KAMU MEMANTRAIKU

KAMU MEMANTRAIKU
18. TAPI, AKU MAU.


__ADS_3

Kelas Jesica telah berakhir, sedangkan Natlie masih berlanjut sampai jam 2 siang.


“ Celio, kelasku telah berakhir.” Isi pesan Jesica kepada Celio.


Celio membaca pesan tersebut. Dengan langkah cepat dia keluar dari ruangannya. Saat ini dia berada di supermarket. Sesampainya di kampus lift-lift kampus sedang penuh-penuhnya karena memang banyak kelas yang telah berakhir. Celio menaiki tangga yang juga lumayan ramai.


“ Sejak kapan kampus jadi seperti pasar. Kenapa jadi ramai gini.” Ungkap Celio kesal menaiki tangga karena banyak yang menghalangi jalannya.


Sedangkan Jesica…


“ Jes, foto bareng teman kelas dulu yuk.” Ucap teman kelasnya yang melihat Jesica sedang sibuk membereskan barangnya.


Jesica tersenyum ramah kepada teman kelasnya tersebut “ Ayo.” Ucap Jesica meletakkan kembali bukunya ke meja.


Darcy, Nama teman kelas Jesica. Rambutnya hitam mengkilau, rambutnya tidaklah terlalu panjang.


Kelas itu jadi ramai tatkala foto bersama selesai. Ada yang melanjutkan foto selfie dan ada juga yang berkenalan karena tadi belum berkenalan sama sekali. Lagian mereka akan satu kelas kedepan.ya jadi tidak apa-apa berkenalan.


“ Sial, aku tahu akan jadi seperti ini.” Lagi-lagi Celio kesal karena ada seorang lelaki yang mengajak Jesica berselfie. Celio masuk kelas yang sedang ramai itu, membereskan buku-buku Jesica yang tadi di tinggalkan Jesica begitu saja.


“ Ayo.” Ucap Celio mengajak Jesica pulang dan menarik pelan tangan Jesica yang sedang sibuk dengan teman-temannya.


“ Celio, sejak kapan?” Tanya Jesica, Ia mengambil tasnya dari Celio.


“ Baru kok, Ayo.” Ucap Celio ingin cepat-cepat pergi dari ruang kelas itu.


“ Aku duluan yah.” Ucap Jesica melambaikan ke dua tangannya kepada teman kelasnya.


Ke dua sejoli berjalan keluar kelas dan menuju sebuah rumah makan dekat kampus.


“ Kita makan dulu yah, Habis itu kita ke Supermarket.” Celio tersenyum “ Ada yang ingin ku sampaikan.” Sambung Celio.


Lelaki itu akan menagih jawaban dari pertanyaannya yang sudah beberapa minggu belum di jawab Jesica. Ia tidak mau ada orang lain yang mendahuluinya.

__ADS_1


Jesica menganggukkan kepalanya “ Hemmm baiklah.”


Mereka berjalan menuju rumah makan. Celio menuntun Jesica dengan tangannya yang sedia menggenggam gadis di belakangnya.


Sesampainya di rumah makan tersebut tidak ada sesuatu hal yang terjadi kecuali Celio yang sedang merangkai kata-kata di kepalanya, bagaimana Ia akan mengatakan kepada wanita yang di depannya saat ini bahwa pertanyaannya sudah tidak bisa di gantung lagi.


Stanley Mart…


Celio mengajak Jesica masuk ruangannya “ Eh Pak Direktur dari mana?” Pak Detektif lagi-lagi menginterogasi Bossnya “ Siapa Wanita itu Pak?” Tanya Regan.


Yap, Regan, Nama pegawai Celio yang bisa tiba-tiba berubah jadi Pak Derektif.


Celio menaikkan ke dua alisnya “ Kamu ini yah! Benar-benar mau di pecat yah? Sudah ku bilang jangan memanggilku dengan sebutan itu.” Ucap Celio menarik tangan Jesica, Ia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Regan yang menurut Celio laki-laki yang ingin tahu segalanya alias kepo.


“ Kenapa hari ini semua orang mengesalkan.” Gumam Celio.


Jesica yang dari tadi di tuntun seperti anak kecil hanya tersenyum kepada Regan, melambaikan satu tangannya kepada Regan.


