KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 33


__ADS_3

Hari itu Malvino dan Andara membawa Sandrina ke Rumah Sakit untuk melakukan rontgen kembali. Khawatir ada kesalahan di pemeriksaan sebelumnya, maka dari itu mereka kembali memeriksa kondisi Sandrina di Rumah Sakit ibu kota.


Saat di lobi, Andara melakukan pendaftaran. Sementara Sandrina bersama Malvino duduk di kursi yang berderet di sana.


" Malvino? " Deon yang kebetulan sedang mengantar keluarganya berobat di Rumah Sakit yang sama pun kini tak sengaja bertemu dengan Malvino, rekan kerjanya.


" Hei Deon, sedang apa di sini? Ada yang sakit atau kamu sakit? " tanya Malvino mengamati wajah Deon yang sama sekali tak kelihatan sedang sakit.


" Nganter Ibu. Biasalah Vin, namanya orang tua sering sakit-sakitan, " jawab Deon.


" Kamu sendiri? " Deon balik bertanya.


" Ini aku mau periksa Sandrina. " Malvino menggeser sedikit tubuhnya hingga terlihatlah Sandrina yang sedang duduk di kursi, dengan tatapan kosong dan ekspresi datar.


Deon menyipitkan mata memperhatikan gadis kecil putri temannya itu dengan seksama.


Seketika raga Sandrina yang berada dalam kendali Kaliya pun menoleh, menatap tajam Deon. Dari pancaran mata Sandrina, Deon bisa melihat ada keganjilan.


" Kenapa ? " Malvino menggerak-gerakan telapak tangan di depan muka Deon.


Deon pun mengerjapkan mata, tersadar dari penerawangannya. Kali ini ia menatap lekat mata Malvino, seakan ingin bertanya kenapa Malvino tak menyadari bahwa ada roh jahat mengisi tubuh putrinya.


" Deon? " Andara yang baru saja selesai melakukan pendaftaran menghampiri mereka.


" Kamu di sini juga? " tanya Andara.

__ADS_1


" Iya, aku lagi ngantar ibu berobat. Kalau gitu aku tinggal dulu ya, mau tebus obat di apotek, " ucap Deon seraya beranjak dari sana, ia menyempatkan diri menatap kembali Sandrina sambil berlalu dari hadapan mereka.


' Ada yang gak beres, aku harus beri tahu Malvino. Tapi roh jahat itu tak boleh sampai tau kalau aku akan membongkar keberadaannya dalam raga Sandrina. ' batin Deon.


Sandrina pun mulai di periksa. Hanya menunggu beberapa menit saja, hasil rontgen sudah keluar. Dan hasilnya masih sama, Dokter tak menemukan ada penyakit atau kelainan pada Sandrina. Hal tersebut membuat Malvino dan Andara makin bingung, jika tak ada penyakit lantas apa yang membuat Sandrina berubah menjadi jarang bicara dan seperti sibuk dengan dunianya sendiri.


Tak ingin kedua orang tua itu curiga, Kaliya pun mulai menunjukan ekspresi lain. Dia harus terlihat ceria layaknya Sandrina. Meski sebenarnya keceriaannya dulu sudah terbunuh bersama raganya, dan yang tersisa hanya luka juga dendam. Hingga Kaliya tak bisa menunjukan sisi lain selain amarah. Tapi kali ini Kaliya rasa ia tak perlu lagi bersedih, karena dia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.


" Mami, Papi. Aku baik-baik saja, bahkan sekarang aku ingin jalan-jalan bersama kalian. Kita pergi ke arena bermain, gimana? " cetus anak itu mengejutkan Malvino dan Andara.


Sudah beberapa hari ini Sandrina jarang berkomunikasi dengan mereka, tapi sekarang dia seakan kembali.


Malvino dan Andara beberapa saat saling berpandangan, kemudian tersenyum dan mengiyakan permintaan putri mereka.


" Ayo sayang kita jalan-jalan, " ucap Andara dengan menggandeng lengan putrinya.


" Mungkin Sandrina butuh hiburan, makanya selama ini dia seperti itu. Kenapa kita gak kepikiran ya? " kata Andara yang saat ini melihat Sandrina naik salah satu wahana bermain.


" Kamu benar kenapa gak sampai terpikir kesana ya? Lihat dia terus tersenyum dan bahagia sekali, " ucap Malvino.


Usai menaiki salah satu wahana, Sandrina berlarian menghampiri mereka, dan mengatakan hal yang cukup mengejutkan mereka berdua.


" Sekarang aku mau naik bianglala, " ucapnya.


Sontak Malvino dan Andara saling pandang, merasa heran pasalnya selama ini Sandrina takut akan ketinggian. Dan Sandrina tak pernah berani naik wahana bianglala, tapi kenapa sekarang dia minta naik wahana itu? Bahkan dengan berani seolah dia sudah pernah mencoba sebelumnya.

__ADS_1


" Tapi nak, " Andara tak melanjutkan kalimatnya karena Sandrina nampak melebarkan kedua kelopak matanya. Sedikit ngeri tapi Sandrina itu putrinya, bagaimana bisa Andara merinding melihat Sandrina melotot padanya?


" Baiklah, ayo mami temani kamu. " Andara menoleh sebentar pada Malvino yang masih kebingungan, tapi Malvino menganggukkan kepala tanda memberi izin pada istri dan anaknya menaiki wahana bianglala.


Saat bianglala yang mereka tumpangi berada di puncak atas, Andara memperhatikan wajah Sandrina yang terus menatap kosong, seakan sedang menikmati curamnya keadaan di bawah sana. Semakin membuat Andara heran, karena Sandrina sangat anti ketinggian apalagi seperti sekarang ini, menatap ke bawah dari ketinggian beberapa meter. Sungguh aneh. Mungkinkah Sandrina sudah tak fobia terhadap ketinggian?


Di bawah sana Malvino memperhatikan Sandrina dan Andara yang sedang menumpangi wahana bianglala.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Segera ia merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih yang terus berbunyi.


" Deon? Baru tadi ketemu, ada apa dia? Apa terjadi sesuatu pada ibunya? " gumam Malvino sebelum menerima panggilan.


" Hallo, Vin ! " suara Deon di sebrang sana.


" Ya, ada apa? " tanya Malvino.


" Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua sama kamu, " suara Deon terdengar serius.


" Tentang? "


" Sandrina. "


Spontan Malvino mendongak, menatap bianglala yang berputar di hadapannya. Ada perasaan cemas di hati Malvino, mungkinkah Deon tau sesuatu tentang perubahan sikap Sandrina? Mampukah Deon menjawab rasa penasarannya terhadap keanehan yang Sandrina lakukan akhir-akhir ini? Termasuk sekarang, Sandrina melakukan hal yang tak pernah dia lakukan.

__ADS_1


" Oke kita ketemu malam ini, sekarang aku sedang mengantar Sandrina jalan-jalan, " ucap Malvino yang kemudian menutup sambungan telepon.


__ADS_2