Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 23. Pil dan Minuman Pahit


__ADS_3


Rion berjalan dengan lambat hari ini. Bukan berarti ia menikmati segala apa yang ia lihat di samping kanan atau kirinya. Tapi, kini ia merasa lelah. Lelah hanya untuk berjalan dari lapangan basket menuju kelas, untuk menghampiri anak kelinci yang ia tinggal sejak pulang sekolah, sekitar 1 jam yang lalu.


Sebenarnya, ia juga menyadari perbedaan sikap Ray sebelum dan sesudah kepergian kakek. Anak itu tak secerewet biasanya. Hanya saja akhir-akhir ini, Ray aktif sekali dalam kelas. Biasanya ia akan diam dan memperhatikan ketika guru mengajar. Tapi ia sering bertanya, dan sekaligus bisa menjawab pertanyaan guru dengan mudahnya. Ah, lupakan tentang keaktifan Ray di kelas. Harusnya ia khawatir dengan anak itu.


"Hei..." Suara itu terdengar asing. Tapi ia yakin, di sana hanya ada dirinya. Ia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kearah suara yang baru saja ia dengar.


"Lo sodaranya si bugenvil kan?!" Rion mengerutkan dahinya. Ada yang aneh.


"Bang Erik, kan?!" Erik hanya berdeham untuk mengiyakan pertanyaan Rion.


"Lo itu sodaranya si bugenvil itu kan?! Sering banget gue liat lo sama dia!" Rion mengerutkan keningnya.


"Emm, bugenvil siapa, bang?!" Erik menepuk jidatnya.


"Maksud gue si cerewet itu, yang punya wajah kaya bayi, dia adek lo kan?!"


"Bentar bang, adek?! Gue cuma punya dua adek. Yang satu baru selesai ujian di SMP terus yang satu lagi baru umur 5 tahun. Yang abang maksud yang mana?!"


"Bukan...yang itu loh, si cerewet! Si anak baru!" Rion menghela nafasnya ia tau siapa yang Erik maksud. Pasti dia adalah Ray. Sudah berapa kali ia di anggap lebih tua daripada Ray. Jelas-jelas anak itu terlihat lebih tua darinya, iya kan?!


"Maksud abang Ray?!"


"Nggak tau gue namanya."


"Terus, kenapa soal Ray bang?!"


"Cuma mau bilang aja, jaga sodara lo itu baik-baik. Gue sering liat dia ngelamun di toilet sendirian, takutnya itu anak kesurupan!" Suara Erik terdengar ramah. Bahkan terdengar lebih akrab daripada kelihatannya. Sedangkan Rion masih diam, ia sering melihat Ray pergi ke toilet sendirian. Tapi tidak menyangka kalau anak itu lebih tertekan daripada yang ia duga.


"Gue mau balik, duluan ya!" Rion hanya mengangguk, melihat punggung Erik semakin menjauh. Kemudian pikirannya kembali pada sosok yang menjadi topik pembicaraan dengan kakak kelasnya itu. Bahkan kini, langkahnya terasa sangat ringan. Hanya untuk mencari tau, Ray masih ada di kelas untuk menunggunya seperti yang ia katakan beberapa waktu lalu.


Langkahnya terhenti didepan sebuah kelas yang sudah sepi. Hanya ada suara musik berasal dari benda persegi di atas meja. Milik seorang remaja yang kini terlihat tidur dengan pulasnya. Dan ia bersyukur anak itu masih setia menunggu.


"Ray...bangun!" Serunya dengan lirih sambil menggoyangkan lengan remaja itu dengan perlahan.


...***...


"Ray, lo nggak mau kemana-mana kan?!" Suara Rion kembali terdengar ketika ia sudah mengenakan baju rapi, sambil mengenakan masker hitamnya.


