
Saat semua kedua majikannya tengah pergi bekerja, seperti biasa Mbok Darmi berada di rumah bersama Sandrina yang masih libur sekolah, hari besok baru ia masuk kembali ke sekolah.
Kali ini Mbok Darmi tengah membersihkan ruangan, sementara Sandrina sedang bermain di taman belakang dekat kolam.
Mbok Darmi begitu bersemangat melakukan rutinitasnya, dengan bersenandung kawih-kawih sunda di sela pekerjaannya membersihkan setiap ruangan. Tak terkecuali kamar Sandrina.
Embusan angin menerpa wajah keriput Mbok Darmi saat ia memasuki kamar Sandrina. Dan berhasil meremangkan bulu kuduk seketika ia bergidik.
Mata sipit nya mulai mengitari setiap sisi ruangan kamar tersebut, dengan masih berdiri di ambang pintu belum beranjak sedikitpun. Ia mematung dan mengawasi sekelilingnya ketika merasakan ketakutan yang menyelinap ke dalam hati.
Kembali mulut Mbok Darmi bersenandung guna menghilangkan rasa takut yang kini sulit di usir bahkan makin mengganggu pikirannya.
Mbok Darmi melangkahkan kaki ke dalam kamar dan mulai membersihkan meja belajar, rak, lemari dan perabotan lain menggunakan kemoceng di tangannya.
Dengan mata tak henti melirik ke sana kemari saat merasakan udara dingin meniup tengkuk belakangnya.
Mbok Darmi bergegas membawa lap pel yang di sandarkan di dekat pintu. Namun ketika ia kembali masuk seketika mulutnya di buat bungkam saat melihat ceceran darah di lantai keramik berwarna putih itu.
Mbok Darmi mengucek matanya, memastikan jika tak ada yang salah dengan penglihatannya. Ceceran darah itu masih bisa di lihatnya meski sudah berulang kali ia mengucek dan mengerjapkan mata.
Dengan terus tertunduk, Mbok Darmi mengikuti arah jejak darah itu. Hingga ia berhenti di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.
Sedikit ragu ia meraih knop pintu kamar mandi, keringat sudah menjalar dari kening hingga leher. Deru napas pun tak beraturan tatkala keadaan terasa tegang dan kian mencekam.
Berhasil meraih knop, Mbok Darmi pun perlahan membuka pintu kamar mandi. Sedikit demi sedikit pintu itu di buka olehnya, aroma bau amis anyir tercium menusuk hidung Mbok Darmi.
Seketika ia terperanjat saat tiba-tiba ada yang melempar boneka ke arah nya. Spontan Mbok Darmi menangkap boneka itu, namun kembali ia di kejutkan dengan wajah boneka yang serasa tak asing baginya. Tapi ia belum jua mengingat kapan dan dimana melihat boneka mengerikan itu sebelumnya.
Mbok Darmi melempar boneka itu ke sembarang arah saat ia melihat boneka nya di lumuri darah hingga darah itu menempel di kedua tangan Mbok Darmi.
__ADS_1
Dengan langkah terseok-seok ia berlari keluar kamar, degup jantung nya makin terasa berdetak kencang.
Tiba-tiba saja suara jeritan dari luar sana tertangkap olehnya. Mbok Darmi yakin suara jeritan itu adalah suaranya Sandrina. Hingga ia segera berlarian menuju dimana Sandrina berada.
Mbok Darmi membelalakan mata saat mendapati Sandrina tercebur ke kolam yang kedalamannya sekitar 2 meter.
" Ya ampun Non Sandrina? " teriak Mbo Darmi dengan kebingungan melihat Sandrina yang hilang timbul di permukaan air kolam. Tangan Sandrina bergerak-gerak seakan meminta bantuan namun ia sulit bersuara sebab kepalanya berulang kali keluar masuk kolam. Kedua kakinya seakan ada yang memegang erat hingga Sandrina tak bisa berenang.
" Toloooonnng ! " Teriak Mbok Darmi panik.
" Ada apa Mbok ? " tiba-tiba saja muncul Malvino yang kebetulan saat itu pulang cepat karena besok ia harus berangkat keluar kota. Rencananya Malvino akan bersiap berkemas barang bawaan nya untuk besok, tapi saat tiba di rumah dan melangkah masuk. Malvino mendengar teriakan Mbok Darmi dari taman belakang.
" Non Sandrina. " Mbok Darmi mengarahkan telunjuk nya ke kolam.
Melihat Sandrina tenggelam, Malvino pun segera menceburkan diri ke kolam untuk menyelamatkan Sandrina putrinya. Tak perduli masih mengenakan jas kerja, Malvino panik dan langsung turun ke kolam renang
Sandrina di bawa ke tepi, di baringkan di pinggiran kolam. Wajah Sandrina sudah sangat pucat, sepertinya sudah banyak air yang masuk ke dalam tubuhnya.
