Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 30. Perhatian yang Tak Diinginkan


__ADS_3


Siang itu, Karen datang dengan Dinan dan Septian. Diiringi dengan debar jantung setiap orang. Rayyan menjelaskan apa yang terjadi dengannya hingga ia bisa tertekan sedemikian rupa. Nia hanya bisa memegang tangan remaja itu agar ia tetap bisa melanjutkan kalimat selanjutnya. Membuatnya untuk kembali percaya dengan ayah dan paman-pamannya. Agar bisa membuat tindak lanjut yang tepat. Tentang dirinya yang telah dihajar oleh orang asing di apartemen, menyuruhnya untuk meminum minuman pahit dan juga puluhan pil putih. Tentang kematian Rean dan juga kakeknya. Ia tau dari pesan-pesan teror yang Sasha kirimkan padanya. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti kemauan wanita itu. Hal ini ia lakukan demi keselamatan saudara-saudaranya yang lain.


"Terima kasih telah mengatakannya, kamu bisa istirahat di sini dengan tenang. Soal yang lain, om pastikan mereka aman sekarang!" Kata Karen sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan. Setelah ia mendengar apa yang Ray jelaskan, ia sudah tau harus melakukan apa. Ia harus bertindak cepat, sebelum Sasha membuat pergerakan lain lagi.


"Mereka akan baik-baik saja kan, yah?!" Arnold mengangguk.


"Mereka akan baik-baik saja, serahkan sama dia! Dulu dia pernah jadi kandidat polisi, tapi gagal karena kurang tinggi!" Katanya sambil menunjuk Karen yang sudah tak dapat ia lihat kembali punggungnya. Ray mengulas senyum.


"Lakukan yang terbaik!" Arnold mengangguk. Begitupula dengan Dinan dan Septian. Mereka salah menganggap anak di  adalah sebuah beban. Nyatanya, remaja ringkih itu berusaha mati-matian melindungi saudaranya yang lain walau tau apa yang ia perbuat bisa berakibat fatal di tubuhnya.


"Jaga tubuhmu Rayyan! Sudah cukup kamu korbankan tubuhmu untuk saudara-saudaramu yang lain!" Ray hanya tersenyum ketika mendengarnya dari mulut Septian. Ia tidak begitu akrab dengan om-nya yang satu ini. Septian yang enggan bicara dengannya.


"Semuanya akan berakhir. Terima kasih, Rayyan!"


...🍀🍀🍀...


Di rumah. Terasa sepi karena hampir semua orang tengah berada di luar. Di dalam, tidak ada suara anak kecil yang biasanya terdengar di rumah orang normal yang memiliki anak balita. Ren cukup paham bagaimana permasalahan keluarga mereka yang kian memuncak, walau ia sendiri masih terbilang cukup muda. Ren tau bahwa papa dan mamanya punya masalah, karena itu mereka tidak pernah terlihat bersama. Ia juga tau masalah kakaknya, Rayyan. Mendengar bagaimana Ray berteriak seolah dia melakukan hal yang benar, dan juga Shan yang tak mau terima. Berakhir dengan pertengkaran keduanya yang bisa Ren dengar dengan jelas waktu itu.


Dia takut. Dia sangat takut akan kehilangan lagi. Ia tak takut kehilangan Sasha, walaupun ia tau dia ibu kandungnya. Tapi kalau soal Shan dan kakaknya yang lain. Jangan tanyakan. Mereka yang merawat Ren selama ini, menjaganya, mengurusnya. Bahkan ketika ia merasa dunia tak memihaknya, ada saudaranya yang lain untuk menghibur. Tidak ada Sasha. Tidak ada mama. Sasha sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Mungkin saja, perempuan itu lupa kalau punya anak bernama Renand.


"Ren, ayo makan! Kamu di mana?!" Lamunannya terhenti. Kala mendengar suara Shan memanggilnya. Ren keluar dari kamarnya, berlari ke arah Shan.


Hap...


