
Ray berhasil membuat adiknya tertidur. Anak kecil itu sudah terlelap mungkin sekitar 20 menit yang lalu. Dengan perlahan, ia bangkit dari tempatnya. Berusaha membuat pergerakannya sehalus mungkin agar adiknya tidak terbangun.
Ren terlihat lelah. Terbukti dengan wajahnya yang terlihat kusam dan lingkaran hitam di bawah matanya. Padahal dia masih anak kecil berumur lima tahun. Bajunya tersingkap, menampilkan perutnya yang penuh dengan luka memar dan berwarna kebiruan. Ray menggigit bibirnya. Kemudian menurunkan baju sang adik dan menyelimutinya sebatas dada.
"Jadi Tante Sasha ..."
...๐น๐ ๐น...
Arnold menggigiti kukunya. Melihat anaknya yang masih kecil mendapat luka sebanyak itu membuatnya ketakutan. Bukan, bukan takut akan pelakunya. Mungkin jika pelakunya sudah tertangkap, akan dia habisi sampai orang itu lenyap. Atau bahkan lebih sadis lagi.
Karen menghela napasnya. Melihat sang adik yang sangat lemah bila anak-anaknya diganggu.
"Tenanglah. Ren baik-baik saja. Dia akan segera sembuh. Cuma perluโ"
"Kakak sudah tahu?"
"Apa?"
"Kakak sudah tau siapa yang melakukan itu pada Ren?" tatapan Arnold terlihat menuntut. Itu membuat Karen tidak nyaman sama sekali.
"Berhenti menatapku seperti itu!"
"Cepat katakan yang sebenarnya!"
"Itu ibunya!" Arnold terdiam. "Maksud Kakak apa? Sasha ada di penjara!"
"Kamu emang bodoh atau apa, Arnold?! Sasha sudah keluar dari penjara satu bulan lalu!" Karen benar-benar membungkam mulut Arnold dengan kalimatnya. "Dua minggu lalu, dia ke kantor. Bilang ingin menemui putranya. Tapi aku tau dia orang yang emang nggak waras. Jadi aku nggak bilang sama sekali tentang keberadaan dan anak-anak mu. Tapi siapa sangka kalau dia mencari informasi kalian sendirian."
"Jadi perempuan itu ..."
"Itu cuma spekulasi ku saja, tingkat kejahatan di kota ini sangat rendah. Penduduknya selalu percaya akan adanya karma. Jadi hanya tidak mungkin mereka yang minim melakukan kejahatan bisa berlaku seperti itu pada anak 5 tahunan." Arnold menelan ludahnya. "Kalau bukan karena Sasha yang punya gangguan jiwa." lanjut Karen.
"Perempuan itu ..."
...๐น๐ ๐น...
Sudah beberapa hari berlalu, luka lebam yang ada di tubuh Ren sudah semakin pudar. Tapi berbeda dengan psikisnya. Setiap malam, anak itu tidak bisa tidur nyenyak. Setiap tengah malam di selalu terbangun dengan menyerukan nama kakaknya. Tidak mau makan kecuali ada Ray di sampingnya. Intinya, Ren sudah ketergantungan pada kakaknya.
Berhari-hari remaja itu tidak pulang dari rumah sakit. Meninggalkan sekolah yang menurutnya nomor sekian.
"Hari ini, kamu pulang aja nggak apa-apa. Abang liat Ren udah membaik. Kamu istirahat di rumah nggak apa-apa, biar Abang yang jaga di sini." Qian menaikkan selimut Ren. Anak itu masih tertidur setelah tadi pagi menangis karena dipaksa makan oleh Ray.
"Nanti kalau Ren nyariin gimana?"
"Nggak apa-apa, nanti kamu pulang sama Ayah. Ayah juga ada kerjaan yang harus diurus nanti di kantor." kata Arnold yang ada di belakang Qian. "Nanti biar Ayah suruh Rion sama yang lain ke sini."
Ray hanya mengangguk paham. Dia mulai membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas sofa. "Kalau Ray mau main sama Rion boleh nggak?"
Qian dan Arnold saling pandang. Mereka sama-sama mengernyitkan keningnya. "Ngapain? Tumben banget mau main sama Rion?"
