
POV AUTHOR
Dua orang gadis sedang berlari dengan senyum yang mengembang di sebuah bandara Internasional di kota Makassar, Sedangkan di samping mereka terlihat orang tua dari mereka yang menunjukkan ekspresi tidak mau melepaskan anak mereka.
Mereka akan melakukan penerbangan pertama mereka dalam hidup mereka.
“Wahh ini pertama kalinya aku akan naik pesawat, kamu takut gak?” tanya Jesica kepada Natlie.
“Sama ini juga akan jadi pengalaman pertamaku. Rasanya aku tidak mau meninggalkan kota ini.” Sautan dari Natlie.
Iya, mereka akan pergi ke kota Jakarta untuk meraih mimpi mereka. Untuk menjadi kebanggaan keluarga.
20 menit kemudian pesawat mereka akan berangkat.
Jesica….
Aileen (mama Jesica) “Nak kamu jaga diri yah disana Mama akan sangat merindukanmu. Mama percaya sama kamu. Jangan nyusahin orang yah. Kalau udah sampai jangan lupa telfon mama.” Aileen berkata sambil berlinang air mata wanita 38 tahun itu memeluk anaknya mengusap rambut putrinya dengan kasih sayang yang hanya terpaut 18 tahun dari putrinya. Yah Aileen menikah dengan Ley ketika umurnya 18 tahun karena kesalahan yang terjadi di masalalu.
Jesica pun membalas pelukan orang tuanya dengan menahan air matanya agar tangisan ibunya tidak semakin memecah, Jesica tidak mau Mama kesayangannya itu makin sedih “Mama tenang aja yah aku pasti bisa jaga diri. Aku tidak akan mengecewakan Mama. Aku akan sangat merindukan Mama.”
Jesica pun melepaskan pelukannya dan berali memeluk ayahnya “Papa tahu kamu pasti bisa nak, raihlah cita-citamu. Papa percaya sama kamu.” Jesica pun mempererat pelukannya kepada ayahnya orang yang sangat dia sayangi, orang yang memenuhi dan memberikan segalanya untuk menyenangkan Putrinya itu.
Natlie…
“Ma aku berangkat yah jaga Frey. Aku akan sangat merindukan Mama dan Frey.” kata Natlie kepada Ibunya.
“ Iya Mama pasti jaga Frey. Mama akan merindukanmu Nak.”
Yah Natlie mempunyai seorang anak putra saat umurnya yang masih sangat remaja karena keadaan keluarga mereka yang broken home, diapun lebih menikmati kehidupannya diluar sana hingga dia salah jalan dan memiliki seorang putra yang sangat dia sayangi.
Setelah itu merekapun check in karena sisa waktu yang tinggal sedikit. mereka terlihat agak kerepotan karena ini adalah pengalaman pertama mereka tanpa ada yang menemani mereka, mereka berlarian kesana kemari mencari pesawat yang akan menampung mereka.
“Ah akhirnya duduk juga.” Kata Jesica sambil meminum air mineral yang tadi ia bawa.
__ADS_1
“ Bagi dong Jes.” Natlie meneguk habis air yang di berikan Jesica
Hening~~~
Mereka berdua pun terhanyut dalam ketakutan dan kegugupan yang tiba-tiba datang, hingga akhirnya mereka tertidur.
2 jam 20 menit kemudian mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mereka keluar dari bandara dan di jemput oleh om Natlie. Mereka celingak celinguk mencari paman Natlie. Kemudian Jesicapun menemukkannya. Jesica menunjuk orang yang dicari tersebut dengan senyum yang sangat mengembang sambil berkata “itu dia!” ini merupakan pertemuan pertama Jesica dengan Om dari Natlie tapi karena sifatnya yang periang, friendly ia tidak sadar akan apa yang dia lalukan barusan. mereka pun menghampiri om Natlie mereka bersalaman.
“Halo om udah lama nunggunya?” Tanya Natlie kepada Om Dave.
