Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 44. Bertemu Lagi


__ADS_3


Malam itu, ada keheningan yang sesekali menyapa. Ren menatap kakaknya yang terlihat canggung karena berada di meja makan bersama dengan Nenek. Anak kecil itu berdiri dari duduknya dan mulai duduk di pangkuan Rayyan. Mungkin anak kecil itu merasa tidak enak dengan suasana yang ada.


"Kak, Ren mau susu ..." keluh anak kecil itu sambil meremas kaos yang Ray pakai.


"Hmm, mau susu? Mau rasa apa? Coklat?" Ren menggeleng. "Ren mau rasa taro! Warna ungu!" seru anak itu antusias. Ray menggelengkan kepalanya. Di rumah hanya ada susu rasa coklat, vanila dan stroberi. Tidak ada yang rasa taro.


"Ren, nggak ada yang rasa taro, yang lain aja ya? Mau stroberi? Nanti Kakak buatin." Ren menggeleng kuat, ia memukul-mukul meja tidak terima. "Ren, tidak sopan memukul meja seperti itu!" Suara itu mendominasi. Ren terdiam kala suara Nenek menjadi hal yang sangat jarang terdengar tegas padanya. Matanya berkaca-kaca, Ren hanya ingin rasa taro. Bukan yang lain. Karena beberapa detik setelahnya, anak itu sudah menangis dengan keras.


"Huaaa, Ren mau rasa taro ... nggak mau rasa lain ..." rengek Ren menarik-narik kaos milik Ray. Nenek menghela nafas, ia tidak suka keributan. Dulu cucu-cucunya selalu tenang ketika berada di meja makan bersama. Begitu juga dengan Ray yang dulu. Ia masih ingat, anak itu dulu selalu kesusahan ketika berada di meja makan. Tubuhnya yang kecil dan pendek, membuatnya tidak terlihat ketika di meja makan. Ia membutuhkan sedikit bantalan tambahan untuk bisa meraih meja dengan benar.


BRAKK ...


Jengah dengan rengekan Ren, Nenek memukul meja dengan keras. Kembali membuat keheningan, namun hanya beberapa saat. Setelahnya, Ren kembali menangis di dada Rayyan.


"Nek, udah. Biar Ray yang urus, tadi siang kata Mbak Yanti nggak tidur. Maafin ya, Nek. Biar Ray aja!" Ray bangkit dari duduknya. Menggendong Ren yang masih menangis sesenggukan sambil memukul-mukul dada Ray.


Ia pergi ke dapur, sesekali ia menepuk punggung Ren agar berhenti menangis. "Kenapa Ray? Adik kamu kenapa?" Qian yang tengah sibuk dengan alat-alat dapur dikejutkan dengan keadaan Ren yang menangis di gendongan kakaknya.


"Tadi minta susu, tapi yang rasanya taro. Eh malah nangis, mungkin karena tadi juga nggak tidur siang jadinya rewel kaya begini." kata Ray. Qian menghentikan kegiatan memasaknya. Menghampiri keduanya.


"Ren, sini sama Bang Qian." Qian memberikan tangannya, tapi anak kecil itu malah menangis sesenggukan sambil menggeleng pelan. "Nggak apa-apa Bang, biar sama Ray aja. Abang buatin susu aja, yang rasa coklat, nanti anter ke atas." Qian hanya menghela nafasnya. Mengangguk setelah melihat Ray pergi dari sana dengan keadaan campur aduk.


"Mas, maaf ini bajunya Den Renand yang tadi saya cuci belum kering." Yanti datang sambil mengusap wajahnya. Mungkin terlalu lelah karena baru saja selesai membersihkan kamar mandi. "Yaudah nggak apa-apa, bawa masuk aja ke garasi, besok juga kering." Yanti mengangguk. Setelahnya, wanita itu juga pergi melaksanakan apa yang diperintahkan.


Qian memandang punggung Yanti, hingga tertelan oleh pintu. Wanita itu bekerja keras. Memang dia akui, soal bersih-bersih dan mencuci Yanti memang jagonya. Ah, harusnya dulu dia tidak berburuk sangka pada wanita itu. Qian jadi merasa bersalah.


...🔹💠💠🔹...

__ADS_1


Ray memandangi wajah sang adik, adiknya itu masih menangis walau tidak sekeras tadi. Dia jadi merasa khawatir pada anak kecil itu, sudah satu jam berlalu dan Ren masih sesenggukan di dalam gendongannya. Biasanya, Ren akan demam bila menangis dalam waktu yang lama. Dan sekarang terbukti, suhu tubuh Ren menghangat.


"Ren ... udah ya?" katanya sambil menepuk punggung Ren dengan konstan. "Besok, Kakak beliin Ren susu rasa taro kalau Ren nggak nangis lagi." Suara isakannya berhenti. Ren berhenti menangis. "Kakak ... jangan pergi dari Ren ya? Ren janji nggak akan nangis lagi." tunggu, Ray tidak pernah mengatakan ia akan pergi darinya.


"Ren janji gak akan nakal lagi." Ray mengangguk. "Okay, habis ini tidur ya? Kakak nggak akan kemana-mana." Setelahnya, Ray mengambil satu gelas susu di atas nakas. Lantas memberikannya pada Ren. Anak kecil itu mau-mau saja minum susunya, tidak seperti sebelumnya. Ray pastikan adiknya akan aman bila sudah berada di tangannya.


"Ren, Kakak janji akan selalu ada buat kamu. Kamu adalah hadiah terbaik atas semua masalah yang Tuhan beri selama ini."ucapnya pada sang adik. Ren mengerjap, ketika sang kakak mengusap matanya yang masih basah oleh air mata. Mungkin belum mengerti dengan apa yang kakaknya bicarakan.


