
Di tempat lain, Burhan, Laila dan Nadia sedang berkumpul di acara syukuran salah satu sanak keluarga mereka.
Tak lupa Nadia membawa serta boneka pemberian ayahnya. Dan di tunjukkan pada anak-anak di sana yang merupakan sepupu Nadia.
" Wah Nadia punya boneka bagus, pasti mahal ! " seru salah satu sepupu dari Nadia.
" Baguskan? Ini hadiah dari bapak buat Nadia, " ucap anak itu dengan bangganya memamerkan boneka Kaliya.
Tak jauh dari mereka, seorang Kiai bernama Kiai Miftah memperhatikan boneka yang di pegang oleh Nadia. Kiai Miftah merasa ada sesuatu di dalam wujud boneka itu. Seorang anak kecil tengah menangis di dalamnya, bisa Kiai Miftah lihat dengan jelas raut wajah sukma gadis kecil itu.
Kiai Miftah tau siapa orang tua Nadia, beliau langsung menemui Burhan selaku Ayah dari Nadia.
" Assalamualaikum Pak Kiai. " Burhan menyambut baik kedatangan Kiai Miftah yang akan memimpin acara syukuran tersebut.
" Waalaikumsalam, " jawab Kiai Miftah.
" Acaranya sebentar lagi di mulai, silahkan Pak Kiai, " kata Burhan menjulurkan lengan mempersilahkan beliau masuk.
" Masih ada lima menit lagi. Apa kita bisa bicara sebentar di sini? " tanya Kiai Miftah.
Burhan heran, lipatan di keningnya mulai terlihat mengkerut. Pasalnya Kiai Miftah tampak serius sekali.
Mereka berdua pun memilih duduk di kursi teras, waktu pengajian masih beberapa menit lagi sambil menunggu para tamu yang lain datang.
" Ada apa Pak Kiai? " tanya Burhan penasaran.
" Barusan aku lihat Nadia membawa boneka. Apa boneka itu punya dia? " tanya Kiai Miftah.
" Iya itu pemberian saya, memangnya kenapa Pak? " Burhan makin heran karena tiba-tiba saja Kiai Miftah menanyakan soal boneka, hal yang cukup aneh. Apa mungkin Kiai Miftah mengenal pemilik asli boneka itu? Jika iya, mungkin Burhan akan ketahuan jika dirinya membawa barang milik orang lain saat terjadi kecelakaan tempo hari.
" Ada sukma gadis kecil dalam boneka itu, " bisik Kiai Miftah mengejutkan Burhan.
__ADS_1
" Maksud Kiai? " Burhan membulatkan mata.
" Darimana kamu mendapatkan boneka itu? " Kiai Miftah balik bertanya.
" Waktu itu terjadi kecelakaan di jalan yang saya lalui pas pulang dari ibu kota. Dan saya menemukan boneka itu di lokasi kejadian, tapi Kiai saya tidak mencuri. Boneka itu tergeletak di pinggir jalan, karena masih bagus akhirnya saya bawa dan di berikan pada Nadia. Tapi apa maksud Kiai, ada sukma anak kecil di dalamnya? Apa itu setan? " Burhan mulai panik pasalnya ia tak ingin sampai Nadia kenapa-kenapa gara-gara boneka pemberiannya.
Setahu Burhan arwah yang menghuni sebuah benda itu biasanya roh jahat yang terkena kutukan, entah benar atau tidak.
" Yang saya lihat bukan setan. Itu sukma manusia yang tersesat dan terkurung dalam boneka. Dia masih bisa bersatu dengan raganya, dan kita harus menolongnya. Mungkin saja sukma itu adalah sukma korban kecelakaan yang kamu lihat, dan juga pemilik boneka tersebut. Bisa jadi raganya saat ini koma karena sukma nya tak bisa kembali, " jelas Kiai Miftah.
" Pak Kiai benar, mungkin saja saat ini keluarganya sedang bersedih menanti anak mereka siuman. Kalau begitu kita harus cari alamat korban kecelakaan itu, " kata Burhan.
" Untung aku yang menemukannya, gimana kalau yang lain? Bisa saja boneka nya di bawa jauh, di buang atau bahkan di jual. Untung juga ada Pak Kiai yang bisa melihat sukma anak itu, jika tidak malang sekali nasibnya. " Burhan nampak bersimpati meski ia tak mampu melihat sosok Sandrina dalam wujud boneka yang kini berada di tangan Nadia.
" Kita cari informasi dari orang-orang sekitar kecelakaan. Sekarang kita pengajian dulu, setelah ini baru kita cari informasi tentang anak itu, " ucap Kiai Miftah.
