
Matahari sudah menunjukkan sinarnya. Tapi, udara dingin kala itu membuat beberapa orang tetap berada di dalam rumah dengan selimut hangatnya. Begitu pula sosok gagah yang kini masih berada di balik selimut. Arnold, ia memilih untuk tetap berada pada tempatnya walau ia tahu kini sudah waktunya untuk bersiap untuk kerja. Pekerjaan semakin bertambah ketika ada tuduhan bahwa ayahnya meninggal bukan karena penyakit yang diderita. Ia semakin pusing memikirkan hal itu, bersamaan dengan istrinya yang tak pernah pulang sejak beberapa hari yang lalu. Meninggalkan Renand yang sudah mulai terbiasa tanpa adanya kehadiran Sasha.
Kali ini ia tak akan ambil pusing. Biarlah perempuan itu melakukan apa yang ia inginkan, selagi ia masih bisa. Mungkin saja, besok atau seterusnya Arnold akan bertindak kejam seperti ia memperlakukan Rayyan.
Arnold mendengus pelan ketika ia merasakan pergerakan di bawah selimut yang menutupi tubuhnya. Pergerakan dari anak kecil yang sudah bisa ia tebak siapa. Sosok kecil yang hampir genap lima tahun ini menjadi pelengkap dalam keluarganya yang memang tidak sempurna. Renand. Anak itu masuk ke dalam selimut kemudian dengan lucunya memeluk lengan sang ayah. Arnold tersenyum tipis ketika merasa geli dengan apa yang Ren lakukan. Bagaimanapun, ia tetaplah seorang ayah. Ia juga akan merasa bahagia melihat putranya berlaku demikian padanya.
Dan mungkin...Ray juga perlu kasih sayangnya.
Ia pura-pura menutup matanya ketika kepala Ren menyembul dari balik selimut. Kemudian dengan perlahan mengguncang lengannya.
"Papa...papa bangun dong..." Suaranya terdengar serak. Ia tahu anak itu baru saja bangun dari tidurnya.
"Papa..." Kini Arnold memilih untuk membuka matanya. Kemudian bersitatap dengan maniknya dengan jarak 30 cm.
"Kamu ngapain, hmm?!" Ren mengerjapkan matanya.
"Bangunin papa, kan udah siang. Masa papa gak mau kelja!" Arnold terkekeh mendengar suara menggemaskan anaknya.
"Papa berangkat agak siang, emangnya kenapa?! Kamu mau apa?!" Ren memeluk lengan papanya dengan kuat.
"Len mau pelgi sama kak San."
"Hmm, mau pergi ke mana emangnya?!"
"Len mau pelgi ke tempat kak Lay!" Arnold mengernyitkan keningnya. Lay siapa yang dia maksud?!
"Maksud Ren siapa?!" Ren mendengus kesal.
"Kak Lay, masa papa gak tau sama anaknya sendili! Kata kak San, kak Lay sakit. Len mau jenguk kakak!" Katanya. Dan kali ini membuat Arnold tersenyum tipis. Ia sudah lama sekali tidak mendengar kabar Ray. Ia tak pernah berfikir anak itu bisa sakit lagi setelah ia melihatnya terkapar tak berdaya di brangkar rumah sakit waktu itu.
"Emangnya, kak Ray sakit apa?"
"Len gak tau."
"Jangan sekarang ya..."
"Kenapa?! Papa gak sayang sama kak Lay? Papa gak mau liat kak Lay? Kakak sakit, pa... Len mau ketemu sama kakak!" Arnold menghela nafasnya. Anaknya yang satu ini bisa saja membuat dirinya membatu dengan segala pertanyaannya.
Dia mirip kakaknya...
"Oke, Ren boleh liat kak Ray. Asalkan Ren nurut sama kak Shan ya?! Terus nanti, pulangnya jangan sore-sore. Paham?" Ren berbinar.
"Ayay kapten!" Katanya sambil menunjukkan sikap hormat. Perlahan dia bangun dari tempat tidurnya. Kemudian menggendong Ren untuk diberikan kepada pembantu. Ini sudah waktunya mandi. Namun, ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu, yang ia dapati adalah Shan yang tengah menunggu di depan pintu.
"Shan, mau apa?!" Shan tidak buru-buru menjawab. Beberapa detik berlalu, Shan masih menatap manik legam itu.
"Shan nunggu Renand, ini waktunya buat dia mandi."
"Kenapa gak suruh..."
"KAK SAAAAN!" Seru Ren yang kini meronta ingin digendong Shan. Ia meraih dua tangan kecil itu ke dalam gendongannya.
"Ren nggak mau mandi sama mereka, maunya sama Shan!" Kata Shan yang kini sudah mengambil alih Gendingan Ren.