"Kepengen aja, dia kemarin ngajakin Ray main. Tapi belum sempet."
"Boleh, asal nanti jam lima udah sampai rumah. Nggak ada bantahan!" Ray tersenyum senang. Kemudian ia melakukan hormat kepada sang ayah. "Ayay Kapten!"
...๐น๐ ๐น...
Waktu menunjukkan pukul 13.32. Rion hanya bingung, mengapa saudaranya yang satu ini tiba-tiba minta diajak ke pinggir danau untuk melihat pemandangan. Dia sendiri baru ke tempat ini beberapa kali. Saat ia joging di pagi hari, itu pun hanya beberapa menit. Kemudian ia akan kembali ke rumah.
"Heran banget sama lo, tiba-tiba ngajakin ke sini. Emangnya ada apa? Segitu pentingnya sampai-sampai lo tinggalin Ten di rumah sakit sendirian!"
Plakk ...
Rion mendengus kesal. Ia mengusap kepalanya ayang baru saja digampar oleh remaja di sampingnya. "Ngomong sama gue nggak usah ngegas kali! Ya kali gue ninggalin adik gue sendiri di rumah sakit! Lagian nih ya, di sana ada Bang Qian. Yang lain tadi juga bilang mau ke sana!"
"Ya gue heran aja!"
"Gue nggak mandi 3 hari kalau lo nggak tahu!" Rion sedikit menyingkir dari Ray.
"Pantesan bau kaya ikan amis!"
"Lo emang mau cari ribut ya sama gue?"
__ADS_1
"Eh eh, santai Bro. Gue cuma bercanda kali!"
Kemudian keduanya terkekeh sendiri. Melihat bagaimana danau berwarna biru yang terlihat tenang. "Danaunya dalam ya?" Pertanyaan itu random saja keluar dari mulut Ray. Berbeda dengan Rion yang kini sudah memasang wajah dinginnya.
"Kenapa? Mau bunuh diri?! Of course, danau ini cukup dalam buat lo yang pendek dan gak bisa berenang! Mau nyemplung? Gue bisa cemplungin sekarang kalau lo mau!"
"Kampret! Gue nggak mau mati!"
"Ya pertanyaan lo sih, aneh!"
Ray menghela napasnya. Dia merebahkan diri di atas tanah. Tepat di bawah pohon yang kini menutupi sinar matahari jatuh tepat ke retina. Begitu pula Rion yang kini duduk di sampingnya. Menatap danau yang sama. Keduanya terdiam, mengulang masa-masa yang pernah mereka lakukan bersama. Hanya saja, tiba-tiba semua itu seperti kaset lama yang berputar di kepala.
"Rion ... kalau seumpama ... gue nggak adaโ"
"Maksud lo?"
"Ahahaha, enggak. Cuma pengandaian aja. Kalau seumpama gue mati, apa lo bakal depresi lagi?"
"Tentu" Ray menatap Rion sekilas.
"Kenapa?"
"Ya ngapain lo tanya? Lo nggak mati aja gue bisa depresi berat, apalagi kau itu benar-benar terjadi!"
"Jadi ... gue benar-benar berpengaruh di hidup lo?"
"Hmm" Rion hanya berdeham. Ia masih menatap hamparan air yang luas di hadapannya. "Bukan cuma gue, Bang Qian, Bang Erik, Om Arnold, semua saudara kita, bahkan Nenek. Lo berpengaruh di kehidupan mereka semua."
"Ah, lo bisa aja. Gue 'kan jadi salting!" Ray menanggapinya dengan kekehan.
"Karena lo penting bagi kita semua, makanya lo jangan mati!" sentak Rion. Tapi malah membuat Ray tertawa. "Nggak ada yang lucu btw ..."
"Oh iya, lo pakek kalung yang kemarin gue beli?" Rion mengangguk-anggukkan kepalanya. Lantas menarik bandul kalung di dalam bajunya. Sebuah bulan sabit berwarna silver.
"Jangan diilangin ya?"
"Hmm, gue coba."
"Kemarin, gue lupa beli satu buat Ren ..."
"Nggak ada lagi, katanya kemarin cuma 7."
"Terus?"
"Nanti kalau gue pergi ke tempat yang jauh, lo kasih kalung gue buat Ren ya?" Rion mendengus kesal.
