Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 46. Balkon Kamar


__ADS_3


Hening sepinya tengah malam selalu membuat Ray merasa gelisah. Mungkin karena terbiasa bangun pagi, kali ini tiba-tiba dia terbangun pukul setengah dua belas malam. Dia meninggalkan adiknya yang tidur di atas ranjang seorang diri. Lantas, kakinya selalu mengantarkannya ke balkon kamar.


Ia duduk di atas keramik yang dingin. Kemudian memandang langit yang legam. Salah, masih ada beberapa bintang di sana. Bersinar dengan cahaya redup. Dan terkesan ... membosankan.


Ray melihat ke arah adiknya yang masih tertidur pulas. Terdapat secuil rasa kasihan. Jujur, dibandingkan dirinya dahulu, adiknya lebih sering sakit. Ren punya banyak alergi terhadap makanan. Kacang, mangga, dan semua minuman berbau matca. Sejak pindah ke sini, Ren sudah 3 kali bolak-balik ke rumah sakit karena kesehatannya. Ray sendiri tidak tau kenapa adiknya memiliki imun yang lemah seperti itu. Tapi, remaja itu tentu saja tidak menganggap hal ini serius.


Apalagi dengan kekayaan yang ayahnya punya. Untuk makanan, Qian dan dirinya bisa mengatasi. Tapi sejujurnya, Ray mulai curiga dengan hal lain. Pernah sekali ayahnya diminta pergi ke taman kanak-kanak karena anaknya membuat masalah. Tapi yang Ray temukan adalah luka lebam di siku dan beberapa di paha kanannya. Setelah ditanya, Ren hanya menjawab 'tidak apa-apa'. Padahal Ray tau ada yang anak itu sembunyikan dari mereka.


"Ngapain tengah malam ada di balkon kamar? Udaranya dingin, loh. Takutnya kamu bisa sakit flu."


Suara itu membuat Ray melayangkan pandangannya tepat di balkon kamar sebelah. Lebih tepatnya, balkon kamar milik Erik yang kini berpindah tangan dan dihuni oleh 2 orang tamunya. Karel dan Kensie. Untuk Karel, Ray yakin seyakin-yakinnya kalau remaja itu sudah tertidur sedari tadi. Dan tidak akan terbangun sebelum jam lima.


"Kak Kensie juga ngapain di balkon kamar? Jam segini lagi."


"Cuma nggak bisa tidur aja."


Keduanya diam, sama-sama menatap langit. Tapi pikiran mereka mungkin sedang berada di tempat yang jauh.


"Kamu kakak yang baik, ya? Padahal udah tau ibunya bersikap seperti itu." ucap Kensie lagi. Tapi hal itu justru membuat kerutan di dahi Ray. "Anak itu nggak salah apa-apa, dia cuma korban. Lagian, kehidupan Ray sekarang jauh lebih baik daripada yang dulu. Ray belajar menghadapi masalah. Ray juga belajar cara menghargai sebuah nyawa." sejenak Ray terdiam. "Tapi nggak mungkin aku akan kembali kehilangan. Udah cukup Bunda, Kakek, sama Rean yang pergi dari Ray. Yang lain ... Ray berusaha untuk tetap menjaga mereka di sini."


Kensie tersenyum. Anak itu memang gambaran dari bundanya. Ah, dia melupakan beberapa hal yang menjadi tujuan utamanya pergi kemari. Tentu saja, Kensie itu orang yang sangat berhati-hati. Penuh perhitungan, apalagi soal kabur ke tempat ini. Saat ini, pasti papa dan paman pamannya sedang mengomel di rumah karena 5 remaja yang dicari, kini berada di luar kota.


"Tujuan Kak Kensie ke sini itu apa, sih? Kok bisa tau juga aku ada di sini?"


"Ah, nggak tau juga kenapa bisa kemari. Bisa dibilang, ini cuma sebuah pelarian. Ternyata bener apa yang Shan bilang waktu masih SMA dulu. Kuliah emang nggak seenak yang dipikirkan. Tapi ada masalah lain juga."


"Hmm, apa?"


"Kita khawatir sama kamu. Sama Rion juga. Anak itu udah kaya orang gila semenjak tau kamu kecelakaan karena dirinya. Hebatnya, dia nggak masuk hingga beberapa minggu, karena harus bolak-balik ke rumah sakit biak ketemu psikiater." Ray menolehkan kepalanya. Membolakan mata.

__ADS_1


"Terlebih, saat orangtua kita berusaha untuk menutupi keberadaan mu. Itu sungguh mengganggu. Setiap hari, rumah isinya cuma hampa. Persis banget kaya kuburan. Karena itu, Rion nggak pernah balik ke rumah sejak kamu pergi. Dia seperti punya paranoid."


"Ah, begitu ya? Aku nggak tau ..." lirih remaja itu sambil menunduk.


"Tapi hebatnya, kamu bisa menyembuhkan sakit mentalnya hanya dengan saling bertemu dan sebatas ngobrol absurd tentang hati-hati kalian. Ternyata bener, kalian emang sepaket." Kensie tertawa. "Dia di sini gimana? Nggak ada keluhan apa-apa 'kan?" Ray hanya menggeleng.


"Enggak, tapi setelah ke sini dia jadi tambah cerewet. Ngeselin juga. Semua yang Ray lakuin, kalau sama dia pasti kena hukum. Terakhir kali, kita disuruh hormat sama tiang bendera. Hampir satu jam lagi!" keluh kesah Ray akhirnya tidak dapat dibendung juga. Sebelumnya, dia memang bukan anak pandai dan selalu aktif di organisasi sekolah. Tapi dia tidak pernah dihukum sampai segitunya.


