Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 28. Candu Dalam Kelam


__ADS_3


Arnold duduk di atas sofa dengan resah. Sebelumnya, ia tak pernah segugup ini. Hanya untuk menemui anak sulungnya yang hingga detik ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Tenang saja, dia laki-laki yang sabar. Hingga tengah malam pun Arnold akan tetap menunggu.


"Om beneran udah nggak apa-apa?! Sekarang om udah nyesel?!" Pertanyaan itu berasal dari Rion yang tengah duduk di hadapannya. Untuk ukuran anak remaja, Rion cukup berani untuk menatap Arnold dengan tatapannya yang tak kalah menakutkan.


"Kamu nggak percaya?! It's okay, saya nggak butuh kepercayaan kamu. Saya cuma mau liat gimana keadaan Ray sekarang."


"Oh, gitu?! Tapi aku ngiranya om bakal buat Ray jadi kaya dulu." Arnold diam. Mengingat kembali saat ia melampiaskan kekesalannya pada Ray. Berakhir dengan Ray yang mengalami luka lebam di tubuhnya. Dia terdiam dalam lamunannya. Berada di hadapan Rion seperti menghadapi klien yang susah untuk di ajak kompromi. Bahkan ia belum pernah berhadapan dengan orang yang seberani anak ini. Arnold cukup kagum dengan anak saudaranya ini.


"Tadi Renand ke sini?" Arnold bertanya dengan lirih. Dan hanya dijawab anggukan oleh Rion.


"Kapan mereka pulang?"


"Sore tadi, kenapa memangnya?!" Tanya Rion dengan nada mengintimidasi.


"Tidak. Saya kagum dengan kalian, kalian menjaga anak-anak saya dengan baik."


"Kami berusaha sebaik mungkin." Kata Rion. Namun, setelahnya ada jeda yang cukup panjang di antara keduanya. Sunyi itu membuat mereka kembali berkelana dalam pikiran masing-masing.


"Apa kamu merasakan perbedaan dari Rayyan saat ini?" Rion menatap Arnold lekat lekat. Rion tidak tau kenapa Arnold tiba-tiba bertanya demikian. Tapi ia juga tidak ingin mengatakan bahwa jawaban dari pertanyaan itu adalah "iya". Mulai dari temperamen Rayyan yang naik turun, atau dengan sikapnya yang tak seperti dahulu. Ia masih ingat bagaimana anak itu berdebat dengan Shan, dan berakhir dengan tamparan keras yang jatuh pada pipi tirusnya. Arnold benar, Rayyan kini sudah berubah.


Sedangkan di dapur, Nia tengah berbicara pada seorang dari telpon. Jujur saja berdebat dengan orang di sebrang sana sungguh melelahkan. Ia heran, bagaimana bisa ia menikah dengan sosok Abra yang dulu sering menjadi saingannya.


"Dia datang setelah sekian lama mengabaikan Rayyan. Dan sekarang, aku mau terima gitu aja?! Kamu jangan bercanda..." Nia meremat ujung bajunya. Kesal dengan laki-laki itu.


"Dia juga manusia, pasti bisa berbuat salah sama siapa saja. Kamu mau dia jadi ayah yang sempurna seperti malaikat?! Sekarang kamu tidur, nikmati mimpimu!"


"Bodoh!! Dia pernah memukuli anaknya dengan dalih yang nggak masuk akal!"


"Kita juga ninggalin Rion dalam waktu yang cukup lama."


"Itu berbeda!!"


"Itu sama saja. Kita nggak tau gimana Rion berkembang. Dia jadi manusia batu itu karena dirimu!"


"Mulutmu mau disumpal pakek kertas semen atau kertas nasi?!! Sekarang kamu malah nyalahin aku karena buat Rion jadi anak yang kaya kamu?!! Ini pasti gara-gara sikapmu yang nggak terlalu peduli..."


"Iya, untung saja dia mirip aku. Syukurnya nggak mirip kamu, kalau Rion mirip kamu pasti dia udah ada di kebun binatang. Pasti dia dikira gorila karena sering marah-marah kaya kamu!"


"Suami nggak tau diuntung!!"


"Iya, suami yang tampan dan mempesona, itulah aku! Dan soal Arnold, biarkan dia ketemu sama anaknya. Dia juga seorang ayah, ketika ia bilang rindu dengan terang-terangan kamu juga tau apa artinya. Toh, kalaupun aku ada di posisi dia aku juga bakal lakuin hal yang sama."


