
Dua orang sejoli sedang duduk di kursi bioskop dimana sederet kursi mereka nampak kosong. Celio sengaja membeli tiket untuk sederet kursi barisan ke 3 dari belakang.
Sang wanita serius mengikuti alur cerita film yang sedang tayang, sedangkan lelaki itu menyandarkan belangkangnya. Menopang kepalanya menggunakan satu tangannya, Ia sibuk memandangi wanita yang sedang mendambakan hatinya walau cahaya di bioskop itu remang-remang itu tidak menjadi masalah baginya. Hanya sesekali melirik film ketika sang wanita menunjukkan ekspresi sedih karena film yang mereka nonton memang sedikit mengandung bawang.
“ Bisakah kita selalu bersama Jes?” Gumam Celio.
“ Yah minumannya habis,” Kata Jesica saat menyedot minumannya “ Perasaan aku tadi minumnya sedikit saja. Apa ini bocor.” Jesica memperhatikan bagian bawa minumannya “ Tidak, ini tidak bocor.” Ia memanyunkan bibirnya, meletakkan kembali bekas tempat minumannya.
Celio terkekeh pelan. Yap, lelaki itu yang menghabiskan minuman Jesica. Entah apa yang dia pikirkan padahal di samping dia minumannya belum tersentuh sama sekali. Celio menyodorkan minumannya kepada Jesica tanpa bicara satu katapun.
“ Trima kasih.” Ucap Jesica menerima minuman tersebut.
………………………………………………………………………………
Sementara Natlie dari kejauhan ia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Tidak! Mungkin dulu dia sangat mengenalnya namun sekarang tidak. Orang itu pergi tanpa kabar sedikitpun. Apa dia tidak merindukan Natlie atau Frey?
Luke, laki-laki yang dulu mengisi hari Natlie, Laki-laki yang menghidupi Natlie saat kabur dari rumah atau lebih tepatnya tempat yang disebut Natlie neraka karena ke dua orang tuanya yang selalu cekcok, barang yang melayang karena kedua pihak saling tidak mau mengalah. Natlie pergi dari rumah tersebut, mencoba hidup diluar fasilitas orang tuanya, Ia ketemu dengan pangeran di luar sana. Membiayai hidupnya, memberi tempat tinggal dan memberinya kasih sayang.
Tidak, Bukan! Dia bukan pangeran. Bahkan laki-laki itu merusak mental Natlie yang terkadang masih kambuh belum sembuh total. Luke, dari namanya saja jika huruf di belakangnya diganti huruf A akan menjadi LUKA.
Badan Natlie gemetar melihat laki-laki itu, air matanya sedari tadi ia tahan agar tidak menetes namun nihil pertahanannya kalah. Air mata itu keluar menerobos begitu saja bahkan lebih deras dari biasanya. Natlie membalikkan badannya dengan langka cepat ingin segera pergi dari tempat sialan itu, ia memesan grap car dan pulang menuju kontrakan.
Bukankah ini kesempatan untuk mempertanyakan atau melakukan sesuatu hal untuk melampiaskan kekesalannya kepada laki-laki bejat itu?. Bukan waktu yang tepat atau bisa jadi waktu yang sangat tepat pasalnya laki-laki sialan itu sedang bersama seorang wanita yang baru pertama kali Natlie lihat.
…………………………………………………………………………….
Film telah selesai. Waktunya Jesica dan Celio pulang.
“ Ayo pulang aku akan mengantarmu pulang.” Kata Celio
“ Mengantar? Kau akan pergi lagi,” Jesica menyelidiki maksud kata mengantar “ Bukankah kita satu arah? Bahkan kita tetangga. Rumah kita bersampingan.”
__ADS_1
Celio mengelus kepala Jesica dengan lembut ia tersenyum senang dengan perkataan Jesica tadi.
“ Ia kita tetangga, tetapi habis mengantar mu aku akan kembali ke supermarket memeriksa laporan hari ini.” Ucap Celio agar pikiran ke Jesica tidak kemana-mana.
“ Aku akan menemanimu, aku akan menunggu mu.”Kata Jesica agak memajukan bibir bagian bawanya.
“ Tapi nanti Kak Dave marah kamu pulang malam.” Ucap Celio.
“ Ngak, Om Dave gak akan marah. Kan aku sama kamu lagian ini baru jam 9 malam, Ayo waktu tetap berjalan.” Ucap Jesica melangahkan kakinya terlebih dahulu.