"Btw, nanti Shan mau ajak Ren ke tempat Rayyan. Boleh, kan?!" Arnold mengangguk.
"Asal nggak pulang sore-sore, om bolehin." Shan mengangguk. Kemudian beranjak pergi dari hadapan Arnold tanpa mengatakan apapun.
"Em, Shan..." Panggil Arnold mendadak. Dan berhasil membuat langkah Shan terhenti.
"Ray sakit apa?" Shan diam sesaat.
"Nggak tau, yang jelas dia sedang tidak baik-baik saja asal om tau. Mungkin aja, kali ini dia bener-bener butuh om!"
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Pagi ini, terasa sangat ramai ketika Erik berjalan di trotoar. Kendaraan bermotor mulai padat dan membuat jalanan macet total. Dia merasa jalan kaki adalah solusi terbaik untuk permasalahan ini.
"Denger gue nggak?!" Erik menghela nafasnya. Orang di sebrang telpon ini sangat cerewet. Kalau saja bisa, ia akan menutup telepon kalau saja orang ini tidak menerornya setiap malam.
"Iya gue denger. Gue nggak dapat kabar lagi sejak kakeknya meninggal. Dia keliatan kaya baik-baik aja di depan semua orang, tapi pernah gue pergokin beberapa kali dia suka ngelamun di toilet. Udah itu aja!" Ia mendengar helaan nafas dari dalam ponselnya.
"Lo emang nggak bisa cari tau gimana kondisinya sekarang ya?!"
"Bang, gue cuma bocah. Lulus SMA aja belum. Lo mau dapet apa dari gue?! Gue nggak tau dia tinggal di mana. Yang jelas dia nggak tinggal lagi di rumah utama keluarga Chandra. Udah ya?! Gue mau kerja, kalau mau info lebih lanjut lo cari sendiri aja!" Katanya sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah restoran.
"Inget ya, dia penting buat kita. Awas aja kalau dia kenapa-kenapa, lo yang gue...potong!" Suaranya tersendat di bagian akhir.
"Hah, kejam amat lo jadi Abang. Masa adek sendiri mau dipotong!"
"Maksud gue, uang jajan lo bakal Abang potong!"
"Terus gue mau gimana, bang?! Serius, gue nggak akrab sama sodaranya yang lain. Sedangkan, mereka overprotektif banget sama Ray. Ngomong sama gue aja, mungkin mereka nggak bakal bolehin!"
"It's okay. Lo nggak perlu masuk terlalu jauh. Biarin mereka ambil tugasnya buat jaga Ray. Kalau mereka udah nggak bisa jaga..." Kalimatnya sedikit menggantung.
"Ray berhak punya keluarga yang lebih baik daripada mereka." Sambungan terputus. Menyisakan Erik yang kini menatap kosong ke arah restoran di hadapannya. Sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk, melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan.
...💮💮💮...
Dari kejauhan Sean dapat melihat seorang remaja yang menggendong anak balita memasuki pekarangan. Ada helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Tak lama, ia mendengar seorang mengetuk pintu. Dan ia melangkah untuk membukakan pintu.
"Kak Sewaan!" Seru anak kecil di gendongan Shan. Yang kini merentangkan tangannya, ingin beralih ke gendongan Sean. Sean hanya tersenyum pada anak kecil itu sambil meraih tubuhnya.
"Heh, Renand kalau panggil kakak yang bener. Sean, s-e-a-n. Sean. Bukan Sewan." Sungut Sean. Anak itu hanya terkekeh sambil menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejek. Tapi buru-buru Ren menyunggingkan senyum dan membungkukkan tubuhnya ke depan untuk minta maaf. Itu ia lakukan setelah mendapat tatapan tajam dari Shan.
Beberapa pertanyaan ringan Sean lontarkan pada kakaknya itu. Dan Shan hanya menjawab apa adanya. Ia juga tidak ingin banyak bicara, mengingat adiknya itu juga tidak banyak cakap. Suasana sepi. Tidak seperti dulu mereka berkumpul dan bercanda bersama di sini. Kemudian saling menertawakan kekocakan masing-masing. Sebenarnya Shan sangat rindu hari itu.
"Tante Nia mana?" Sean hanya menunjuk ke arah dapur.
"Terus yang lain?! Rion? Kensie, Karel, sama Sam?!" Dapat dengan jelas Shan dengarkan helaan nafas dari Sean. Tapi ia belum tau kenapa dia melakukannya.
"Rion ada, yang lain keluar."
"Hmm, sedikit. Ray agak berbeda, entah cuma gue yang ngerasa gitu, atau yang lain juga. Tapi yang jelas, temperamen-nya sedang gak bagus!"
