
Malvino duduk gelisah di ruang makan. Ia masih kepikiran dengan sukma Sandrina yang kini berada di dalam boneka.
" Loh kok belum sarapan? " Andara muncul bersama Sandrina.
Malvino menoleh pada istrinya kemudian pada Sandrina. Tak ingin sampai Kaliya curiga, Malvino segera mengulas senyum.
" Papi nunggu kalian. " Terpaksa Malvino berbohong, dalam hati ia benar-benar membenci roh jahat yang berada dalam raga putrinya. Tapi saat melihat raga itu, ia kembali sedih bagaimana pun itu adalah wujud milik Sandrina.
Sulit di ungkapkan bagaimana perasaan Malvino saat ini. Dia membenci sosok yang berada dalam tubuh Sandrina namun mata kasarnya tak mampu melihat sosok tersebut dan yang bisa di lihatnya adalah sosok putri tercinta.
Tak sadar Malvino memainkan sendok dan garpu di atas makanannya sambil melamun.
" Pap, ada apa? " Andara menatap heran.
" Gak ada Mam. Aku berangkat sekarang, " jawab Malvino segera berdiri dan meraih tas kerjanya.
" Makanannya kan belum habis, " cegah Andara.
" Udah kenyang. Lagian aku udah telat, ada meeting hari ini. "
" Kalau gitu Mami sama Sandrina antar Papi sampai depan rumah, " kata Andara.
Andara segera mengajak Sandrina mengikuti langkah Malvino yang sudah lebih dulu berjalan menuju teras.
" Hati-hati ya Pap ! " Andara mencium punggung tangan suaminya.
" Iya. " Malvino pun mencium kening Andara. Kemudian berbalik badan hendak masuk ke dalam mobil.
" Loh, Sandrina belum sun tangan udah pergi-pergi aja. Buru-buru amat sih? " Andara merasa makin heran melihat tingkah Malvino pagi ini.
Dengan ragu Malvino menjulurkan tangan, Sandrina pun menjabatnya dan mencium punggung tangan Malvino. Ada perasaan tak nyaman yang Malvino rasakan.
" Cium anaknya Pap! " tuntut Andara saat Malvino kembali berbalik badan.
__ADS_1
Sebenarnya Malvino membenci hal ini, apalagi ia tau jika di dalam raga anaknya adalah roh jahat Kaliya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada mereka curiga.
Malvino pun mencium pipi kanan dan kiri Sandrina. Saat jarak wajah mereka begitu dekat, Malvino merasakan hawa lain. Anehnya kenapa dia baru sadar setelah di beri tau Deon, padahal seharusnya dia yang lebih dulu tau siap sebenarnya yang bersarang di dalam tubuh putrinya. Bukankah chemistry ayah dan anak akan terasa lebih kuat? Kenapa baru sekarang dirinya merasa hambar, seakan tak ada ikatan apa-apa dengan anak kecil di hadapannya. Hari-hari kemarin dia tak menyadari hal itu, bahkan Andara sendiri seakan terhipnotis oleh Kaliya.
" Aku berangkat. " Malvino bergegas masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya keluar dari rumah.
Sebenarnya hari ini Malvino berniat mencari boneka Kaliya bersama Deon. Semua ia rahasiakan dari Andara.
Di tempat lain. Shela menatap dinding yang semula berwarna putih bersih kini tampak bernoda kemerahan. Anwar tak menjelaskan apapun tentang hal tersebut dan berkilah kalau catnya luntur. Sungguh tak masuk akal.
Tak mau memusingkan semua itu Shela pun bergegas pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka.
Seperti biasa Shela menyimpan kunci rumah di bawah keset, pasalnya dia suka lupa kalau membawa kunci rumah. Bahkan pernah sampai hilang karena dia lupa naro atau mungkin jatuh. Entahlah yang pasti kuncinya sampai sekarang tak dia temukan. Semenjak kejadian itu Shela selalu menyimpan kunci di bawah keset.
Shela pun beranjak dari rumah dengan berjalan kaki, di depan komplek baru dia akan mencari taksi. Karena kurang hati-hati Shela menabrak seseorang.
Shela menatap aneh wanita di hadapannya, seperti wanita yang memiliki gangguan mental. Pasalnya rambut wanita itu sedikit berantakan belum lagi tatapannya yang sangat tajam mengerikan.