Shan menangkap tubuh kecil itu pada tangannya. Tidak sulit untuk mengangkat tubuh Ren. Melihat anak itu tumbuh, ia jadi ingat dengan Ray. Ray itu kecil, lengannya seperti sapu lidi waktu mereka masih SD. Sering di ejek anak-anak lain, dan berbuah ia menangis seorang diri dalam kamarnya ketika sampai rumah.


"Kak San, aku mau ketemu kak Lay lagi!" Shan melangkahkan kakinya menuju meja makan. Menggendong Ren dalam gendongannya.


"Ha?! Tapi kemarin kan udah liat kak Ray, masa sekarang ke sana lagi?!" Terlihat wajah kecewa Ren akan jawaban Shan.


"Tapi, kan Len kemalin belum ngoblol sama kak Lay!"


"Kak Ray lagi nggak bisa di ajak ngomong. Nanti aja ngomongnya kalau kak Ray udah tenang ya?!"


"Tapi Len mau sekalang!"


Brakk...


Pintu terbuka dengan lebar kala Shan dan Ren melintas tak jauh darinya. Ada banyak pertanyaan di benak Shan. Ren juga nampak terkejut dengan kedatangan Karen yang tiba-tiba. Melakukan hal yang tak terduga bak seorang penjahat yang siap merampok apa saja.


"Om Karen kenapa sih?!" Tak hanya Karen yang ia lihat. Tapi juga belasan orang berbaju hitam di belakangnya. Sebenarnya ada apa ini?!


"Di mana yang lain?"


"E-eh...mereka di luar. Kenapa sih om?!" Shan bisa dengan jelas mendengar Karen mengumpat. Lantas ia beralih pada orang-orang di belakangnya. Menyuruh mereka untuk berjaga di sekitar rumah.


"Cepat hubungi mereka, cepat suruh mereka pulang segera!! Ini darurat!" Shan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Kak...Len takut...!" Kata anak kecil di gendongannya yang sudah menyembunyikan wajah di dalam ceruk leher milik sang kakak.


"Om, ini sebenernya ada apa?!" Karen menatap Shan dengan tatapan khawatir. Dan ia membisikkan nama itu dengan lirih, tapi entah bagaimana Shan bisa tau apa yang tengah terjadi. Setelah Karen menyebut nama itu


"Sasha..."


...☘️☘️☘️...


Ray menatap bingung dengan orang-orang yang berlalu lalang di dekatnya. Bahkan kini Nia terlihat khawatir. Bukan hanya Arnold, Ferdinan dan Septian yang kelimpungan menghubungi anak-anak mereka. Sean sedang di rumah temannya. Syukurlah Dinan berhasil menghubunginya tanpa ada kendala. Dia tak mungkin menyuruhnya untuk pulang seorang diri. Ia menyuruh Sean untuk menunggu orang-orang suruhannya. Dan sekarang Sean sudah ada di rumah, bersama dengan Shan dan Ren. Di sisi lain Karel, Kensie dan Sam tengah berada di kafe di dekat rumah. Tidak butuh waktu yang lama untuk menghubungi mereka, hanya saja terdengar suara keberatan dari Sam yang tengah menikmati masa liburnya. Setelah lelah dengan berbagai hal yang terjadi dalam waktu yang singkat, mereka juga butuh jeda untuk menghalau lara yang mereka rasa.


Kini, mereka tak main-main. Karen dengan jelas tengah membuat bendera perang terhadap Sasha. Ia sudah melaporkan hal ini ke kepolisian. Ia hanya tidak bisa menunggu tindak lanjut dari mereka. Tidak ada yang bisa di lakukan jika mereka juga punya bukti yang sangat minim. Rayyan adalah kuncinya. Di sana ada ponsel yang sudah retak bagian layarnya, karena Ray yang menahan emosi saat di kamar kala itu. Jangan salahkan siapapun, ia hanya tidak bisa menerima hal ini Sasha lakukan semata untuk membuat dirinya terluka lebih dalam dari yang seharusnya. Untung saja, alat persegi itu tak rusak sepenuhnya. Mereka masih bisa melihat bukti berupa pesan-pesan teror yang Sasha kirimkan. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat perempuan itu mendekam di penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana.


