
Selama ini, ia percaya pada karma. Dimana hal buruk akan mendera meraka yang melakukan dosa begitupun sebaliknya. Ia masih percaya bahwa ketika ia berbuat hal baik, maka sesuatu yang baik akan datang juga kepadanya. Namun, yang bisa ia ingat saat ini adalah ketika ia berusaha untuk berbuat baik, tapi hal buruk yang ia terima. Dewi Fortuna kelihatannya sangat tidak suka pada Ray, karena nyatanya ia selalu mendapat apa yang ia tak harap.
"Kenapa kalian cuma diam saja?! Apa seperti ini cara kalian memperlakukan tamu?!" Wanita itu masih berdiri didepan Ray dan Sam. Nyatanya Ray tak bisa apa-apa. Ia menolak kehadiran Sasha bukan tanpa alasan. Jika nanti ia berbuatĀ salah, bukan hanya Sasha yang akan melampiaskan semua kekesalannya pada Ray seorang, tapi juga Arnold.
Namun, remaja di sampingnya ternyata punya nyali yang cukup besar. Ia menatap Sasha tanpa takut, dan memutar bola matanya. Ia jengah dengan sikap munafik dari wanita itu.
"Maaf ya Tante Sasha yang baik hati, tapi rumah ini tidak menerima tamu seperti Anda. Silahkan pulang sekarang juga!" Kata Sam sambil tersenyum. Dan dengan perlahan ia mendorong Ray untuk masuk kedalam terlebih dahulu. Walau Ray sedikit memberikan penolakan.
"Kak Ray masuk duluan aja, biar Tante Sasha Sam yang urus!"
"Tapi..."
"Udah, masuk aja! Nanti Sam yang dimarahin sama Rion!" Ray menghela nafas, kemudian mengangguk pasrah. Mau tidak mau ia harus menuruti apa yang Sam katakan. Ia tidak ingin lebih lama di sana. Ia hanya takut, sesuatu yang tidak baik akan terjadi saat ini juga.
"Tante mau apa?! Setelah ninggalin Renan gitu aja di rumah, sekarang Tante juga mau ganggu kak Ray?! Wah, hebat banget Tante!" Katanya sambil menatap wanita itu dengan sinis.
"Saya nggak mau ngapa-ngapain kamu, apalagi Rayyan. Saya cuma mau ngomong sebentar sama dia, sebentar saja. Cuma 5 menit, bisa?!" Tapi bukannya menyetujui, Sam langsung berdecih. Jika saja ia bisa mengumpat pada seorang wanita, ia akan melakukannya dari tadi. Tapi ia sama sekali tidak pernah diajarkan untuk bertindak sedemikian rupa, walaupun ayahnya terlampau tegas, Septian selalu menanamkan pemahaman bahwa wanita adalah makhluk mulia, yang harus ia hormati seperti ibunya.
"Saya nggak mau ngomong sama Tante, dan kak Ray juga nggak boleh ngomong sama Tante! Sebaiknya, kalau Tante punya masalah sama om Arnold atau sama kakek, selesaiin urusannya sama mereka! Jangan sama kak Rayyan!"
"Saya cuma mau memperingatkan dia!"
"Jadi sekarang, Tante ngancam kak Ray?!"
"Saya nggak mengancam, itu urusan dia. Saya cuma memperingatkan kalau apa yang ia lakuin itu salah, dan cepat atau lambat dia akan menerima balasan yang setimpal!" Sam tertawa sinis. Sejujurnya ia tak bisa mencerna kalimat yang Sasha katakan.
"Tante nggak usah omong kosong, kak Ray nggak melakukan hal yang buruk seperti yang Tante lakukan. Merebut suami orang dan punya anak di luar nikah. Hah, memangnya ada yang lebih buruk dari itu?!" Sasha masih diam, kemudian perlahan memamerkan senyumnya.
"Kamu benar, itu buruk. Tapi kamu nggak pernah tau apa-apa tentang Ray. Memangnya, kamu nggak pernah berfikir kenapa kemarin Ray tiba-tiba sakit?!"