Tanpa dia sadari jika wanita yang baru saja bertabrakan dengannya terus memandangnya dengan tatapan kebencian.
" Heran sama satpam komplek ini, kok bisa-bisanya ada orang gila masuk ke area sini, " gerutu Shela dengan langkah cepat.
Sementara itu wanita asing yang di anggap gila oleh Shela kini mulai memasuki rumah Shela dan Anwar.
Ya, dia adalah Sinta. Sinta bisa kabur dari rumah sakit jiwa dengan bantuan Kaliya yang saat itu merasuki tubuh salah satu perawat dan membuka kunci kamar dimana Sinta di kurung.
Semenjak Andara dan Malvino berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa, keadaan Sinta sedikit membaik. Dia tak lagi gila seperti sebelumnya, namun tetap saja Sinta belum sepenuhnya normal. Terlebih dendam yang menyelimuti hatinya, bersama Kaliya dia bersekongkol untuk membunuh Anwar.
Sinta membuka keset, meraih kunci rumah Shela. Dengan perlahan ia mulai berjalan menuju pintu, memasukan kunci tadi dan terbukalah pintu tersebut.
Selang beberapa menit. Anwar saat ini sedang menuju rumahnya. Ada barang yang ketinggalan hingga ia harus kembali ke rumah.
Anwar menghentikan laju kendaraannya saat melihat Andara sedang berada di halaman rumah, kebetulan sekali pintu gerbang pun terbuka. Bisa di pastikan mobil Malvino baru saja keluar dari sana.
__ADS_1
Anwar pun turun dari mobil, dengan percaya diri dia menghampiri Andara.
" Selamat pagi Andara, senang bisa ketemu lagi. Padahal rumah kita bersebelahan, " seru Anwar dengan senyum yang menjijikan di mata Andara.
Andara memutar mata malas, lagi-lagi dirinya harus bertemu dengan pria hidung belang itu.
Tanpa mereka sadari Sandrina menatap tajam Anwar, hingga muncul akal liciknya.
" Mami, tangan Sandrina sakit lagi. " Sandrina menunjukan luka perban yang masih membalut telapak tangannya, dengan tujuan membuat Anwar curiga terhadapnya.
Anwar mengernyitkan dahi, ia ingat kata-kata Shela yang menyatakan bahwa yang membekap mulutnya dengan bantal adalah anak kecil. Shela sempat menyentuh lengan si pelaku, dan Shela yakin tangannya kecil seukuran anak-anak. Kecurigaan Anwar makin menjadi saat mengingat tulisan darah yang berada di tembok ruangan. Mungkinkah anak Andara yang melakukannya? Batin Anwar.
" Kalau gitu ayo kita masuk. Mami obati tangan kamu. " Andara menggandeng Sandrina berniat mengacuhkan Anwar.
" Tunggu ! Kenapa dengan tangan anak mu? " selidik Anwar.
Dengan mendengus kesal Andara membalik badan.
" Bukan urusan mu ! " ketus Andara yang langsung mengajak Sandrina segera masuk ke dalam rumah.
Anwar masih mematung, dia mulai curiga pada Sandrina. Bisa jadi Sandrina kerasukan arwah Kaliya, atau mungkin keluarga Andara tau kasus pembunuhan Kaliya? Anwar mengepalkan tangan, ia tak akan membiarkan siapapun membongkar rahasia yang sudah ia kubur bertahun-tahun.
Segera Anwar kembali ke mobil, melaju menuju rumahnya.
Sementara di dalam rumah Andara.
" Mami cari kotak obatnya dulu, " ucap Andara.
" Iya Mam, Sandrina tunggu di sini saja. " Anak itu duduk di kursi ruang utama, dengan sengaja ingin mengamati Anwar yang tadi masih berdiri di luar sana.
" Oke, tunggu Mami sebentar cari kotak obatnya. " Andara berjalan masuk mencari cari kotak obat.
Rupanya semua ini sudah menjadi rencana Kaliya. Sandrina yang berada dalam pengaruh Kaliya pun kini mulai berjalan keluar rumah menuju rumah Anwar. Sementara Andara masih kebingungan mencari kotak obat yang entah dimana.
__ADS_1