
Temaram malam mulai datang, menyisakan jejak kemerahan di ujung langit barat. Remaja itu menyeret langkahnya memasuki rumah, dengan kantung plastik ditangannya. Sungguh perlu perjuangan untuk memetik mangga muda ini, di samping dia yang tidak punya bakat memanjat, ada Erik yang siap membantunya. Bukan tidak tau terima kasih, tapi jelas saja Rion memikirkan tentang Nia yang mereka bilang sedang hamil.
Remaja itu dengan lesu menekan bel rumah, dan beberapa saat seorang datang untuk membukakan pintu. Rion sengaja mengangkat plastik itu tepat di depan wajah papanya.
"Nih, hasil perjuangan Rion!"
Tapi beberapa detik setelahnya, dia termangu menatap mamanya yang kini berantakan dengan mata yang sembab tengah tertidur di atas sofa ruang tamu. Matanya menatap tajam ke arah Abra.
"Apa?!"
"Papa nggak ngapa-ngapain Mama 'kan? Rion nggak pernah liat Mama kaya gini, pasti Papa––"
"Papa berani sumpah, nggak ngelakuin apapun sama mama kamu!" Rion mendelik, menatap Abra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemudian memilih untuk meletakkan rujak mangganya di atas meja.
"Sebenarnya ada apa sih, Pa? Kenapa Mama minta rujak sampai kaya gitu?" Rion benar-benar dapat menjadi atensi Abra saat ini. Laki-laki itu mengikuti langkah Rion ke dapur, untuk mencari piring untuk tempat rujak tadi.
"Mama nggak hamil, 'kan Pa?"
"Hah?! Kamu ini ada-ada aja! Mana ada mama kamu hamil. Papa nggak apa-apain––"
"Maksud Papa apa?! Kalau Mama beneran hamil, gimana?! Kalau nggak Papa apa-apain, masa Mama buatnya sama orang lain!" Kini remaja itu malah mendapat tempelengan dari Abra.
"Sembarangan kamu kalau ngomong!"
"So?"
"Papa juga gak tahu mama kamu hamil atau enggak," sekali lagi, kalimat itu membuat Rion jengah.
"Yang penting kalau Mama hamil pun, itu anaknya Papa. Bukan anak orang lain!"
...🔹💠🔹...
Ruangan yang penuh dengan celoteh seorang anak kecil itu kini menjadi sunyi. Qian menghela nafasnya berulang kali, menatap sosok Arnold yang kini sibuk dengan ponselnya sendiri. Melupakan eksistensi anak bungsunya dan Qian yang kini merasa sangat kecewa padanya.
"Bang, kenapa Abang berlaku seolah nggak terjadi apa-apa? Kenapa Abang nggak pernah mau ngomong sama aku soal apapun." Kalimat Qian membuat Arnold kembali meletakkan ponselnya.
"Nggak semua masalah harus Abang ngomong dulu sama kamu. Kamu nggak bisa ngatur waktu antara kuliah, belajar, sama ngurus orang rumah. Niat Abang itu baik, nggak mau kamu kecapekan lagi kaya kemarin."
__ADS_1
"Tapi masalah cari pembantu itu persoalan besar, Bang. Kita nggak bisa langsung percaya sama orang asing."
"Terus, Abang harus gimana?! Sekarang, kamu nggak perlu––"
"Abang jangan lupa, Tante Sasha itu orang yang bahkan Abang udah kenal lama. Tapi dia yang berusaha buat celakain anak Abang sendiri. Sekarang, mungkin nggak kalau orang––"
"Kalau gitu, kamu apa?! Kamu juga orang asing di sini. Dan Abang juga berusaha buat kita menjadi keluarga. Jadi Abang mohon ..." Qian terdiam. Ternyata kalimat Arnold begitu ampuh untuk membuatnya bungkam. "Abang mohon kamu turuti apa kata Abang sekarang. Abang nggak mau lagi kehilangan orang yang Abang sayang seperti kakak kamu. Abang nggak mau mengulangi kesalahan yang dulu pernah Abang lakuin. Jadi ... sekarang kamu nurut ya?"
Qian terdiam lagi, butuh beberapa detik hingga ia bisa kembali membuka suara.
"Masih sayang sama Kakak?" Tanya Qian lirih. Kini ia tak mampu untuk menatap balik Arnold. Suaranya terdengar serak, mungkin sudah sejak kemarin. Tapi kini Arnold mendengarnya sedikit berbeda dengan kemarin.
"Emang kakak kaya apa sih, Bang?" Sekali lagi, Qian menghindari sorot mata Arnold. "Dia cantik, tapi cerewet kaya Rayyan, dia sederhana, tapi juga bisa berkelas kala bergabung dengan keluarga Chandra. Kalau kamu tanya soal perasaan ...
Entahlah, ada yang bilang sesuatu yang sudah tidak dapat kita genggam akan terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Mungkin itu yang aku rasakan sekarang, sama Raina." Lelaki itu menghela nafasnya berat. "Kalau aku nggak bisa jaga dia sekarang, maka aku akan jaga adik-adiknya dan anaknya. Cuma itu yang aku bisa sekarang."
