
Malvino beranjak dari ruang kerja, matanya sudah terasa berat. Berkali-kali dia menguap, rasa kantuk mulai mendera.
Langkahnya seketika terhenti saat melihat Sandrina melintas masuk ke kamar.
" Sandrina? Darimana dia malam-malam begini? " segera Malvino berjalan menuju kamar putrinya.
Di dorongnya knop pintu kamar tersebut, kebetulan tak terkunci hingga Malvino bisa langsung masuk.
Malvino terkejut melihat Sandrina berdiri membelakanginya dengan darah menetes di tangan kiri anak itu, tetesan darah itu jatuh membasahi keramik.
" Sandrina? Apa yang terjadi? " Malvino menghampiri Sandrina membalikan tubuh putrinya meraih tangan kecil yang kini luka dan berdarah.
" Ya ampun, sebentar nak Papi ambil obat dulu. " Tanpa menunggu alasan dari Sandrina kenapa anak itu bisa terluka, Malvino segera mencari kotak obat dan air untuk mengobati dan mencuci luka di tangan anaknya itu.
Sandrina hanya diam tak menjawab apa-apa saat Malvino kembali membersihkan lukanya pun anak itu tetap diam.
Dengan panik ia membasuh tangan Sandrina, setelah di rasa bersih segera ia beri obat antiseptik dan di balutnya dengan perban.
Malvino menatap putrinya yang seakan tak merasa nyeri sedikitpun padahal luka di telapak tangannya cukup dalam bahkan jari jemarinya pun nampak penuh luka. Anak seusia Sandrina pasti akan menangis saat terluka seperti sekarang ini.
" Kenapa bisa seperti ini? Dari mana kamu tadi, papi lihat kamu habis dari luar dan baru saja masuk kamar, " selidik Malvino.
Sorot mata Sandrina menatap tajam dirinya, terasa asing bagi Malvino.
" Sandrina, jawab Papi ! "
Perlahan telunjuk Sandrina kini mengarah pada sudut kamar dimana vas bunga nampak pecah berserakkan di sana. Padahal tadi rasanya Malvino tak melihat pecahan vas bunga tersebut, atau mungkin karena dia panik lantas tak memperhatikan sekeliling?
" Jadi tanganmu terkena pecahan beling vas itu? " tanya Malvino yang di angguki perlahan oleh Sandrina.
Bisa jadi seperti itu, dan mungkin tadi anaknya keluar berniat mencari bantuan. Pikir Malvino meski masih terasa janggal. Malvino segera membereskan pecahan beling itu dan membuangnya ke tempat sampah.
" Sekarang Sandrina bobo lagi, udah malam. Mau Papi temani? "
Segera Sandrina menggelengkan kepala.
" Ya udah, Sandrina bobo ya ! " Malvino membaringkan putrinya di atas ranjang dan menyelimutinya.
Malvino meraih kotak obat dan wadah air kemudian pergi meninggalkan Sandrina sendirian di kamarnya. Malvino pikir Sandrina pasti akan langsung tidur.
Gelagat Sandrina memang tampak lain dari biasanya, tapi Malvino kira semua itu karena akibat kecelakaan tempo hari yang menyebabkan Sandrina lebih pendiam. Malvino pun berniat memeriksakan kepala Sandrina yang menurutnya perubahan sikap Sandrina saat ini ada hubungannya dengan benturan di kepala anak itu.
Keesokan paginya,
__ADS_1
" Papi lihat makin hari Sandrina makin pendiam, apa kita coba periksakan lagi dia ke Dokter? " tanya Malvino yang saat itu sedang bersiap berangkat kerja.
" Tapi dari hasil rontgen Sandrina baik-baik saja. " Andara mulai cemas, pasalnya sikap Sandrina begitu dingin dan tak banyak bicara.
" Atau kita ajak ke psikiater, " cetus Malvino.
" Apa? Papi pikir Sandrina gila? Enggak, aku gak setuju ! " Andara membulatkan mata, ia menekuk wajah memalingkan pandangannya ke arah jendela kamar, menatap lurus ke depan sana.
" Bukan gitu mam. Berobat ke psikiater bukan berarti gila, mungkin saja Sandrina tertekan oleh sesuatu hingga membuatnya pendiam seperti sekarang, " jelas Malvino seraya memeluk istrinya dari belakang. Andara masih merengut.
" Lebih baik kita rontgen ulang daripada Sandrina di bawa ke psikiater. " Andara menepis pelukan suaminya berlalu pergi keluar, menuruni anak tangga menuju kamar putrinya.
Andara membuka pintu kamar Sandrina, terdengar suara cekikikan Sandrina di dalam sana.
Anak itu sedang asyik bermain di atas ranjang bersama boneka-boneka. Andara mengernyitkan dahi saat merasa ada yang aneh dalam tawa putrinya. Tawa yang bergetar mampu meremangkan bulu kuduknya.
Andara bergerak melangkah, mendekati Sandrina yang kini duduk membelakangi dirinya.
" Sayang, " seru Andara namun Sandrina bergeming. Anak itu tetap asyik bermain tanpa peduli panggilan Maminya.