"Kamu nggak harus mengerti apa yang Kakak ucapin. Yang penting, Ren harus sehat, tumbuh jadi anak yang kuat, okay?" Ren mengangguk. Matanya yang sembab membuatnya ingin segera tidur. Benar, ia tidak memiliki ibu yang selalu ada seperti cerita teman-temannya. Tapi ia punya kakak yang sangat luar biasa. Bisa menjadi kakak sekaligus ibu baginya.


Ray menidurkan Ren di atas tempat tidurnya. Walau sudah punya kamar sendiri, rasanya Ren lebih banyak tidur di kamarnya. Ia mulai mengusap surai milik sang adik. Membuatnya untuk merasa nyaman. Di dalam dekapan sang kakak, Ren tidak pernah merasa takut. Tidak pernah ia merasa aman seperti ini. Bahkan ibunya sendiri tidak pernah membuatnya merasa aman dan tenang.


Yang Ren tau, Ray itu kakaknya. Kakak luar biasa yang dulu pernah berjuang antara hidup dan mati karena ibu kandungnya.


Anak kecil itu tau, bagaimana kakaknya yang ketakutan ketika melihat jalanan. Dan itu semua karena ulah mamanya.


...🔹💠💠🔹...


Di ruangan temaram itu, ia bisa melihat Ray yang memeluk Ren dalam tidurnya. Suara dengkuran halus dari kedua cucunya membuatnya lega. Lantas wanita itu dengan perlahan masuk ke dalamnya. Perlahan, ia duduk di pinggiran kasur. Tangannya mulai mengusap surai milik Ray dengan pelan. Tatapan sendunya terpancar dengan jelas.


"Maaf untuk semuanya, ya? Keluarga kita terpandang. Tapi tidak sempurna. Maaf kalian menjadi korban atas keegoisan orang tua kalian. Mulai saat ini, Nenek yang akan jamin keamanan kalian. Nenek janji." Ray bergerak, membuat Nenek menghentikan gerakan tangannya. Tapi wanita itu tersenyum kala Ray semakin mengeratkan pelukannya pada Ren.


"Kamu kakak yang hebat, Rayyan."


...🔹💠💠🔹...


Pagi-pagi sekali, Ray bergerak dengan gusar di atas tempat tidurnya. Dia berulang kali mencoba untuk mencari kenyamanan di bawah selimut tebalnya. Walau pada akhirnya ia terbangun.


Melihat Ren yang masih setia di alam mimpi, Ray ingat bahwa kemarin malam tubuh Ren sedikit menghangat. Tangannya berusaha menyibak rambut Ren yang menutupi dahi, merasakan panas yang menjalar di kulit adiknya. Baik, adiknya sakit. Akhirnya walau dengan langkah yang malas ia mengambil sapu tangan dan pergi ke dapur untuk mengambil air hangat.

__ADS_1


"Nyari apa, Ray? Tumben banget jam segini udah bangun." Ia di kejutkan dengan kehadiran Erik di depan pintu kulkas. Terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.


"Bang Erik pulang jam berapa kemarin? Begadang lagi? Liat matamu udah kaya panda baru lahir aja, Bang." kata Ray santai sambil mengambil air hangat di termos. "Biasa, kemarin ada tugas kelompok. Selesai jam 10 malam. Baru aja sampai rumah, gue ditelpon orang asing katanya ada 5 kurcaci nyasar kehabisan uang!"


"Hah?!" Ray menghentikan gerakan tangannya. "Maksudnya gimana?" Erik menghela nafas.


"Lo liat itu 5 kurcaci pada tidur di kamar gue! Gue yang harus ngalah tidur di ruang tamu, ck nyebelin banget!" keluh Erik dengan geram. Cowok itu kembali menyeruput kopi yang baru saja ia buat.


"Kurcaci apaan, Bang?"


"Kurcaci puber, tingginya pada kaya pohon bambu. Liat aja itu di kamar gue!" Segera Ray berlari dari tempatnya. Penasaran dengan apa yang dimaksud Erik dengan 5 kurcaci.


Langkah Ray terhenti kala ia mendengar suara gaduh dari dalam kamar Erik. Suaranya familiar, pasti mereka orang yang Ray kenal.


"Geser ke sana, deh lo, Rel! Sempit ini!"


"Lo ya yang geser, gue mah nggak! Lo itu jadi adik yang ada sopan dipannya dikit! Nurut kek kalau dibilangin! Harusnya gue tinggalin Lo di kolong jembatan aja tadi malam!"


Ray membuka pintu secara perlahan. Di sana, ada dua remaja yang dulu sering ia marahi sedang berdebat. Perlahan sudut bibir Ray tertarik ke atas. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia rindu dengan suara bising yang mereka timbulkan. Ia juga rindu bagaimana para kakaknya peduli dengannya.


"Kalian ... kalian jahat banget nggak kasih kabar kalau ke sini!" Lirihnya. Semua atensi beralih ke Ray yang kini berdiri di depan pintu.


"Kak Ray/Ray!" Dua orang itu berseru sambil berlari ke arahnya dan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh kecil Ray dengan erat. "Hiks ... gue kangen tau nggak!"


"Kak Ray, satu hal yang saat ini buat hati gue lega luar biasa ... Kakak masih bisa aku peluk kaya begini." Sam, remaja itu lupa kapan terakhir kali memeluk Rayyan seperti ini. Karena sebelumnya ia takut, tidak akan pernah bisa melakukan hal ini sama sekali.


...🔹💠💠🔹...


__ADS_1


__ADS_2