
Pagi itu Celio bangun pada jam yang sama. Ia berjalan keluar dari rumahnya, mengangkat tangannya ke atas dan menjinjitkan kakinya. Ia sedang merenggangkan badannya. Lelaki itu masih sangat mengantuk di karenakan pekerjaannya di Stanley Mart sedang banyak-banyaknya.
Jesica keluar dari dalam rumahnya membawa lap dan botol spray di tangannya hendak membersihkan kaca bagian depan rumah mereka.
Celio tersenyum melihat Jesica yang masih tidak menyadari akan keberadaannya di situ. “ Vitamin ku.” Ucap Celio dengan suara kecil.
Celio berjalan ke kursi dan meja yang ada di depan rumahnya. Ia menopang dagunya memperhatikan Jesica yang sibuk membersihkan. Dia tersenyum melihat Jesica, rasa ngantuknya hilang sirna begitu saja.
“ Gak ada jadwal kuliah yah babe?” Tanya Celio.
Jesica melangkahkan kakinya kebelakang satu kali, ia memegangi dadanya. Jesica tersentak kaget karena suara Celio yang tiba-tiba itu.
“ Ah kamu mengagetkanku.” Ucap Jesica menatap Celio.
Celio tersenyum “ Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan kamu.”
Jesica pun melanjutkan kegiatannya tadi. Tidak membalas kembali perkataan Celio.
Celio berdiri dari duduknya, ia menghampiri Jesica “ Apa kamu sibuk hari ini?” Tanya Celio.
“ Tidak, aku tidak sibuk.” Ucap Jesica yang masih sibuk membersihkan kaca depan.
“ Hmmm…. bisakah kamu menemaniku seharian di supermarket hari ini?” Besar harapan Celio, Jesica akan menemaninya hari ini.
Jesica berpikir sejenak, sebenarnya dia sedikit malas hari ini. Ia ingin menghabiskan waktu seharian di rumah menikmati libur, namun karena Celio yang meminta ia akan merelahkan liburnya hari ini untuk menemani Celio di supermarket “ Baiklah. Aku akan menyelesaikan ini dulu kemudian siap-siap.” Ucap Jesica mempercepat gerakannya.
“ Terima kasih,” Ucap Celio mengacak rambut Jesica “ Aku siap-siap dulu babe.” Celio masuk kedalam rumahnya membereskan kertas yang lumayan berantakan di mejanya, memasukkan kedalam tas kemudian mandi.
Jesica hendak masuk ke dalam rumahnya namun seseorang menyapanya.
“ Hay Jes…” Regan berdiri di belakangnya dengan pakaian rapinya.
“ Hay kak Regan…” Jesica tersenyum.
Regan membalas senyum Jesica “ Jes, bisa minta tolong panggilin Natlie tidak?”
__ADS_1
“ Sudah mau berangkat yah kak? Bentar yah aku panggilin Natlie dulu.” Jesicapun masuk ke dalam rumahnya.
“ Aye, di depan sudah ada kak Regan nungguin kamu.” Ucap Jesica masuk kedalam kamar mengambil handuknya.
“ Ia terima kasih, Aku jalan dulu yah.” Natlie pun mempercepat gerakannya yang sedang memasang heelsnya. Ia Nampak anggun dengan gaun yang sedang dia gunakan.
Natlie pun berjalan keluar menemui Regan.
30 menit kemudian Jesica keluar dari rumahnya, Ia mengunci rumah mereka dan berjalan mengetuk pintu rumah Celio. Celio membukakan pintu “ Sudah siap? Kita jalan sekarang aja yah.” Kata Celio yang sedari tadi memang sudah siap.
Jesica menganggukkan kepalanya “ Ia.”
Merekapun pergi ke Stanley Mart menggunakan motor Celio, seperti biasa Celio mengendari motornya dengan hati-hati dan tanpa rem dadakan yang di buat-buat.
Sesampainya mereka di Stanley Mart, Celio menggandeng tangan Jesica dan langsung menuju ruangan Celio bekerja.
“ Kamu duduk tenang saja yah disini, aku akan menggerjakan pekerjaan ku secepatnya.” Ucap Celio memegang pundak Jesica hendak mendudukkannya di sofa ruangan Celio.