"Gue nggak akan kemana-mana, kemarin rencananya mau ketemuan sama Rean. Tapi tadi kata Sam sekarang dia lagi nggak bisa!" Jawab Ray seadanya. Dipandangnya Rion dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kayanya lo deh yang mau keluar, mau kemana?"


"Mau pulang. Di rumah ada urusan sebentar, lo bisa kan di rumah sendiri?!"


"Gue ikut deh...!"


"Nggak usah, ini demi keluarga kita. Demi lo juga, jadi lo di sini aja. Gue nggak akan lama, pasti nanti habis Maghrib pulang!"

__ADS_1


"Di rumah ada masalah ya?!" Rion bisa melihat wajahnya yang seketika murung. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tapi ini juga demi kebaikan bersama. Ray tau, di rumah pasti ada masalah. Kalau tidak, nggak mungkin Rion meninggalkan Ray seorang diri seperti ini. Ia sudah hafal dengan tingkah Rion ketika pulang kerumah. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dan sekarang, Ray tidak ingin menebak ada apa. Ia tak ingin kembali mendengar hal kasar dan menyakitkan dari mereka.


"Oke, kembali sebelum larut!" Kata Ray sambil bermain dengan layar ponselnya. Rion berdeham sebagai balasan.


"Nanti pintu dikunci, jangan biarin orang masuk. Apalagi om Arnold sama tante Sasha.!"


"Iyaa, Riona! Udah cepetan, biar nanti pulangnya nggak kemaleman!" Rion mengangguk. Ia melambaikan tangannya, dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Ray yang duduk di sofa.


Ruangan ini terdengar sepi. Tapi justru keadaan ini membuat Ray sedikit takut akan hal yang terjadi selanjutnya. Setelahnya, ia mencoba mengalihkan fokus pada layar ponsel. Entah bermain game online atau berkutat dengan media sosial. Hingga ia lupa untuk mengunci pintu, sesuai dengan pesan Rion.


...***...


Ray masih sibuk dengan benda pipih digenggamannya. Ia menghela nafas berkali-kali. Mulai bosan dengan kegiatannya. Ia tak henti-hentinya melihat jam dinding, berharap Rion cepat kembali.


Ceklek...


Ray menoleh, segera terlonjak dari tempatnya. Bersiap untuk menyambut seorang yang ia tunggu kehadirannya sedari tadi. Ia tau, mungkin saja Rion akan marah-marah karena dia terlalu lelah setelah perjalanan, dan melihat Ray yang masih belum tidur sampai sekarang. Mungkin saja mereka akan kembali bertengkar seperti sebelumnya.


Namun, setelah pintu terbuka lebar, Ray tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku. Menatap tiga orang yang berdiri di ambang pintu. Wajah-wajah menyeramkan dengan tatapan tajam yang seolah menghunus jantungnya.


"Oh, jadi ini anak ingusan itu!" Seru salah seorang dari mereka. Ray tidak bisa mengalihkan atensinya pada mereka. Bukan mereka yang ia tunggu, dimana Rion dan wajah dinginnya.


"K-kalian siapa...?"


Ray menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk tetap berfikir logis. Ia harus lari, walau langkahnya tertuju pada sebuah bilik yang tak lain adalah kamar mandi. Ia benar-benar tidak bisa berfikir selain pergi ke sini. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak mungkin ia pergi melalui jendela, tidak mungkin juga ia akan mendarat dengan selamat setelah melompat dari lantai empat.


Ray semakin panik ketika orang-orang itu sudah mulai menggedor-gedor pintu. Ia tidak bisa menghubungi siapapun. Melupakan ponselnya yang tengah berada di atas sofa. Kenapa ia lupa untuk mengunci pintu seperti pesan Rion?! Berulang kali ia merutuki kelalaiannya.


Pintu berhasil dibuka. Ray dapat melihat ada tatapan bengis yang siap untuk membunuhnya kapan saja. Ia meringkuk dalam pojok ruang, menutup mata. Setidaknya ia tidak melihat benda-benda tajam yang mereka gunakan untuk menghabisinya nanti.


