Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 31. Akhir?


__ADS_3


Malam itu, setelah percakapan keduanya berakhir dengan dentuman keras dari pihak Ray dan panggilan terputus begitu saja, telinga Rion berdenging dengan keras untuk waktu yang lama. Membuat pelayan di sana kelimpungan mencari bantuan dari orang terdekat. Tak lama, Karen datang dengan anak buahnya. Membawa Rion ke rumah sakit, tapi yang Rion lihat di sekelilingnya adalah rasa risau yang mulai membuncah. Ia bisa melihat Nia yang menggigit jarinya sendiri untuk menghilangkan rasa gelisah. Dan juga Arnold yang berlari tak kenal arah ketika ia baru saja menginjakkan kaki ke rumah sakit. Walau samar, ia bisa dengan jelas mendengar Arnold menyebut nama Rayyan berulang kali. Hingga punggungnya tak terlihat kembali.


Rion sudah merasa lebih baik ketika jarum infus sudah tertanam pada tangannya. Dan semua terdengar samar, hingga ia terlelap dalam tidurnya. Ia terkena serangan panik, membuatnya kehilangan banyak energi walau ia sendiri tak melakukan apapun.


Ketika sadar dunianya sudah berubah. Dia berharap ketika ia membuka mata, bisa melihat Ray yang menatap nyalang dirinya yang belum bangun walau waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tapi bukan itu yang ia temui. Hanya senyap, dan juga Langkat terburu yang datang dari luar. Itu Nia, dia langsung masuk dan memeluk Rion dengan kencang.


"Tidak apa-apa...kamu tenang ya?! Semua akan baik-baik saja..." Kalimat itu terdengar seperti sebuah hiburan untuk anak yang kehilangan sebuah mainan. Karena itu memang terjadi. Rion kehilangan Rayyan.


🍀🍀🍀


Kala itu, Ray memang diikuti dengan mobil yang ia sendiri tak tau siapa pengemudinya. Ia berlari menghindari mobil itu, tapi setelah ia berbicara dengan Rion, Ray lengah. Hingga tabrakan itu terjadi. Mobil itu menerjang tubuh Ray dengan kuat, ia terlempar ke belakang. Menghantam aspal dingin di tengah sepinya jalanan menjelang malam. Orang itu Sasha. Kenapa ia repot-repot menghabisi saudaranya jika Rayyan sendiri bisa ia habisi dengan mudah?!


Setelah menabrak Ray, Sasha melajukan mobilnya dengan kencang. Menghindari saksi mata yang mungkin saja melihat tindakannya. Ray ditemukan anak buah Karen setelah beberapa menit berlalu. Ray kehilangan banyak darah. Hingga mereka membawa Ray ke rumah sakit terdekat. Kemudian sebagian dari mereka mengejar Sasha yang sempat terlacak keberadaannya.


Tidak ada yang tau terjadi apa setelahnya. Karena saat Arnold mengetahui keadaan Ray, semua hilang begitu saja. Arnold menghilang, bersama dengan Rayyan yang semua orang tak tau bagaimana keadaannya. Mereka hilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa ada pesan untuk Karen dan yang lainnya.


Bukan hanya Arnold dan Rayyan, keesokan harinya, Renand juga tidak di temukan di dalam kamarnya. Dia menghilang. Jangan tanyakan bagaimana Shan mengamuk dalam rumah itu. Membanting setiap benda yang ia temui bak seorang induk yang kehilangan anaknya. Mereka tak bisa berkata apa-apa. Tak ada yang bisa dilakukan setelahnya.


Arnold dan kedua anaknya menghilang. Dan sejak itu, dunia yang Rion tempati juga mulai berubah.


Bukan bangkit untuk mencari di mana keberadaan Ray, Rion malah jatuh terlalu dalam. Ia begitu menyedihkan hingga tak Meu menyentuh makanannya. Tubuhnya menjadi kurus, lebih dari sebelumnya. Ia tertekan dengan apa yang terjadi pada Rayyan, mengelakkan dirinya atas apa yang menimpa remaja itu. Semuanya sudah berakhir. Itulah akhir untuk Rion dan Rayyan. Atau, mungkin saja bukan.


🍀🍀🍀


Rion POV...


