
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya Sandrina pun di izinkan pulang setelah kesehatannya di nyatakan pulih.
Saat mobil Malvino tiba di depan rumah, nampak Anwar sedang berbincang bersama Mbok Darmi. Anwar menanyakan Andara dan keluarganya yang akhir-akhir ini jarang kelihatan. Mbok Darmi hanya mengatakan jika majikannya itu sedang pulang kampung dan tak memberitahu apa sebenarnya yang terjadi, apalagi Anwar hanya orang asing yang tak harus tau segala hal tentang keluarga Andara.
Melihat mereka berdua, Malvino dan Andara yang masih berada dalam mobil pun sekilas saling lirik satu sama lain.
Mengingat Anwar merupakan terduga pelaku kejahatan pembunuhan Kaliya. Meski belum punya bukti kuat, tapi mereka tetap harus waspada pada pelaku kriminal seperti Anwar.
Apalagi Anwar tipe pria nakal yang juga sempat berlaku tak sopan pada Andara. Malvino jadi tak respek pada pria itu, terlebih setelah dia tau jika Anwar pernah menjadi selingkuhan Sinta yang notabene nya istri orang. Malvino khawatir, Anwar akan sering mengganggu rumah tangganya terutama menganggu Andara.
Andara, Sandrina dan Malvino pun turun dari mobil. Kedatangan ketiga orang itu menjadi pusat perhatian Anwar. Pria itu pun mendekat menghampiri mereka bertiga.
" Anda Pak Malvino? Perkenalkan saya Anwar tetangga baru anda, sebenarnya gak baru juga sih udah beberapa minggu cuman kita baru bertemu sekarang, " kata Anwar tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.
" Ya, saya Malvino. Ini istri dan anak saya, " ucap Malvino dengan wajah datar.
" Kalau sama istri anda saya sudah kenal duluan. Iyakan Bu Andara? " senyum dan tatapan nakal Anwar kini mulai terlihat padahal saat ini ada Malvino bersama Andara tapi Anwar begitu berani berlaku demikian. Benar-benar tidak sopan.
Andara tak menjawab. Andara merasa takut mengenal pria seperti Anwar yang sudah berani melenyapkan nyawa orang lain. Sementara itu mata Sandrina menatap tajam Anwar, tanpa ada seorang pun yang menyadari tatapannya.
" Pap, aku sama Sandrina duluan masuk. " Tanpa menunggu suaminya menjawab, Andara bergegas mengajak Sandrina masuk ke dalam rumah. Di ikuti Mbok Darmi yang membawa barang-barang miliknya dari mobil.
__ADS_1
" Maaf Pak Anwar, saya permisi. " Malvino pun menyusul Andara dari belakang, meninggalkan Anwar yang masih mematung menatap mereka yang kini berlalu dari hadapannya. Wajah tak suka mereka tertangkap jelas di mata Anwar.
Anwar pun memilih pergi dari sana dan pulang ke rumahnya.
***
Malam itu Shela tengah tertidur sendiri. Tidurnya begitu pulas hingga ia tak menyadari seseorang masuk ke dalam kamar. Langkah kaki kecil berjalan pelan kian mendekati ranjang Shela.
Sementara itu, Anwar sedang mandi di kamar mandi yang juga berada di kamarnya. Suara guyuran shower membuat Anwar tak mendengar ada orang masuk ke dalam kamar.
Sandrina yang kini di kuasai oleh arwah Kaliya tengah berada di dalam ruangan tersebut. Dia bisa keluar dari rumah setelah membubuhkan obat tidur pada Andara, sedang Malvino kini berada di ruang kerja dan tak mengetahui kepergian Sandrina ke rumah Anwar.
Sandrina kini berdiri menatap Shela yang sedang terlelap, di raihnya bantal berwarna putih di samping wanita itu.
Jemari Shela mulai meraba-raba, hingga menyentuh tangan kecil Sandrina. Dalam keadaan sesak ia masih bisa sekejap berpikir jika yang membekapnya dengan bantal adalah anak kecil. Tapi anehnya tenaga anak ini begitu besar hingga Shela tak bisa melawan.
Shela sudah benar-benar kehabisan napas, pikirannya kini mulai melayang.
Suara guyuran shower di dalam kamar mandi sudah tak terdengar lagi, bisa di pastikan Anwar selesai mandi.
Sandrina segera melepas tangannya dari bantal lalu segera pergi keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Ceklek !
Anwar keluar kamar dan terkejut mendapati Shela yang kini terkulai lemah dengan napas tersengal-sengal.
" Shela ? Apa yang terjadi? " tanya Anwar yang saat ini sudah berada di dekat Shela.
Shela tak menjawab, saat merasa bantal itu tak lagi membekap wajahnya ia segera menyingkirkan bantal tersebut dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Bahkan ia sampai tak mengetahui siapa orang yang menyakitinya barusan. Yang ia butuhkan saat itu hanya bernapas lega, setelah beberapa detik sempat tertahan.
" Shel, kamu kenapa? " sekali lagi Anwar bertanya setelah pertanyaan pertamanya tak kunjung di jawab.
" Ada yang membekap wajahku dengan bantal, " jawab Shela masih mengatur napas.
" Apa? Siapa? " Anwar menoleh ke arah pintu yang saat ini terbuka begitu saja, padahal tadi saat akan mandi pintu kamar tertutup rapat.
Segera ia berlari ke pintu, mencari orang yang sudah berani masuk ke rumahnya. Anwar menyalakan semua lampu ruangan yang semula di matikan.
Seketika mulutnya bungkam saat melihat tulisan pada sebuah dinding di salah satu ruangan.
Tulisan yang seakan di tulis dengan darah di tembok bercat putih itu terlihat begitu kontras.
Lidah anwar kelu membaca tulisan pada tembok tersebut, yang menyatakan jika Kaliya kembali untuk membalaskan dendam padanya. Tengkuk Anwar seketika meremang begitu saja, tak ingin tulisan itu di baca Shela segera Anwar meraih taplak meja dan menghapus tulisan pada dinding tersebut.
__ADS_1
Namun tentu saja meninggalkan bekas merah yang sulit di hilangkan. Bau amis darah pun tercium menyengat. Seperti darah manusia biasa, darah yang masih baru keluar dari tubuh manusia. Hingga Anwar curiga jika ada seseorang yang hendak menggertaknya saat ini.
" Berani sekali menakut nakuti ku dengan membawa-bawa nama Kaliya, tak mungkin arwah anak kecil itu yang melakukan semua ini. Pasti ada orang yang mengetahui kejahatanku dulu, tapi siapa? " Anwar memicingkan mata.