Jesica menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Celio berjalan menghampiri Jesica “ Apa kamu bosan?” Tanya Celio.
Jesica mendongkakkan kepalanya “ Apa aku mengganggu mu?” Jesica memanyunkan bibirnya “ Maaf, aku hanya tidak tahu mau melakukan apa jadi aku sedikit bosan.”
Celio tersenyum “ Ayo kita mengambil cemilan di depan.” Celio menarik tangan Jesica untuk berdiri.
“ Bukannya kamu lagi sibuk?” Kata Jesica tidak enak karena kehadirannya hanya mengganggu Celio.
“ Tidak apa-apa, hanya sebentar saja.”
Merekapun berjalan keluar dengan tangan Celio yang menggenggam tangan Jesica.
Jesica mulai memilih snack dan minuman yang dia inginkan. Matanya tertuju pada lollipop, ia pun mengambil lollipop tersebut.
Jesica telah selesai mengambil cemilan yang dia inginkan, jumlah tidak terlalu banyak.
__ADS_1
Celio mengambil ali troli yang sedang di dorong Jesica, meskipun Celio adalah pemilik dari Stanley Mart tetapi tetap saja ia akan membayar apa yang dia ambil baik dalam jumlah besar maupun jumlah kecil saja.
Sesudah itu merekapun masuk kembali kedalam ruangan Celio dengan kantong plastik di tangan Celio.
Jesica duduk kembali di sofa dan ikuti oleh Celio yang duduk di sampingnya. Jesica membuka kanting plastik yang berisikan cemilannya. Ia memilih lollipop berbentuk bulat kecil warna merah untuk dia nikmati daat ini berharap kebosanannya pergi. Jesicapun menikmati lollipop yang ada di mulutnya. Ia memiringkan duduknya “ Apa kamu tidak mau makan snacknya?” Tanya Jesica.
Celio ikut memiringkan duduknya ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Memperhatikan Jesica yang sedang menikmati lollipop di mulutnya, sesekali Jesica mengeluarkan lollipop dari mulutnya.
Jesica ikut menyandarkan kepalanya di sandaran sofa tersebut, menusuk-nusuk pipi Celio menggunakan jari telunjuk “ Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mau makan snacknya?” Tanya Jesica lagi karena Celio yang diam saja.
Celio memajukan mukanya ke depan muka Jesica dengan gerakan cepat “ Tidak.” Ucap Celio. Celio memperhatikan muka Jesica dari jarak yang sangat dekat, Ia memperhatikan mata, alis dan hidung Jesica.
Tentu saja perlakuan Celio tersebut membuat Jesica hanya mematung karena jantungnya yang berdetak lebih cepat saat ini. Lollipop yang tadi dia mainkan di mulutnya seketika berhenti.
Mata Celio tertuju pada bibir Jesica, rasa penasaran akan bibir itu muncul. Celio mengecup bibir Jesica sejenak dengan lollipop yang masih ada di mulut Jesica “ Kenapa manis sekali, apa memang begitu rasanya.” Gumam Celio.
Jesica terkejut akan perlakuan Celio tersebut, ia tidak menyangka Celio akan menciumnya. Jesica mengeluarkan lollipop yang ada di mulutnya.
Melihat mulut Jesica yang sedikit terbuka membuat Celio semakin penasaran akan bibir yang ada di depannya, Ia pun memajukan bibirnya lagi ke bibir Jesica. Lagi-lagi ia mencicipinya.
Jesicapun membelalakkan matanya sedangkan Celio sedang memejamkan matanya. Cukup lama mereka di posisi tersebut. Tidak ada ciuman panas atau hot yang terjadi.
2 orang yang tidak pernah melakukan ciuman itu terlihat sangat kaku, tidak ada pergerakan sama sekali.
Celio akhirnya mengakhiri ciuman itu karena tersadar akan perbuatannya “ Ma-maaf aku tidak sengaja.” Ucap Celio dengan terbata-bata.
Jesica menganggukkan kepalanya kemudian meluruskan duduknya.
Celio bersujud di depan Jesica, memastikan Jesica benar-benar tidak marah saat ini “ Kamu benar-benar tidak marahkan?” Tanya Celio.
.
.
.
__ADS_1