"Kamu yakin?!"

__ADS_1


"Iya yakin. Udah dulu,aku mau menikmati masa lajangku yang sementara, bye gorilaa!!!" Sambungan terputus. Meninggalkan sosok Nia yang membatu sambil berdesis kesal. Namun, beberapa saat kemudian ia tersenyum. Abra adalah seorangan yang dingin. Dia diktator yang handal, sukanya menyendiri. Jujur saja, dulu saat pertama kali Nia bertemu dengannya mereka langsung jadi musuh dalam beberapa menit. Abra yang terkenal sebagai anak famous, digilai banyak cewek di sekolah bertemu dengan Nia sebagai anak seorang pelatih karate yang emosional. Bersyukur saja, selama mereka menikah rumah mereka belum roboh karena pertengkaran keduanya.


"Dasar manusia batu!!" Lirihnya. Ia mencoba untuk merenungi apa yang Abra katakan. Ia tidak boleh egois. Mungkin saat ini, Ray butuh Arnold sebagai seorang ayah. Kemungkinan perubahan Ray juga terjadi karena ia tak memiliki kasih sayang seorang ayah yang dulu sempat ia harapkan.


...🥀🥀🥀...


"Kamu boleh melihat keadaan Rayyan, Arnold." Itu adalah kalimat yang Nia ucapkan kala ia sudah berada di hadapan Arnold dan Rion. Jelas saja Rion sedikit tidak terima dengan apa yang Nia katakan.


"Ma..." Nia menatap Rion dengan raut bingungnya.


"Mama kenapa bolehin om Arnold buat liat Ray?! Gimana kalau..."


"Rion...siapa yang ngajarin kamu kaya gitu?! Dia ayahnya Ray, dia berhak atas semua yang terjadi sama Ray. Dan juga satu lagi, jangan tidak sopan sama orang yang lebih tua." Kata Nia sedikit panjang. Rion bersedih, lantas memalingkan wajahnya dari sang mama. Menatap Arnold dengan raut tak suka. Dan hal itu berhasil membuat Nia mengeluarkan jurus andalannya ketika marah. Rion mendengus kesal, merasakan cenat cenut di kepalanya. Nia berhasil membuat Rion diam dengan menggampar kepalanya dengan kuat.


"Jadi boleh?!" Arnold bertanya kembali. Dan Nia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Sekalian, bujuk dia makan. Sejak tadi siang, dia nggak mau diganggu sama siapa-siapa. Takutnya maag nya kambuh lagi." Arnold hanya diam, kemudian mengambil nampan berisi semangkuk bubur di tangan Nia. Langkahnya semakin dekat dengan pintu kamar yang ia tuju.


Ceklek...


Suara gagang pintu kini makin mendominasi. Tidak ada suara yang terdengar ketika ia membuka pintu tersebut dengan lebar. Memperlihatkan seluruh isi kamar yang masih terlihat rapi. Kecuali selimut yang ada di atas ranjang.


"Dimana Ray?" Rion dan Nia ikut melirik kedalam kamar. Memastikan bahwa pertanyaan Arnol ada alasannya. Ray tidak ada di sana. Tapi yang Arnold lihat setelahnya adalah pintu kamar mandi yang terbuka.


"Mungkin dia di kamar mandi. Boleh aku menghampirinya?" Dan Nia kembali mengangguk. Arnold dengan perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Meletakkan nampan yang ia pegang di atas meja. Lantas kakinya kembali melangkah ke arah kamar mandi. Melihat apa yang anak itu sedang lakukan sekarang.


"Rayyan..." Suara itu lirih, namun berhasil membuat sang empu menoleh ke arahnya. Tidak ada rasa takut yang Arnold tangkap dari sorot matanya. Hanya rasa khawatir, dan kemudian menyembunyikan botol yang ia pegang tadi di balik tubuhnya.


"A-ayah..." Suaranya tersendat. Sedangkan Arnold menatap anaknya dengan wajah sendu bercampur khawatir.


"Ray, apa yang kamu telan, nak?! Itu obat apa?!" Suaranya terlampau lirih. Tapi Ray bisa dengan jelas mendengar suaranya.