Burhan mengangguk. Mereka pun masuk karena acara pengajian sudah akan di mulai.
Malvino memasuki sebuah resto dimana Deon menunggunya. Mata Malvino mengedar ke sekeliling mencari keberadaan Deon.
Hingga akhirnya netra Malvino menangkap sosok temannya itu sedang duduk di salah satu meja resto tersebut, tepatnya di dekat jendela.
Bergegas Malvino berjalan mendekat ke arahnya.
" Lama nunggu? " tanya Malvino seraya menarik kursi dan duduk.
" Enggak juga, " jawab Deon.
" Apa yang mau kamu katakan tentang anak ku? " Malvino tak sabar menanti kalimat dari Deon yang mungkin bisa menjawab semua tanda tanya di dalam benaknya tentang Sandrina.
" Sebelum aku menjelaskan apa yang aku lihat dari putrimu, aku ingin bertanya. Apa sikap Sandrina berubah dari biasanya? " Deon yang semula bersandar kini mulai menempelkan tubuhnya pada meja, dengan tangan bertumpu di meja tersebut.
__ADS_1
" Ya, setelah kecelakaan tempo hari dan semenjak sadar dari koma. Sikap Sandrina memang banyak berubah, lebih pendiam. Bahkan tadi saja di arena bermain dia berani naik wahana bianglala padahal aku tau persis anak ku itu sangat fobia ketinggian, " jelas Malvino.
" Berarti apa yang aku lihat benar. Ada roh jahat anak kecil yang mengendalikan raga Sandrina. " Perkataan Deon sangat mengejutkan Malvino.
" Apa?? Jadi maksudmu Sandrina kerasukan?
'' Aku rasa bukan kerasukan. Tapi roh itu menempati tubuh Sandrina sedang sukma Sandrina sendiri entah berada di mana. Dan kamu harus segera mencarinya sebelum semua terlambat, " jelas Deon begitu serius.
" Maksudnya? " Malvino panik, bermacam hal menakutkan memenuhi pikirannya.
" Ada kemungkinan saat Sandrina koma, sukmanya tersesat dan belum bisa bersatu dengan raganya. Dan roh jahat yang menghuni raga Sandrina saat ini memanfaatkan keadaan itu. Aku rasa ini ada hubungannya dengan kepulangan mu ke kampung halaman, mungkin roh jahat itu berasal dari sana. " Deon mulai berkesimpulan.
" Kaliya, ini pasti ulah Kaliya. " Malvino geram.
" Siapa Kaliya? " tanya Deon.
" Arwah yang menghuni sebuah boneka yang kami beli saat pulang dari Bogor. Semenjak ada boneka itu di rumah, kami mengalami teror mengerikan,, " Malvino pun menceritakan semua dengan gamblang pada Deon termasuk kasus pembunuhan Kaliya, semua ia ceritakan tanpa kecuali.
" Jika seperti itu, sukma Sandrina bukan tersesat melainkan sengaja di sesatkan dan aku rasa sukma putri mu di kurung dalam boneka itu. Mereka berganti posisi, " tebak Deon setelah mendengar cerita Malvino secara jelas.
Malvino tampak frustasi karena dia tau betul kalau boneka Kaliya sudah tak berada di tangannya semenjak kejadian kecelakaan tempo hari. Entah dimana sekarang boneka itu.
" Kamu harus segera menemukan boneka itu. Jika tidak raga Sandrina lama kelamaan akan terbawa aura negatif roh Kaliya, karena itu bukan tempatnya. Dan ini sangat berbahaya bagi nyawa putri mu, dia tak akan bisa kembali jika raganya sampai rusak karena Kaliya, " jelas Deon.
Malvino makin gelisah, ia mengusap wajah dengan kasar. Napasnya terasa begitu sesak.
" Boneka itu hilang, aku tak tau dimana boneka itu sekarang. Katakan aku harus bagaimana? Aku mohon bantu aku Deon, hanya kamu yang bisa membantuku, " ucap Malvino.
" Pasti. Aku akan membantu mu. Tapi ingat hal ini jangan sampa di ketahui Andara, karena dia pasti akan langsung marah pada Kaliya, dan apapun bisa Kaliya lakukan untuk mengancam kalian, aku lihat dendam menyelimuti roh anak itu. Dia akan sangat marah jika tau ada yang menghalangi segala rencananya, " jelas Deon.
" Baik, aku tak akan mengatakan hal ini pada istriku, " ujar Malvino dengan pikiran bingung dan kalut.
__ADS_1