
Dulu, Arnold sering mendengarkan Raina yang menangis ketika larut malam. Bukan karena wanita itu melihat Arnold bersama perempuan lain. Melainkan karena suaminya pulang larut malam, dan selalu mengeluh punggungnya kesakitan setelah seharian dihadapkan pada dokumen-dokumen penting di kantor.
Tapi hal itu hanya disambut dengan tawa Arnold. Yang sakit siapa, yang nangis siapa. Wajar saja, saat itu ia sedang mengandung Rayyan. Entah kenapa ia sering sekali menangis semenjak menginjak trimester kedua. Tentu saja hal itu hanya diabaikan oleh Arnold beberapa kali. Tapi setelah sekian lama terjadi, dia juga menaruh simpati pada Raina yang ketika bangun matanya sembab dan bengkak.
Dan saat itu, dia ingat sekali bagaimana kalimatnya bisa menenangkan Raina yang tengah menangis. "Jangan menangis, kamu beneran jelek kalau menangis." Bukannya berhenti menangis, wanita itu malah menangis semakin kencang.
Arnold tersenyum mengingat hal itu. Namun, kini dia tidak bisa mendengar suaranya lagi. Ia tidak bisa melihat wajah Raina yang cantik seperti dulu. Bahkan kini, hampir setiap malam ia bermimpi tentang Raina yang menyalahkan Arnold sebagai sebab dari kematiannya. Dia menyesal, sangat. Tapi kini nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan ada yang bisa membawa Raina kembali padanya. Yang ia punya hanya, Rayyan sebagai pengingat bahwa ia pernah melakukan dosa besar pada ibu dan anak tersebut.
"Ayah, Ray beneran harus pindah sekolah lagi ya? Tapi kan ... Ray baru pindah beberapa bulan lalu. Masa harus pindah lagi. Lagian, Rion sampai nyusul kemari juga karena Ray 'kan? Masa Rion ke sini belum ada dua bulan Ray udah harus pergi lagi. Kan nggak lucu!"
Arnold mengusap rambut anaknya. Ray ada di atas ranjang dengan Ren yang tertidur diperlukannya. Bukannya apa-apa, tapi anak kecil itu tidak mau ditinggal oleh Ray sejak kedatangan neneknya.
"Tenang aja, Ayah nggak akan biarin kamu pindah dari sini. Kamu percaya sama Ayah 'kan? Biarin Ayah yang urus semua itu."
"Tapi Ray nggak mau kehilangan nama keluarga Chandra, Ayah! Ray takut ... nanti kalau Ray dibuang kaya beberapa tahun yang lalu gimana? Sekarang, Ray 'kan nggak punya siapa-siapa selain Ayah sama Ren ..."
Sendunya.
"Terus kita apa?! Batu berjalan?!" Qian membuka pintu kamar.
"Nggak usah terlalu dipikirkan Ray. Kalau keluarga besar Abang buang kamu kaya beberapa tahun yang lalu, Bang Qian sama Bang Erik selalu siap jadi rumah buat kamu." Arnold memutar bola matanya.
"Gue nggak main-main, ya Bang. Kalau emang Ray di keluarga Chandra bolak-balik di buat tertekan seperti itu, gue nggak akan segan ambil hak asuh Ray dari Abang!" Katanya dengan tegas. Arnold berdecak. Dulu pemuda di hadapannya ini masih sangat kecil, bahkan belum tau apa-apa tentang dunia luar yang kejam. Namun, setelah mereka dipertemukan Arnold merasakan perbedaannya. Wajahnya terlihat tegas, setiap ada masalah pemuda itu selalu berdiri dengan tegap seolah ia bisa mengatasi segalanya. Bukan tanpa alasan, sebelum Arnold bertemu dengan Erik dan Qian, dua cowok itu sudah terbiasa menghadapi masalah. Entah itu berhubungan dengan keuangan, atau bahkan masalah hubungan dengan teman-temannya. Intinya, mereka berdua sudah terbiasa didesak oleh dunia hingga tidak heran keduanya tumbuh dengan mandiri.
"Qian, Abang paham kok. Tenang aja, Ray nggak akan pergi dari sini!"
"Gue pegang omongan Abang!"
__ADS_1
...πΉπ πΉ...
"Rion, gue kangen sama Kak Shan, Kak Kensie sama yang lainnya. Ngomong-ngomong kabar mereka kaya gimana ya? Mereka nggak ada tuh ngehubungin gue semenjak kecelakaan itu. Jangan-jangan mereka udah nggak inget gue ya? Atau mereka kira gue udah mati?" Rion berdecak.
"Tinggal telpon, apa susahnya?!" Ray menghela nafasnya. Kalau Sada dia punya nomor saudara mereka yang lain, mungkin dia tidak akan mengeluh pada Rion seperti ini. Tapi ternyata, Rion itu orang yang peka. Karena beberapa saat setelahnya, ia menyodorkan ponselnya sudah ada nama Shan di atas layarnya. Tinggal menekan tombol telpon, maka semua hal yang tadi ia keluhkan akan hilang.
