
Setelah alarm untuk mandi itu berbunyi, aku segera masuk kedalam kamarku, meninggalkan Celio seorang diri. Aku meninggalkan Celio begitu saja karena ku yakini wajah ini telah berubah menjadi merah,semerah tomat.
Aku segera masuk kedalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa aku hanya menggunakan make up tipis yang ku buat senatural mungkin. Aku keluar dari kamarku, ku lihat Celio telah siap. Pria bermata indah itu telah siap dengan style casualnya, Celio tersenyum kepadaku.
“ Sudah siap, ayo berangkat nanti telat!” Kata Celio sambil menekan tombol power pada remot tv.
“ Huh…” Aku menaikkan salah satu sudut bibirku “ Kamu yang sudah telat 3 jam yang lalu!” Aku berjalan keluar apartemenku dan di ikuti oleh Celio dari belakang.
Celio merangkulku “ Kan aku bisa mengurusnya melalui E-mail, tadi aku juga sudah berbalas pesan.” Kata Celio membela dirinya, aku diam saja mendengar perkataannya. Berdebat dengan Celio tidak ada ujungnya, ia selalu ingin didekatku.
Sampailah kami di parkiran, seperti biasa Celio selalu memasangkanku helm.
Celio mulai menstartar motornya, sebelum laki-laki ini memberiku kode untuk memeluknya, aku sudah terlebih dahulu memeluknya. Semenjak dilamar oleh Celio, aku sudah tidak malu-malu lagi memeluknya terlebih dahulu. Yah… walaupun lamaran Celio belum sepenuhnya resmi tetapi orang tuaku juga telah menyetujui hubungan kami. Rencananya sesudah Celio wisuda kami akan pergi ke Makassar agar hubungan Celio lebih dekat dengan orang tuaku, bukan hanya melalui video call saja.
Seperti biasa Celio selalui mengadarai motornya dengan perlahan dan tanpa rem dadakan yang di buat-buat seperti para lelaki di luar sana. Tidak terasa kami sudah sampai di Stanley Mart, Celio memang selalu memarkirkan motornya di sana. Katanya jika di kampus motor kesayangannya akan menjadi korban kejailan para mahasiswa.
Aku melepaskan helm di kepalaku dan memberikannya kepada Celio “ Aku akan pulang agak sorean.”
“ Loh, bukannya Cuma 1 mata kuliah yah? Seharusnya jam 12 lewat sudah selesaikan.” Kata Celio yang memang menghapal mati jadwal kuliahku.
Memang benar jadwal kuliahku seperti yang di bilang Celio, rencanaku semalam adalah berkeliling kampus mencari Natlie hari ini. Tadi pagi Aku membuka Whatsapp dan melihat Natlie telah kembali online di media sosial, berkali-kali aku mengecek Whatssapp Natlie dan aku selalu melihat tulisan online di bawa namanya “ Aku ingin menghabiskan waktu di perpustakaan, aku bosan di apartemen.” Kataku berbohong, jantungku berdetak kencang. Ini kala pertama Aku membohongi pria bermata indah ini, Aku tidak mau mata indahnya ikut bersedih dengan kesedihanku.
__ADS_1
“ Hmmm… baiklah.”
Huh… dia percaya. Aku takut jika dia mendapat kebohongan di dalam mataku “ Aku pergi dulu, nanti aku akan mengirim pesan kepada kamu.” Aku mulai melangkahkan kaki ku menuju kampus.
Langkah kakiku belum meninggalkan Stanley Mart, Namun langkah kakiku harus berhenti karena Celio masih mengekoriku. Aku berbalik dan benar saja Celio ikut menghentikan langkah kakinya.
Aku menarik napas “ Aku bisa pergi sendiri.” Kataku dengan nada selembut mungkin agar Celio percaya kepadaku.
“ Aku akan mengantar kamu sampai disana saja.” Kata Celio menunjuk gerbang kampus.
Mataku ikut melihat ke arah yang dia tunjuk, aku menghela napas tidak mungkin dia mengantarku sampai disana saja, dia selalu mengantarku sampai depan ruang kelasku “ Aku bisa sendiri. Ayo kamu masuk.” Aku takut Celio memusatkan segala perhatiaannya kepadaku sehingga ia melupakan tugasnya di Stanley Mart.
