KAMU MEMANTRAIKU

KAMU MEMANTRAIKU
32. ALARM


__ADS_3

POV JESICA


Jam di dinding telah menunjukkan pukul 23:34 malam, namun mataku tidak bisa terpejam. Biasanya aku akan tidur tepat pukul 22:00 malam Aku tidak terbiasa begadang. Rasanya hari ini berjalan begitu cepat dan melelahkan.


Aku menoleh ke sampingku. Kosong. Biasanya disampingku, Aku akan selalu melihat sosok Natlie, entah gadis itu akan menggulingkan badannya kesana kemari, terkadang gadis itu juga akan marah-marah tidak jelas, dan tidak jarang gadis itu akan dia seribu bahasa. Jika hal itu terjadi biasanya Aku hanya diam saja atau jika Aku mulai kesal melihat tingkahnya Aku akan membentak dan menegurnya yang ujung-ujungnya kami akan aduh mulut. Aku tersenyum mengingat drama kami sebelum tidur.


Aku duduk dan menyandarkan bahuku, air mataku mulai menetes. Aku merindukan Natlie, sahabat yang Ku anggap sebagai saudara. ‘ Apa Aku melakukan kesalahan?’, ‘ Apa sejak dari dulu cuma Aku yang menyayangimu?’, ‘ Apa kamu tidak menganggap Aku sebagai keluarga kamu sekarang?’, ‘ Atau Aku menyakiti kamu tanpa aku sadari?’.


Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari dengan bebas di kepalaku, isak tangisku mulai memenuhi kamar ini. Namun di balik kejadian ini aku bersyukur ada Celio yang masih setia menemani Aku, bahkan pria yang memiliki mata indah itu bersedia pindah di samping apartemen ini. Aku tersenyum dan mataku terpejam tatkala otak ini mulai memikirkan Celio di tengah tangisku yang mulai meredah.


Jam sudah menunjukkan jam 01:05 malam ingin rasanya aku berlari ke tempat Celio sekarang ini, aku ingin menangis di pelukannya. Aku menggelengkan kepala. Tidak. Pasti Celio sudah tidur terlelap Aku tidak mau menganggu tidurnya besok pria pemilik mata indah itu harus bekerja dan aku juga memiliki jadwal kuliah.


Pada akhirnya aku merebahkan badanku, menarik selimut untuk menutup semua badanku. Mataku mulai berat akibat menangis terlalu lama, akhirnya Aku tidur terlelap.


Jam alarm dari gadgetku membangunkan Aku di pagi ini. Mataku terasa sangat berat sepertinya ,mataku bengkak dan semakin menyipit. Aku bangun dan merapikan kamar yang kini telah menjadi milikku, Aku membuka tirai yang menutup kaca sehingga sinar matahari bebas masuk ke dalam kamarku.


“ Ah silau.” Kataku ketika sinar matahari itu rasanya menusuk mataku. Aku berjalan kedalam kamar mandi, Aku memandangi wajahku di pantulan cermin, benar saja mataku sedikit bengkak dan semakin sipit. Aku menggosok gigi dan membasuh wajahku dengan air agar sedikit merasa segar.


Aku keluar dari kamar dan menuju dapur, perutku minta di isi. Langkah kakiku terhenti, ‘ Mengapa dia ada disini? Ah aku lupa apartemen ini miliknya tentu saja di bisa masuk.’ Gumamku dalam hati.


Aku tersenyum melihat pemandangan di depanku, yang ku pandangi juga tersenyum di tengah kesibukkannya. Pria bermata indah itu sedang sibuk memasak. Celio masik melanjutkan masaknya ketika Aku mulai berjalan pelan mendekatinya. Aku memperhatikan wajahnya yang membuat jantungku berdetak kencang saat ini. Wajah itu dipenuhi oleh keringat.

__ADS_1


Aku memeluknya dari belakang, ini yang sangat ingin kulakukan semalam. Celio menghentikan pergerakan tangannya, ia mengecilkan api kompor dan berbalik menghadap aku. Aku mengencangkan pelukanku.


Lama kami di posisi tersebut akhirnya Celio mengatup wajahku dengan tangannya sehingga mata kami bertemu untuk bertatap. Pria itu tersenyum singkat lalu bibir pria idamanku melengkung ke bawah tanda ia sedang bersedih. ‘ Kenapa?’ Tanyaku dalam hati, Aku ikut sedih melihatnya murung.


