
Hari beranjak petang, Andara ketiduran dengan kepala menelungkup di ranjang Sandrina. Desiran angin dingin menyelinap masuk melalui celah terkecil di ruangan tersebut. Berkumpul menjadi kepulan asap tipis yang kemudian berubah menjadi arwah Kaliya.
Arwah yang di penuhi dengan dendam itu tampak menatap sayu ke arah ibu dan anak yang kini tak terjaga. Dia mendekat dan mulai berbaring di atas tubuh Sandrina. Dalam sekejap saja, jemari Sandrina bergerak sedikit menyentuh lengan Andara.
Merasa ada sesuatu yang menyentuh kulitnya, Andara pun bangun dari tidur. Betapa bahagianya ibu satu anak itu melihat putri kecilnya kini memberi respon dengan menggerakkan jemari kecilnya.
Perlahan matanya pun terbuka. Namun ada sedikit kejanggalan saat mata Sandrina mulai terbuka sepenuhnya. Manik mata anak itu terangkat detik kemudian baru terlihat normal.
" Sandrina ! " Sahut Andara dengan melebarkan senyum di bibir.
Sandrina belum merespon, matanya masih menatap lurus ke atas langit-langit, hampa dan kosong.
Meski demikian Andara tetap senang karena akhirnya Sandrina sadar. Segera Andara menekan tombol di samping ranjang dimana Sandrina terbaring, guna memanggil Dokter ataupun suster.
Andara menggenggam jemari kecil putrinya, tangis haru pun mulai turun dari kelopak mata. Andara menciumi lengan Sandrina berulang-ulang, senyum pun terukir di sela tangis haru bahagianya.
Tak berselang lama, Dokter dan suster pun masuk ke ruangan tersebut.
" Dok, Sandrina sudah siuman ! Dia selamat dari komanya, " ucap Andara menoleh pada Dokter yang baru saja datang dan mulai mendekat ke arahnya.
Dokter dan suster pun saling lirik satu sama lain. Kemudian mereka pun memeriksa keadaan Sandrina, baik itu detak jantung dan lain sebagainya. Memastikan jika keadaan tubuh Sandrina mulai stabil dan berhasil melewati masa kritisnya.
" Syukurlah, berkat doa dan suport dari Bu Andara akhirnya Sandrina sudah bisa melewati masa sulitnya, " ucap Dokter tersebut setelah memeriksa keadaan Sandrina.
" Iya Dok ! " Andara masih melebarkan senyuman sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
" Dek Sandrina ! " sapa Suster.
Sandrina bergeming, ia tetap menatap lurus ke atas atap tak merespon suster yang memanggil namanya.
" Dek Sandrina, apa ade bisa dengar suara suster? " lagi ia memanggil Sandrina menunggu reaksi anak kecil yang baru sadar dari koma itu.
Seketika Sandrina menoleh cepat dengan tatapan mata tajam terlihat sedikit mengerikan. Hingga Suster itu pun terperanjat melihat reaksi aneh anak itu.
" Nak, ini Mami,, " Andara mengelus pipi Sandrina yang kini sedang menoleh ke arah suster yang berdiri di sisi kiri ranjang. Perlahan kepala Sandrina bergerak menoleh ke arah kanan dimana Andara duduk di kursi roda samping ranjang tersebut.
Andara menautkan kedua alis, melihat pancaran mata Sandrina yang terasa lain. Seperti bukan Sandrina. Tapi Andara mengusir pikiran buruk, dia meyakinkan jika ini benar-benar Sandrina putri kecilnya. Ya, dia harus bersyukur atas keselamatan Sandrina, bukan malah berpikiran aneh.
" Mungkin dia belum sepenuhnya sadar. Atau dia masih kaget ketika bangun berada di ruangan ini, " ucap Dokter yang di angguki Andara. Sementara Suster di samping Dokter tersebut mulai merasa tak nyaman berada di ruangan itu.
Tiba-tiba saja tengkuknya meremang, hawa dingin terasa menyentuh kulit hingga mata suster itu berkeliaran mengitari ruangan dengan tangan menyilang mengusap-usap bagian lengannya. Padahal ini bukan kali pertama dirinya berada di ruangan ICU tapi kenapa sekarang rasanya lain?
Suster itu tampak sibuk dengan perasaan takut yang membuatnya tak mendengar perintah Dokter tadi.
" Sus ! " kali ini suara Dokter sedikit kencang. Hingga membuyarkan lamunan si suster.
" I-iya Dok ! " jawab Suster itu.
" Bantu Sandrina pindah ke ruangan rawat. " Dokter itu mengulangi perkataannya, menatap heran susternya yang nampak tak fokus saat bekerja.
" Ba-baik, sebentar saya panggil perawat lainnya. " Suster itu terburu-buru keluar ruangan memanggil beberapa perawat pria untuk memindahkan Sandrina ke ruang rawat. Sedang dirinya tak berani lagi kembali ke ruang ICU, entah kenapa ada yang mengganggu perasaannya tadi, rasa takut yang tiba-tiba hadir.
__ADS_1
Sandrina pun di bawa ke ruangan lain, sepanjang koridor para perawat itu merasa terheran-heran karena blankar yang di tumpangi Sandrina begitu berat. Padahal dia hanya anak kecil, bahkan orang dewasa saja tak seberat saat mereka mendorong Sandrina.
Akhirnya Sandrina pun berhasil di pindahkan ke ruang VIP.
" Kami permisi Bu, " ucap salah satu perawat.
" Iya makasih. " Andara melempar senyum. Tak lama setelah para perawat itu keluar, Malvino muncul setelah di beritahu jika anaknya di pindahkan ke ruangan lain.
" Sandrina sudah sadar Mam? " tanya Malvino mendekat.
" Udah Pap, " jawab Andara.
" Alhamdulillah. "
" Tadi di depan aku beli bubur buat Mami, makan ya. " Malvino mengeluarkan cup bubur.
" Tuh Papi bawa bubur, Sandrina mau? " Andara mencoba kembali berkomunikasi dengan Sandrina yang sedari tadi belum merespon apa-apa. Hanya diam dengan tatapannya yang kosong.
" Nak,, " Andara mulai merasa cemas karena Sandrina masih diam menatap ke atas plafon Rumah Sakit.
" Udah Mam, lagian Sandrina pasti belum di perbolehkan makan sembarangan. Biar nanti Sandrina makan makanan Rumah Sakit saja. " Malvino membuka cup bubur dan mulai menyuapi Andara.
" Biar aku makan sendiri saja Pap, " kata Andara.
" Udah papi suapin. " Malvino mulai memasukan satu sendok bubur ke dalam mulut Andara.
__ADS_1
Sengaja ia melakukan hal tersebut karena biasanya Sandrina pasti menggoda keduanya saat bermesraan seperti ini. Tapi anehnya Sandrina tetap tak respek.