Celio mengikuti Jesica, Ia memegang kepala Jesica dan menggoyang-goyangkannya pelan “ Hati-hati jalannya. Awas kepleset.”
Sesampainya di Stanley Mart, Celio terlihat serius dengan pekerjaannya memeriksa laporan-laporan yang ada di mejanya. Ia ingin cepat-cepat pekerjaannya selesai. Tidak mau membuat wanitanya menunggu lama.
Jescica memperhatikan Celio yang terlihat lebih tampan lagi kalau lagi serius apalagi kalau sedang membolak-balikkan kertas seperti yang ia lakukan saat ini.
Celiopun selesai memeriksam laporan. Mereka pulang dengan menggunakan motor Celio. Tidak ada rem mendadak yang biasa di lakukan para laki-laki modus. Itu bukan Celio meski Ia juga ingin seperti pasangan lain saat mengendarai motor sang wanita akan memeluknya dari belakang tetapi Celio tidak mau membuat Jesica tidak nyaman atau berpikiran yang tidak-tidak tentang Celio. Bahkan motor itu melaju dengan sangat hati-hati. Celio memang beda, Dia idaman.
“ Selamat malam Jes, langsung istirahat yah. Mimpi indah.” Ucap Celio sebelum Jesica benar-benar mengunci rumahnya.
“ Selamat malam Lion. Trima kasih hari ini. Aku bahagia.” Ucap Jesica tersenyum kemudian menutup rapat dan mengunci pintunya. Sedangkan lelaki di balik pintu sedang memegangi dadanya, rasanya jantungnya mau copot saja karena perkataan Jesica.
“ Sepertinya mimpi ku sedang berlangsung saat ini.” Ucap laki-laki yang masih setia berdiri tersebut. Mimpi? Bahkan rebahan saja belum ia lakukan saat ini.
Natlie berlari kepelukan Jesica saat mendengar suara Jesica menutup pintu. Ia kembali menangis di pelukan Jesica “ Kenapa lama sekali?”
“ Kenapa? Ada apa?” Tanya Jesica sambil menepuk pelan punggung Natlie. Jesica bertanya apa yang sedang terjadi. Namun yang di tanyai masih diam membisu.
Jesica mendudukkan Natlie di atas kasur, lalu duduk di samping Natlie “ Aye lihat aku. Apa yang sedang terjadi. Katakanlah aku tidak mau kamu jadi sakit nantinya.” Kata Jesica.
Natlie menarik napasnya panjang “ Aku lihat dia tadi di mall.”
__ADS_1
Deg…..
Dia berarti Dia adalah orang yang sangat ingin Jesica lenyapkan dari hidup Natlie. Seandainya membunuh bukan dosa, ia akan membunuh laki-laki sialan itu. Jesica membulatkan matanya air matanya keluar.
“Bukannya tadi kamu langsung pulang?” Tanya Jesica.
“ Tidak aku keliling mall tadi.” Jawab Natlie.
Jesica menghembuskan napasnya kasar lalu memeluk kembali sahabat sekaligus saudara tak sedarahnya itu “ Apa yang dia lakukan tadi? Apa kamu ngobrol sama dia?” Tanya Jesica.
“ Tidak. aku hanya melihatnya, bahkan dia tidak melihatku,” Natlie menarik napasnya panjang “ Dia bersama seorang wanita yang tidak ku ketahui.”
Tangan Jesica berhenti sejenak mengelus belakang Natlie lalu melanjutkannya kembali. Ada 2 perasaan yang saat ini ia rasakan. Senang karena itu bisa membuat Natlie semakin berusaha melupakan laki-laki bejat itu. Sedih karena kemunculan laki-laki itu membuat Natlie sedih saat ini. “ Apa yang dia lakukan disini? Bukannya dia di Makassar?” Pertanyaan itu yang muncul di benak Jesica.
“ Tenanglah. Berhenti menangis, nanti kamu sakit.” Jesica melepaskan pelukannya pelan.
Natlie menganggukkan kepalanya, menghapus air matanya.
“ Apa kamu mau minum susu? Biar pikiran mu sedikit lebih tenang?” Tanya Jesica.
“ Tidak, aku hanya ingin cuci muka lalu istrahat.” Natlie berlalu masuk kamar mandi.
Natlie keluar dari kamar mandi bergantian dengan Jesica.
Saat Jesica masuk kembali ke kamar….
.
.
.
__ADS_1