Mata indah itu mulai memohon seperti anak kucing yang minta makan pada tuannya “ Aku akan mengantar kamu, yah.”
Aku menunggu jawaban darinya, namun lelaki ini diam saja masih bertahan dengan mata memohonnya. Aku menghela napas, membalikkan badannya secara paksa dan mendorong-dorong badannya sekuat tenaga, namun kekuatanku tidak sebanding dengan berat badannya, Celio hanya berpindah sedikit saja dari posisi awalnya. Sekarang aku seperti seorang ibu yang memaksa anaknya agar mau masuk sekolah.
Celio membalikkan badannya “ Baiklah, aku akan masuk. Jangan lupa menghubungiku.” Katanya sambil mengusap kepalaku.
“ Hm… Aku pasti tidak lupa.” Aku langsung berbalik dan melangkahkan kakiku cepat, menghindari drama baru yang akan Celio ciptakan.
Kelasku telah berakhir, aku bersiap-siap dan membereskan alat tulisku di meja. Aku buruh-buruh keluar dari kelasku, aku takut Darcy akan mengajakku bercerita terlebih dahulu. Aku harus bertemu Natlie hari ini, Aku akan mempertanyakan semuanya.
__ADS_1
Aku masuk kelasnya, namun kelas itu telah kosong, tidak ada satu orangpun untuk di tanyai. Aku memutar otakku kemana aku akan mencari Natlie?. Aku turun ke lobby kampus dan memperhatikan mahasiswa yang keluar dari kampus dan lift.
Aku mulai lelah, mahasiswa dan mahasiswi yang lewat juga sudah bisa di hitung jari. Aku lihat jam di pergelangan tanganku, ternyata sudah setengah 4. Aku memutuskan mencari Natlie di perpustakaan.
Aku berjalan ke arah kampus yang bangunannya berada di antara gedung kampus dan Stanley Mart. Aku memasuki perpustakaan dan mulai mencari Natlie di setiap lantai. Tetap saja tidak ada Natlie disini. Aku mulai lelah dan perutku mulai keroncongan, minta diisi.
Aku keluar dari perpustakaan dan berjalan ke Stanley Mart berharap tidak bertemu Celio disana. Aku takut Celio akan menahanku disana ataupun Celio ikut bersamaku mencari Natlie, aku tidak mau lelaki itu mengetahui kecemasanku.
Aku mengambil beberapa macam roti yang ku ambil secara acak dan 1 botol air mineral. Aku membayar semuanya, sepertinya kasir yang di depanku mengetahui bahwa aku adalah kekasih Celio, sedari tadi dia tersenyum kepadaku, aku juga membalas senyumannya.
Tujuanku yang terakhir adalah mencari Natlie di setiap ruangan di setiap lantai, aku harus bertemu dengannya hari ini juga.
Aku mulai memasuki tiap ruangan di lantai 2 karena lantai 1 adalah ruang para dosen, tidak mungkin Natlie ada disana. Aku memutuskan mulai dari lantai 2 saja.
Tidak ada dari ruangan di tiap lantai yang aku lewatkan. Namun, yang ku temui hanya beberapa mahasiswa yang mengerjakan tugas. Ada juga yang bergosip sambil tertawa terbahak-bahak entah apa yang mereka cerita sampai tertawa seperti itu. Mungkin mereka menertawakan aku karena aku yang berdiri di ambang pintu kemudian memperhatikan mereka satu per satu tanpa sepata kata. Aku tidak menghiraukan itu semua, aku hanya fokus pada tujuanku, mencari Natlie!
Disetiap lantai aku telah mencari Natlie dan tidak ada ruangan yang ku lewatkan. Hasilnya nihil, Aku mulai lelah dan perutku sudah sangat keroncongan, Aku berniat makan di atas atap kampus sekaligus menikmati pemandangan di sore hari.
Aku naik ke tangga menuju atap kampus, ternyata atap kampus ini di tutup menggunakan pagar dan dikunci menggunakan kunci pintu digital. Aku mulai menekan-nekan angka disana.
.
__ADS_1
.
.