
Andara meringis merasakan sakit di bagian kepalanya. Perlahan ia membuka mata, mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang tampak asing.
Saat ini Andara berada di satu ruang rawat Rumah Sakit, dari sana ia mulai ingat jika dia beserta suami dan anaknya baru saja mengalami kecelakaan.
" Mam, kamu sudah sadar? " suara Malvino terdengar sontak Andara menoleh.
" Pap, mana Sandrina? " Tanya Andara saat melihat Malvino hanya datang sendiri dengan luka perban di kepalanya.
Raut wajah Malvino terlihat sedih, membuat Andara khawatir telah terjadi sesuatu pada putrinya.
" Pap ? " Andara berniat mengulang pertanyaannya namun Malvino segera menjawab.
" Sandrina koma. " Mata Malvino berkaca-kaca menatap wajah Andara.
" Apa? " Andara berontak berusaha bangun tak perduli rasa sakit di kepalanya. Ia ingin segera melihat keadaan Sandrina.
" Mam, kamu jangan banyak gerak dulu. Sandrina pasti akan baik-baik saja, kamu tenang ya ! Dia di tangani Dokter terbaik di Rumah Sakit ini, " kata Malvino menahan tubuh istrinya yang terus meronta dan menangis histeris.
" Bagaimana aku bisa tenang sementara anakku sedang berjuang di antara hidup dan mati ! " suara Andara kini sedikit kencang dengan mata membulat marah karena Malvino menghalanginya untuk bertemu Sandrina.
" Iya aku tau Mam ! Bukan cuma kamu yang sedih, aku juga terpukul ! Tapi kita berdua harus sabar, berdoa untuk Sandrina. Percayakan semuanya pada Dokter ! Yakin, anak kita pasti akan sembuh, " tegas Malvino dengan nada tinggi.
Andara pun menangis sejadi-jadinya, menenggelamkan kepala dalam dada Malvino.
' Apa lagi ini Tuhan? ' batin Andara.
Seketika ia teringat perkataan seseorang yang pernah bertemu dengannya di penginapan.
__ADS_1
Yang entah makhluk halus atau manusia, namun ia memberi sebuah peringatan pada Andara.
' Hati-hati ! '
Mengingat hal tersebut, Andara langsung mendorong pelan dada bidang Malvino yang semula ia jadikan tempat meluapkan tangisannya.
Malvino mengernyitkan dahi melihat ekspresi Andara yang aneh.
" Aku harus bertemu Sandrina sekarang ! " tuntut Andara.
" Iya nanti,, "
" SEKARANG ! "
Malvino terperanjat mendengar Andara membentaknya.
" Tunggu sebentar ya,, sabar ! " Malvino mengangkat jemari tangannya agar Andara bisa bersabar sebentar hingga dirinya kembali membawa kursi roda.
Napas Andara nampak memburu, wajahnya sudah sangat basah dengan air mata. Segala pikiran negatif mulai bermunculan di benak Andara. Ia juga teringat sesuatu, saat melewati rest area. Arwah Pak Kosim seakan menyuruhnya untuk berhenti. Apa itu suatu pertanda jika Pak Kosim mencegah terjadinya kecelakaan tersebut? Apa semua ini masih ulah Kaliya? Tapi, kenapa? Bukankah saat ini Andara dan Malvino sedang berusaha mengungkap kasus pembunuhan Kaliya?
Suara kursi roda membuyarkan lamunan Andara. Malvino pun membantu Andara untuk duduk di kursi roda, kemudian mendorong kursi roda tersebut setelah Andara duduk di atasnya.
Jantung Andara berdegup kencang, pikirannya di penuhi segala sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Ia kalut dan gelisah. Dan yang lebih dominan lagi adalah rasa takut. Takut terjadi sesuatu pada Sandrina. Jika sampai itu terjadi, maka Andara tak akan pernah memaafkan Kaliya.
Sibuk melamun hingga Andara tak sadar jika kini kursi roda yang di naikinya sudah berhenti di depan ruangan Sandrina. Dimana terdapat sebuah kaca berukuran besar, dan dari kaca itu Andara bisa melihat Sandrina.
Sandrina terbaring lemah di atas ranjang pesakitan dengan berbagai alat bantu menempel di tubuhnya. Sakit hati Andara melihat keadaan putrinya sekarang ini.
__ADS_1
Sandrina tak berdosa, tak pernah tau apapun tentang Kaliya tapi kenapa ia harus mengalami hal-hal yang menyakitkan seperti ini? Jika memang kecelakaan yang terjadi adalah ulah Kaliya, Andara berjanji akan membuat perhitungan dengan Kaliya juga Sinta ibunya. Pasalnya Andara curiga pada gelagat Sinta pada saat di temui di Rumah Sakit Jiwa. Seperti sedang berinteraksi dengan Kaliya, yang mungkin merencanakan sesuatu termasuk kecelakaan yang saat ini di alami.
Dokter yang sedang menangani Sandrina pun tampak keluar ruangan, bisa mereka lihat melalui kaca besar tadi.
Segera Malvino mendorong kursi roda mendekat ke arah pintu yang tak jauh dari sana.
" Bagaimana anak kami Dok? " tanya Malvino.
" Tadi detak jantungnya sempat melemah tapi sekarang sudah mulai normal kembali, " jawab Dokter.
" Tolong selamatkan putri kami ! " lirih Andara memelas.
" Akan kami usahakan sebaik mungkin, " kata Dokter.
" Apa bisa saya bertemu langsung dengannya? " tanya Andara penuh harap.
" Sebaiknya jangan sekarang. Luka yang di alami anak ibu cukup serius apalagi sebelumnya anak ibu baru mengalami kecelakaan dan menimbulkan luka di bagian kepalanya. Dan sekarang luka itu kembali terbentur, hingga cukup memperparah keadaan. " Dokter tersebut menjelaskan.
" Tapi Dok, mungkin saja dengan suport dari saya ibunya Sandrina bisa segera sadar. Saya mohon ! " Andara berurai air mata, menyatukan kedua telapak tangan di depan dada.
Meminta belas kasihan dan pengertian dari Dokter. Melihat Andara seperti itu, Dokter pun akhirnya mengizinkan. Bagaimana pun suport sangat di butuhkan pada saat seperti ini. Dengan harapan ikatan batin ibu dan anak dapat mempercepat kesembuhan Sandrina.
Luka bekas terserempet motor yang menyebabkan cedera di bagian kepala Sandrina kini kembali bertambah parah akibat kecelakaan barusan, karena itulah Sandrina koma.
Andara tampak senang setelah di izinkan masuk oleh Dokter meskipun hanya dirinya saja yang di perbolehkan sedang Malvino tetap harus menunggu di luar. Sebelum masuk, Andara memakai pakaian pelindung kemudian ia masuk ke ruangan tersebut dengan di bantu Suster.
" Sandrina sayang,, ini Mami nak ! " suara Andara serak sedikit tersendat oleh tangis.
__ADS_1
" Kamu harus segera sembuh sayang, mami menunggu mu di sini. " Andara terisak. Dia benar-benar tak kuat melihat Sandrina terbaring lemah di atas ranjang tersebut.