
"Gis,? Apa kau sudah selesai,?"
"Iya,sebentar lagi..sabar ngapa Mer,?"
"Disini banyak nyamuk Gis,kata nya tadi cuma buang air kecil,kok jadi lama sih,?"
"Lah nama nya juga sakit perut,kek nya aku kebanyakan makan ikan asam pedas sore kemarin deh" tukas Agis.
"Ya udah cepatan,! banyak nyamuk tau,!.ujar Meri berteriak mengingat kan teman nya itu,
Selesai berbicara seperti itu,tiba-tiba bulu kuduk Meri merinding dengan sendiri nya,aura mistis memenuhi area toilet tersebut,
"Gis cepatan dong,!"
"Iya bawel banget sih,? Ini juga udah selesai" sahut Agis lalu keluar dari toilet tersebut,saat gadis itu membuka pintu ia terpaku dengan wajah yang pucat pasi.
"Eh ada apa,? Kenapa kau seperti itu,?Gis...heiii jangan main-main dong Gis,! ujar Meri menepuk bahu teman nya tersebut.
"Ra..rambut,ada rambut berlumuran darah dilantai "sahut Agis dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
"Jangan ngada-ngada Gis,ini kita jauh dari kamar loh,kalo ngomong itu jangan ngaco,bikin parno aja kau ini,! tukas Meri memarahi nya.
Tidak dipungkiri Meri merasa kan aura negatif memenuhi tempat itu,namun dari kejauhan ia melihat ada bayangan lain menghampiri mereka dan ternyata itu adalah gadis bernama Tri yang mengantar mereka tadi.
"Kak Tri,?sedang apa disana,? Bukan kah kakak sudah kembali ke kamar tadi,? ujar Meri bertanya.
"Ada yang tertinggal,ini Tri pun menunjukan benda seperti tusuk konde yang baru saja ia ambil dari lantai.
Saat kedatangan Tri disana Meri tidak merasakan aura negatif itu lagi,begitu juga dengan Agis ia sudah tidak takut,pasal nya rambut berdarah itu hilang begitu saja.
"kalian sudah selesai kan,? Kembalilah ke dalam kamar" ujar Tri.
"Kalian duluan saja,aku mau mandi,sekarang sudah hampir pagi" sahut nya,lalu gadis itu masuk kedalam toilet tersebut,sementara Meri dan Agis kembali ke'kamar mereka.
Selama menyusuri lorong tersebut,Agis hanya diam saja ia tidak mau berkata sepatah kata pun,saat Meri bertanya ia hanya menjawab seada nya saja.
Setelah sampai dikamar,Meri melihat Dewi sudah siuman,gadis itu terlihat sangat pucat,kemudian Meri menghampiri Dewi lantas bertanya apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak.
"Dewi kau sudah bangun,? Apa yang kau rasakan apa kepala mu sakit,? ujar Meri sembari meraba dahi teman nya itu.
__ADS_1
"Ya tuhan,badan mu panas tinggi Wi,
eh bang Her,bang Jack bangun,! Ini Dewi badan nya panas sekali"teriak Meri panik.
"Hmmm kalian sudah pada bangun,? Jam berapa sekarang,? Sahut Heri seraya duduk membenarkan perasaan nya.
"Sudah pukul 5 pagi Her,sahut Jacky melirik jam tangan nya.
"Apa kata mu tadi Mer,?"
"Dewi demam bang,coba abang raba,! sahut Meri seraya mengarahkan tangan pemuda itu ke dahi Dewi.
"Iya,dia demam,kalau begitu kita sarapan dulu baru nanti si Dewi minum obat,kebetulan aku ada bawa bekalan obat dari rumah untuk berjaga-jaga" sahut Heri.
"Loh,kau kenapa Gis,?"Jacky yang sedari tadi memperhatikan gadis bernama Agis itu hanya diam saja biasa nya ia suka nyeloteh tidak jelas,namun pagi itu Agis diam saja.
"Rambut berdarah" ujar nya lirih.
"Apa Gis,? Kalau ngomong tuh yang jelas dong Gis! gimana orang bisa dengar ngomong nya kek orang bisu" ujar Jacky.
__ADS_1
"Tadi aku melihat rambut yang berlumuran darah didepan toilet sana"sahut nya ketakutan.