“Tidak, aku sudah sangat kenyang nanti perutku bisa-bisa meledak.” Ucap Jesica menyandarkan bahunya.


Celio berfikir sejenak ia menarik napas panjang “ Jes aku mau ngomong sesuatu.” Ucap Celio lalu duduk di samping Jesica.


“ Bicaralah Lion aku akan mendengarkan mu.” Ucap Jesica.


“ Menghadap kemarilah,” Celio memiringkan posisi duduknya “ Maksudku lihat aku.”


Jesica juga ikut memiringkan duduknya menghadap Celio.


“ Jes, bisakah aku bertanya apa jawaban kamu atas pertanyaan yang ku berikan beberapa minggu yang lalu?” Tanya Celio.


Tanpa berpikir panjang Jesica sudah mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Celio.


Jesica masih terdiam “ Apa kamu tidak percaya kepada ku?” Tanya Celio karena Jesica hanya diam saja.

__ADS_1


“ Tidak, aku percaya kok.” Jawab Jesica namun lagi-lagi ia terdiam setelah mengucapkan itu.


Celio menarik napas panjang lalu menghebuskan napasnya pelan “ Aku akan menunggu sampai kamu siap.” Celio meluruskan lagi duduknya ke depan, sedih dan malu karena lagi-lagi dia harus di tolak dengan orang yang sama.


“ Tapi aku akan menjawabnya sekarang.” Ucap Jesica dengan muka yang tidak bisa di tebak.


Celio melihat Jesica “ Jangan, jangan jawab sekarang aku tidak sanggup mendengarnya.” Ucap Celio memalingkan padangannya dari Jesica. Di pikirannya dia pasti di tolak lagi.


Jesica terkekeh melihat tingkah Celio yang terlihat murung seketika “ Tapi aku akan menjawabnya sekarang juga!” Ucap Jesica dengan nada yang agak meninggi.


Celio masih setia dengan posisinya tidak mau menatap Jesica. Jesica berjalan dan duduk dengan posisi bersujud di depan Celio “ Tapi……………………………………” Jesica tersenyum usil melihat Celio yang semakin tidak mau menatapnya “ Tapi aku jawab ia, aku mau.”


Mendengar kalimat “ Ia, aku mau.” Sontak Celio yang tadinya tidak mau melihat Jesica. Sangat terkejut dengan jawaban tersebut padahal dia yakin akan di tolak tadinya. Ia ikut bersujud di depan Jesica. Celio refleks memeluk Jesica dengan erat, cukup lama mereka dengan posisi tersebut.


“ Lion… bisakah kamu melepaskan aku terlebih dahulu.” Ucap Jesica dengan suara yang terengah-engah karena semakin lama pelukan Celio juga semakin erat.


“ Hahh… maaf aku terlalu senang,” Kata Celio melepaskan pelan pelukannya itu “ Kita kerumah orang tua aku yah. Aku akan mengenalkan kamu kepada mereka. Siapa tahu ada kakak aku juga.” Celio memang lelaki idaman, baru jadian saja dia sudah memperkenalkan kekasihnya kepada orang tuanya. Sangat Gentleman. Seandainya orang tua Jesica berada di kota yang sama ia akan meminta ijin untuk menjadikan Jesica kekasihnya di depan orang tua Jesica.


Jesica menganggukkan kepalanya.


Mereka berjalan keluar dari supermarket tersebut. Para pekerja di supermarket iri kepada Jesica sekaligus senang melihat Celio yang sangat sangat sangat bahagia hari ini.


Mereka sampai di rumah yang lumayan besar. Tidak, halaman dari rumah itu yang sangat luas.


Celio berjalan masuk ke rumahnya lagi-lagi Jesica seperti anak kecil di belakang Celio yang kalau jalan perlu di tuntun “ Ma.. Pa.. Kak.. aku pulang.” Rumah yang tadinya sepi jadi ramai karena suara Celio yang berteriak memanggil penghuni rumah tersebut.


Seorang wanita paru baya berjalan cepat keluar dari suatu ruangan dengan sapu di tangannya “ Anak durhaka… Tahu pulang juga kamu.. sini kamu.. Anak bandel… Kenapa baru datang sekarang…Sini.. mama bilang sini kamu… Masih ingat orang tua ternyata… Celio sini kamu…” Ucap Mama Celio mengejar Celio yang sedang lari dari amukannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2