Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 51. Tentang Kepergian


__ADS_3


Suara derap langkah milik beberapa remaja yang berlari di koridor rumah sakit menjadi satu hal mendominasi di sana. Kabar tentang Ray yang koma membuat mereka bergegas untuk datang. Shan dan Karen ingin langsung masuk ke dalam UGD. Tapi dihentikan oleh beberapa petugas medis. Mengatakan bahwa dokter dan beberapa petugas medis tengah berusaha membuat keadaan adik mereka jadi lebih baik.


Karen dan Shan mengusap wajahnya dengan kasar. "Om Arnold kenapa nggak bisa tepatin, janji, hah?! Om bilang bakal jaga Ray dengan baik, kenapa malah jadi kayak gini?!" teriak Shan yang frustasi dengan keadaan. Karen mengusap punggung Shan yang masih naik turun.


Arnold yang duduk di kursi tunggu terlihat syok dan diam dengan menyangga kepalanya. Di lengah, ia bahkan tidak tahu Sasha melukai anak-anaknya. Kemarin Ren, sekarang Ray. Ditambah keadaan Ray yang terlihat mengkhawatirkan.


Arnold kemudian berpikir tentang hal buruk yang mungkin terjadi. Laki-laki tersebut menggigit bibirnya. "Ray nggak boleh mati ... Ray, anakku nggak boleh mati ... dia harus hidup ..." kata Arnold lirih. Sedangkan Rion yang masih mengatur napasnya mendudukkan tubuhnya di samping Arnold. "Raina, tolong jangan bawa Ray ... beri kami sedikit waktu ..."


Karen kemudian bergabung dengan Rion dan Arnold di kursi tunggu. Sampai suara Shan membuat mereka terkejut, "Astaga, bagaimana dengan Ren? Ren di mana?!"


...****************...


"Bagaimana dengan Kakak? Kakak tadi berdarah ... Ren takut ..." cicit anak kecil yang duduk di pangkuan pamannya. Erik menghela napasnya dan mengusa Pungging si kecil. Ren terlihat ketakutan, menyebut nama Ray dan ibunya berulang kali.


"Ren tenang saja. Kakak pasti baik-baik saja, ya? Ren mau makan sesuatu? Mau Abang belikan?" Ren menggelengkan kepalanya. Menyembunyikan wajah di dada bidang Erik.


Sedangkan seseorang yang lain tengah memegang kepalanya yang pening. Qian, kepalanya diplester. Hanya lebam tapi sakitnya tidak main-main. "Mau Abang buatkan susu?" tawar Qian yang masih terlihat menahan sakit di kepalanya.


Ren menggelengkan kepalanya. "Bang, mending lo istirahat aja, Ren biar gue yang jagain. Sakit banget kah?"


"Santai, cuma sakit gini aja gua masih kuat, kok."


Keduanya saling pandang. "Ray gimana?" sedangkan Qian hanya memejamkan kamar kemudian menggelengkan kepala.


...****************...


"*Anda lihat bagian yang ini?" tanya dokter sambil menunjuk sebuah gambar hasil pemeriksaan dalam tengkorak milik Ray. Arnold mengangguk lemah melihat guratan yang sedikit berbeda dari bagian lainnya. "Pembuluh darahnya pecah di sini, ada pendarahan hebat di dalam kepalanya. Dan ini ..." dokter itu kembali menunjuk gambar dengan bagian yang berbeda. "Dulu apakah saudara Rayyan pernah melakukan operasi?"


Arnold mengangguk lemah. Dia bahkan hanya bisa terdiam saat dokter mulai menjelaskan. "Lukanya kembali terbuka dan hal tersebut tidak memungkinkan kita untuk melakukan operasi."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Dokter?"

__ADS_1


Laki-laki berjas putih di hadapan Arnold hanya menggelengkan kepala. Seketika amarah Arnold memuncak hingga ubun-ubun kepala.


Brakk ...


"Lakukan tugas Anda sebagai dokter, berapapun biayanya akan saya berikan tapi sembuhkan anak saya!" teriak Arnold sambil menggebrak meja.


"Bapak ... ini diluar kuasa kita, Anda lihat ini ..." Arnold kembali melihat ke arah layar. "Sebuah keajaiban Rayyan bisa bertahan sampai sekarang. Luka lamanya kembali terbuka, membuat sebagian tulang tengkoraknya retak."


Arnold lemah, laki-laki yang biasanya kasar itu menangis di hadapan dokter yang menangani keadaan anaknya.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan, Dokter? Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika anak saya pergi jauh seperti ibunya ... tidak Raina ... jangan bawa Rayyan ..."


