Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 25. Didekap Oleh Gelap


__ADS_3


Remaja itu masih diam ketika ada seseorang yang menelpon ponselnya. Semua terlihat abu-abu ketika suara dari sebrang sana mengatakan bahwa sahabatnya sudah berpulang dengan cara yang sangat mengenaskan. Sam terdiam cukup lama, hingga ia tersadar saat Karel mengguncangkan tubuhnya dengan kuat. Tidak dipungkiri bahwa Karel-pun juga merasa khawatir dengan adiknya itu.


"Lo jangan gini, gue khawatir kalau lo jadi kaya gini!" Katanya sambil mengusap punggung Sam. Tapi Sam hanya diam, kemudian mengangguk kecil pertanda bahwa remaja itu mendengarkan apa yang Karel ucap. Ia hanya terkejut, bagaimana bisa?!


Mereka bersahabat memang belum lama. Mereka pergi janjian-pun juga bisa dihitung dengan jari saja. Tapi, ada sesak yang datang dengan tiba-tiba. Membuatnya sedikit terguncang.


"Karel..." Karel memperhatikan dengan raut khawatir. Ia yakin belum pernah melihat adiknya itu seserius ini. Ia tahu, bahwa hatinya sedang terguncang. Tatapnya saja sudah mengatakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


"Gue mau liat Rean..." Katanya.


"Yakin lo nggak apa-apa?!" Sam kembali diam. Ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikirannya. Ada jeda yang cukup lama untuk bisa mengetahui apa yang akan dikatakan Sam setelahnya.


"Gue mau liat Rean..." Dan hanya itu yang bisa dia katakan.


...❄️❄️❄️...


Sebelumnya, Rion tidak akan pernah takut jika berhadapan dengan apapun. Bahkan ketika mama papanya sering meninggalkannya seorang diri, dia bahkan tidak terlihat peduli. Tapi, kali ini berbeda. Jika menyangkut dirinya, ia akan tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Namun, ini soal Rean. Orang penting yang punya tempat paling lebar di hati seorang Rayyan.


Bagaimana ia akan mengatakannya. Di tengah kerumunan itu, ia berlari. Menyambar sebuah kertas yang terletak tak jauh dari tempatnya. Sudah ternoda oleh darah, tapi tak membuat tintanya luntur begitu saja. Ia tak peduli dengan teriakan orang-orang yang terkejut akan aksinya. Ia hanya ingin memastikan. Bahwa itu bukanlah milik Rean.


Tapi Rion terpaku lebih lama ketika melihat kata yang tertulis dengan cetak tebal menggunakan huruf kapital. SURAT KETERANGAN HASIL UJIAN NASIONAL. Dengan dua kata setelahnya yang jelas terpampang. REAN RIGELIO.


Kali ini, pikirannya benar. Ini milik Rean. Bahkan saat ia di tanya oleh salah seorang petugas kepolisian karena tindakannya, ia masih mematung di tempat. Yang dia pikirkan saat ini hanya dua nama. Rean dan juga....


Rayyan.


...🕊️🕊️🕊️...

__ADS_1


Setelah perdebatannya dengan Ray, Sean kembali mengikuti langkah remaja yang lebih muda setahun dengannya itu. Ada sesal yang kembali menggelayuti hatinya. Harusnya ia tak berkata sedemikian terhadap seorang yang jelas-jelas ia tak tau kebenaranya. Mungkin benar Sean tau tentang semua masalah yang tadi Ray sebutkan. Tapi, untuk masalah baru yang Ray katakan, ia benar-benar tidak tau.


Langkah Ray terhenti ketika ia merasakan letih pada kakinya. Menetralkan deru nafasnya yang berpacu dengan konstan.


"Ngapain ikutin gue?! Gue tau jalan pulang, kok. Kak Sean tenang aja!" Katanya. Sambil memunggungi Sean. Tapi jelas terlihat oleh pancaran matanya, bahwa kini anak itu sedang terguncang batinnya.


"Gue minta maaf...Sekarang, gue anter lo sampai apartemen!"


"Nggak usah, gue pengen sendiri. Kak Sean lanjutin aja kegiatan yang lain. Gue ngrepotin, 'kan?!" Sean berdecak. Harusnya ia tau, bahwa adiknya yang satu ini berbeda. Ia hanya lebih peka dari yang lain.


"Lo nggak usah kaya cewek lagi pms..."


"Gue mau sendiri, kak Sean!" Katanya dengan penekanan. Sean kembali menghela nafasnya. Ray kembali melangkahkan kakinya. Dan kini, Sean tidak akan mengikuti langkahnya. Ia menyerah. Lebih baik Sean meminta Rion untuk menenangkan Ray. Karena itu, setelahnya ia mengeluarkan ponselnya. Kemudian menghubungi Rion untuk mengatakan apa yang sedang terjadi antara Ray dengannya.


"Halo..." Suaranya terdengar menggantung. Orang di sebrang sana terdengar ragu akan apa yang akan dikatakan. Suara dehamannya adalah bukti bahwa Rion sedang gugup kali ini. Mungkin jika Sean adalah orang yang peka, ia akan langsung bertanya, ada apa dengannya?!


