KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 18


__ADS_3

Mbok Darmi terbangun. Sebelumnya ia sempat ketiduran saat menjaga Sandrina.


Dengan mata masih tertutup rapat dan wajah menelungkup, ia meraba-raba kasur dimana Sandrina terbaring.


" Astagfirullahaladzim ! " Mbok Darmi terkesiap saat tak mendapati Sandrina di tempatnya. Harusnya Sandrina berada di hadapannya. Tapi ranjang ini kosong.


" Non Sandrina ! " Mbok Darmi bangkit berjalan menuju toilet. Saat ini Sandrina sudah di pindahkan ke ruangan.


Perlahan Mbok Darmi membuka pintu toilet, tapi Sandrina tak pula ia temukan. Ia mulai panik, pasalnya ia di percaya oleh Andara majikannya untuk menjaga Sandrina. Tapi apa yang terjadi sekarang? Sandrina hilang begitu saja.


Mbok Darmi merutuk diri karena bisa-bisa nya ia sampai ketiduran saat sedang menemani Sandrina. Entah kenapa tadi rasanya ia tersihir dan ngantuk berat.


" Aduuhh, gimana ini. Kalau sampai Ibu sama Bapak tau, pasti aku kena marah. " Mbok Darmi pun berjalan keluar untuk bertanya pada suster siapa tau ada yang melihat Sandrina.


Di tempat parkir depan gedung Rumah Sakit. Malvino menepikan mobil nya. Andara turun lebih dulu, ia merasakan firasat buruk tentang Sandrina.


" Papi ! Itu Sandrina ! " Andara terhenyak saat menatap ke atas roof top Rumah Sakit. Sandrina berjalan di pagar pembatas roof top tersebut dengan tatapan kosong. Satu lengannya menenteng boneka Kaliya, padahal jelas-jelas boneka itu berada di rumah. Tapi kenapa sekarang bisa ada di tangan Sandrina?


" Astagfirullah Sandrina ! " seru Malvino yang baru saja turun dari mobil dan menangkap sosok putrinya berada di atas sana. Keadaan yang sangat membahayakan bagi nyawa Sandrina.


Teriakan Andara dan Malvino mengundang beberapa orang yang juga berada di pelataran Rumah Sakit untuk melihat ke atas gedung lima lantai itu. Semula tak satupun orang yang sadar akan keberadaan Sandrina di sana, entah sejak kapan dia berjalan di tembok pembatas itu.


Malvino berlari menuju lift, namun sayangnya pintu lift tak kunjung terbuka. Hingga ia memutuskan untuk melewati tangga darurat.


Sedangkan Andara sendiri masih berlari jauh di belakangnya. Untungnya saat Andara sampai, pintu lift tadi terbuka.


Malvino dan Andara menempuh dua jalan yang berbeda untuk bisa sampai ke atas rooftop.


Malvino berlarian menaiki satu persatu anak tangga darurat. Seketika ia terhenti, saat mendengar suara tangisan dan raungan di sekitar tangga darurat.

__ADS_1


Malvino mengedarkan pandangannya, saat ini ia telah sampai di lantai dua. Masih harus melewati 3 tangga lagi agar bisa sampai ke atas sana. Tapi kini malah terhambat oleh suara aneh yang terdengar memilukan.


Merasa membuang waktu, Malvino pun berusaha tak perduli dengan suara tangisan itu. Ia kembali berlari tapi kali ini suara langkah kaki terasa berisik, seakan bukan hanya dia yang sedang menaiki tangga darurat itu.


Semula ia pikir jika yang di bawah sana adalah Andara istrinya. Namun saat ia melongok ke bawah, ia melihat sosok anak kecil berlarian seakan mengejar dirinya. Sontak Malvino makin mempercepat langkahnya.


Di dalam lift. Andara yang sedang panik pun mendapat gangguan dari sosok Kaliya. Lift yang sedang di naiki Andara tiba-tiba berhenti di lantai tiga. Awalnya Andara kira ada seseorang yang akan masuk ke dalam lift. Tapi dia salah. Lampu lift seketika nyala mati berulang-ulang. Sudut mata Andara menangkap sosok mengerikan di dinding lift yang berlapis kaca itu. Hingga pantulannya dapat di lihat di keempat sisi.