"Aku rasa, Rion udah nggak usah dikhawatirkan lagi. Dia udah nggak apa-apa, asal kamu baik-baik  saja. Tapi ada hal lain yang perlu aku tanyain sama kamu."


"Hmm, apa lagi?"


"Ini soal Ren. Dulu, bahkan sebelum kamu kembali ke rumah utama, Ren sering mengalami luka lebam. Saat ditanya, dia cuma bilang nggak apa-apa sambil menutupi lukanya. Ternyata, Tante Sasha sering mukul dia sebagai pelampiasan saat punya masalah sama Om Arnold." Ray kembali membelalakkan matanya. "Aku cuma takut kalau firasatku benar. Dia jadi anak yang nggak sesuai sama umurnya. Dia anak umur 13 tahun yang berada pada tubuh anak balita 5 tahun. Cuma itu yang aku takutkan."


"Tapi kelihatannya dia baik-baik aja di sini. Aku jadi nggak khawatir lagi sama kalian. Dan, yah kayanya kita bakal nambah adik lagi dari Tante Nia. Semoga aja cewek. Bosen, semua anak di keluarga Chandra gendernya cowok semua!"


...🔹💠🔹...


Setelah kembali menutup pintu balkon, Ray kembali meringsut dalam selimutnya. Bergabung dengan sang adik yang masih ada di alam mimpi. Ray menatap lekat lekat wajah damai adiknya sebelum mendekapnya dengan erat. Membuat anak itu bergerak tak nyaman.


"Kamu adik Kak Ray, jadi kamu harus tumbuh sebagai adik Kakak, ya? Jangan cepet-cepet dewasa, waktumu untuk dewasa masih sangat lama." kata Ray sambil mengusap punggung sang adik agar merasa nyaman. Matanya ikut memberat. Lantas perlahan, ia menutup matanya dan pergi ke alam mimpi. Tanpa sadar sang adik membuka mata. Lalu tangan kecilnya mengusap kepala Ray dengan sayang.


"Aku sayang Kakak. Kakak jangan pergi dari Ren lagi, oke? Selamat tidur, Kakak Terbaik ..."


...🔹💠🔹...


"Kak Ray,  Sam boleh pindah ke sekolahan Kakak nggak? Aku pengen ..." gumam sang adik yang memeluk tangan kanan Ray. Keduanya tengah menonton televisi, ditemani Karel yang sudah ambruk tak sadarkan diri karena mengantuk. Rion? Tentu dia ada di rumahnya sendiri, dan itu bukan di sini. Beda dengan Kensie, Sean, dan Shan, mereka bertiga diajak Erik untuk berkeliling kota ini. Dengan satu tambahan. Sedari tadi, Shan yang enggan melepaskan Ren dalam gendongannya juga membawa adik dari Ray tersebut ikut pergi dengannya. Awalnya Ray menolak, tapi karena mereka bersama Erik, dia bisa percaya.


Tapi kata Erik dulu, Ada beberapa orang yang sangat tidak suka akan kehadirannya di sekolah. Dan itu termasuk Kensie dan Shan. Entah karena mereka dikalahkan secara akademik dan non akademik oleh Erik, atau karena hal lain. Keduanya kini terlihat sangat dekat dengan si Erik ini.


"Enggak boleh. Keluarga kamu di sana. Kamu juga sekolah di sana!"

__ADS_1


"Aku 'kan bisa tidur di sini ... ya, Kak? Boleh ya?" Ray menggeleng pelan.


"Enggak boleh, perlu aku tekankan ya? Rumah ini bukan punya Ayah. Tapi punya Bang Qian, nggak mungkin 'kan kamu mau ngerepotin Bang Qian terus?"


"Tapi Kakak sama Rion kok boleh?"


"Ya aku 'kan keponakannya, jelas boleh lah. Lagian, dia yang maksa Ayah buat aku tinggal di sini. Si Rion juga, Om Abra kan juga punya rumah di sini. Jadi dia bebas lah mau ngapain aja di sini." Tapi penjelasan itu tidak membuat hati Sam menjadi lega. Atau banyak hal yang ia pikirkan satu-persatu hancur karena ekspektasinya terlalu besar.


"Kalau aku punya rumah di sini, boleh dong pindah sekolah ke tempatnya Kak Ray?"


"Tetep nggak boleh! Dapat uang dari mana kamu? Jajan aja masih minta sama orang tua! Lagian, kalau punya uang itu ditabung dulu, kamu masih kelas 10. Pasti keperluannya juga banyak."


"Uang Papa nggak bakal habis kok, cuma buat beli rumah di sini ..."


"Tetep nggak boleh!"


"Aaah, Kak Ray ... "


"Berisik banget lo dugong! Ngapain juga mau beli rumah?! Lo dikit-dikit mau ini dikit-dikit mau itu, lagian kalau rindu sama Ray atau Rion sekarang juga udah ketemu. Puas puasin bareng Ray sekarang sebelum kita balik. Lo juga nggak bakal buat Nenek setuju buat sekolah di sini, walau lo sujud sekalipun." Karel yang merasa terganggu mulai mengutarakan pendapatnya.


Ah, Sam benci mengakui ini. Tapi Karel benar.


"Udah jangan sedih, besok kalau aku pulang sekolah mau nggak beli gelang? Buat bertujuh, buat menandai kalau kita benar-benar keluarga dan saudara. Gimana?" Sam melirik ke arah Ray yang menghiburnya.


"Beneran?" Ray mengangguk.


"OKAY! GUE IKUT!" bukan Sam yang bersorak, tapi Karel yang tiba-tiba beranjak dari tempatnya dan langsung berdiri di depan mereka.


...🔹💠🔹...


__ADS_1


__ADS_2