Ray bisa dengan jelas mendengar keributan di luar sana. Ia tau apa yang mereka ributkan hingga membuat suara bising yang membuatnya tak bisa istirahat dengan tenang.


Rion.


Anak itu tak bisa di hubungi sejak tadi pagi. Nia yang mengatakan sendiri. Ternyata anak itu tak pulang ke apartemen setelah pergi malam tadi. Tidak juga pulang ke rumah utama, karena Shan juga tak menemui kehadirannya di dalam sana. Lantas, kemana remaja itu pergi?!


Ia tak punya teman yang cukup akrab untuk jadi tempat pulang ke tiga selain rumah dan apartemen. Dia ada di mana?!


Kekhawatiran itu semakin memuncak ketika nomornya tidak aktif ketika banyak orang mencoba untuk menghubunginya. Ray juga khawatir, ia tak bisa tidur dengan tenang kalau saat ini ia belum bisa mendapatkan kabar yang jelas tentang keadaan Rion. Karen mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari remaja itu. Tapi siapa sangka, butuh waktu lebih lama untuk mendapat informasi tentangnya. Bahkan sampai saat ini, tidak ada yang tau Rion di mana.


Sempat terpikir olehnya untuk pergi secara diam-diam, dan mencari keberadaannya seorang diri. Jika ijin kepada Arnold, pasti tidak akan di bolehkan. Jangankan pergi keluar, ke kamar mandi saja Arnold teriak-teriak macam tukang sayur yang jualan di kompleks dekat rumah. Tapi, ia sempat punya firasat yang buruk. Namun pada akhirnya, dia beranjak dari tempatnya. Jujur ia bingung bagaimana melepas jarum infus di punggung tangannya. Ia bisa merasakan rasa ngilu itu ketika ia mencabut jarumnya dengan paksa. Membuat darah itu menetes ke atas lantai. Sayangnya, ia tak bisa merasakan sakit itu. Ia hanya mengusapnya dengan baju rumah sakit yang ia kenakan. Ketika dirasa sudah tidak kembali keluar ia beranjak, mencari baju ganti untuk ia keluar sebentar lagi.


Ia sudah siap. Baju rumah sakit itu juga sudah terlipat dengan rapi. Dengan berbekal ponsel yang sudah retak layarnya, ia pergi diam-diam dari sana. Lewat jendela di dekat ranjangnya yang berhubungan langsung dengan pintu keluar. Lagi-lagi, walau dengan banyak bawahan yang berjaga di dekat rumah sakit. Tetap saja, Ray bisa dengan mudah keluar dari gedung itu.


Langit kini berubah menjadi merah. Ini adalah senja yang indah. Ini jarang terjadi ketika hari biasa. Dan semoga saja, hari ini tidak terjadi apa-apa dengan Ray yang berjalan di pinggir jalan sambil mencoba untuk menghubungi Rion. Berharap anak itu menjawab panggilannya. Tapi tetap saja hasilnya nihil.


...☘️☘️☘️...


Rion tidak atau apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Siang tadi, ia sudah berpamitan dengan Erik. Berterima kasih banyak-banyak pada sosok kakak kelasnya itu. Ia sendiri mendapat banyak ceramah dari Erik yang sebenarnya tidak tau apa permasalahan Rion dengan keluarganya sendiri. Tapi yang jelas, keluarga adalah rumah ternyaman yang dimiliki oleh seseorang. Erik sendiri juga merasa seperti itu. Ia rindu kampung halamannya. Ia rindu kakaknya. Sudah berbagai jurus Erik keluarkan untuk membuat anak itu sadar dengan apa yang ia lakukan. Lari dari masalah tidak akan membuat hal ini selesai begitu saja. Kadang tanpa ia sadari, masalah itu membesar tanpa ia tau apa penyebabnya.


Dan akhirnya, sudah pukul 4 sore ia berpamitan pada Erik. Kemudian tak langsung pulang, ia menyendiri di sebuah kafe yang terlihat sangat sepi. Ia lebih suka di sana, jujur saat ini ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi keras kepalanya seorang Rayyan. Apa benar ia tak tau apa-apa?!