"Kak Sewaaan, Len mau ketemu sama kakak..." Kata Ren sambil menggoyang-goyangkan Sean.
"Em, Ren...kak Shan mau liat kak Ray dulu. Nanti kalau kak Ray istirahat, Ren jenguknya nanti aja ya?" Ren memperlihatkan raut kecewanya. Tapi beberapa saat kemudian ia mengangguk pasrah. Shan melangkah ke dalam kamar Ray, sedangkan Sean membawa Renand menemui Rion dan Nia yang sedang di dapur.
Shan menatap Ray yang tengah duduk di balkon kamarnya. Ada sedikit rasa tenang ketika melihat tubuh kurus itu sedang duduk dengan wajah yang terlihat damai.
"Lo nggak apa-apa?!" Shan mulai duduk di sampingnya. Ray tidak bergeming, ia masih tetap pada tempatnya. Bahkan pandangannya tidak memperhatikan kedatangan Shan.
"Emangnya aku kenapa?!" Kini pertanyaan itu kembali pada Shan. Gaya bicaranya sedikit berubah, tapi Shan tidak keberatan. Ia sudah hafal bagaimana Ray bicara sesuka hatinya.
"Lo nggak makan dengan benar. Liat itu baju tambah gede aja lo yang pakek!"
"Aku makan banyak. Enam kali sehari selalu dipaksa buat makan, padahal udah kenyang tapi mereka tetap aja maksa!"
"Lo tau nggak kita semua khawatir sama lo?!" Ray hanya berdeham.
"Mereka nggak akan maksa buat makan kalau lo juga bisa perhatiin apa yang tubuh lo butuhin!"
"Ini tubuhku, aku yang paling tau apa yang aku butuhin sama yang aku nggak butuh."
"Lo sekarang jadi bawel ya?!"
"Aku emang gini dari dulu, nggak ada berubahnya." Shan hanya menghela nafasnya.
"Lo harus ke rumah sakit!" Dan kalimat Shan barusan membuat Ray membelalakkan matanya.
"Aku nggak mau!"
__ADS_1
"Lo harus cek kesehatan. Biar kita tau apa yang lo butuhin sekarang."
"Aku bilang nggak mau, jangan maksa kenapa sih?! Aku yang paling tau gimana keadaan tubuhku." Kini Shan sudah kehilangan kesabarannya. Bahkan tatapannya kini semakin tajam, kala Ray juga menatapnya tanpa ada rasa ragu. Harusnya Ray tau, ini untuk kebaikannya sendiri.
BRAKKK...
Shan memukul meja, semakin lama ia juga semakin geram dengan tingkah kekanakan yang Ray tunjukkan. Matanya menatap tajam. Bersiap untuk melontarkan kalimat selanjutnya.
"Lo tau nggak?! Tante Nia, Rion sama yang lain bela-belain tinggal di sini buat lo. Dan lo yang nggak tau gimana perasaan mereka. Lo tau nggak mereka khawatir banget gara-gara lo, mereka itu juga manusia. Kadang nggak bisa terus sabar ngadepin tingkah lo yang kaya anak-anak!" Dan kini Ray juga ikut berdiri. Matanya tak lepas dari manik Shan yang juga tersulut emosi.
"Kak Shan juga nggak tau gimana rasanya jadi Ray. Kakak nggak tau...!" Serunya.
"Gue nggak minta apa-apa sama lo, gue cuma minta lo buat cek kesehatan di rumah sakit. Itu buat kepentingan lo sendiri!"
"Aku nggak butuh!! Aku nggak kenapa-kenapa, kenapa harus ke..."
PLAKK...
Satu tamparan keras mendarat di pipi tirus Ray. Kini anak itu hanya diam sambil meraba pipinya yang terasa panas. Ada rasa perih yang ia rasa, tapi bukan di pipinya. Tapi hatinya.
"Please, nurut sama kakak lo! Gue nggak bakal lakuin ini kalau lo juga bisa di atur!" Ray masih terdiam.
"Semua sama aja. Kalian itu sama aja, ayah, tante Sasha, sama kalian itu sama aja. Kalau aku nggak nurut, aku bakal dapat imbasnya. Kakak nggak pernah tau kan, rasanya dipukul?! Ditampar?! Karena itu kakak nggak pernah tau gimana rasanya jadi Rayyan." Setelah mengucapkan hal itu, Shan merasa bersalah. Seharusnya ia tak melewati batas.
"Kenapa aku harus nurut sama kalian?!! Kenapa aku harus jadi seperti yang kalian mau?!!"
"Nggak, maksud gue..."