"Ayah! Ayah! Len mau tanya, Ayah nggak mau cali ibu buat Len." Kini pertanyaan anak bungsunya membuat Arnold gugup setengah mati. Begitu pula dengan Qian yang duduk tak jauh dari keduanya.
"Ren ... Ayah 'kan udah pernah bilang, kalau Mama nggak bisa balik lagi sama kita. Ren ingat 'kan?" Een menggeleng kuat. "Len gak mau Mama, Len mau Ibu!"
Dan di detik berikutnya Arnold dan Qian saling pandang. Maksudnya ibu baru?!
"Jangan sekarang ya? Ayah Arnold lagi menikmati masa-masa lajangnya." Qian mendekat untuk mengusak kepala si anak. Tapi anak laki-laki berumur 6 tahun itu malah memajukan bibirnya. "Tapi Len mau Ibu kaya temen-temen ..." Arnold terkekeh.
"Nanti ya kalau Ren udah besar." Ren bersungut-sungut ketika mendengar ayahnya menolak permintaannya. Dan ketika anak kecil itu berlalu sambil membawa rasa kesalnya pada Erik di lantai satu, Qian malah menatapnya dengan intens.
"Jangan coba-coba buat cari istri baru dalam waktu dekat. Abang baru aja cerai 6 bulan dari sekarang. Kalau mau istri baru, harus lolos seleksi aku, Ray, sama Ren. Titik, nggak ada spasi apalagi koma!"
...🔹💠🔹...
Ray melihat seorang yang asing ketika ia baru saja turun dari lantai dua untuk menyantap sarapan buatan Qian. Tapi, kini yang ia dapati adalah seorang perempuan yang masih muda tengah sibuk mempersiapkan sarapan di meja.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapan sebentar lagi siap, saya akan panggil Tuan Arnold dengan yang lain––"
"Mbak siapa ya?" Wanita itu tersenyum manis.
"Ah, saya pembantu baru di sini. Nama saya Yanti. Tuan Arnold yang telah merekrut saya, mulai pagi ini."Ray ber-oh ria. Ini dia pembantu yang dibicarakan ayahnya lusa. Dia masih muda, mungkin sekitar 30 an tahun. Dari penampilannya, Yanti terlihat baik dan sopan. Ramah senyum juga, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak enak.
"Ini pembantu yang Abang bilang kemarin?" Tanya Qian yang datang bersama dengan Arnold. Arnold mengangguk.
__ADS_1
"Hmm, namanya Yanti." Qian menatap sinis ke arah Yanti yang kini tersenyum kikuk. Berdiri di tengah laki-laki dengan wajah good looking membuatnya jadi seperti berada di kayangan.
"Iya, Tuan. Nama saya Yanti."
"Kamu masih muda, kenapa mau kerja sama orang ini!" Arnold berdecak. Dia punya nama, namanya Arnold. Tapi Qian malah dengan enteng menyebutkan namanya dengan 'orang ini'. Qian memang manusia ajaib, hanya ada beberapa orang yang bisa memperlakukan Arnold demikian.
"Saya orang biasa, butuh biaya juga buat keluarga saya." Jelas Yanti.
"Kamu sudah punya suami?"
"Belum, Tuan." Qian ikut duduk di samping Ray, begitu pula dengan Arnold.
"Perlu gue kasih tau, kalau masak jangan sembarangan. Ray nggak suka sama keju, Ren alergi sama kacang dan mangga. Erik nggak suka makanan manis, dan 'orang ini' nggak suka sama orang yang kecentilan––"
"Qian!"
"What? Gue salah kah, Bang?" Arnold menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa tertekan dengan sikap Qian.
"Iya, Tuan! Siap!" Kata Yanti dengan senyum hangatnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Mau bersih-bersih rumah." Qian mengangguk. Kemudian wanita itu berlalu begitu saja dari sana.
"Nanti, Ren biar dia yang ngurus. Kamu nggak usah pulang buat jemput dia!" Qian mengangguk.
"Gue bakal siapin bekal buat Ren––"
"Nggak usah! Biar dia yang siapin, itu tugasnya."Diam-diam Qian merekat jarinya. Di sini kini ia merasa tidak dibutuhkan lagi. Dulu, masak dan mengurus rumah sudah menjadi tanggung jawabnya. Tapi kini, ketika ia tak melakukan apa-apa malah seperti ada yang salah.
"Kalau gitu, gue nanti pulang agak malam, Bang."
"Kenapa? Ada acara apa di kampus?"
"Gue cuma pengen keluar sama temen."
"Pulangnya jangan malam-malam!" Qian berdeham. Mungkin Arnold tidak menyadari ada perbedaan sikap Qian pagi ini. Tapi, Ray menyadari kalau memang ada yang salah dengan pamannya itu.
...🔹💠🔹...
__ADS_1