
“ Apa yang sedang kamu lakukan?”
“ Hanya membaca buku.”
“ Tidak mengerjakan tugas?”
“ Tidak, aku sudah mengerjakannya.”
“ Kenapa tidak makan disini tadi? aku udah masak yang banyak tadi.”
“ Aku lagi malas aja, lagian tadi aku sama Aye masak kok.”
“ Benarkah? Yah sudah besok kita ke rumah Mama yah.”
“ Baiklah.”
“ Selamat malam, Semoga mimpi indah.”
“ Selamat malam Lion.”
Itu adalah percakapan Jesica dan Celio melalui whatssapp, sudah menjadi kebiasaan saat Celio akan tidur ia akan mengirim pesan kepada Jesica. Meskipun rumah mereka bersampingan tidak enak juga jika dia bertamu ke rumah gadis itu malam-malam.
Jesica membaca pesan itu kembali, Apa Celio tidak bosan mengirim pesan yang sama setiap saat? Apa Celio tidak bosan dengannya di kampus dia bertemu dengannya bahkan di rumahpun masih bertemu. Celio yang akan mengantar jemput jika Natlie sedang tidak ada jadwal kuliah karena Jesica memang tidak bisa mengendarai sepeda motor. Bahkan Celio akan memasak untuk Jesica jika gadis itu sedang lapar, mood seorang wanita memang suka berubah-ubah dan Celio akan berusaha mengerti itu walaupun berpacaran dengan Jesica adalah pengalam pertamanya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Jesica tersenyum mengingat-ingat perhatian Celio kepadanya. Ia melihat ke samping Natlie sudah tidur terlelap. Jesicapun memejamkan matanya dan larut dalam mimpinya.
Pagi itu…
Jesica membuka matanya pelan, ia menoleh ke samping hendak melihat Natlie namun gadis yang di cari tidak ada, Apa Natlie sudah bangun? Tidak seperti biasanya, gadis itu akan selalu bangun telat dari Jesica.
Jesica menyibakkan selimutnya dan merapikan kasur mereka. Dia berjalan keluar dari kamar hendak menuju kamar mandi, karena memang kamar mandi mereka berada di samping dapur. Mata Jesica menyapu bersih ruang tamu, dapur, dan kamar mandi tapi hasilnya Natlie tidak ada. Lagian hari ini mereka sama-sama libur. “Apa di jemput Om Dave? Atau di jemput Regan? Kemana bocah itu? Olahragakah? Ah itu tidak mungkin lebih baik dia tidur sepanjang hari dari pada olahraga,pantas saja tidur ku benar-benar nyenyak .” Jesica berkutat sendiri dengan pikirannya.
“ Ah sudahlah lebih baik aku mandi.” Jesica masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, hari ini dia akan menikmati mandinya yang biasa terganggu karena Natlie yang juga akan mandi.
“ Ting… Ting… Ting…” Bunyi dari ponsel Jesica.
Jesica mengangkat Video Call dari Celio “ Hallo...” Jesica menyapa dengan senyumannya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Celio membalas senyum Jesica “ Nanti kita ke rumah Mama yah, gak lupakan?”
“ Ngak kok, Ok siap Pak Boss.” Jesica menganggung-nganggukkan kepalanya.
“ Kamu udah mulai ngikutin Regan yah.” Biasanya jika Regan memanggilnya dengan sebutan Pak Boss atau Pak Direktur dia akan risih tapi kali ini, Jesica menyebutnya Pak Boss dia malah tersenyum. Entah menyapa pipinya sedikit bersepu merah.
Jesica hanya cengengesan mendengar perkataan Celio.
__ADS_1
“ Sudah dulu yah,nanti sekitar jam 11 kita berangkat.”
“ Ok Boss.” Ucap Jesica sebelum mengakhiri video call tersebut.
Kediaman Orang Tua Celio…
Celio tersenyum, ia keluar dari kamarnya berjalan menuju halaman belakang rumahnya.
Di halaman rumahnya sudah ada Regan, Natlie, dan Darcy. Orang-orang yang dekat dengan Jesica, mereka sedang mendekorasi halaman itu.
Natlie memang sedang berada di rumah orang tua Celio. Pagi tadi Regan sudah menjemputnya sesuai dengan rencana yang sudah di rencanakan Celio jauh-jauh hari.
“ Udah siap belum?” Tanya Regan yang sedang memilah bunga di halaman tersebut.
“ Aku masih grogi sih. Semoga semuanya lancar nanti.” Ucap Celio menghembuskan napasnya beberapa kali.
“ Yakin aja. Pasti lancar.” Kata Regan melanjutkan kegiatannya tadi.
