
Anwar menepikan mobilnya di carport. Anwar pun turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah.
Keadaan tampak sepi. Anwar yang tak tau Shela pergi ke pasar pun mengira istrinya itu sedang berada di dapur atau mungkin di kamar.
" Shel,, " seru Anwar mencari keberadaan Shela bermaksud menyuruh Shela mencari dokumen yang tertinggal di rumah.
" Mana si Shela kok gak nyahut juga. " Anwar pun menaiki tangga menuju ke kamar.
Ceklek
Saat pintu kamar terbuka, ia di kejutkan oleh sosok seseorang yang berada di kamar. Seorang perempuan tengah duduk di tepi ranjang dengan membelakangi dirinya.
Anwar yakin itu bukan Shela istrinya, karena rambut wanita itu terlihat lebih panjang dari Shela.
" Siapa kamu? " seru Anwar yang masih berada di ambang pintu kamar.
Seketika wanita berambut panjang itu berdiri, kemudian berbalik badan. Betapa terkejutnya Anwar saat melihat siapa yang berada di kamarnya. Sinta.
Mata wanita itu menatap tajam Anwar dengan penuh kebencian. Perlahan dia mendekat dengan tatapan tak lepas dari pria yang pernah menjadi selingkuhannya itu.
" Untuk apa kamu datang ke sini Sinta? Bukankah kamu seharusnya berada di Rumah Sakit Jiwa? Atau,,, kamu yang kemarin membekap wajah istri ku dengan bantal? Kau mau balas dendam, huh? " seru Anwar tanpa merasa gentar sedikitpun.
Sinta hanya seorang perempuan lemah pikirnya, tentu dirinya lebih kuat dari perempuan itu.
" Menurut mu? " suara Sinta tampak lirih namun penuh penekanan.
Sinta berjalan terus dengan sebelah tangan bersembunyi di belakang punggung memegang sebilah pisau.
Di lantai utama, Sandrina masuk dengan sangat leluasa. Tatapan matanya begitu tajam dan mengerikan seakan sudah bersiap memangsa Anwar.
Langkah kecilnya mulai menaiki anak tangga, dia tau persis jika sekarang Anwar berada di kamar bersama Sinta ibunya.
Saat ini Sinta sudah berada tepat di hadapan Anwar. Seketika Sinta langsung mengeluarkan sebilah pisau yang tadi di sembunyikan olehnya di belakang punggung, dan berniat menikam Anwar dengan pisau tersebut.
Namun Sinta kalah cepat dengan Anwar yang kini berhasil menahan lengan Sinta, hingga pisau itu terjatuh ke lantai.
" Kamu pikir mudah melawanku? Bodoh ! " Anwar terus mencengkram kuat lengan Sinta bahkan tak segan memelintir tangan wanita itu hingga terdengar bunyi retakan tulang. Sinta meringis namun ia terus melakukan perlawanan dan meronta. Semula mereka berada tepat di ambang pintu, kini keduanya sedikit masuk ke dalam kamar. Tanpa mereka sadari keberadaan Sandrina di belakang Anwar yang kini sudah memungut sebilah pisau tadi.
Seketika Anwar membuka mulut lebar-lebar, mata nya melebar saat merasakan sesuatu menembus punggungnya.
Sandrina berhasil menancapkan pisau tepat di punggung pria itu. Hal tersebut di saksikan Shela yang lantas menjerit histeris melihat Anwar bersimbah darah.
__ADS_1
Shela yang baru datang dari pasar langsung menuju lantai atas saat mengetahui keberadaan mobil suaminya yang terparkir di carport.
Tangan Anwar yang semula mencengkram kuat Sinta kini perlahan terlepas. Pisau di punggungnya masih tertancap dan sulit dia cabut.
" Apa yang kalian lakukan? Siapa kalian? " pekik Shela.
Sandrina membalik badan dengan menyeringai. Shela mulai curiga jika anak itulah yang pernah mencoba membunuhnya tempo hari.
" Tolooong ! "
Suara Shela cukup kencang hingga terdengar Andara yang kebetulan sedang mencari Sandrina.
Merasa curiga, Andara bergegas masuk ke dalam rumah Anwar. Saat Andara baru saja masuk seketika ia di kejutkan dengan jatuhnya Shela dari lantai atas.
Braak !
Shela jatuh menelungkup, darah segar mulai membanjiri sekitar kepalanya yang pecah. Dengan mata melotot Shela masih bisa melihat kedatangan Andara di detik-detik terakhir hidupnya.
Andara menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Kini Andara menoleh ke balkon atas, kembali ia di kejutkan dengan keberadaan Sandrina yang sedang menyeringai dan tertawa mengerikan. Bisa di pastikan Shela di dorong oleh Sandrina, tapi kenapa Sandrina melakukan hal itu? Andara teringat sesuatu yang akhir-akhir ini sempat ia lupakan. Kaliya !
" Sandrina ! " pekik Andara.
Anak itu masih tertawa cekikikan tapi dia tidak sendirian, Andara yakin. Bahkan terdengar suara laki-laki meringis kesakitan di atas sana dan suara benturan sesuatu pada dinding terdengar berulang kali. Andara jadi ingat pada Sinta dan juga Anwar. Apa mungkin Sinta sedang membenturkan kepala Anwar pada dinding di atas sana? pikir Andara.