Tapi, bukankah itu salahnya sendiri. Ia tak bilang apapun terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Jelas saja, Rion bukanlah peramal yang bisa tau tanpa ada yang menceritakan padanya. Ia juga bukan manusia abnormal yang bisa membaca pikiran manusia. Ia hanya remaja biasa yang tidak mendapat perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan sejak kepulangan mamanya, Nia hanya peduli dengan Ray. Ia juga tidak mendapat ucapan semangat dari papanya ketika ia akan bertanding basket atau menghadapi ujian.


Ia hanya ingin jadi seperti remaja biasa.


Rion terlalu dalam ketika berfikir lebih jauh dari masalahnya. Ia mencoba untuk membuka ponselnya. Ia terkejut ketika mendapat ratusan notifikasi, banyak orang menelponnya sejak pagi. Ketika ia baru menghilang saja, sudah banyak yang mencari. Sebelumnya, bahkan ia tak dipedulikan siapa-siapa.


Ponselnya kemudian berbunyi dengan lantang. Membuat beberapa pelayan kafe menoleh ke arahnya, sebelum melanjutkan aktivitas mereka kembali. Dia tahu untuk mengangkat telpon itu. Jika saja, ini bukan Ray mungkin ia akan segera mengangkatnya tanpa ambil pusing. Tapi ini adalah Ray, remaja yang tadi malam baru saja bertengkar dengannya.


"Halo..."


"Yaa!! Di mana sekarang, hah?!! Tidak tau bagaimana kami khawatir menghubungi mu?!!" Suara itu terdengar familiar. Ia sudah lupa, sejak kapan Ray mengomeli dirinya seperti ini. Rion ingin kembali merasakan bagaimana jika remaja itu tetap jadi dirinya sendiri. Tetap jadi seorang Rayyan yang cerewet dan banyak tingkah. Dia ingin tetap seperti itu. Tapi sekali lagi, ia ingin egois kali ini.


"Kenapa?! Baru ngerasa kehilangan?!" Suaranya sedikit bergetar ketika mengatakannya. Apa yang selanjutnya akan Ray katakan, ia tak tau.


"Hah?!!" Tidak sesuai dengan apa yang ia perkirakan. Nyatanya, Ray masih belum sadar dengan apa yang telah Rion katakan dengan lantang.

__ADS_1


"Banyak yang perhatian tanpa lo minta, semua orang juga perhatian sama lo. Dan gue rasa, lo udah nggak butuh gue lagi di sana." Nampaknya, Remaja di sebrang sana sudah mulai paham akan pembicaraan ini. Tapi Ray hanya ingin memastikan, bahwa apa yang ada di dalam pikirannya tidaklah benar.


"Maksudnya?!"


"Lo udah ambil semuanya! Gue cuma minta satu sama lo, lo nurut sama gue. Tapi sayangnya kepala lo terlalu keras buat ngerti apa yang gue maksud. Sekarang, terserah li mau apa. Gue nggak akan paksa lo buat nurut sama apa yang gue suruh." Rion mengatakannya dengan lantang. Ia sedikit ragu dengan apa yang ia katakan. Ray masihlah saudaranya yang butuh sandaran. Tapi, Rion juga butuh. Ia butuh seseorang untuk mengerti tentang apa ia bicara saat ini. Ia hanya lelah.


"Maaf, aku salah. Aku janji bakal cerita semua—"


"Maaf, sekarang lo nggak perlu cerita ke gue! Gue udah capek ngadepin lo. Selama ini gue yakin kalau lo itu percaya sama gue. Tapi nyatanya, lo masih nggak percaya gue bisa buat hidup lo lebih baik. Dan milih buat minum obat-obatan terlarang itu."


"Aku salah, maaf. Tapi—" Nampaknya, Rion sudah tak ingin mendengar suaranya lagi. Padahal beberapa waktu yang lalu ia sudah seperti pahlawan yang akan menyelamatkan saudaranya yang lain. Tapi kini, ia seperti di hempaskan dari ketinggian. Berusaha untuk meraup oksigen sebanyak yang ia bisa kala Rion kembali memenggal kalimatnya.