Andara menutup mulut dengan telapak tangan, air mata sudah berdesakan mengalir membasahi pipi. Dalam keadaan genting, sosok arwah anak kecil itu terus saja menghantuinya. Selain ketakutan, rasa cemas pun semakin menyiksa diri. Saat ini Sandrina dalam bahaya besar. Bagaimana jika Kaliya membuat Sandrina lompat dari rooftop?


Berbagai pikiran buruk melintas di benak Andara. Membuatnya makin gelisah. Tak ingin sampai Sandrina kenapa-kenapa. Akhirnya, Andara berupaya mengusir rasa takut dan mencoba berkomunikasi dengan Kaliya.


" Ka-li-ya, " suara Andara terbata dan pelan.


Kaliya yang semula menunduk kini mulai mendongak. Menampakan wajahnya yang menyeramkan. Dengan mata menghitam baik di bagian dalam maupun di sekitar matanya. Semua hitam hingga tak nampak sklera (bagian putih mata) maupun manik matanya. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang pucat. Namun meski pun begitu, Andara yakin jika saat ini sosok Kaliya sedang menatap tajam dirinya.


" Apa yang kamu mau? Aku mohon lepaskan anak ku, " pinta Andara dengan memelas.


" Aku akan menjadikannya sahabat, membawanya pergi bersamaku, aku sendirian, aku butuh teman,,, " suara lirih mengerikan keluar dari mulut Kaliya yang bercucuran darah kental.


" Tidak ! Tidaaaak ! " Andara menutup telinga tak ingin mendengar pengakuan Kaliya barusan.


Andara memijat tombol lift dengan kasar. Ia tak sanggup berada di dalam bersama sosok jahat Kaliya.


Andara harus berhasil keluar dari lift, menyelamatkan Sandrina sebelum Kaliya mewujudkan keinginan terkutuknya.


Lengkingan tawa Kaliya terdengar sedang menertawakan kepanikannya.


Andara segera berlari saat pintu lift terbuka. Anehnya ia tak menemukan siapapun di Rumah Sakit, seharusnya ada banyak orang di tempat umum seperti ini. Keluarga pasien, Dokter, perawat atau siapapun. Andara tak melihatnya. Seakan hanya ada Andara dan Kaliya saja di dalam gedung tingkat lima ini.

__ADS_1


Dengan napas memburu, Andara sampai di roof top.


" Sandrina, cepat turun sayang ! Ini Mami. " Perlahan Andara berjalan mendekat ke arah Sandrina yang masih berdiri di atas tembok pembatas. Yang hanya muat berjalan satu telapak kaki saja di tembok tersebut.


Sandrina menoleh tersenyum menyeringai pada Andara.


Dia bukan Sandrina, melainkan arwah Kaliya yang menguasai jiwa putrinya.


" Kaliya,, aku mohon. Jangan bawa anak ku. Dia tidak salah apa-apa. Aku mohon ! Aku akan membantu mu, apapun itu asal jangan ambil Sandrina-ku, " pekik Andara.


Kini Malvino pun muncul di belakang Andara. Dengan keringat bercucuran membanjiri sekujur tubuh.


Malvino membacakan doa sebisanya. Agar mengusir arwah Kaliya yang bersarang pada tubuh putri semata wayang nya.


Seketika tubuh Sandrina melemah hampir saja ia terjatuh jika Malvino tak segera menangkapnya.


" Sandrinaaa ! " teriak Andara.


Di bawah sana beberapa tim penyelamat sudah bersiap jika sewaktu-waktu Sandrina terjatuh, mereka bisa menyelamatkan gadis kecil itu.


Tanpa mereka tau keadaan sebenarnya, hingga banyak yang berpikiran jika Sandrina depresi karena tekanan dari kedua orang tuanya yang membuat Sandrina ingin bunuh diri. Berbagai spekulasi muncul di antara kerumunan orang-orang. Mbok Darmi yang juga berada di sana hanya bisa bungkam tak mampu menjelaskan apa-apa.


Kini Malvino menggendong Sandrina yang tak sadarkan diri. Di ikuti Andara di di sampingnya. Mereka berjalan beriringan, dengan napas tersengal-sengal, banjir keringat dan air mata.


Mereka memutuskan untuk membawa Sandrina pulang malam ini juga.


*


*

__ADS_1


( Author berkhayal kalau cerita ini masuk ke layar lebar 🤭. Aamiin - kan 😊🙏 )


__ADS_2