"Ada apa?" Itu Rion, ia dengan Nia juga penasaran dengan apa yang terjadi. Melihat Raut wajah Arnold membuatnya sedikit gusar. Di sisi lain, Ray menatap ketiganya dengan risau. Tangannya bergetar, udara di sekitarnya seperti menjauh.


"Obat apa itu, Rion?! Kenapa banyak sekali yang harus dia telan?!!" Protes Arnold. Sedangkan Rion masih diam, mulai mengerutkan dahinya.


"Obat apa?! Obat yang dikasih dokter kemarin masih aku pegang, kenapa ada sama Ray?!" Ray masih diam. Tangannya terlihat bergetar. Ia tidak berani menatap Rion ataupun Arnold. Sedangkan Nia, dia masih mencoba untuk mengerti tentang apa yang terjadi saat ini.


Rion melangkahkan kakinya mendekati Ray. Remaja itu meremat botol yang ia pegang. Bahkan kini, kuku-kukunya mulai memutih.


"Apa yang lo sembunyiin?! Kasih ke gue!" Ray masih diam, ia menelan salivanya dengan susah payah. Rasa takutnya mulai membuncah. Ia menyembunyikan banyak rahasia, dan ini adalah salah satunya.


"KASIH KE GUE!!" Serunya dengan penekanan. Tapi Ray masih terdiam di tempatnya. Alhasil, karena kesabaran Rion mulai habis, dia menarik tangannya. Menampakkan botol kecil berisi butiran pil yang kini hampir habis. Rion segera mengambil botol itu. Merematnya hingga terdapat retakan di salah satu ujungnya.


"Ini obat apa?!"

__ADS_1


"I-itu..."


"GUE TANYA INI OBAT APA?!!" Suara Rion kembali terdengar tegas. Sorot matanya mulai menghakimi.


"ITU OBAT PENENANG!!!" Sahut Ray kemudian, kini remaja itu tak bisa mengelak. Ia semakin disudutkan. Dan ia tak menyukainya. Arnold masih diam, begitu pula dengan Nia. Anaknya memakai obat penenang untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Arnold memegang dadanya, apakah seperti ini rasanya sesak ketika melihat anak itu memilih jalan yang salah?!


"Kenapa lo gunain obat ini?!! Ini bisa ngerusak tubuh lo! LO SADAR NGGAK?!!" Ucap Rion sambil membanting botol yang ada di genggamannya. Membuat butiran pil kecil itu berserakan dimana-mana. Nia terkejut sambil menutup telinganya. Sedangkan Ray, ia juga terkejut. Tapi dengan alasan yang berbeda.


"Apa yang kamu lakuin, hah?!! Obat itu penting buat aku!! Aku nggak bisa tanpa obat itu, kamu tau nggak sih?!!" Katanya sambil memandangi lantai.


"Penting?! Penting kata lo?!! Pentingan mana kepercayaan gue sama obat itu?!! Lo udah bohongin kita semua dengan minum obat nggak guna kaya gini!"


"TAPI KAMU NGGAK TAU GIMANA RASANYA JADI AKU!!" Rion menahan emosinya. Berulang kali ia mendengar kalimat itu dari mulutnya. Dan kini, cukup. Sudah cukup dia mendengar banyak omong kosong dari Rayyan. Dia sudah berbaik hati tetap berada di sampingnya kala remaja itu mengalami masa sulit. Ia juga sudah rela mengorbankan banyak waktu dan tenaganya untuk Ray. Kemudian, inikah balasannya?!


PLAKK...


Suara tamparan keras itu membuat semua terdiam. Arnold dan Nia juga, Ray-pun juga sama. Arnold diam karena apa yang dikatakan Rion memang benar, ditambah ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan anak sulungnya dengan memakan obat berbahaya itu. Tapi yang Ray rasakan saat ini adalah panas bersama sakit yang menjalar melalui pipinya.


"Gue nggak tau karena lo yang emang nggak pernah jujur sama gue! Lo nggak pernah terbuka sama gue, sama yang lainnya! Gue nggak keberatan buat nyempetin waktu gue buat ngurus lo yang kaya anak kecil, tapi setidaknya lo bisa hargai apa yang gue lakuin. BUKAN MALAH MAU CEPET-CEPET MATI!"