"Nggak! Nggak akan gue kasih!"
"CK, nyebelin banget lo!"
"Lagian, Lo nggak akan kemana-mana!"
"Siapa tau aja, yang namanya takdir 'kan nggak ada yang bisa baca!"
...๐น๐ ๐น...
Qian menatap sosok kecil yang berbaring di atas ranjang. Beberapa waktu tadi Ren sempat bangun dan mencari keberadaan Ray. Ia kira anak itu akan menangis seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak. Dia hanya memasang wajah cemberut dan kemudian kembali berbaring.
"Badannya masih sakit semua?"
Anak kecil itu menggeleng. "Enggak."
"Ren mau makan? Atau mau minum?"
"Enggak, Bang. Ren nggak mau."
"Minum susu kotak gimana? Tadi Bang Qian beliin yang rasa taro. Mau?" Ren menatap Qian dengan berbinar. "Beneran?" Qian mengangguk. Lantas mengeluarkan satu kotak berukuran sedang susu rasa taro yang anak kecil itu inginkan dari lama.
Ten meraih susu itu dan langsung meminum isinya. "Makasih Bang Qian! Bang Qian emang yang terbaik!" seru anak itu senang. Qian terkekeh. Melihat senyum milik Ten kembali terbit, ia jadi lega. Sungguh, melihatnya penuh dengan luka lebam membuat hati Qian teriris.
Keduanya berbincang-bincang ringan. Sesekali Qian melemparkan candaan hingga membuat anak itu tertawa lepas di atas ranjang. Sampai-sampai, mereka tidak menyadari bahwa ada seorang yang masuk tanpa ijin.
Kreeet ...
__ADS_1
Qian menoleh, tapi terlambat. Wanita itu sudah melayangkan kursi yang ada di tangannya ke arah Qian. Hingga pemuda itu tersungkur membentur lemari balas di dekat ranjang.
"Abang!" seru anak kecil itu ketika menyadari pamannya kesakitan.
Tak cukup di situ saja, Sasha kembali memukul tubuh Qian dengan kursi yang ada di tangannya. Berkali-kali hingga menimbulkan suara gaduh yang cukup mengganggu.
"MAMA! ENGGAK! MAMA JANGAN!" Ren tanpa sadar mencabut jarum infus di tangannya. Turun dari ranjang dan memeluk kaki sang ibu. "JANGAN MA! JANGAN PUKUL BANG QIAN!!" teriak anak itu. Tapi jelas hal itu tak membuat Sasha menghentikan aksinya.
"Akh ..." Qian merintih. Kepalanya pusing. Terbentur beda berbahan dasar besi tersebut. Kepalanya terasa berputar, darah juga sudah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Pemuda itu mencoba untuk mempertahankan kesadarannya. Tapi gagal karena matanya begitu berat. Sampai gelap menjemputnya.
"Bang ..." Ren memegang kaki Qian yang kini terkapar di atas lantai. Tapi pemuda itu tak bergerak dengan mata terpejam. "Bang ... enggak! Jangan tidur! Jangan tinggalin Ren! Ren takut sendiri sama Mama! Bang! BANG!"
Sia-sia.
Sasha menghempaskan kursi yang ia gunakan untuk memukul Qian. Menatap anaknya yang memeluk kaki Qian. Menangis karena ketakutan. "Sekarang ... giliran kamu, ya, Renand." Ren menggeleng, hendak kabur tapi lebih dulu Sasha memegang tubuhnya. Lantas tanpa basa-basi mencekik leher Ren hingga anak itu terangkat.
"Ma ..." lirih anak itu. Berusaha melepaskan tautan tangan di lehernya. "Ma ... ini ... Ren ... anak Mama ..."
"Iya, kamu anak Mama. Jadi, sekarang kamu harus nurut sama Mama ya? Mama mau kamu hilang, biar Mama nggak merasa sakit lagi. Oke?"
Ren terbatuk-batuk. Ia mulai kesusahan bernapas.
BRAKK ...
"Uhuk ... Uhuk..." Ten memegangi lehernya yang terasa sakit dan dadanya yang sesak. Ia melihat ke arah mamanya. Di sana, Ren bisa melihat kakaknya sedang menahan tangan sang mama.
