
Deg !
Anak Anwar ?
Baru saja Andara menemui istri Anwar dan jelas-jelas istri Anwar mengatakan bahwa dirinya belum memiliki keturunan. Lantas siapa anak yang di maksud oleh Sandrina? Tak mungkin ada Anwar lain, atau jangan-jangan Anwar memiliki anak dari perempuan lain? Bisa saja bukan? Secara Anwar itu seorang pria hidung belang.
Andara terus memikirkan hal tersebut. Tapi yang terpenting saat ini Andara sudah merasa lega karena Sandrina sudah kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Andara pun mengajak Sandrina masuk tanpa bertanya lebih detail lagi pada putri nya itu, kemana sebenarnya Sandrina pergi barusan?
" Non Sandrina sudah pulang? " Mbok Darmi menghampiri mereka berdua yang baru saja masuk rumah.
" Iya mbok, emang nya mbok gak tau kalau tadi Sandrina ada di teras depan? " Andara memicingkan mata.
Spontan Mbok Darmi menggelengkan kepala nya dengan cepat.
" Ya udah Mbok, gak penting juga ! Yang penting sekarang Sandrina sudah kembali, " ucap Andara dengan menarik napas dalam. Kemudian mengajak Sandrina masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Andara menyiapkan pakaian ganti untuk Sandrina yang saat ini masih mengenakan seragam sekolah.
" Ganti baju dulu, habis ini kita makan siang, " ucap Andara sambil menyimpan beberapa helai pakaian di atas tempat tidur.
Sandrina pun menurut, ia segera berganti pakaian. Tapi kali ini sikap Sandrina sedikit lebih pendiam tak seperti biasanya. Bahkan tanpa Andara sadari sesekali Sandrina tersenyum ke arah sudut ruangan saat melihat sosok yang selama ini ia anggap teman.
Suara ponsel berbunyi, Andara segera mengambil benda pipih itu di dalam tas kerja. Tertera jelas nama Hana dalam layar ponsel tersebut. Andara mengusap wajah nya dengan kasar setelah akhirnya ia mengangkat panggilan dari Hana rekan kerjanya.
" Iya Han, sorry tadi aku cabut dari kantor soalnya asisten rumah tangga ku nelpon dan bilang kalau Sandrina anak ku gak ada di sekolah. Dia sempat hilang, dan aku cari kemana-mana. Aku panik makanya gak sempat izin dulu sama kamu, " jelas Andara saat Hana menanyakan alasan kepergiannya dari kantor yang secara tiba-tiba.
" Udah kok, sekarang Sandrina udah balik ke rumah. Katanya dia pergi sama temannya. Habis makan siang, aku kembali ke situ lagi. Ok bye ! " Andara menghela napas panjang dengan satu tangan masih menempel di jidat dan tangan yang lain nya berada di pinggang.
Melihat Sandrina sudah berganti pakaian, Andara pun mengajak putri kecilnya itu keluar kamar, menuju ruang makan untuk makan siang bersamanya.
Mbok Darmi nampak sudah menyiapkan makanan di atas meja makan. Berbagai menu tersaji ada sayur lodeh, pepes ikan, sambal, balado ati ampela dan kerupuk. Makanan Mbok Darmi memang selalu menggugah selera, hingga melupakan sejenak masalah yang baru saja di alami oleh Andara.
Selain tampilannya yang bikin ngiler, rasa masakan Mbok Darmi pun sangat memanjakan lidah. Tak salah Andara mempekerjakan beliau, apalagi Malvino yang memang menyukai masakan-masakan rumahan yang sederhana dan menggunakan resep tradisional. Tentu saja masakan Mbok Darmi ini sesuai dengan selera Malvino.
__ADS_1
" Mbok, saya titip Sandrina ya. Kalau bisa temani terus dia, jangan sampai Sandrina keluar rumah termasuk ke taman belakang pun gak boleh. Kalau perlu kunci semua pintu rumah, " ucap Andara yang kini bersiap kembali ke kantor.
" Baik Bu. " Mbok Darmi mengangguk tanda ia menerima tugas dari majikannya.
" Mami pergi dulu ya sayang ! Sandrina baik-baik di rumah, jangan nakal kasihan si Mbok nya. " Andara mencium kening putrinya lalu ia pun kembali ke kantor.
Setengah hari lagi baru dia bisa pulang ke rumah. Sebenarnya Andara ingin tetap bersama Sandrina, ia masih khawatir hal buruk terjadi kembali pada putrinya itu. Perasaan Andara tak bisa tenang saat ia berjauhan dengan Sandrina, meski saat ini ada Mbok Darmi yang menemaninya. Andara tetap tak yakin jika pembantunya itu bisa menjaga Sandrina dengan baik.
Apalagi sudah dua kali kecerobohan yang di lakukan oleh Darmi yang pertama menyebabkan Sandrina tenggelam di kolam, dan sekarang Sandrina nyaris saja hilang akibat Mbok Darmi telat beberapa menit menjemput putrinya di sekolah.
Sempat terlintas di benak Andara untuk berhenti bekerja demi bisa menjaga Sandrina. Meski selama ini karir begitu penting bagi Andara. Tapi tentu Sandrina jauh lebih penting dari apapun di dunia ini. Selama berada di kantor Andara menimbang-nimbang antara tetap meneruskan karirnya atau malah resign dari pekerjaan yang sudah bertahun-tahun ia jalani.
" Aku harus bicarakan ini dengan Malvino, " ucap Andara seraya mengeluarkan ponsel berniat menghubungi suaminya yang sedang berada di luar kota. Andara pun menceritakan hilang nya Sandrina pada suaminya.
Untung saja Malvino bisa mengerti dan tak menyalahkan siapapun atas apa yang di alami Sandrina. Tak seperti suami-suami yang lain yang biasanya menyalahkan istri nya karena tak bisa merawat anak dan hanya memikirkan karir. Malvino bukan pria seperti demikian. Dia sangat pengertian pada Andara, bahkan saat Andara minta pendapat tentang keinginannya untuk resign pun, Malvino menganjurkan agar Andara memikirkan nya matang-matang. Karena karir yang di bangun Andara selama ini bukanlah hal yang mudah. Tentu untuk melepaskan nya pun harus di pikirkan benar-benar.
Bukan berarti Malvino tak mencemaskan Sandrina. Bagi nya Mbok Darmi sudah cukup bisa mengawasi dan menjaga Sandrina dengan baik, bahkan Mbok Darmi sudah bekerja bertahun-tahun dengan mereka. Selama itu tak pernah terjadi apa-apa kecuali akhir-akhir ini memang Malvino akui banyak musibah terjadi. Malvino hanya menyadari jika musibah datang tanpa seorang pun tau, maka dari itu ia tak mau menyalahkan Mbok Darmi dengan apapun yang terjadi pada Sandrina. Yang penting Sandrina selamat dan tidak kenapa-kenapa.
__ADS_1