"Sudah, Rion. Tenang dulu, kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin." Itu Arnold yang mencoba untuk menengahi. Bahkan kini, Nia tidak bisa mengatakan apapun.


"Kalaupun aku cerita, belum tentu itu bisa buat aku lepas dari semua masalah. Kamu nggak akan paham gimana rasanya, kamu nggak akan paham!!" Lirih Ray.


"Lo bener-bener...gue udah nggak bisa liat dimana Rayyan yang dulu. Lo bener soal gue yang nggak bisa buat lo lepas dari masalah. Dan seharusnya gue juga nggak sepeduli ini sama lo!" Katanya sambil melangkahkan kaki dari dari sana. Pergi meninggalkan ketiganya dalam sunyi. Keheningan ini semakin menyiksa Rayyan. Ia baru sadar dengan apa yang telah dia ucapkan. Dan sekarang sudah terlambat untuk menghentikan Rion yang sudah tak lagi terlihat punggungnya setelah gebrakan pintu yang cukup keras.


Kini ia tidak tau apa yang tengah terjadi padanya. Bahkan setelah ia meminum obat itu, sensasi aneh pada tubuhnya tidak hilang. Gelisah juga mulai berdatangan. Tangannya bergetar. Satu hal yang terlintas di kepalanya adalah, dia harus mengumpulkan obat itu. Dengan perlahan ia mengumpulkan satu-persatu pil tersebut. Ray tidak tau bagaimana pil ini bisa mengendalikan tubuhnya. Dia pikir, pil itu hanyalah sebuah obat penenang biasa. Tapi yang ia rasakan adalah candu yang membuatnya tenggelam semakin dalam.


Tubuh Ray menegang, ia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya ketika pelukan itu datang tanpa ia minta. Hangat. Jadi rasanya seperti ini dipeluk oleh ayah setelah sekian lama. Ray bisa merasakan Arnold menggenggam tangannya. Membiarkan obat-obatan itu terjatuh dari tangannya.


"Maaf...maaf...maaf..." Ucap Arnold berulang kali di telinga Rayyan. Sedangkan anak itu masih diam. Merasakan bagaimana pelukan ayahnya yang terasa sangat nyaman. Iya. Ini yang dia inginkan sejak sekian lama.


"Kamu nggak perlu menggunakan obat itu lagi. Ada ayah, kamu aman sama ayah..." Tidak terasa tetesan itu mulai turun dari manik kelamnya. Ray menangis, sejadi-jadinya. Mengeratkan pelukan pada Arnold, seakan tak ingin kembali kehilangan.


"Arnold, sebaiknya kita bawa Rayyan kerumah sakit." Ujar Nia tak kalah khawatir. Tapi Ray yang mendengarnya seakan kembali ditarik ke dalam dunia nyata. Tidak. Dia tidak mau ke rumah sakit. Tempat itu menakutkan.


"Nggak, Ray nggak mau ke rumah sakit. Ray nggak mau...!" Ray ingin melepaskan pelukannya. Ia ingin lari, atau bersembunyi dimana tidak ada yang bisa menemukannya. Seakan-akan rumah sakit adalah tempat yang akan menjemput nyawanya. Di sana dia akan berakhir. Berakhir menyedihkan seperti bundanya.


Arnold mengeratkan pelukannya. Membuat pergerakan Ray semakin minim. Remaja itu semakin memberontak ketika Nia terlihat menghubungi seseorang dari telponnya. Ia meminta bantuan pada orang rumah, di sini mereka terlalu panik. Tidak bisa berfikir dengan jernih, bagaimana langkah selanjutnya.


"Bunda, Ray nggak mau ke rumah sakit...hiks... Ray nggak mau mati, Ray masih mau di sini. Tolongin Ray bunda!!" Rancau Ray.


"Tenanglah, ayah di sini. Kamu nggak akan kenapa-kenapa. Tenang...!" Arnold membisikkan kata-kata penenang. Tapi tetap saja percuma. Bahkan kini Ray sudah lemas dalam pelukan Arnold. Walau mulutnya masih bersuara dengan lirih.


"Bunda, tolongi Ray...Ray nggak mau mati..." Lirih anak itu yang sudah kehilangan tenaganya.

__ADS_1


Bunda, Ray nggak mau mati kaya Rean. Ray nggak mau bernasib sama seperti kakek. Ray masih mau di sini...



__ADS_2