Jika kalian bertanya seperti apa orang yang kehilangan dunianya, maka lihatlah aku. Dulu aku sangat bersyukur kembali bertemu dengannya. Berfikir kita tak akan kembali berpisah. Maka dengan cepat aku lupa bahwa ada Tuhan yang bisa memisahkan kami dengan mudahnya. Dulu, aku berfikir kalau hadirnya adalah pelipur lara bagi setiap orang. Bahkan aku sendiri merasakan bagaimana perubahan jika berada di dekatnya. Dia sendiri melihat kami dengan sisi yang berbeda.


Aku itu manusia yang kesepian. Di rumah selalu diam jika memang tidak dibutuhkan. Di sekolah tidak ada yang menarik sama sekali. Bahkan aku tak berusaha untuk belajar lebih keras daripada Karel. Karel itu orang yang gila akan rumus matematika dan fisika. Aku tak tau kenapa ia bisa suka dengan hal berbau aritmatika dan logaritma.


Kata Rayyan, dia tidak suka matematika. Menurutnya, matematika untuk mereka yang terpilih sejak dalam kandungan. Katanya, mungkin saja dulu waktu Karel masih dalam kandungan, mamanya ngidam sama soal matematika. Dan ketika lahir, muncul-lah Karel dengan kemampuan menghitungnya. Begitupun dengan kak Kensie, dia kritis. Bahkan katanya, waktu nonton berita di tv saja presenternya di kritik kurang tanggap lah, butuh dikembangkan lah. Sudah cukup. Rayyan bilang, dia tidak ingin lagi nonton tv dengan kak Kensie karena setiap sinetron yang mereka tonton, aktor dan aktrisnya selalu jadi korban komentar pedasnya.


Beda lagi dengan kak Shan. Dia itu orangnya asik. Jadi tak heran anak-anak suka dengannya. Kata Rayyan, Shan itu penakluk hati wanita paling handal. Ray bilang, dari SMP Shan sudah punya banyak gandengan. Jadi, jangan salahkan kalau SMA ia sudah punya pacar belasan. Namun herannya, dia itu orang yang paling menghormati wanita. Aku dulu juga pernah bertanya tentang hal yang sama, tapi dia hanya tersenyum sambil mengatakan, "pokoknya, kalau lo nanti udah dewasa, jangan jadi kaya gue yang nggak bisa jaga hati buat satu orang." Seperti itu katanya.

__ADS_1


Tapi, dari banyak kakak yang Ray punya, dia selalu suka bagaiman cara Sean menghiburnya. Sean itu kakak paling sabar, Rayyan bilang dia tak pernah melihat seorang Sean marah. Tapi sekali marah, bisa membuat hujan salju yang membuat semua orang kedinginan hingga membeku dalam diam. Aku sendiri tidak tau bagaimana Rayyan bisa mendeskripsikan kak Sean seperti itu. Pikirannya terlalu luas, kadang aku pun tak bisa mengimbanginya.


Selanjutnya, Sam. Kata Rayyan, Sam itu adalah teman paling setia. Mungkin dia bisa tau dari cerita Rean. Memang, Sam itu tidak mudah untuk bergaul dengan orang lain. Tapi kalau sudah klop, maunya kemana aja digandeng. Sam itu sebenarnya jauh lebih muda dariku. Umur kami terpaut satu tahun lebih. Tapi, tingginya sudah melebihi kak Shan yang notabenenya adalah kakak tertua. Rayyan bilang, Sam itu kuat. Karenanya, ia tak perlu lagi khawatir jika jauh dari Sam. Kalau lagi pergi kemana-mana, kedudukan Sam dan Ray itu terbalik. Sam itu terlihat seperti kakaknya, Ray itu adik kecilnya. Karena itu, mereka jarang keluar bersama. Ray bilang, ia takut dikira anaknya Sam.


Dan aku?!


Dia bilang aku manusia batu. Sukanya cerewet kalau dia tidur terlalu malam. Suka marah-marah kalau dia nggak bisa jaga kesehatan. Iya, tapi aku melakukannya dengan alasan yang sudah jelas. Aku tak akan pernah lupa bagaimana ia mendeskripsikan saudara-saudaranya. Itu masih terekam jelas di telingaku.


Setelah percakapan terakhir kami, aku sudah tak lagi menerima pesan darinya. Setelah suara keras yang membuat telingaku berdengung hebat selama puluhan menit dan membuat pelayan kafe di sana kelimpungan mencari bantuan. Setelah itu, aku tak lagi bertemu dengannya. Sialnya, setelah sampai rumah aku baru tau tentang apa yang Ray bicarakan waktu itu. Sayang sekali aku tak mau mendengar penjelasan darinya. Tante Sasha lah yang menjadi penyebab semua masalah ini. Dia yang menjadi alasan bagaimana Ray berubah secara perlahan.