"Apa maksud Tante?!"
"Kamu nggak tau apa-apa soal dia. Saya cuma mau bilang pada Ray, kalau dia harus berhenti melakukan hal menjijikan seperti itu! Akan sangat memalukan, jika saja orang tau anggota keluarga Chandra berhubungan dengan dunia gelap seperti mereka!"
"Tante nggak usah banyak omong, ini pasti akal-akalan Tante kan?! Biar orang-orang benci sama kak Ray?!"
"Terserah kamu saja, kamu bisa tanya langsung sama dia!" Kata terakhirnya. Kemudian ia berlalu dari pandangan Sam.
Apa ini?! Apa yang dikatakan wanita itu?! Ray melakukan apa sampai ia sakit tiba-tiba?! Pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Sam. Memang benar apa yang dikatakan Sasha tentang Ray yang tiba-tiba sakit.
"Dokter, gimana keadaan keponakan saya?! Dia nggak apa-apa kan?!" Nia yang panik, langsung saja bertanya. Namun, dokter di sebelahnya hanya menghela nafas.
"Begini, dari data yang saya ambil, dia kemungkinan kurang istirahat beberapa waktu terakhir. Insomnia yang mendera juga memperburuk keadaan Ray."
"Insomnia?!"
__ADS_1
"Anda tidak memperhatikan sikapnya belakangan?! Itu bisa dilihat dari lingkaran hitam di bawah matanya. Itu sedikit gelap untuk orang normal."
"Saya baru sampai di sini dua hari, dok. Dan menurut saya tingkahnya juga nggak aneh. Karena itu saya pikir, dia baik-baik saja!"
"Apa dia sering mimisan seperti itu?!"
"Kelihatannya nggak dok!"
"Saya cuma khawatir, selain kelelahan ada hal lain yang membuatnya sedemikian rupa. Mungkin bisa saja disebabkan makanan yang ia konsumsi, atau bahkan penyakit yang ia derita. Tapi saya belum tau pasti. Mungkin lebih jelasnya, Ray bisa dibawa kerumah sakit."
...***...
Pukul 22.14
Sudah cukup malam untuk mereka beranjak ke tempat tidur yang nyaman. Saling berbagi kehangatan atau sekedar melepaskan lelah dari kegiatan mereka selepas sekolah. Malam adalah waktu yang paling mujarab untuk beristirahat. Dan semua orang percaya itu.
Begitupun dengan Rion yang percaya bahwa ketika Ray tidur lebih awal, maka dia akan cepat sembuh dari sakitnya. Tapi anak itu dengan tanpa dosa masih ada di atas sofa, dengan tatapan mata tertuju pada layar TV dihadapannya. Benar, Rion lelah selalu mengingatkan anak itu segala hal. Tentang makan, tidur atau banyak hal lain. Padahal umur 16 tahun sudah cukup besar untuk mengerti hal umum semacam itu. Perlu Ray tau, bahwa Rion juga punya dunianya sendiri.
Sedikit kejam memang mengatakan hal yang tak sepantasnya ia katakan. Karena itu, ia memilih untuk diam. Membiarkan bisunya menjadi saksi bahwa ia memang sedang kesal.
Perlu ia akui, Ray adalah pembicara yang baik, tapi seorang pendengar yang buruk. Jangan heran jika ia masih melakukan hal yang Rion larang sebelumnya, dengan wajah tanpa dosa. Dia memang anak yang sedikit keras kepala. Banyak yang gagal berdebat dengannya, ada banyak alasan yang bisa ia ungkap seketika. Seperti ribuan anak panah yang menghujam tiba-tiba. Dan Rion benci mengatakan bahwa anak itu hanya mengada-ada. Tidak ada alasan yang realistis darinya. Hanya saja, banyak yang menghargai kalimatnya. Suaranya adalah kesenangan bagi mereka yang merasa kesepian, karena ramainya suara Ray yang sumbar adalah obat bagi mereka.
