KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 19


__ADS_3

" Pap, sepertinya aku milih resign dari pekerjaan. Aku takut arwah anak kecil itu kembali mengganggu Sandrina, " kata Andara mantap.


" Apapun keputusan mu, aku akan dukung. " Malvino kini terbaring di samping Sandrina. Tubuhnya terasa lelah setelah pulang dari luar kota langsung di suguhkan peristiwa yang menegangkan tadi.


Sandrina masih tertidur pulas, ia terbaring di apit kedua orang tua nya.


" Makasih Pap. Kamu pasti lelah, sebaiknya kamu tidur. Biar aku yang jaga Sandrina.


" Nanti kita giliran jaga ya. Bangunin aja dua jam kedepan, " titah Malvino dengan memejamkan mata nya yang sudah berat.


Andara masih kuat membuka mata, dia belum ngantuk. Apalagi dia masih sangat khawatir terjadi sesuatu lagi pada putrinya hingga rasa kantuk pun tak kunjung datang.


Keadaan malam yang sunyi, mata Andara masih segar terbuka. Namun rasa takut seketika menyelusup tatkala mengingat permohonan nya pada Kaliya saat di roof top. Ya, Andara sempat menjanjikan membantu Kaliya agar hantu anak kecil itu tak mencelakakan Sandrina. Lalu bagaimana jika Kaliya menagih janjinya?


Kamar yang di tempati mereka kini hanya menggunakan lampu tidur dengan cahaya temaram. Menambah keseraman suasana kala itu.


Andara mencoba bangkit hendak mengambil laptop yang berada di meja. Dengan was-was ia turun dari ranjang, mata nya berkeliaran memastikan sosok Kaliya tak berada di sana.


Saat berjalan menuju meja, terlihat jelas bayangan dirinya terpantul di dinding. Tapi tunggu !

__ADS_1


Bukan hanya satu bayangan yang muncul di sana, melainkan ada bayangan lain yang kini mengikuti langkahnya.


Kembali detak jantung Andara mulai berdebar. Saat ini dia sudah berjalan sekitar tiga langkah dari tempat tidur. Andara takut jika Sandrina kembali di bawa pergi oleh Kaliya.


Andara pun berbalik badan dengan napas memburu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling saat tak mendapati Kaliya di belakangnya. Dan Sandrina masih berada di tempat tidur.


Baru saja Andara merasa lega, kini ia merasakan kedua telapak tangan meraba-raba bagian kepalanya kemudian ke bagian wajahnya. Tangan yang hitam, lengket berbau amis.


Rasanya Andara ingin menjerit, tapi tenggorokan nya seakan tercekat. Tangan itu terus meraba di bagian pelipis, mata, pipi. Jemarinya terasa kasar bersentuhan dengan kulit wajahnya. Napas Andara tersengal-sengal, sesekali ia memejamkan mata, merekatkan rahang menahan kengerian.


Tiba-tiba saja bayangan melintas di benaknya. Andara seakan di bawa ke alam bawah sadar untuk menyaksikan kekejaman pembunuhan di satu rumah yang sangat asing bagi nya.


Yang Andara lihat. Ada tiga orang yang sedang adu mulut, suaranya pun tak terdengar jelas. Berdengung di gendang telinga. Salah satu dari ketiga orang itu mengeluarkan sesuatu dari belakang punggung nya. Dia berlari ke satu arah hendak menyerang dengan benda tajam yang berada di tangannya.


Namun tiba-tiba dari arah lain muncul sosok anak kecil yang menghalangi penyerangan tersebut. Hingga anak kecil itu lah yang terkena benda tajam yang di hujamkan oleh orang tadi.


Saat yang bersamaan kesadaran Andara kembali. Tangan yang semula meraba wajahnya kini menghilang seiring berhentinya bayangan kejadian yang melintas di alam bawah sadar nya.


Andara yakin jika Kaliya sedang menyampaikan sesuatu padanya. Tentang kejadian masa lalu yang telah merenggut nyawa anak itu.

__ADS_1


Tapi siapa ketiga orang itu? Jika di antara mereka adalah kedua orang tua Kaliya lalu siapa orang yang hendak menyerang tadi? Itu berarti Kaliya mati di bunuh seseorang di hadapan kedua orang tuanya.


Andara jadi teringat dengan surat kabar yang sempat ia baca di rumah Anwar. Berita pembunuhan ayah dan anak yang di lakukan oleh istri atau ibu korban. Apa semua ini ada kaitannya dengan Kaliya? Apakah yang berada di surat kabar itu adalah Kaliya yang sama? Tapi yang di lihat Andara barusan pembunuhnya bukan wanita, dari lekuk tubuhnya Andara yakin jika pelaku pembunuhan itu adalah seorang pria.


Segera Andara meraih laptop dan membawanya ke atas tempat tidur.


Andara memulai searching surat kabar di tahun 2015 silam, mencari berita yang memuat tentang pembunuhan satu keluarga.


Andara lupa nama surat kabar yang di robek Anwar. Karena saat membaca berita tersebut, Andara baru melihat sepintas dan yang pertama tertangkap mata Andara adalah nama Kaliya.


Jemari lentik Andara tampak menari dengan lincah di atas keyboard laptop. Seketika ia memicingkan mata saat apa yang di carinya ia temukan.


" Peristiwa pembunuhan terjadi di Bogor tahun 2015. Dengan korban tewas dua orang. Satu pria bernama Purwa seorang kepala rumah tangga, dan satu korban lagi bernama Kaliya yang merupakan putri dari Purwa. Tersangka pelaku pembunuhan berinisial Sn yakni istri dari Purwa sekaligus ibu dari Kaliya. " Andara menutup rapat mulut dengan kedua tangan. Matanya membulat sempurna.


Segera ia tutup laptop tersebut. Matanya mengedar ke sekeliling, rasa takut masih menyelimuti. Namun selain itu kini justru muncul rasa iba di hati Andara terhadap Kaliya yang meninggal secara tragis di tangan ibu nya sendiri.


Tapi kenapa berita di surat kabar tampak berbeda dengan apa yang di lihat Andara di alam bawah sadarnya?


Andara akan menyelidiki semua ini tapi tentu ada syaratnya. Kaliya harus berhenti mengganggu putrinya.

__ADS_1


Andara harus melawan rasa takut saat Kaliya menampakan diri di hadapannya. Tentu tidak akan mudah, tapi semua Andara lakukan demi keselamatan Sandrina putrinya.


__ADS_2