Semua seperti Dejavu, harusnya aku tau bagaimana Ray memandang dunianya. Harusnya aku yang paling tau bagaimana keadaannya saat ini. Tapi setelah ia mencoba untuk menjelaskan, aku malah menolak dengan mentah. Aku itu menyedihkan, bukan?!


🍀🍀🍀


Pagi ini, seperti ada sesuatu yang salah di kepala Rion. Ia yakin seperti kehilangan suatu barang yang amat berharga. Tapi ia lupa apa yang ia maksudkan. Jadi ketika ia bangun pagi ini, ia bersiap untuk pergi ke sekolah. Tahun pelajaran baru telah dimulai, dan ia juga tidak ingin terlambat di awal waktu. Ia melangkah dengan malas ke kamar mandi, dan keluar sudah rapi dengan seragamnya.


Ia pergunakan ke dapur untuk membuat telur mata sapi atau mi instan untuknya dan juga Rayyan sarapan. Mi instan itu sudah terhidang di atas meja makan. Tinggal menunggu Ray datang dan mereka akan berangkat bersama. Seperti biasanya. Tapi setelah menunggu beberapa saat, Ray tidak juga keluar dari kamarnya. Akhirnya ia beranjak dari tempatnya.


"Ray!! Bangun, lo nggak mau hari ini telat sekolah kan?!" Serunya di depan kamar Ray. Tapi tidak ada jawaban dari sana. Tapi, Rion pikir mungkin saja Ray tengah bersiap-siap, atau sedang berada di kamar mandi. Rion kembali pada tempatnya, melihat mamanya yang keluar dengan langkah putus-putus. Menatap anaknya khawatir. Remaja itu masih tak tau apa sebabnya.


"Ma...ada apa?!" Nia menggeleng. Bukankah saat ini ia harus khawatir dengan keadaan Rion?!


"Rion, jangan seperti ini..."


"Mama kenapa, sih?! Aku kenapa?! Aku cuma nunggu Ray buat sarapan!" Katanya sambil melepas pelukan Nia. Sedangkan mamanya itu hanya menggeleng pelan.


"Rion, sampai kapan kamu seperti ini, nak?! Kamu kenapa?!"


"Mama yang kenapa?! Tiba-tiba-"


"Ray nggak ada!! Dia nggak ada di sini, dia nggak ada di sini!" Itu kalimat yang Nia ucapkan setelahnya. Dan semua memori itu datang dengan sendirinya dalam kepala Rion. Bertumpuk hingga menggunung, sampai-sampai ia tak tau harus berkata apa. Ray tidak ada di sini. Kamar itu kosong. Ray tidak akan memakan sarapan yang Rion buat. Karena, Rayyan memang tidak ada di sana.


Hingga tanpa sadar, sejak bertahun-tahun berlalu dia kembali meruntuhkan pertahanannya. Ia tak sedih ketika orang tuanya tidak ada di sisinya, tapi ketika Ray tidak ada semua seakan hampa. Air itu jatuh tanpa ia minta, dan menjadi saksi bahwa ia terluka lebih dari siapa saja. Dalam dekapan mamanya, ia kembali meraung tak terkendali. Menyebut nama Rayyan dengan lantang, berharap remaja itu akan kembali.


...🍀🍀🍀...

__ADS_1


Tepat satu minggu setelahnya, Rion masih dalam keadaan yang sama. Ia hanya berdiam diri di kamarnya dengan pencahayaan redup. Makan hanya beberapa sendok dan kembali merenungi apa yang telah ia lakukan selama ini. Nia dan saudaranya yang lain juga sangat khawatir dengan keadaan remaja itu. Hingga pagi ini, pintu apartemen terbuka dengan lebar. Nia tersenyum tipis melihat laki-laki itu dengan langkah santainya masuk ke dalam apartemen. Abraham. Ia datang tepat saat mendengar kabar dari anaknya yang terpuruk karena kepergian Rayyan.


"Bagaimana?!" Nia masih menghela nafas kemudian menggeleng sebagai jawaban. Tidak ada yang bisa dia lakukan, ia menolak untuk bertemu siapa saja. Abra menghela nafasnya. Kali ini ia harus bertindak.