Celio pun berjalan menghampiri Jesica dan Darcy yang menata bunga.
“ Apa lagi, Itu muka kok tegang banget?” Tanya Natlie melihat muka Celio yang memang tegang.
“ Ah tahulah Nat,” Celio menoleh ke arah Darcy yang juga sedang memperhatikan ketegangan Celio saat ini “ trima kasih udah mau bantu siap-siap.” Kata Celio kepada Darcy.
“ Ah jangan sungkan-sungkan kak.” Ucap Darcy.
“ loh kamu belum jemput Jesica?” Tanya Barbara yang sedari tadi senyum-senyum.
“ Bentar lagi, di halaman belum selesai.”
“ Coba kamu lihat kuenya di kulkas, udah bagus belum kalau ada yang kurang nanti Mama tambahin.”
Celio berjalan ke arah kulkas yang cukup besar itu. Celio tersenyum melihat kue buatan Mamanya tersebut “ trima kasih Mama yang terbaik.” Ucap Celio memeluk Barbara dari belakang.
“ Ia Mama tahu kok, kamunya aja yang gak pernah kunjungin Mama kesini, Kamu belum jemput Jesica? Bentar lagi Papa dan Kakak kamu pulang.” Ucap Barbara yang masih sibuk dengan makanan yang dia susun.
Celio melepaskan pelukannya itu “ Aku lihat di belakang udah selesai apa belum Ma.” Celio pun berlalu pergi ke halaman.
Di lihatnya halaman sudah rapi, Celio pun menghampiri Natlie, Regan dan Darcy yang sedang menikmati minuman mereka “ Sekali lagi makasih yah udah bantuin, aku akan jemput Jesica sekarang.”
Celio pun berlalu masuk kembali ke dalam rumah berjalan cepat menuju parkiran rumahnya, tepat di pintu dia bertemu dengan Ronan Papanya dan Tavish. Mereka memang sengaja pulang karena rencana Celio hari ini.
Ronan menepuk pundak Celio “ Udah siap?” Tanya Ronan.
__ADS_1
“ Udah Pa, Ini mau jemput Jesica sekarang.” Ucap Celio, matanya menatap mata Kakaknya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan datarnya.
“ Aku jalan dulu Pa.”
Ronan menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk rumah, sedangkan Tavish masih diam di tempat menatap Celio dengan tatapannya yang masih saja sama.
“ Semoga sukses.” Ucap Tavish menepuk pundak Celio.
“ Makasih banyak Kak.” Celio tersenyum memandang pundak Tavish yang sudah masuk kedalam rumahnya. Apakah itu artinya Tavish telah menyetujui acara lamarannya pada hari ini.
Celio pun berlalu menjemput Jesica.
“ Tok… Tok… Tok…” Celio mengetuk pintu , pintu itu pun terbuka menampakkan Jesica yang sudah rapi.
“ Ayo jalan sekarang, Mama udah nunggu kita.”
“ Ayo.”
Merekapun pergi menuju rumah orang tua Celio, sesampainya disana.
“ Apa rumah orang tua kamu selalu sepi seperti ini?” Ucap Jesica.
Celio hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jesica “ Ayo ita ke halaman belakang.”
Mereka berjalan menuju halaman belakang, Celio berjalan duluan dan di ikuti oleh Jesica di belakangnya.
Celio membuka pintu…
Duarrr…..
Terlihat Regan, Natlie, dan Darcy menyambut Jesica dengan party popper mereka.
Barbara yang datang dengan kue ulang tahun “ Selamat Ulang Tahun sayang.” Ucap Barbara.
Semuanya pun mengucapkan selamat ulang tahun kepada Jesica dan yang terakhir adalah Celio.
“ Selamat Ulang Tahun Jes,” Celio mengambil kotak cincin di dalam kantong jaketnya “ Kamu adalah semangatku. Segala yang kulakukan adalah untuk dan tentang kamu. Jangan membuat aku hancur dengan menolakku hari ini. Temanilah hari-hariku kedepannya. Jadilah matahari dan bulan di rumahku maka aku akan menjadi langit menemanimu dalam suka maupun duka.” Ucap Celio yang sudah bersujud di depan Jesica dengan kotak cincin yang sudah terbuka, menampakkan sebuah cincin berlian sederhana namun nampak cantik.
Muka Jesica bersemu merah, dia tidak menyangka Celio akan melamarnya hari ini. Jesica menganggukkan kepalanya, air matanya sudah jatuh di pipinya “ Ia aku mau.”
Semua orang ikut bertepuk tangan dan Celio memasangkan cincin di jari Jesica hingga akhirnya Celio memeluk Jesica dengan erat.
.
__ADS_1
.
.