“ Kenapa mata kamu bengkak? Apa kamu menangis semalam?” Tanya pria bermata indah itu sembari mengusap kedua ibu jarinya di pipiku. Aku terkekeh pikirku pria ini sedang bersedih ternyata dia sedang mengkhawatirkanku.


Aku menggelengkan kepalaku pelan “ Aku memang menangis,tapi pagi ini aku sangat senang.” Jawabku meyakinkannya bahwa aku sedang baik-baik saja saat ini.


Celio menarikku kedalam peluknnya “ Jangan bersedih lagi aku akan membahagiakan kamu, aku merasa gagal membahagiakan kamu jika kamu bersedih tentang apapun itu. Aku sedih sekaligus marah. Jadi berbahagialah jangan bersedih lagi.” Kata Celio di tengah-tengah pelukan kami.


Pria bermata indah itu ternyata sangat mengkhawatirkan aku, sedangkan yang kulakukan hanya diam sembari mengirup aroma badannya yang sedang berkeringat. Bau dari orang ini menenangkan aku.


Celio melepaskan pelukannya dan mendudukkan Aku di kursi “ Tunggu disini Aku akan melanjutkan masakanku dulu.” Kata Celio memberiku botol berisikan air mineral dan tidak lupa senyumnya yang manis, aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.


“ Ayo kita sarapan.” Kata Celio yang telah selesai menata makanan di meja makan. Pria itu melepas celemek yang melekat pada tubuhnya ‘ Ahh seksi.’ Kata gadis batinku, menurutku dia sangat seksi ketika dia melakukan hal itu.


Aku melangkahkan kaki ku ke meja makan, ikut bergabung dengan Celio yang telah terlebih dahulu duduk di meja makan.


“ Selamat makan.” Kata Celio.


“ Terima kasih makanannya.” Kataku memperhatikan satu per satu hasil masakannya, mataku terkagum-kagum melihat masakan Celio, sepertinya rasanya sangat enak.

__ADS_1


Aku mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutku “ Hmmmm…. Enak sekali, kamu memang yang terbaik.” Kataku memuji masakanya, pujianku bukan sekedar pujian memang benar masakan Celio tidak pernah mengecewakan.


Pria di depanku mulai menepuk-nepuk dadanya bukan karena tersedak makanan melainkan membanggakan diri sendiri, matanya terpejam dan bibirnya sengaja ia monyongkan “ Siapa dulu dong yang masak.”


Aku tertawa melihatnya seperti itu, dia seperti anak kecil.


“ Nah gitu dong. Tertawa.” Kata Celio memperhatikanku.


Aku tersenyum dan melanjutkan makanku begitu juga dengan pria bermata indah di depanku ia melanjutkan makannya yang sempat terhenti.


Aku menyetel televisi di depanku mencari film yang cocok di nonton di pagi hari. Tidak usah di tanyakan, pria bermata indah itu juga ikut duduk di sampingku ia sibuk memperhatikan gadgetnya. Pria itu belum berangkat bekerja karena ingin berangkat bersamaku. Jadwal kuliah ku jam 10:00, sekarang masih jam 07:36. Aku memilih tidak memaksa Celio untuk berangkat duluan karena percuma saja, pria itu akan menggunakan segala macam cara agar berangkat bersamaku nantinya.


Akhirnya aku menonton cartoon larva saja. Awalnya diruangan itu sangat hening sampai akhirnya aku tertawa terbahak-bahak karena kelakuan larva berwarna kuning dan merah itu.


Celio meletakkan gadgetnya dan ikut menonton bersamaku, pria itu juga ikut tertawa karena cartoon yang sedang kami nonton.


Aku menepuk-nepuk pelan bahu Celio karena melihat tingkah bodoh yang dilakukan larva berwarna kuning, aku menoleh ke samping ternyata Celio memperhatikan aku saat ini. Tatapan mataku terkunci oleh matanya, pria itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Hembusan napas yang sedikit tidak beraturan menggelitik kulit wajahku. Mata indahnya memperhatikan bibirku sampai akhirnya alarm untuk mandi dari gadgetku yang sengaja ku setel sangat keras membuyarkan semuanya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, vote, dan ratenya sobat😊🥺.


__ADS_2