
Setelah berhasil keluar dari desa Rawabangke, Andara pun menemukan sebuah penginapan.
Tubuhnya terasa lelah setelah seharian di habiskan mencari informasi tentang terbunuhnya Kaliya. Badan pun sudah lengket, baju yang semula basah terkena air hujan pun kini mulai mengering.
Andara segera memesan kamar untuk dirinya beristirahat. Di sebuah penginapan yang sederhana tapi cukup nyaman untuknya melepas penat.
" Mari Mbak saya antar, " seorang Karyawan menjulurkan tangan mempersilahkan Andara menuju kamar.
Andara mengikuti langkah wanita muda itu, keadaan cukup sepi hanya ada beberapa orang saja yang singgah di penginapan itu.
Langkah mereka pun terhenti di depan pintu kamar bertuliskan nomor 208.
" Silahkan Mbak ! Selamat beristirahat. " Wanita itu merundukan badan kemudian beranjak pergi meninggalkan Andara.
Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja seseorang keluar dari kamar yang berhadapan dengan kamar Andara.
Spontan Andara mengurungkan sejenak niat awalnya untuk masuk ke dalam kamar, dan menoleh pada wanita yang baru saja keluar dari kamar depan.
Wajah wanita itu tampak misterius dengan tatapan menusuk menatap Andara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Anehnya lagi wanita itu pun melirik ke samping kanan dan kiri Andara seolah ada sesuatu di sana. Membuat Andara heran dan menoleh ke sampingnya. Kemudian kembali menatap wanita misterius tadi yang juga masih mengamatinya.
Merasa tak nyaman di tatap seperti itu, Andara pun melempar senyum kaku kemudian memilih segera masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Andara menghela napas pelan. Di simpannya tas di atas nakas kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dalam benak masih bertanya-tanya tentang wanita aneh dan misterius yang baru ia temui tadi. Padahal Andara sudah sangat lelah menghadapi segala macam keanehan di rumah Kaliya, sekarang di penginapan pun dia harus di bertemu dengan orang yang bersikap tak biasa.
Selepas mandi dan berpakaian. Andara menghempaskan tubuh di ranjang seraya mengambil ponsel yang sedari tadi tak sempat ia cek.
Banyak panggilan tak terjawab dari suaminya Malvino. Andara segera menelpon suaminya itu.
" Hallo Mam ! Kamu dimana? Dari tadi papi hubungi tapi gak bisa. Kamu baik-baik saja kan? " tanya Malvino cemas.
" Sekarang aku di penginapan tak jauh dari desa Rawabangke. Maaf gak sempat kasih kabar, banyak hal yang aku temukan di sini termasuk siapa pembunuh Kaliya, aku sudah tau orangnya. " Andara memijit pusing keningnya.
" Siapa? " tanya Malvino penasaran.
" Anwar. Tetangga baru kita, " jawab Andara.
" Anwar? Yang benar kamu, Mam? Emangnya ada bukti? " tanya Malvino sedikit tak yakin.
" Hanya buku diary milik Sinta dan sebuah foto Anwar yang terselip dalam buku itu. Sampai sekarang aku belum tau dimana Sinta berada, rencananya besok aku mau cari informasi tentang wanita itu. " Andara menguap, rasa kantuk mulai hinggap.
" Aku tau dimana Sinta. Mbok Darmi tau tentang tragedi berdarah itu. Besok aku akan menyusul kamu ke Bogor. Jadi aku minta jangan dulu pergi dari hotel sebelum aku datang. Kirim lokasi kamu sekarang juga biar besok aku langsung ke situ, " ucap Malvino.
__ADS_1
" Iya pap. "
" Ya sudah kamu tidur gih, pasti kamu lelah, " titah Malvino.
" Hmm, aku capek banget. Bye Pap ! "
" Bye ! "
Andara pun mengirimkan share lokasi pada Malvino kemudian Andara memejamkan matanya yang berat. Tak perlu menunggu waktu lama, Andara sudah langsung tertidur.
***
Pagi sekali Malvino sudah bersiap untuk berangkat ke Bogor menyusul istrinya. Bersama Sandrina ia pergi. Sedang Mbok Darmi di perintahkan untuk menjaga rumah.
Sandrina tak banyak bertanya kemana ia di bawa pergi. Namun dia tetap membawa serta boneka Kaliya ikut bersamanya. Malvino sempat melarangnya tapi, Sandrina kekeh ingin membawa boneka itu. Tak mau membuat Sandrina bersedih akhirnya Malvino pun mengizinkannya. Lagipula saat ini dia dan istrinya sedang berusaha mengungkap kasus pembunuhan Kaliya, jadi tak mungkin Kaliya kembali berulah, pikirnya.