"Ini udah malam, lo nggak mau tidur?!" Ray hanya menoleh, kemudian menghela nafasnya dengan berat.
"Kalau gue bilang belum ngantuk, lo percaya nggak?!" Rion mematikan layar televisi dihadapannya. Mulai menatap remaja itu dengan tanda tanya besar di kepala.
"Orang normal ngantuk setelah jam 10 malam!"
"Nggak usah banyak omong, cepetan tidur!" Katanya dengan tegas. Diikuti dengan tatapan dinginnya yang mulai menghujam Ray.
"Tempat tidurnya cuma satu di sini, kalau di tempati tiga orang emang muat?! Gue takut kalau kalian tidurnya kaya orang baru belajar silat. Sedangkan lo sendiri tau tubuh gue lebih kecil daripada kalian!"
"Udah, nggak usah banyak alasan! Hari ini gue tidur di kamar sebelah. Mama nggak bakal pulang, dia di rumah."
"Hah, Tante Nia di rumah?! Kenapa?!"
"Kalau lo masih buka suara lagi, gue yang bakal pulang kerumah!" Ray hanya menghela nafasnya, lagi. Dia benci mengakui temperamen Rion akhir-akhir ini sedikit acak. Tidak ada yang tau mengapa, begitupun dengan Ray.
Ray beranjak dari sofa, mendekati ranjang besar yang ukurannya 8 kali lipat lebih lebar dari tubuhnya. Dia punya banyak alasan kenapa ia masih tetap berjaga sebenarnya. Tapi melihat Rion yang sudah mengeluarkan suara dinginnya, merupakan pertanda bahwa kali ini ia tak mau main-main dalam setiap katanya.
Sam sudah tertidur tiga puluh menit yang lalu. Biasanya, ia tak bisa tidur begitu larut. Mungkin saja karena Shan yang senang sekali mengomel jika ia tidur begitu larut. Kakaknya itu tak segan mengambil ponsel milik Sam, kemudian akan dikembalikan pagi harinya ketika berangkat sekolah. Di mata Shan, Sam itu masih anak kecil. Perlu waktu tidur yang lebih banyak dari saudaranya yang lain. Walaupun tinggi badan Shan 6 cm lebih pendek dari adiknya. Tinggi badan tidak memberikan berapa umur seseorang. Itu adalah definisi yang tepat untuk seorang Samuel.
"Gue nggak mau tau, pokoknya 10 menit lagi lo harus tidur. Gue bakal tunggu di sini!"
Rion duduk di samping ranjang. Memperhatikan setiap gerakan Ray yang kini mulai meringkuk di bawah selimut.
"Tante Nia ngapain di rumah?!" Suaranya terdengar sendu. Ada sedikit kekecewaan yang ia umbar melalui kalimatnya.
__ADS_1
"Pasti ada masalah kan?!"
"Lo tenang aja, nggak usah mikirin soal rumah. Yang penting sekarang, lo harus istirahat yang cukup!"
Ray kembali diam. Berusaha untuk memejamkan matanya. Walau selang beberapa lama, ia kembali membuka mata. Mencoba melihat Rion yang masih dengan tatapan dinginnya.
"Gue nggak bisa tidur!" Rion menghela nafas. Ia sudah mendengar kalimat itu banyak kali malam ini.
"Gue capek, terserah lo mau apa!"
Habislah. Rion kini benar-benar meninggalkan ruangan sunyi itu. Dan ia kini bisa mendengar segalanya. Suara jangkrik di luar atau bahkan senyapnya malam yang tetap saja terasa hampa. Dan kali ini, ia diam walau dalam hati kalimat terakhir Rion begitu menyakitkan. Entah karena dia yang terlalu peka, atau karena hal lain. Karena ia masih bertahan hingga pukul satu malam, dan kemudian memejamkan matanya dengan tenang. Datang pada pelukan mimpi. Walau setelah itu ia terbangun cukup pagi.