" Jangan bergerak ! " Polisi mengarahkan senjata pada Sandrina yang masih berada di atas balkon.
" Tidak Pak, itu anak saya. Dia tidak bersalah ! " Andara menggelengkan kepala.
" Ada roh jahat merasuki anak anda Bu, " bisik Kiai Miftah.
" Apa? " Andara menoleh pada Kiai Miftah yang kini memegang boneka Kaliya.
Seketika muncul Sinta di belakang Sandrina. Dengan wajah dan pakaian berlumuran darah yang terciprat dari tubuh Anwar.
Sandrina berjalan mendekati pagar balkon.
" Lepaskan kami atau aku akan terjun dari sini, dan kamu akan kehilangan Sandrina untuk selama-lamanya ! " suara Kaliya terdengar keluar dari mulut Sandrina.
" Jangan ! Aku mohon Kaliya keluar dari tubuh anak ku, aku mohon jangan lakukan itu. " Andara merasa lemas, ia ambruk di lantai dan terisak.
" Apa mau mu? " Malvino kini berteriak.
__ADS_1
" Biarkan aku dan anakku ini hidup bersama, ini anakku Kaliya. Bukan anak mu,,, " lirih Sinta membelai rambut Sandrina dengan tangan yang di penuhi darah.
" Sinta sadar anak mu sudah meninggal. Dan itu adalah raga anak ku Sandrina, aku mohon jangan pisahkan aku dengan anak ku. Kita sama-sama wanita, sama-sama seorang ibu. Kamu pasti tau betapa sakitnya kehilangan seorang anak. " Andara mencoba membujuk dengan terus menangis.
" Karena itu aku tak mau lagi kehilangan anak ku ! " Sinta tetap kekeh.
" Dia bukan anak mu, dia anak ku ! " pekik Andara.
Kiai Miftah mulai membacakan doa-doa. Mencoba mengeluarkan roh jahat Kaliya dari tubuh Sandrina.
" Aaaaakkk,, " Raga Sandrina yang di kuasai Kaliya kini bergerak tak karuan menahan rasa panas terbakar di sekujur tubuhnya mendengar bacaan ayat suci yang keluar dari mulut Kiai Miftah.
" Kaliya anak ku. " Sinta nampak panik dan lengah, saat itu juga Polisi mulai naik ke atas untuk menangkap wanita itu.
Jerit melengking terdengar memenuhi ruangan tersebut saat roh jahat Kaliya keluar dari tubuh Sandrina. Bersamaan dengan itu, Polisi menangkap Sinta.
Segera Andara naik ke atas di ikuti Malvino juga Deon. Mereka terkejut melihat Anwar sudah tergeletak tak bernyawa di kamarnya, bisa mereka lihat karena pintu kamar itu terbuka lebar.
" Lepaskan aku ! " pekik Sinta sambil meronta karena polisi menekuk lengan wanita itu ke belakang punggungnya.
Kiai Miftah masih berusaha membantu Sandrina kembali masuk ke dalam raganya. Tak lama sukma Sandrina pun terlepas dari dalam tubuh boneka dan kembali ke raga kasarnya. Saat itu juga Sandrina sadar.
Sementara Sinta kini di giring turun ke lantai utama, mata nya menangkap boneka Kaliya.
" Aku mau boneka itu ! " serunya.
Kiai Miftah pun memberikan boneka tersebut pada salah satu polisi yang menggiring Sinta.
Mereka pun keluar dari rumah tersebut, beberapa polisi memeriksa jasad Anwar dan Shela, mereka pun segera memanggil ambulance.
Sementara keluarga Malvino, Deon, Kiai Miftah dan Burhan kini meninggalkan rumah tersebut dan menuju rumah Malvino.
" Terimakasih Pak Kiai, Pak Burhan. Jika tak ada kalian, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada putri kami. " Malvino dan mereka kini duduk di ruang utama rumahnya.
Andara terus memeluk Sandrina, tangis masih menghiasi wajah cantiknya. Kejadian tadi sungguh meninggalkan trauma baginya.
" Sama-sama Pak. Kami sengaja bertindak cepat mencari informasi tentang kecelakaan yang menimpa bapak dan keluarga. Setelah mendapat informasi, kami langsung ke Jakarta. Karena kami khawatir roh jahat itu melakukan sesuatu yang fatal, dan benar saja dugaan kami. Alhamdulillah, Allah masih melindungi keluarga kalian, " ucap Kiai Miftah.
Saat Malvino dan Deon hendak pergi ke Bogor, tak sengaja bertemu dengan Kiai Miftah dan Burhan sedang mencari-cari alamat rumah Malvino. Entah suatu kebetulan atau keberuntungan, yang pasti skenario Tuhan memang jauh lebih baik dari sekedar prediksi manusia. Mereka segera menuju rumah apalagi setelah mendengar kabar dari Mbok Darmi jika terjadi keributan di rumah tetangga atau rumah Anwar. Malvino pun menelpon polisi, ia yakin Kaliya sedang membalas dendam pada Anwar. Dugaan Malvino pun tak meleset.
Sandrina kini telah kembali pada raganya. Sementara itu arwah Kaliya kembali masuk ke dalam boneka, menemani hari-hari Sinta di balik jeruji besi.
__ADS_1
SELESAI