"Gue nggak butuh maaf lo! Sekarang lo bisa lakuin apa aja, gue udah nggak mau lagi berhubungan sama lo!"


"Rion, please dengerin aku kali ini—"


"Oke, silahkan!"


"Aku minta maaf buat semuanya. Aku tau, kamu juga keberatan aku ada di tengah-tengah kehidupan kalian. Aku juga sadar sudah dari dulu, aku ini ngrepotin semua orang. Jujur waktu aku kehilangan bunda, aku sudah bukan Rayyan lagi. Dan terima kasih buat waktu yang kamu buang untuk menemaniku ketika hari-hari sulit..." Rion masih diam. Mencerna setiap kalimat yang Ray katakan.


"Dan untuk banyak waktu setelahnya. Terima kasih banyak..." Kalimatnya menggantung. Tangan Rion bergetar hebat, baru saja mendengar kalimat itu dari seorang Ray yang dari dulu ia lindungi setengah mati. Tapi sekarang, seolah-olah dia yang menyuruhnya untuk cepat mati.


"Cepet, gue nggak ada waktu lagi!" Ia merasa bersalah. Rion mengatakannya, tapi hatinya tak bisa berbohong lagi setelahnya.


"Kamu denger suaraku, kan?! Pokoknya di manapun kamu berada, kamu harus tetap aman di sana. Aku mau kamu bahagia sama seperti saat kamu menemaniku waktu aku terpuruk. Aku cuma mau bilang, mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan, jaga pola makan sama pola tidur. Kamu dulu sering marah-marah kalau aku tidur kemaleman, sekarang aku yang marah kalau kamu juga lakuin hal yang sama."


"Oh, iya. Sekarang kamu juga harus buka hati buat berteman sama orang lain. Jangan jadi manuisa batu terus!"


"Aku...aku beruntung punya saudara sepertimu. Maaf aku nggak bisa jadi kakak walau umur kita terpaut dua bulan."


"Aku bangga—"


BRUAKKK....


Suara dentuman keras yang membuat sambungan itu terputus, dan juga telinga Rion yang berdering. Ponselnya terjatuh. Membuat suara bising yang mungkin orang-orang di dekatnya akan merasa terganggu. Ia cukup tau suara apa yang terjadi di sebrang sana. Tapi tubuhnya berasa kaku, haruskah ia lari dari sana sekarang juga. Ia yakin Ray tidak baik-baik saja. Tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya terlihat memutih. Ray tidak baik-baik saja.


...☘️☘️☘️...


Ini sudah hampir isya' tapi remaja itu masih betah berjalan di pinggir jalan bak seorang yang kehilangan arah. Ray berseru kedinginan, ia tak membawa uang untuknya membeli makanan. Bahkan ia tak kepikiran hingga sana. Langkahnya terhenti, sebenarnya ia sudah merasa ada yang aneh dengan mobil hitam yang berada jauh di belakangnya. Sejauh ia melangkah, Ray yakin setelahnya ia bisa melihat mobil itu jauh di belakang sana.


Ia dibuntuti.


Tapi kini, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa melihat sorot lampu mobil itu yang kian mendekat. Ia berlari sekencang yang ia bisa agar terhindar dari mobil hitam yang mengikutinya. Sudah cukup jauh ia dari belokan sebuah gang kecil. Dan kembali berjalan di pinggir jalan raya. Menghindari kejadian di luar perkiraannya.


Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini adalah menghubungi Rion kembali. Berharap remaja itu mengangkat panggilan darinya.


"Halo..." Ray bisa bernafas lega ketika mendengar suara itu. Ia ingin bicara tentang Sasha yang akan menjadi ancaman bagi mereka. Tapi, kalimatnya selalu terpotong oleh suara Rion yang menusuk telinganya. Dia tak bisa mengatakan apa-apa. Nampaknya, Rion memang sudah tidak membutuhkan kehadiran Ray lebih lama. Terdengar dari suara tajamnya yang membuat Ray semakin merasa jadi seorang parasit. Sebelum tabrakan itu terjadi. Dan membuat kesadarannya hilang dalam beberapa waktu setelahnya.


__ADS_1


__ADS_2