" Nak, kita sarapan. Papi menunggu di ruang makan, yuk ! " Kini Andara duduk di samping Sandrina.
Wajah anak itu tak terlihat jelas tertutupi rambut panjangnya. Entah kenapa jantung Andara seakan berdegup kencang, dengan ragu ia menyibakkan rambut putrinya.
Andara melotot terkejut melihat perban yang membalut telapak tangan Sandrina yang kini menyentuh kulitnya.
" Ya ampun nak, tangan mu kenapa? " Sandrina meraih tangan mungil yang tampak pucat itu.
" Maaf Mam, tadi aku lupa bilang kalau semalam Sandrina kena pecahan kaca. " Malvino tiba-tiba saja muncul berdiri di ambang pintu, Andara pun menoleh padanya kemudian kembali berpaling melihat luka di tangan Sandrina.
Jelas Andara khawatir melihat luka di telapak tangan putrinya.
" Tenang saja Mam, udah aku obati lukanya. Kita sarapan, bentar lagi aku harus berangkat kerja. " Malvino melirik arloji di tangan kemudian beranjak dari sana menuju ruang makan.
" Kamu baik-baik saja? " Andara menatap lekat manik mata putrinya yang kini menoleh padanya.
Sandrina hanya mengangguk pelan.
" Kita sarapan ya. "
Kembali Sandrina menjawab dengan sebuah anggukan pelan.
Di ruang makan Malvino sudah mulai sarapan. Andara memilih duduk bersebelahan dengan Sandrina.
__ADS_1
Sementara Mbok Darmi sibuk di dapur yang masih satu ruangan dengan ruang makan.
Andara segera meraih roti dan mengoleskan selay strawbery di atasnya. Makanan kesukaan Sandrina.
Selesai membuat roti untuk Sandrina, di sodorkannya roti tadi pada putrinya.
Namun Sandrina menggelengkan kepala, matanya mulai berkeliaran seperti mencari-cari sesuatu. Dan manik matanya berhenti di satu titik, menatap Mbok Darmi yang saat itu sedang mencuci daging ayam mentah.
" Sandrina mau makan ayam? " Andara menyimpan potongan roti di atas piring, ia pikir Sandrina ingin makanan lain bukan roti buatannya tadi.
Sandrina mengangguk pelan dengan mata tak lepas dari Mbok Darmi yang masih sibuk mencuci daging mentah.
" Mbok goreng ayamnya sekarang ya ! " titah Andara membuat Mbok Darmi menoleh ke samping.
" Iya Bu. Tapi Mbok beli dulu bumbunya, tadi kelupaan. Habis ini mbok ke warung, " ucap Mbok Darmi yang kemudian meninggalkan daging yang sudah ia cuci bersih.
" Jangan lama-lama ya Mbok, Sandrina pasti laper ! " kata Andara.
" Iya Bu. " Mbok Darmi pun buru-buru keluar lewat pintu belakang, menuju warung yang tak jauh dari rumah.
" Mam, tolong ambilkan ponsel ku di atas. Tadi kelupaan, " ucap Malvino yang baru saja selesai sarapan.
" Aku tunggu di luar, udah kesiangan nih ! " Malvino bergegas meninggalkan ruang makan, di ikuti Andara yang di perintahkan membawa ponsel di kamar mereka.
Kini hanya tinggal Sandrina yang ada di sana. Mata Sandrina membulat melihat daging ayam di dekat wastafel cuci piring. Lantas ia mendekat memakan beberapa potong daging ayam mentah itu dengan lahapnya. Setelah puas dam kenyang, ia kembali duduk di kursi dengan mulut belepotan dan bau amis.
Mbok Darmi tergopoh-gopoh muncul dari pintu belakang dengan membawa bumbu halus kuning di tangannya. Seketika ia terkejut saat mendapati ayam mentah yang ia cuci tadi berantakan bahkan hilang beberapa potong.
Mbok Darmi yang bengong pun kini menoleh ke arah Sandrina yang sedang duduk seperti patung.
" Kenapa Mbok? " Andara muncul dari ruangan lain, merasa heran melihat Mbok Darmi terbengong-bengong di depan meja dapur.
" Ayamnya ilang sebagian. " Mbok Darmi kini melirik ke arah Sandrina yang mulutnya nampak belepotan.
" Ilang? Kok bisa? Apa ada kucing? " Andara heran namun ia tak sempat menengok wajah putrinya yang mencurigakan.
" Tadi ada kucing. Sandrina belum mau makan nanti saja, " ucap Sandrina dengan suara datar dan langsung pergi dari tempat itu.
" Sandrina tunggu ! " Andara mengejar putrinya namun sayang Sandrina mengunci pintu kamar, mengurung diri di kamarnya.
" Nak, buka pintunya ! " seru Andara dengan mengetuk pintu kamar berkali-kali.
Tak pula ada jawaban. Andara cemas tapi ia mencoba membuang segala pikiran negatifnya. Dan memilih duduk di ruang televisi. Sementara Mbok Darmi mulai curiga dengan gerak-gerik Sandrina yang di rasa makin aneh.
__ADS_1