"Kak, tolong lo jaga Ray dulu. Jangan pulang dulu kalau bisa, gue takut..." Suara Rion menggantung. Membuat Sean makin penasaran dengan apa yang Rion maksud.


"Telat lo, dia udah pergi. Gue yang salah udah mancing-mancing emosi dia!" Kata Sean apa adanya.


"Kak, tolong kejar dia. Gue bener-bener nggak tau harus ngomong apa sama dia. Please, buat kali ini aja lo paksa dia buat bareng sama lo."


"Emangnya ada apa sih?! Lo kok..."


"Kak...sekarang, salah seorang yang penting  bagi Ray...udah pergi lagi..." Dan baru setelah Rion mengucapkan itu, Sean paham apa yang harus ia lakukan sekarang.


...🍀🍀🍀...


Dunia seolah berputar ketika Ray menatap tampat yang sering ia datangi itu ramai dengan orang-orang yang berkerumun.  Bisik-bisik dari mereka membuat dirinya sedikit khawatir. Ia punya tujuh saudara, dan mereka semua masih remaja, cowok pula. Sesuai dengan ciri-ciri orang yang kerumunan itu sebutkan tertabrak mobil dengan mengenaskan. Selain keluarganya, ia juga masih punya remaja laki-laki yang tak tak lain dan tak bukan adalah Rean.

__ADS_1


Ia memegang dadanya yang terasa sesak ketika melihat genangan darah yang ada di jalan. Dengan darah sebanyak itu, apa mungkin bagi dia yang tertabrak untuk selamat?!


Ray menegang ketika seorang memegang bahunya. Itu adalah Sean yang berusaha untuk mencarinya setelah mereka berpisah di tengah jalan tadi. Ray menatap Sean lamat-lamat. Ada rasa takut yang mulai menelusup dalam hati.


"Ayo pulang, lo nggak harus liat!" Katanya sambil menutup mata Ray dengan satu tangan kekarnya. Menghentikan anak itu untuk menatap darah yang seolah menjadi tontonan menarik bagi semua orang. Tapi Sean tau, Ray sangat takut akan hal itu.


"Ayo pulang!" Katanya diikuti oleh anggukan Ray setelahnya.


...***...


Apa yang sebenarnya dunia ingin perlihatkan pada seorang Rayyan?!


Apakah tidak cukup masalah yang melilit hidupnya selama ini?! Dengan menambah kembali masalah yang hingga kini ia tak bisa hadapi. Ternyata benar, ada yang pergi lagi. Dan kini tak akan kembali, seperti kakek dan bundanya pergi.


Ray tidak tau apa-apa. Ia seperti orang bodoh yang dipermainkan oleh semesta. Dan kali ini sudah cukup untuk membuat Ray sadar, bahwa ia bukan cuma anak yang tidak berguna. Tapi ia juga pembawa sial. Hal itu terbukti ketika pengurus panti yang tiba-tiba muncul dari balik pintu berwarna putih di dalam rumah sakit menamparnya. Ia benar-benar tidak tau apa-apa. Ia hanya menurut ketika Sean mengajaknya ke rumah sakit tanpa tau alasannya. Dan ketika sampai di sana, ada Rion dan juga saudaranya yang lain tengah termenung di kursi tunggu. Satu-satunya hal yang ia tanyakan adalah "ada apa?" Tapi tak seorangpun menjawab pertanyaannya. Hanya senyap yang dapat ia tangkap di Indra pendengarannya.


Ketika ia memaksa masuk ke dalam ruangan, ia tak bisa menemukan apa-apa selain tubuh seorang yang tergeletak di atas brangkar rumah sakit. Dengan wajah pucat dan bibir yang sudah membiru. Dunianya kembali menjadi kelabu. Ia kembali kehilangan. Ia hanya diam ketika Sean dan Shan mencoba meraih bahu Ray untuk pergi dari sana. Mereka takut terjadi hal yang tidak-tidak.


Tapi Ray hanya diam ketika ia sudah berdiri di samping Rean. Ia kehilangan nyawanya dengan cara yang mengenaskan. Bagaimana Ray tidak terkejut dengan keadaannya yang sudah menjadi beku. Terakhir kali mereka bertemu, saat ia mengatakan bahwa Ray bangga dengan Rean. Kemudian mereka kembali bertemu dengan keadaan seperti ini. Bagaimana Ray tidak terkejut.


Shan dan Sean akhirnya membiarkan anak itu melangkah lebih dekat dengan sang mayat. Harusnya Ray tau setelah melihat genangan darah di atas aspal yang tadi ia lihat adalah milik seorang yang sangat penting baginya.


"Rean...ini nggak mungkin kamu kan?!" Ia tak mendapat jawaban. Orang-orang di sekitarnya hanya menatap miris pada Ray.


"Katanya kamu bakal nunjukin nilai yang bagus ke kakakmu ini, sekarang kenapa yang kamu tunjukin wajah pucat ini?!" Air matanya mulai turun. Mengelus wajah Rean yang sudah dingin.


"Kamu belum tepatin janji, katanya kita bakal ketemu lagi..." ia mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Ada titik-titik hitam yang mulai terlihat di pandangannya. Dan hal terakhir yang bisa dia ingat adalah suara Sean dan Shan yang meneriaki namanya. Sebelum Ray didekap oleh gelap.


__ADS_1


__ADS_2