"Kakak nggak tau apa-apa soal Ray..." Ray mulai beranjak dari tempatnya. Menuju ranjang adalah tujuannya, kemudian ia berbaring dengan membalutkan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dari sana Shan tau Ray tengah menangis karena perlakuan kasarnya. Ia meringkuk, dan terlihat dengan jelas getaran di tubuhnya menandakan bahwa ia tengah menangis.
Shan tidak bisa melakukan apa-apa. Langkahnya terhenti ketika melihat Rion dan Nia di depan pintu. Menunjukkan tau khawatirnya.
"Kakak berantem?" Rion menatap Shan dengan penuh harap. Dia berharap keadaan Ray semakin membaik, bukan malah seperti ini.
"Maaf, tadi gue kelepasan. Kadang dia juga butuh diberi penegasan!" Kata Shan lirih.
"Tapi dia tetep nggak mau ke rumah sakit. Kalau tante datengin dokter kaya yang sebelum-sebelumnya, kita nggak tau persis sama apa yang terjadi sama Ray." Nia menambahkan. Sebenarnya ia setuju untuk membujuk Ray lebih keras untuk pergi ke rumah sakit. Pasalnya, anak itu makin hari makin mengkhawatirkan.
"Kemarin kata dokter, Ray kenapa?!"
"Katanya cuma kelelahan sama banyak pikiran. Tapi dokternya juga bilang kalau seharusnya, Ray dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut."
"Kak Shan..." Suara Sean terdengar lirih. Seketika semua pasang mata menatap ke arah Sean yang tengah menggendong Renand. Anak itu menyembunyikan wajahnya pada cetuk leher Sean. Ia terlihat takut untuk menatap semua orang. Mungkin saja suara pertengkaran antara Shan dengan Sean bisa ia dengar dengan jelas.
"Kak Sewaan...Len takut..." Lirihnya.
"Renand...!" Panggil Shan, tapi anak itu tidak juga menunjukkan wajahnya.
"Kak San jangan malah sama kak Lay... Kak Lay jadi nangis , 'kan? Len juga takut..."
...☘️☘️☘️...
Sudah pukul delapan malam. Dan laki-laki itu masih tetap berada di depan pintu masuk apartemen. Ia sedikit ragu untuk masuk kedalam. Bisa saja Ray menolak keberadaannya, atau mungkin saja Nia dan Rion juga akan mengusirnya. Tapi ada setitik rasa perih kala ia mengingat nama Rayyan. Anak itu tidak tau apa-apa. Rayyan pernah jadi permata yang paling berharga bagi Arnold. Saat ia kecil, anak itu begitu menggemaskan dan bahkan punya ruang paling besar dalam relung hatinya. Namun karena kesalahannya, Rayyan berangsur-angsur menjadi orang lain. Dan jika mencari orang yang bertanggung jawab, Arnold lah orangnya.
Ia berada di sana dalam waktu yang lama. Karena rasa khawatir akan ditolak oleh Rayyan, dan juga hal lain. Tiga puluh menit yang lalu, Sasha menghubunginya. Tentu saja ia mendengarkan apa yang perempuan itu katakan. Sasha tidak akan menelpon jika bukan hal penting. Arnold hanya diam ketika mendengarkan penjelasan Sasha. Tentu saja ia tak mempercayainya begitu saja. Apalagi ini menyangkut anak sulungnya.
Arnold akui, sebelumnya ia memang tidak peduli dengan remaja 16 tahun itu. Tapi kini, entah kenapa beberapa hari belakangan nama Rayyan selalu ada di benaknya. Sosok ibunya juga menghantui pandangan Arnold.
Ia kini melangkahkan kakinya ke dalam bangunan tersebut. Ia tidak tau bagaimana dia akan bersikap di hadapan Nia nanti. Dan alasan yang tepat kenapa ia kemari.
"Arnold?!" Seru Nia ketika pintu itu terbuka. Menampakkan sosok Arnold dengan jas kantornya yang terlihat gagah. Arnold hanya menundukkan kepalanya sebentar. Kemudian kembali mengangkatnya dengan cepat.
"Kamu mau cari siapa?! Nggak, kamu nggak boleh buat Ray luka lagi!" Seru Nia bersiap untuk menutup pintunya kembali.
"Aku tidak akan melukainya." Katanya pelan. Arnold ingin merangkai kata. Tapi ia sudah tidak tau ingin mengatakan apa. Ia punya alasan untuk kemari. Dia khawatir dengan anak sulungnya. Tapi tidak mungkin ia berkata jujur, mau di taruh dimana mukanya nanti?!
"Aku merindukannya..." Kalimat itu muncul tiba-tiba. Ia tidak bisa mengatakan apapun. Hanya itu yang bisa dia katakan untuk meyakinkan Nia.
__ADS_1
Kau dengar itu, Rayyan?! Ayahmu bilang, ia merindukanmu...