KALIYA ( HAUNTED DOLLS )

KALIYA ( HAUNTED DOLLS )
Bab 21


__ADS_3

" Mau pergi kemana Mam? Kok sudah rapi gitu, ini masih pagi loh. " Malvino melirik jam dinding yang terpajang di kamarnya. Jarum jam menunjukan pukul enam pagi.


Dia saja yang masuk kantor pagi ini, masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Tapi Andara istrinya sudah berdandan cantik padahal Malvino tau betul kalau istrinya itu tak lagi bekerja.


" Aku mau ke Bogor. " Andara menjawab dengan masih sibuk mematut diri di depan cermin, menyemprotkan parfum ke bagian leher dan seluruh tubuhnya. Hingga wanginya pun menguar di udara.


" Ke Bogor? Ngapain? " Malvino kini duduk di tepi ranjang, menatap istrinya yang kini memutar badan namun masih duduk di kursi meja rias.


" Aku mau cari informasi tentang Kaliya dan keluarganya, " jawab Andara.


" Apa? Sendirian? Kenapa mami gak bilang dulu sebelumnya, minta izin dulu. Gimana kalau aku tak izinkan kamu pergi? " Malvino tak mau hal buruk terjadi pada Andara istrinya. Apalagi perjalanan dari tempat mereka ke Bogor cukup memakan waktu.


" Aku tetap akan pergi demi Sandrina. " Andara mulai keras kepala dan seakan dia menjadi paranoid setelah mengalami teror-teror dalam kehidupannya akhir-akhir ini.


" Gimana kalau nunggu hari libur kerja ku dulu. Biar aku antar, " kata Malvino.


" Gimana dengan Sandrina kalau Papi juga pergi? Udahlah Papi di sini aja, lagian aku pergi sehari atau dua hari saja. Nanti aku bermalam di rumah Ibu kalau enggak, aku cari penginapan. " Andara meraih tas yang tergeletak di atas nakas.


" Aku pamit ya. Kalau gak cepat-cepat bisa kena macet. " Andara mencium pipi suaminya.


" Hati-hati ! " seru Malvino, hatinya berat melepas kepergian istrinya apalagi Andara pergi sendirian. Tapi Malvino tak bisa mencegah Andara. Semua demi Sandrina. Malvino pikir, Andara akan mencari informasi ke kantor polisi di kota Bogor. Tanpa ia ketahui jika Andara akan mencari informasi dengan di bantu sosok gaib Kaliya secara langsung. Mengumpulkan bukti-bukti di lokasi kejadian. Karena Kaliya sudah tak bisa berbuat apa-apa, dia sudah beda alam hingga tak dapat membuktikan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang merenggut nyawanya.


" Ibu mau pergi ? " tanya Mbok Darmi heran melihat Andara sudah rapi.


" Iya Mbok, aku mau pergi ke Bogor. Aku titip Sandrina ya Mbok, " pinta Andara.


" Ke Bogor? " Mbok Darmi makin heran.


" Iya. Ada urusan di sana yang tak bisa di tunda. " Andara pun pamit, ia juga mewanti-wanti agar Mbok Darmi menjaga Sandrina dengan baik sampai Malvino pulang dari kantor nanti.


Sepanjang perjalanan dari ibu kota ke kota hujan cukup lancar, hanya sedikit macet tapi tak begitu parah. Hingga Andara bisa lebih cepat sampai ke sana.


Saat ini ia melewati jalan yang sudah sangat tak asing baginya. Kawasan dimana Sandrina membeli sebuah boneka yang ternyata adalah boneka arwah Kaliya.


Andara memelankan laju kendaraan seraya melirik ke arah kios yang berjejer di bahu jalan.


Andara menyipitkan matanya saat tak mendapati kios yang di maksud. Kios tempat toko boneka yang pernah ia kunjungi beberapa pekan lalu, dimana Sandrina membeli boneka Kaliya.


" Kok bisa gak ada ya? Aku yakin di sini tempatnya, tapi,, " Andara makin penasaran hingga ia memutuskan untuk menepi sebentar ke sana. Siapa tau dia akan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kematian Kaliya.


Andara turun dari mobil, menatap satu persatu deretan kios yang ada di hadapannya.

__ADS_1


" Permisi neng. Mau cari tempat makan ya? Atau oleh-oleh? " tanya seorang juru parkir yang berusia senja kini menghampirinya dengan ramah.


" Iya pak, saya mau cari makan. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu. Toko boneka yang di sebelah sini mana ya? " Andara menunjukan salah satu kios yang berubah drastis menjadi warung klontong namun design kios nya tampak sama rata dengan yang lain. Tak seperti pekan lalu saat Andara datang, kios tersebut di tempati toko boneka dengan gaya kuno dan belum di renovasi seperti sekarang.


Juru parkir itu mengernyitkan dahinya yang berkerut saat matanya mengikuti arah telunjuk Andara. Kemudian netranya kini menatap heran Andara.


" Maaf neng, di sini gak ada toko boneka. " Kata juru parkir itu dengan merundukan badan.