...***...


Rion membuka pintu, ada senyap yang dapat ia tangkap ketika memasuki ruangan ini. Tidak ada yang aneh. Semua terlihat baik-baik saja. Ia melepas maskernya, kemudian  mulai meregangkan tubuhnya yang terasa penat.


Ia menghela nafas, menatap sosok yang kini tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuh hingga lehernya.


"Ck, gue heran. Ada ya bocah tapi pelupa kaya lo! Gue udah bilang kunci pintu, biar aman. Nyatanya sampai gue pulang pun lo nggak kunci!" Rion mulai membuka lemari, mengambil sepasang baju sambil berceloteh seorang diri. Tapi karena tak mendapatkan jawaban, remaja itu menoleh pada Ray.


"Lo beneran tidur?!" Katanya sambil mendekat. Menatap anak itu lamat-lamat. Namun, yang terdengar hanya dengkuran halus. Ray benar-benar tidur dengan nyenyak. Rion menatap jam dinding, baru saja pukul sembilan malam lewat. Dan Ray sudah terlelap tanpa Rion harus berteriak padanya. Ini sebuah keajaiban.


"Sudah tidur?! Tumben!" Katanya. Baru saja ia ingin meninggalkan Ray, tak biasanya anak itu tidur secepat ini. Biasanya dia akan menunggu Rion walaupun ia pulang sangat larut sekalipun. Tapi, kali ini berbeda. Ada ada dengan Ray?!


"Loh, rambutnya basah?! Dia habis mandi?! Lagi?!!" Ia menghentikan langkahnya hanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat itu memang benar adanya. Rambut Ray masih basah, seingatnya anak itu sudah mandi sore tadi. Rambutnya sudah kering, ia juga tau sendiri. Kenapa kira-kira rambutnya basah lagi?!


Rion berdecak, kemudian mengambil handuk dilemari. Sebenarnya, ia sudah lelah setelah perjalanannya menuju kemari. Tapi, demi menjaga Ray dari flu yang bisa datang kapan saja, dia rela mengorbankan waktunya.


"Untung sodara, kalau bukan udah gue siram sekalian!" Katanya sambil mengeringkan rambut Ray dengan handuk secara perlahan. Dia tidak ingin anak itu terbangun, bisa saja anak itu terbangun dan berujar lebih cerewet dari biasanya.


Padahal, Rion tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


...***...


"Jadi ini bocah yang namanya Ray itu?!!" Seorang laki-laki dewasa dengan wajah sangar tengah memperhatikan Ray yang meringkuk di pojok kamar mandi. Anak itu ketakutan setengah mati, karena kedatangan mereka yang ia sendiri tak tau alasannya.


"Sayang banget kalau buat di habisi sekarang, kalau dijual bisa laku mahal nih bos!" Salah seorang di antara ketiganya juga berujar. Tunggu, di jual?!! Maksudnya Ray?!!


"Heh, bocah!! Lo bisu atau apa?!! Dari tadi diem aja!" Kata yang lain sambil menendang dengan keras tubuh ringkihnya.


"O-om mau apa?! Saya nggak punya uang!" Mereka tertawa mendengar ucapan Ray. Walau sudah 16 tahun, ia benar-benar tidak bisa apa-apa. Tidak bisa bela diri, atau bertarung gaya bebas seperti di tv tv.


"Kita nggak mau ngapa-ngapain, cuma kita mau lo coba ini aja kok!" Seringai mulai muncul di bibirnya. Ray membuka matanya, membelalakkan mata ketika melihat botol besar berisi cairan yang ia tak tau itu apa.


"I-itu..."


"Ini minuman enak banget loh, kamu nggak mau coba, hah?!" Ray menggeleng kuat. Berusaha untuk tidak gemetar. Tapi percuma, tetap saja Ray merasa ketakutan.