Setelah melepaskan koper yang ia bawa, Abra melangkah pergi ke kamar anaknya. Ia bisa melihat anaknya begitu menyedihkan, Rion memang sedang tidak baik-baik saja.


"Rion..." Abra melangkah mendekati Rion. Remaja itu terlihat sangat terkejut, karena selanjutnya Abra membuat pipinya berdenyut sakit karena tamparan yang cukup keras. Rion termangu, merasakan rasa perih itu menjalar di pipinya. Abra menatapnya dengan lekat, tidak ada rasa sakit yang terpancar dari sorot matanya. Mungkin jika Abra melakukannya hingga beberapa kali, remaja itu mungkin hanya akan diam begitu saja.


Rion terkejut, tapi setelahnya rasa sakit itu memang tak berarti apa-apa. Tapi setelah tamparan kedua mendarat di bagian pipinya yang lain, Rion mulai sadar dengan apa yang ada di hadapannya.


Iya, dia Abraham. Papanya yang sudah lama tak ia temui. Sosok paling misterius yang pernah ia kenal selama ini. Dan juga... Papanya yang ia rindukan.


Laki-laki di hadapannya itu mendekapnya dengan erat. Mengusap lembut rambut Rion dengan tangan lebar yang ia miliki. Kasih seorang ayah kepada anaknya, yang mungkin saja dunia tak tau.


"Ray nggak akan suka melihatmu seperti ini. Berjanjilah untuk tidak seperti ini!" Rion masih diam. Tapi mulutnya bergetar, mendengar suara papanya dengan jarak yang sangat dekat. Satu mimpinya sudah terkabul. Tapi, satu yang lain telah hilang. Rayyan.


"Tapi Rayyan..."


"Ray nggak akan suka melihatmu seperti ini!" Kalimat itu lagi. Mungkin ini adalah hukuman yang tepat untuk Rion. Walaupun begitu, bukankah ia juga harus menghadapi dunia yang sangat sering bermain-main dengannya saat ini?!


🍀🍀🍀


Ini sudah satu bulan. Rion sudah lebih baik dari keadaannya yang sebelumnya. Melakukan aktivitas layaknya remaja pada umumnya. Sekolah, makan, tidur, dan banyak hal lain. Walau kali ini, ia tak lagi hadir dengan senyum yang dulu pernah Ray ukir ketika bersama dengannya. Dia sudah baik-baik saja. Meski rasa bersalah itu masih ada.


Seperti saat ini, mungkin dulu ia akan berlari di lapangan sambil menggiring bola dengan tangannya. Tapi kali ini ia lebih memilih untuk melihat dari bangku penonton. Melihat bagaimana anak-anak itu berlari mengejar bola. Dan berlima memasukkannya ke dalam ring. Basket memang tak mudah, kadang mereka mendesah kesal karena kehilangan umpan dari temannya. Di sana ia bisa melihat adik kecilnya yang dulu ia jaga, juga ikut berlomba merebut bola.


Sam itu tinggi. Rion tidak lagi khawatir jika dia terjatuh atau terluka di atas lapangan. Yah, semoga saja Sam bisa meneruskan perjuangan Rion dahulu. Karena sekarang, mungkin saja dia tak akan bermain basket lagi.


Baru saja menikmati suasana, ia kembali terganggu oleh suara ponselnya. Ia melihat sebentar ke atas layar. Nomor asing. Ia malas sekali untuk menjawab siapa yang berbaik hati mengganggu waktunya saat ini.


"Halo, siapa?! Kalau nggak penting gue tutup sekarang juga!" Katanya langsung. Tapi dari sebrang sana tidak terdengar apa-apa. Dia menunggu beberapa detik, hingga ia memilih untuk mematikan panggilan. Tapi sebelum itu terjadi, ada suara yang terdengar dengan sangat jelas.


"Rionaaaaaa!" Dan saat itu pula, oksigen seakan pergi dari paru-parunya. Kakinya tak lagi menapak pada tanah. Karena ia tau siapa yang berani berteriak begitu lantang dengan suara sumbarnya. Hanya satu orang. Iya, dia Rayyan.


"Kata Rayyan, Rion nggak boleh jadi seperti orang gila yang hidup tapi mati jiwanya. Jadi, sekarang, Rayyan bilang secara langsung kepada Rion untuk hidup lebih baik. Hidup untuk masa depan, bukan mengungkit masa lalu yang sudah tidak kita genggam. Paham?!"

__ADS_1



__ADS_2