...***...
Tidak ada yang mau senyap ini datang tiba-tiba. Begitupun dengan seorang remaja yang menatap kedua kakaknya secara bergiliran. Ada apa dengan mereka?! Batinnya.
Sam kira, dipagi hari ini ia akan mendapat sebuah candaan atau sapaan hangat dari Ray. Kemudian olokan atau sentakan dari Rion yang ia ganggu dari tidurnya. Tapi nyatanya ia tak mendapatkan apa-apa. Selain diam, dan anggukan serta jawaban seadanya. Ia tau benar bagaimana mereka, dan pagi ini Ray ataupun Rion tidak menjadi dirinya sendiri. Bahkan ia sempat berfikir, mereka telah kerasukan makhluk halus.
Ada banyak hal yang bisa ia tanyakan. Tapi, di tengah kesunyian ini ia hanya bisa diam. Mengikuti alur keduanya. Bahkan ketika sarapan mereka telah berakhir, hampa itu masih ada. Dan Sam sudah tidak tahan dengan keduanya. Ia bisa saja menghancurkan meja, atau segala yang ada di dalam rumah ini. Namun, ia memilih untuk berjalan di jalan yang damai saja. Demi keamanan bersama.
"Kalian kenapa sih?!" Sentakan itu berasal dari remaja pra-SMA yang berdiri tiba-tiba. Membuat atensi keduanya jatuh pada dua iris yang penuh dengan tanda tanya.
"Kalian kenapa?! Hah?!!"
Tapi nyatanya suara Sam tak berpengaruh besar. Ray melanjutkan makannya. Membiarkan dua remaja itu beradu pandang.
"Nggak ada apa-apa. Cepetan habisin makannya!" Kata Rion sambil membereskan beberapa piring yang sudah kosong. Sedang Ray masih tetap pada diamnya. Seolah asik dengan dunianya sendiri, anak itu bermain-main dengan kakinya. Menimbulkan nada ketukan yang sesuai dengan inginnya. Melupakan bahwa masih ada kekakuan di antara ketiganya.
Bahkan ia tak memperdulikan dua orang yang kini entah berdebat tantang apa di dekatnya.
PRANK....
Tubuhnya kaku menatap pecahan gelas yang berserakan di atas lantai. Berceceran dengan air di dalamnya. Pergerakan tangan Ray yang tiba-tiba, membuat gelas itu terjatuh tanpa ia sadari. Dan kini saat semua terlihat jelas di sampingnya, ia tak bisa menahan keinginan untuk memungut pecahannya.
Saat Rion berteriak, sudah terlambat. Kini merah itu sudah datang di jemarinya. Dan ia hanya bisa menatap darah itu mengalir.
"Udah, sini! Biar gue yang bersihin!" Rion menarik lengan Ray untuk menjauh dari pecahan itu. Sedangkan Sam hanya terdiam. Menatap semuanya.
"Gue kan udah pernah bilang, kalau ada yang pecah..."
"Perasaanku nggak enak." Rion menatap Ray, apa maksud anak itu, ia tak tau. Yang jelas saat ini, pikiran Ray telah ada di mana-mana. Memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin saja datang. Pecahnya gelas itu biasanya adalah pertanda. Bahwa ia akan kembali terluka. Dan Rion juga takut, menyembunyikan hal ini dari Ray akan berdampak lebih buruk padanya.
...***...
"Rion, ini mama. Maaf, malam ini mama nggak bisa pulang ke sana. Kakekmu tiba-tiba sakit, kamu tau?! Penyakitnya kambuh. Tolong jaga Ray sama Sam di sana. Mama takut mereka akan khawatir!"
"Ini bukan hal serius kan?!" Ada senyap yang ia tangkap. Dan Rion tau, bahwa pertanyaannya membuat orang di sebrang sana takut untuk menjawab yang sebenarnya.
__ADS_1
"Mungkin bisa jadi serius. Kamu doakan saja, semoga kakekmu cepat sembuh."