"Kalau kamu mau minum, semua beban pikiran bakal hilang. Kamu nggak akan merasa depresi!" Yang lain hanya mengangguk.


"Saya nggak mau..." Laki-laki itu mencengkeram dagu Ray dengan kuat. Berusaha untuk membuat atensi nya tetap pada tatapnya.


"Kalau kamu mau minum baik-baik, nurut sama om, om nggak bakal kasarin kamu. Sekarang, cepat minum!" Suruhnya sambil mendorong botol itu kearahnya.


"Saya nggak mau!!" Serunya. Tapi seketika, dua orang dibelakang laki-laki itu mendekat ke arah Ray.


"Jangan dibagian yang terlihat, lakukan tanpa orang lain tau apapun!" Orang-orang itu hanya mengangguk. Ray menatap nanar dua orang yang mulai mendekat. Seketika rasa nyeri dan perih mulai merambahi tubuhnya. Ia hanya bisa meringkuk, melindungi diri dari tendangan orang-orang asing tersebut. Berulang kali perutnya menjadi sasaran, dan berhasil membuatnya mengeluh kesakitan.


"Cukup!" Seketika dua orang itu berhenti. Bersamaan dengan seringai panjang yang mereka tampilkan lewat bibir. Tak peduli anak itu terbatuk-batuk hingga ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. Melupakan kenyataan bahwa anak itu memang lemah.


Dua orang tadi kini memegangi tubuh Ray. Menarik rambut Ray kebelakang, hingga mau tidak mau ia harus melihat kearah laki-laki itu.


"Sekarang waktunya minum, iya kan?!"


Hmmmnh...hmmnh...


Ray menolak minum, ketika laki-laki itu berusaha mencekokinya dengan minuman yang terasa pahit di lidahnya. Ia tidak pernah merasakannya. Ini pertama kali, ia merasakan minuman sepahit itu. Tapi dengan susah payah, laki-laki itu berhasil membuat Ray meminum habis hingga tetes terakhir dengan tenaganya yang kuat.


Ray kini bahkan tak bisa bergerak banyak, tubuhnya terasa sangat lemah. Kepalanya mulai terasa pusing, sedangkan laki-laki itu tidak merasa iba dengan remaja yang sudah terkapar di atas lantai, dengan nafas tersengal. Bahkan ia kini mengeluarkan satu botol kecil berisi pil-pil berwarna putih.


"Om nggak akan kasar kalau kamu mau nurutin apa kata om!" Ray terbatuk-batuk, minuman yang ia telan tadi membuat kepalanya berat. Bahkan tubuhnya ikut terasa lemas.


"Minum pil ini!" Ray terkesiap. Berusaha untuk melawan, ia tak mau menelan pil itu. Bisa saja ia langsung mati saat ini juga. Tapi orang-orang itu memegangi Ray dengan kuat. Ia hanya pasrah dengan air mata mengalir di pipinya. Merasakan pil pil itu menerobos tenggorokan bersamaan dengan minuman pahit yang kembali ia tenggak.


Setelah melihat keadaan Ray yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, orang-orang itu pergi. Meninggalkan Ray yang kini berbau alkohol, terkapar di lantai kamar mandi.


"Jangan pernah bilang siapapun tentang hal ini, kalau tidak..." Ray menatap laki-laki itu. Ia takut tentu saja.


"Kalau tidak, saudara-saudara mu yang akan menanggung semuanya!"


Bahkan walau Ray tidak diberitahu pun, ia yakin. Mereka adalah orang-orang suruhan Sasha. Ray meringkuk merasakan sakit diseluruh bagian tubuhnya. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Mengetahui bahwa ia memang tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Ia berusaha bangkit dan menghilangkan bau alkohol yang ada pada tubuhnya. Mencoba untuk tetap sadar, walau ia sendiri menahan kepalanya yang terasa pening.



__ADS_2