" Masa iya sih pak? Baru beberapa pekan lalu saya beli boneka di situ. " Andara makin curiga, sepertinya ada lagi kejanggalan yang terjadi.


" Tapi kios di sini sudah di renovasi dua tahun lalu dan memang sudah seperti ini kondisinya, kalau dulu sih iya di situ ada toko boneka tapi,,, " Juru Parkir itu tak melanjutkan kalimatnya, membuat Andara penasaran.


" Tapi apa pak? Bapak sudah lama kerja di tempat ini? " selidik Andara ingin menggali informasi dari orang tua yang berprofesi sebagai juru parkir itu.


" Sudah sepuluh tahun. "


Andara makin yakin jika orang tua di hadapannya ini akan memberinya informasi lebih dalam lagi.


" Kalau begitu bisa kita ngobrol sebentar aja pak? Sekalian saya mau sarapan, bapak belum sarapan? " tanya Andara memegang perutnya yang mulai keroncongan.


Juru parkir itu tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Andara yang mulai masuk ke kios warung nasi.


" Bapak mau pesan makanan apa? Biar saya yang bayar, " tanya Andara.


" Serius pak? Masa iya saya makan di sini sendiri, kalau gitu saya pesan kopi saja. Gimana? " tanya Andara.


" Boleh neng. Tapi kopi pahit saja, " jawabnya.


" Oke, bentar ya pak ! " Andara berdiri menuju tempat pesan makanan.


" Mbak, pesan nasi rames satu, air teh hangat sama kopi pahit satu. Nanti antar ke meja itu ya ! " pinta Andara pada pelayan warung nasi.


" Baik bu, " jawabnya dengan sedikit bengong.


Tak lama ia pun kembali duduk menunggu pesanan mereka datang.


" Ngomong-ngomong gak apa-apa kerjaannya di tinggal sebentar? " tanya Andara pada juru parkir itu.


" Gak apa-apa neng, ada yang lain di luar, " tunjuk nya ke arah kaca yang langsung terlihat ke arah parkiran.


" Oh ya. Maaf dengan bapak siapa? Biar saya tidak kaku ngobrolnya. Nama saya Andara. " Andara menjulurkan tangan.

__ADS_1


" Kosim. " Juru parkir bernama Kosim itu pun menjabat uluran tangan Andara.


Sedikit dingin tangan juru parkir itu, namun Andara pikir wajar karena cuaca di puncak memang dingin.


" Jadi gimana pak? Apa betul toko boneka itu sudah lama tak ada di lokasi ini? " selidik Andara.


" Sekitar tujuh tahun lalu. Toko boneka itu tutup setelah pemiliknya meninggal dunia. " Pandangan Kosim tampak kosong menatap lurus ke depan.


" Meninggal? " Andara membulatkan mata.


Kosim mengangguk pelan. Jika di amati wajah Kosim sedikit pucat dan datar.


" Siapa pemiliknya? " kembali Andara bertanya.


" Namanya Purwa dan istrinya bernama Sinta. Mereka memiliki anak bernama Kaliya, " jawab Kosim yang kini menatap tajam ke arah Andara.


" Bu, ini pesanannya ! " suara pelayan tiba-tiba mengejutkannya.


" Oh ya makasih Mbak ! " Andara meraih makanan yang ia pesan. Kemudian Andara meraih kopi pahit pesanan Kosim.


" Ini pak Kosim kopinya, di minum. " Andara menyodorkan kopi pada Kosim yang duduk di sebrangnya.


" Kenapa mbak? " Andara merasa risih melihat si pelayan masih mematung di tempat dengan wajah kebingungan dan pucat.


" Gak ada Bu, saya permisi. Silahkan di nikmati, " ujar nya seraya beringsut dari tempat nya berdiri.


" Iya mbak, makasih. " Andara menggelengkan kepala heran melihat tingkah si pelayan.


Andara melahap makanan yang ia pesan. Perutnya sudah benar-benar minta di isi mengingat tadi dia tak sempat sarapan di rumah.


" Bapak bisa ceritakan tentang pemilik toko boneka itu? " tanya Andara sambil mengunyah makanan nya.


" Saya kenal baik dengan Purwa. Dia orang baik dan ulet dalam berdagang. Selain itu dia juga sangat dermawan, sering memberikan makanan pada kami yang bekerja di parkiran. Tapi sayang hari itu adalah hari terakhir bertemu dengannya. Purwa yang saat itu sedang bersama anaknya di toko, tiba-tiba pulang setelah mendengar berita buruk. "


" Berita buruk? maksud bapak? "


" Saya kurang tau. Yang jelas setelah itu, terdengar kabar tentang kematian Purwa dan anaknya yang bernama Kaliya. "


" Maaf pak, apa bapak tau boneka ini? " Andara menunjukan foto boneka Kaliya di ponselnya.


" Ya sangat tau. Itu boneka kesayangan Kaliya. Hingga saat meninggal pun boneka itu di masukan ke liang lahat bersama jenazahnya, "

__ADS_1


" Apa? "


__ADS_2