Tapi bukannya ia berceloteh antusias, Ray malah menghela nafasnya lagi. "Rion, Nenek benar-benar nggak suka sama gue ya? Rasanya beda aja ... perlakuan Nenek ke lo sama Ren itu beda. Kalau liat gue aja, Nenek langsung meledak-ledak kaya kemarin. Kan gue jadi nggak bisa kontrol emosi!"
"Lo 'kan emang labil! Gue nggak heran lagi ..." Bukannya menenangkan Rion malah memanas-manasi.
"Aaaa, Rion ... gue sedih bukannya dihibur malah dipanas panasin! Gak heran kalau lo jomblo sampai sekarang!" Rion memutar matanya. Ray tetaplah Ray dia masih orang yang sama. Orang yang sejak dulu suka mencerca sikap dinginnya.
"Soal Nenek ..." Rion mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Menyalakan layarnya dan mulai asik dengan game online yang kemarin baru saja ia download. "Lo nggak usah khawatir, lagian mana mungkin Nenek tega biarin lo tersiksa jauh sama orang rumah!" Ucap Rion. Ray mendengus kesal, harusnya ia sadar bahwa remaja di hadapannya ini selalu membuat Ray terlihat manja.
"Gue nggak manja manja amat kali!" Sergahnya.
"Lo masak mi instan aja nggak bisa, motong kuku juga selalu dibantu Bang Qian, mau dilihat dari sisi manapun lo itu emang manja!" Baiklah mereka saling serang sekarang.
"Lo ... lo kurcaci!"
"Pagar hidup!"
"Speaker rusak!!"
"Dinding bicara!"
"Siluman kelinci!!"
"Yaaaa, aku bukan siluman! Aku manusia! Aku bukan manusia jadi-jadian!! Lo nyebelin banget deh, Rion ... pengen gue uyel uyel deh!"
__ADS_1
...πΌπΌπΌ...
Di sisi lain, 5 orang remaja yang menggunakan masker menenteng bawaan mereka.
"Gue heran deh, mau ketemu sodara sendiri aja pakek acara kabur-kaburan kaya gini?! Udah kaya drama Korea banget hidup gua!" Keluh sosok yang paling tinggi. Menyeret kopernya yang terlihat berat. Padahal kemrin ia membawa banyak pakaian dan beberapa hadiah untuk ia serahkan pada kakaknya yang lama tak ia jumpai.
Di sampingnya, cowok lain menghela nafas. Kemudian tangannya dengan ringan memukul kepala si bontot.
"Lo cerewet banget dari tadi! Udah nambah beban aja di pesawat! Lama-lama gue tinggal lo di jalanan biar jadi gelandangan!" Karel menatap sinis adiknya.
"Enak aja, Samuel yang gantengnya gak ketulungan ini jadi gelandangan. Gak mungkin lah ..." Sergah Sam. Dua kakak tertua hanya menghela nafasnya. Sudah biasa dengan pertengkaran mereka.
"Iya, mana mungkin si Sam jadi gelandangan. Palingan baru turun ke jalan langsung di ambil tante-tante ganjen! Iya 'kan?" Sean menepuk bahu Sam yang kini mulai merajuk pada mereka.
"Kalau kalian nggak diem gue tinggal kalian di sini! Biar gue sama Kensie aja yang cari Ray sama Rion!" Shan juga jengah dengan pertengkaran mereka. Walau kini mereka sering bersama, tapi nyatanya setiap ada kesempatan selalu digunakan untuk mereka berdebat dan bertengkar.
"Bentar bentar ... ini kita nggak nyadar 'kan ya?" Kensie mulai panik karena suasana mulai sepi.
"Lo udah punya orang suruhan buat jemput kita kan?" Shan memastikan. Sedangkan Kensie hanya menatap mereka satu-persatu.
"Emang harus ya?" Shan dan ketiga adiknya hanya menghela nafas. Shan menepuk dahinya, katanya orang di hadapannya ini pintar tapi kok baru pergi gini aja dia bingungnya kaya orang baheula.
"Lha terus kita ke tempat Ray nya gimana, Ngab?!"
"Gimana kita mau ke tempat Ray wong kita aja nggak tau dia tinggal di mana!!" Aduh Shan mulai lelah. Lantas, ia berjalan tanpa arah. Yang penting dia keluar dari bandara.
"Terus nanti, kita tidur di mana Kak?"
"Di pinggir jalan sono!" Ujar Shan lelah. Katakanlah sekarang, dia membawa empat bayi besar yang mungkin hanya berguna di beberapa waktu saja.
__ADS_1
...πΉπ πΉ...