Malvino mencoba menenangkan diri meski sulit ia tetap harus tenang agar bisa menyelamatkan Sandrina.
Malvino mengecek beberapa bagian alat napas Sandrina, juga denyut nadi nya. Malvino melakukan beberapa tindakan sebagai pertolongan pertama untuk menyelamatkan Sandrina. Beruntung ia berhasil melakukannya meski sebenarnya lutut dan sekujur badan Malvino sudah begitu lemas melihat kulit dan mulut Sandrina yang membiru.
Segera ia angkat tubuh Sandrina ke dalam rumah, dan di baringkan di kamar. Mbok Darmi mengekor di belakang Malvino dengan perasaan cemas. Mbok Darmi pun membantu Sandrina mengganti pakaian dan segera ia mengambil segelas air hangat untuk Sandrina yang sudah mulai sadarkan diri.
" Mbok tolong ambilkan baju ku juga. Aku mau ganti pakaian di sini, " perintah Malvino yang belum bisa meninggalkan Sandrina dalam keadaan lemah seperti sekarang ini.
" Baik Pak, " ucap Mbok Darmi segera berjalan keluar kamar untuk membawa pakaian ganti Malvino.
Tak lama Mbok Darmi kembali memberikan pakaian pada Malvino yang basah kuyup.
__ADS_1
" Papi ganti baju dulu di kamar mandi, tunggu bentar ya ! " kata Malvino seraya mengelus kepala Sandrina.
Sandrina hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Malvino pun bergegas masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian setelah itu ia kembali duduk di samping putri nya yang kini sedang di olesi minyak angin oleh Mbok Darmi untuk menghangatkan tubuh Sandrina yang membeku.
Di tempat lain, Andara merasakan firasat buruk dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa gelisah setelah tak sengaja sikut nya menyenggol gelas yang di simpan di meja kerja. Hingga pecahan beling pun berserakan di lantai ruangan.
Berulang kali Andara menghubungi Malvino namun tak kunjung mendapat jawaban. Malah kini ponsel Malvino tak bisa di hubungi. Kegelisahan makin menjadi saat ia mencoba menghubungi telepon rumah dan juga ponsel Sandrina. Hal yang sama, panggilan Andara seakan terabaikan.
Kesekian kalinya Andara mencoba menelpon ke ponsel Sandrina. Baru sekarang panggilannya di terima oleh Malvino.
" Hallo Mam, " seru Malvino setelah mendengar getaran ponsel Sandrina yang di simpan di atas nakas.
" Pap, kemana aja dari tadi mami telepon gak di angkat. Malah gak aktif lagi sekarang ! " kata Andara dengan nada cemas.
Malvino meraba-raba pakaian nya, ia lantas menepuk jidatnya saat sadar jika ponselnya mungkin masih di kantong jas nya tadi. Dan pasti basah karena di bawa nya masuk ke dalam kolam.
" Pap, kenapa diam? Ada apa, kenapa perasaan Mami gak enak gini? Apa terjadi sesuatu sama kamu atau Sandrina? " Andara menghujani nya dengan banyak pertanyaan.
Malvino pun berpikir jika kejadian yang menimpa Sandrina bisa di rasakan oleh Andara secara mereka pasti memiliki ikatan batin antara ibu dan anak.
" Barusan pas Papi pulang, Sandrina tenggelam di kolam renang. " Malvino menjelaskan dengan hati-hati tak ingin membuat Andara makin panik.
" Tapi sekarang Sandrina udah baik-baik saja, dia sekarang tidur, " lanjutnya.
" Apa? Kok bisa? Mami pulang sekarang ! " Tanpa menunggu jawaban dari suaminya Andara langsung menutup telepon. Kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dengan perasaan campur aduk ia pun memutuskan segera pulang setelah meminta izin pada atasannya.
Sementara itu Mbok Darmi keluar dari kamar Sandrina dengan membawa pakaian basah bekas Malvino dan Sandrina. Langkahnya seketika terhenti saat melihat boneka milik Sandrina berada di kursi taman belakang tak jauh dari kolam renang. Kedua alisnya saling bertautan melihat kejanggalan yang di alaminya. Jelas-jelas tadi ia lihat boneka itu di kamar Sandrina bahkan sempat ia lemparkan. Tapi kenapa sekarang ada di taman belakang?
Tak ingin kewarasannya makin memburuk, Mbok Darmi segera melangkahkan kaki nya kembali menuju ruang laundry. Hatinya di penuhi banyak pertanyaan yang sulit terjawab oleh logika.
__ADS_1