Di penginapan. Andara keluar sebentar untuk membeli sesuatu.
Kembali ia bertemu dengan seorang wanita yang tampak misterius yang ia temui semalam. Masih dengan tatapan tajam dan aneh wanita itu menatapnya.
Merasa risih, Andara pun bertanya pada wanita itu.
" Maaf Bu, apa ada yang aneh dari saya? " tanya Andara tak mau basa basi.
" Hati-hati ! " katanya pelan kemudian ia melengos masuk ke kamarnya.
Andara menautkan kedua alis, tak mengerti maksud perkataan wanita tadi yang seperti sebuah teka-teki.
Tak mau di pusingkan dengan hal aneh sari wanita yang asing baginya. Andara pun bergegas ke mini market dekat penginapan tersebut. Sambil menunggu suaminya datang, Andara membeli beberapa camilan untuk Sandrina. Karena Malvino sempat bilang kalau akan mengajak Sandrina pergi bersamanya.
Usai membeli semua yang di perlukan, Andara pun kembali ke penginapan. Sebelum masuk kamar, ia berdiri sejenak menatap pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya. Dimana wanita aneh itu menginap.
Detik kemudian Andara bergegas masuk ke kamarnya dengan perasaan masih penuh tanda tanya dengan wanita asing tadi yang seakan memberinya peringatan untuk hati-hati. Tapi apa maksud dari wanita itu? Apa Andara harus berhati-hati pada pembunuh Kaliya? Atau mungkin pada Kaliya sendiri? Entahlah Andara makin bingung di buatnya.
Setelah menunggu sekitar tiga jam, akhirnya Malvino pun datang di sebuah penginapan dimana Andara menginap.
Malvino segera turun bersama Sandrina dalam genggamannya. Ia menuju lobi menanyakan pada pelayan hotel dimana kamar istrinya yang bernama Andara.
" Kamar 208, Pak. Sebelah sana ! Apa perlu saya antar? " kata pelayan tersebut.
" Tidak terimakasih. " Malvino dan Sandrina pun segera menuju koridor yang di tunjukan pelayan tadi.
" Udah punya dua anak yang masih kecil-kecil tapi kelihatan masih muda saja orang tua nya, " gumam si pelayan hotel menatap kepergian Malvino dengan dua anak kecil membersamainya.
__ADS_1
*
" Mami. " Sandrina memeluk Andara saat pintu kamar terbuka.
" Sayang, mami kangen. " Andara pun memeluk dan mencium putrinya.
" Sandrina juga. "
" Lebih baik kita ke rumah sakit jiwa sekarang juga. Aku tak mau berlama-lama di kota ini, " ucap Malvino seraya melirik arloji di tangan. Entah firasat apa yang ia rasakan sekarang rasanya sangat tidak nyaman.
" Oke, bentar aku bawa barang-barang ku dulu. " Andara masuk kamar sebentar kemudian kembali dengan tas dan kantong keresek berlogo minimarket.
" Ayo ! " Andara menggandeng lengan Sandrina. Mereka berjalan beriringan menuju lobi.
Sebelum meninggalkan penginapan, Andara mengembalikan kunci sekaligus membayar uang sewa kamarnya.
" Mbak orang yang di depan kamar aku itu udah check out? " tanya Andara penasaran dengan wanita yang menginap di depan kamar hotelnya tadi.
Pelayan itu mengerutkan dahi.
" Kamar nomor 209, " ucap Andara memperjelas dimana tempat wanita aneh itu tinggal.
" Maaf Mbak, tapi kamar itu kosong. Dan hanya ada beberapa kamar saja yang terisi. Maklum kalau bukan masa liburan penginapan ini sepi, " jawab si pelayan membuat Andara tercengang.
Jika kamar 209 kosong lantas siapa wanita itu? Bukankah wanita aneh itu keluar masuk kamar bernomor 209?
Melihat Andara melamun, pelayan itu pun membuyarkan lamunannya.
" Kenapa emangnya mbak? " tanya si pelayan.
" Enggak, enggak apa-apa. " Andara gugup.
Si pelayan itu pun menatap satu persatu orang di hadapannya. Terasa ada yang kurang di lihatnya.
" Anak mbak yang satu lagi mana? " tanya si pelayan setahunya tadi Malvino membawa dua orang anak perempuan yang masih kecil.
Andara dan Malvino saling lirik, heran.
" Anak? " Andara mengernyitkan dahi.
" Ah sudah lupakan. Dia sudah masuk ke mobil duluan. Kami permisi, makasih mbak ! " Malvino segera menarik lengan Andara.
Meninggalkan si pelayan hotel yang masih menatap mereka dengan wajah bingung.
__ADS_1