya gak gitu juga lah Mam, dia kan anak kecil sama seperti Sandrina. Yang penting kedepannya kalian jangan main dekat tempat yang berbahaya. Gak enak jugakan sama Anwar kalau kita larang-larang anaknya main ke sini, " kata Malvino.


" Terus sekarang mana dia? Papi emangnya gak liat dia tadi? " tanya Andara.


" Nggak ada tuh. Mungkin dia langsung pulang karena kaget lihat Sandrina tercebur, " jawab Malvino.


" Tuh kan. Dasar anak sama bapak sama-sama nyebelin ! " Andara bangkit dan berjalan ke dapur untuk menemui Mbok Darmi.


" Mbok, " sahut Andara saat tiba di dapur.


Mbok Darmi yang melamun seketika terjingkat kakinya saat mendengar sahutan Andara.


Wajah Mbok Darmi kian pucat pasi, selain karena takut pada keanehan yang di alaminya, kali ini ia juga takut kena marah majikannya karena sudah lalai menjaga Sandrina.


" Besok-besok jangan biarkan anaknya Anwar main kesini lagi. Aku gak mau sampai Sandrina kenapa-kenapa, " tanpa menunggu jawaban dan penjelasan Mbok Darmi, Andara kembali pergi meninggalkan Mbok Darmi yang makin kebingungan. Pasalnya ia belum pernah sekalipun melihat ada teman Sandrina main ke rumah ini, apalagi anak dari tetangga baru mereka.


" Apa maksudnya semua ini? Apa mungkin diam-diam Non Sandrina main dengan temannya? Tapi aku rasa gak mungkin, beberapa hari ini Non Sandrina main sendirian, " gumam Mbok Darmi.


Seketika matanya membulat tatkala mengingat sesuatu dan pikirannya mulai menerka-nerka.


Sementara itu Andara sedang melangkah berniat kembali ke kamar Sandrina.


Namun langkah nya terhenti saat matanya melihat ke arah pintu belakang yang terbuat dari kaca berukuran besar. Pintu slide itu terbuka lebar, dengan sisi kanan dan kirinya jendela kaca seukuran pintu slide tersebut.


Matanya menangkap sebuah boneka yang berada di atas kursi taman belakang. Andara pun mendekat, berjalan keluar menuju taman belakang.


Keadaan hening, tak ada suara lain selain gemercik air dari pancuran air mancur dekat kolam.


Andara kini berdiri tepat di depan kursi taman, mata nya memperhatikan dengan seksama boneka baru Sandrina yang terlihat kering.


Andara merasa ada yang tidak beres, karena Sandrina bilang kalau dia tercebur saat akan mengambil bonekanya di kolam. Jika itu terjadi, maka seharusnya boneka Sandrina ini basah terkena air, atau mungkin masih mengambang di permukaan kolam. Tak mungkin jika Malvino membawa serta boneka ini saat menyelamatkan Sandrina.


Perlahan lengan Andara terjulur, berniat meraih boneka baru Sandrina yang berwajah mengerikan. Baginya boneka ini sangat misterius terlebih Andara pernah melihat boneka yang sama persis berada dalam genggaman bocah kecil berwajah menyeramkan.

__ADS_1


Andara berhasil meraih boneka itu, meski tak di pungkiri rasa takut kian mendera.


Andara makin heran setelah menyentuh boneka itu. Sama sekali tak basah, kalau pun tadi Malvino membawanya ke darat, pasti baju boneka ini masih basah.


Andara membolak balik boneka tersebut, hingga tak sengaja bagian kancing belakang nya terbuka dan Andara pun membetulkan kancing tersebut.


Sesaat mata nya memicing melihat sebuah nama tertera di balik leher baju boneka tersebut.


" Kaliya,, " ucap Andara membaca tulisan dalam boneka itu. Andara mengingat-ingat nama yang terasa tak asing di telinganya.


" Mam ! " Malvino datang mengejutkan hingga boneka dalam genggaman Andara spontan terjatuh ke lantai lembab.


" Lagi ngapain? " tanya Malvino.


" Gak ada, ayo kita ke kamar Sandrina. " Andara berjalan melewati suaminya.


" Sandrina lagi tidur, biarkan dia istirahat. " sahut Malvino menghentikan langkah Andara. Wanita itu memutar badan.


" Besok Papi mau pergi keluar kota, ada pekerjaan di kantor cabang makanya aku harus berangkat besok, " kata Malvino.


" Kalau gitu aku kemasi dulu barang bawaan mu, " ucap Andara melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


***


Keesokan harinya Sandrina mulai masuk sekolah. Kali ini tugas Andara mengantar Sandrina sekolah lebih dulu baru kemudian berangkat ke kantor. Biasanya Sandrina di antar oleh Malvino karena mereka satu arah, sedang Andara harus putar balik jika harus mengantarkan anaknya sebelum kemudian ia pergi ke kantor. Tapi saat ini Malvino sudah berangkat dari subuh menuju bandara, pasalnya ia harus sudah sampai pagi sekali di luar kota, mengingat jadwal meeting nya memang di adakan pagi-pagi. Selain itu banyak juga yang harus Malvino bereskan di sana.


" Semangat belajarnya ya sayang ! Nanti pulang nya Mbok Darmi yang jemput Sandrina, " kata Andara dengan mencium pipi Sandrina saat sampai di depan pintu gerbang sekolah.


" Oke Mam, bye ! " Sandrina keluar dari mobil dan melambaikan tangannya.


Melihat Sandrina masuk gerbang, Andara pun segera menyalakan mesin mobil nya. Tapi tiba-tiba ia terkejut melihat sosok yang seakan tengah mengawasinya di balik pohon besar di depan benteng sekolah. Jaraknya sekitar empat meter dari tempat mobilnya terparkir.


Andara memperhatikan sosok anak kecil yang tak asing baginya, namun pandangannya kali ini terhalang oleh beberapa siswa yang berjalan berlalu lalang memasuki gerbang sekolah. Sosok itu pun akhirnya lenyap, Andara menghela napas panjang.

__ADS_1


" Mungkin hanya ilusi ku saja karena terlalu memikirkan hal itu, " gumam Andara kemudian melajukan mobil membelah jalan raya.


__ADS_2