Setiap saat dia mengatakan itu*.


Percakapannya dengan sang dokter beberapa menit yang lalu masih menghantui Arnold. Dia menatap sosok anaknya yang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Kepalanya diperban, beberapa bagian rambutnya telah dipotong untuk memudahkan dalam memperban lukanya.


Tapi kata dokter itu sia-sia. Mereka hanya menunggu waktu.


Arnold terisak, sangat keras. Hal tersebut disaksikan oleh Rion dan Erik dari luar ruangan. Mereka tidak bisa masuk begitu saja, mereka sama-sama tidak bisa menyaksikan Ray kembali merasakan sakit seperti ini. Bahkan saat ini keduanya sudah berkaca-kaca.


"Bang?"


"Hmm, apa?" Erik menyaut.


"Ray ... bakal baik-baik aja kan? Seperti dulu?"


"Entahlah ..."


Arnold tersentak saat ia merasakan pergerakan jari tangan Ray. Jemari itu berusaha mengusap tangan sang ayah dengan lembut.


Arnold mengangkat wajahnya. Mendapati anaknya yang sudah menyaksikan dirinya menangis. Ray menatap wajah Arnold dengan senyuman.


"Astaga ... kenapa ayahku bisa menangis seperti ini?" Tangis Arnold tumpah. Memeluk punggung tangan anaknya.

__ADS_1


"Kamu membuat semua orang khawatir ... ayahmu bahkan hampir kena serangan jantung. Tolong, Nak. Jangan lakukan itu lagi, Ayah tidak sanggup."


Ray tersenyum dengan lemah. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Kepalanya seolah-olah terasa berat dengan rasa sakit yang seolah menusuknya dari belakang. Tapi entah mengapa dia merasa lega.


"Dengar, Ayah." Ray menangkap wajah sang ayah. "Dalam setiap pertemuan, pasti akan ada yang namanya perpisahan. Dan mungkin ... inilah saatnya." Arnold menggelengkan kepalanya. "Ayah ... dengarkan aku. Ayah masih punya Ren untuk Ayah jaga. Jaga adikku dengan baik dan kasih sayang yang cukup."


Arnold menggelengkan kepalanya, lagi. "Ayah tau, aku sangat bersyukur memiliki ayah yang hebat sepertimu. Ayah yang kuat dan selalu melindungi anaknya. Terima kasih. Sekarang ... lindungi adikku. Jangan biarkan dia merasakan apa yang aku rasakan ..." kalimat lirih Ray terdengar patah-patah.


Membuat Arnold semakin mengeratkan pegangannya pada si anak. "Ayah ... lepaskan aku. Bunda sudah menunggu di depan sana."


"Enggak Ray, anak Ayah nggak bisa pergi ..."


Ray tersenyum, "Biarkan aku mencium tangan ayahku untuk terakhir kalinya ..." Tangan Ray terangkat. Mencium jemari Arnold dengan perlahan. Tanpa kekuatan. "Ayahku hebat sekali ... hidup dengan baik ya? Anakmu ini ... tidak lagi bisa ... berada di sisimu, maaf ..."


Arnold memeluk tubuh anaknya yang tiba-tiba menjadi kaku dan berat. Diiringi suara konstan dari monitor di dekat mereka. Sebuah garis lurus muncul di sana. Ray sudah pergi. Dia sudah berpamitan dengan ayahnya.


Orang-orang di luar tidak bisa menahan tangisnya. Erik dan Rion berpelukan, saling menguatkan. Karen yang melihatnya hanya terdiam, sedangkan Shan berlari ke kamar Ren.


"Ada apa? Kenapa berlari seperti itu?" tanya Qian pada Shan.


"Ray ... Ray sudah pergi... dia meninggalkan kita semua." Begitu kata Shan sambil menatap kosong pemandangan di depannya.


Qian dja Erik terdiam. Sedangkan anak kecil. di pangkuan Erik menatap heran. "Meninggal itu apa? Kak Ray meninggal ke mana?" tanya Ren dengan polos.


"Dia pergi," ucap Qian sambil mengelus kepala Ren. "Kakak sudah pergi ke tempat yang jauh."


"Lalu, kapan Kakak akan kembali?"


"Kakak tidak akan kembali, Ren. Kakak pergi ke sebuah tempat yang abadi."


Ren hanya menatap bingung. Melihat orang dewasa di sekitarnya menahan tangis sambil berkaca-kaca.


__ADS_1


__ADS_2