“ Ngak kok baru nyampe nak.” Jawab Dave kepada Natlie. "Eh Jesica yah?" Tanya Dave kepada Jesica.
“Ia om, Jesica, mohon bimbingannya yah om selama aku disini.”
Dave pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita mulai pelajaran pertama anak-anak.” Gumam Dave. “Oh ia om bawa motor kalian berdua naik grab car yah!” Kata Dave kepada Natlie dan Jesica.
“ Om kita baru sampai loh masa iya kita pergi sendiri, ini Jakarta om kita mana tahu jalan, rumah om yang mana yang benar aja dong Om.” sambung Natlie protes.
“ Katanya mau mandiri, mau berjuang. Kok gitu aja udah protes udah yah tu grab carnya datang udah Om pesenin.”
Mereka pun masuk kedalam mobil dengan emosi namun karena lelah mereka pun memilih untuk tidak berdebat dengan Om Natlie.
“Mbak belok kiri gak sih? udah bener gak nih jalannya.” kata mas grab. Mereka berdua pun hanya mengiyaiyakan pertanyaan dari driver tersebut. karena tidak mau lagi mendengarkan pertanyaan dari driver mereka memutuskan untuk tidur. Mereka sudah tidak peduli jika di culik atau apalah itu mereka masih kesal kepada Dave ditambah lelah.
1 jam 30 menit kemudian mobil berhenti dan yes akhirnya driver berhasil menemukan rumah yang di tujuh.
Mereka menunggu di luar karena Dave belum sampai mereka takut menekan bel rumah tersebut. Takut salah rumah.
“ Yah ampun mana sih Om Dave? Belum nyampe apa?” Kata Natlie .
“ Ini sampai kapan nih kita disini mana diliatin banyak orang lagi, ini make up gua udah luntur nih.” Kata Jesica dengan muka yang datar.
__ADS_1
“Udah laper, pusing, ngantuk tapi pengen mandi.” Keluh Natlie.
“Bener bau asem lu sampe kecium kesini.” Kata Jesica sambil menutup hidungnya.
" Jangan sok-sokan lu, lu juga kali." Natlie tidak mau kalah dari Jesica.
Mereka tertawa bersamaan.
“ Gini amat yah nasip kita. Baru nyampe udah di kerjain gini,” Jesica tersenyum “ Bener-bener Om lu.” Sambung Jesica sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“ Iya kata Mama sih orangnya emang gitu. Tapi aku gak tahu sikap asli Om Dave gimana. Setahu aku sebenarnya dia orang baik. Ini karena dia lagi ngedidik kita.” Kata Natlie tersenyum.
Saat ini mata mereka tertuju pada es kelapa muda yang letaknya ada di seberang jalan sana.
Mereka berdua bertatapan. “Ayo!!!” Ucap kedua gadis tersebut bersamaan.
Mereka menikmati masing-masing es kelapa muda yang saat ini ada di depan mereka “ Whoaaa segarnya.” Ucap Jesica sambil memejamkan matanya sejenak.
“ Yuk cepat. Nanti Om Dave liat kita disini.” Kata Natlie.
30 Menit kemudian Dave pun datang dengan senyam senyum kemerdekaan. “Loooh kok gak masuk kan ada bell ada Denis kok diatas.” Sambil membuka pintu dengan tawa yang tertahankan. Jesica Natlie pun hanya terdiam dengan muka lesu.
“Yah sudah ini kalian istirahat disini sementara disini yah.” kata Dave sambil membuka pintu. Mereka menatap takjub kamar yang sangat luas dengan 2 kasur empuk berukuran sedang, AC yang sudah dari tadi dinyalakan menambah kesejukan hati mereka yang sedari tadi menahan emosi.
Mereka pun langsung merebahkan badan mereka untuk istirakat. Dave pun keluar dan menutup pintu pelan “Selamat istirahat yah. Banyak kejutan yang menanti.” Kata Dave dengan senyuman tak terartikan.
.
.
.
.
__ADS_1