"TANTE WARAS GAK SIH?! ITU ANAK TANTE! DIA BISA MATI!"
"IYA! MEMANG ITU YANG SAYA MAU! SAYA MAU ANAK INI MATI!"
Ray sadar, wanita ini memiliki tenaga yang sangat kuat. Bahkan tenaganya saja bisa kewalahan menahan tubuh Sasha yang memberontak. Sampai tubuh Sasha terbebas dari belenggu Ray, ia langsung menyambar kursi di dekatnya. Melayangkan kursi itu ke arah Ray. Lantas wanita itu dengan brutal memukulinya dengan benda yang sama. Hinga beberapa kali. Remaja itu berteriak kesakitan. Kembali membuat sang adik ketakutan.
"Kamu ... juga harus saya lenyapkan!"
"Enggak ... Tante ... sadar!"
BRAKK ... BRAKK ... BRAKK...
Pukulan terakhir, tepat mengenai kepala Ray yang langsung membuatnya berdarah. Rambutnya basah dengan cairan kental itu. Tapi dia masih memiliki kesadarannya.
Ray berhasil membuat gerakan Sasha terhenti. Ia membuang kursi yang ada di tangan Sasha. "Berhenti! Tante Sasha!" Sasha terdiam. Membiarkan nafasnya memburu. Teriakan Ray membuatnya sadar. Apa yang dia lakukan saat ini?
"Tante ... hiks ... Tante jangan begini ..." Sasha terdiam. Melihat keadaan Qian yang sudah lebih dulu tidak sadar. Juga tangisan Ren yang makin menjadi saat mengetahui kakaknya juga terluka.
"SASHA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Suara tegas itu, Sasha mengenalnya. Arnold, dia tiba di sana dengan Karen di belakangnya. Tak kalah terkejut dengan keadaan yang ada. "SIALAN!"
"A-ayah ..." Arnold langsung menangkap tubuh Ray yang limbung. Rambutnya basah dengan darah. Matanya meredup sedangkan Sasha, Karen yang menyeretnya pergi dari sana. Membuat seisi rumah sakit gempar.
"Kamu tahan ... Ayah panggilkan dokter ..."
"Enggak ... aku mau Ayah panggilkan Bunda ..." Arnold menggelengkan kepala.
"Enggak! Kamu nggak boleh ikut Bunda kamu! Kamu harus menemani Ayah!'
"Ayah masih punya Ren, yang lain ... yang lain juga sayang Ayah ..." Arnold meneteskan air matanya.
"Ayah ... jangan memaksakan diri lagi. Ayah ... jangan keras pada diri sendiri. Tolong ... jika nanti, Ray nggak bis membuka mata lagi ... tolong jaga semuanya, ya?"
Arnold kembali menggeleng.
"Kakak ... Kakak jangan pergi! Ren nggak mau sendiri! Kakak 'kan udah janji ... hiks ... Kakak jangan!" teriak anak itu sambil memeluk lengan kakaknya yang terbaring di pangkuan sang ayah. Remaja itu menoleh, "Ren ... nggak boleh cengeng ... kamu laki-laki, laki-laki harus kuat ... ingat, jangan bandel kalau dibilangin Bang Qian sama Bang Erik ya ..." Arnold dan Rem menangis sejadi-jadinya.
"Bunda sudah datang ... Ray mau pergi sama Bunda dulu ya?"
"Enggak! Kakak! Enggak!! KAKAK!"
...๐น๐ ๐น...
Rion menghentikan langkahnya. Ia baru saja pulang dari danau, setelah ditinggalkan oleh Ray yang tiba-tiba saja menghentikan taksi dan bilang ingin menjumpai adiknya.
"Perasaan gue nggak enak, sebenarnya ada apa?" Rion memandang senja yang masih terlihat kemerahan. Ia tidak tau bahwa saat itu, dia kehilangan sahabat terbaiknya. Kehilangan sahabat yang sangat berharga.
Dia masih berdiam diri pada tempatnya. Hingga senja tenggelam, ia masih belum beranjak darai empatnya. Seiring dengan panggilan telpon berkali-kali yang ia abaikan. Ingatannya kembali pada tadi siang, "Jadi ... lo pergi ke mana, Rayyan?"
__ADS_1
...๐น๐ ๐น...