Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 29. Ayah Yang Selalu Ada


__ADS_3


Malam ini adalah mimpi buruk bagi Ray. Satu rahasianya terbongkar di depan ayahnya sendiri. Begitu pula dengan hubungan Rion dan Rayyan yang juga mulai merenggang karena pertengkaran terakhir mereka. Malam itu pula, Ferdinand datang dengan mobil super mewah miliknya. Membawa tiga orang di bangku bagian belakang. Arnold yang tetap mendekap anak sulungnya, dan juga Nia yang membawa baju ganti dalam ransel di tangannya. Jaga-jaga kalau saja mereka menginap malam ini. Sedangkan remaja itu masih diam di tempatnya. Tidak peduli bagaimana ayah dan om tantenya khawatir dengan keadaannya. Maniknya tetap menatap jalanan dari kaca dengan tatapan kosong. Sesekali berkata lirih, dan membuat Arnold dan dua orang lainnya mengernyitkan dahi.


"Aku nggak mau kaya Rean...Aku juga nggak mau bernasib seperti kakek..." Lirihnya. Tentu saja hal itu membuat banyak pertanyaan di setiap benak orang yang mendengarnya. Sedari tadi, Arnold mendengar kalimat lirih itu dari mulutnya. Sebenarnya, ia tidak tau siapa itu yang Ray sebut dengan Rean, dan apa yang terjadi dengannya. Tapi, mendengar dia menyebut kakeknya, Arnold yakin kematian ayahnya berhubungan dengan Rean dan juga Rayyan.


Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menenangkan Ray di dengan kata-katanya. Jujur saja, ia ketakutan setengah mati ketika melihat Ray menelan belasan obat itu tanpa air. Mendengarnya berkata dengan keras seolah-oleh dia itu melakukan hal benar. Ia tak tau kenapa Ray bertindak seperti itu. Mungkin saja, Ray bertindak demikian karena dunia sedang tidak memihaknya. Arnold tidak pernah berada di posisi Ray saat ini. Walau terlampau dingin, dulu waktu seumuran dengannya, keluarganya masih utuh. Ayahnya adalah orang paling setia yang pernah ia kenal, berjanji pada ibunya akan tetap bersama hingga ajal menjemput keduanya.


Arnold tidak pernah mengerti bagaimana perasaan Ray yang ada di tengah-tengah kekacauan keluarganya. Dan itu semua adalah salah Arnold yang tidak bisa menjaga hatinya untuk satu orang.


Ah, andai saja ia memperlakukan Ray dengan baik dari dulu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi sudah terlambat. Berandai-andai saja tidak cukup untuk membalikkan keadaan. Lamunan Arnold buyar ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah bangunan dengan latar cat berwarna putih. Mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Ray...kita turun ya? Kamu nggak akan kenapa-kenapa, ada ayah, tante Nia sama om Dinan. Kamu pasti aman." Tapi kalimat Arnold tidak berarti apa-apa. Ray masih diam di tempatnya. Tidak bergerak ketika dia meminta untuk turun. Kemudian Ray menggeleng pelan, seperti seorang yang dalam keadaan terhipnotis. Pikirannya linglung, dan ia sendiri menolak untuk beranjak dari tempatnya.


"Ray nggak mau...Ray mau di sini aja..." Suaranya terlampau lirih. Tapi berhasil membuat Arnold dan Nia menghela nafas gusar. Melihat keponakannya, Dinan hanya menghela nafasnya. Kemudian melangkah keluar lebih dulu, disusul dengan Nia di belakangnya. Arnold tidak tau apa yang kakak dan kakak iparnya itu akan lakukan. Tapi beberapa manit kemudian, Dinan kembali bersama beberapa petugas medis. Dengan jarum suntik di tangan salah satunya.


Ray masih diam, ketika beberapa petugas itu menghampirinya. Ia tidak peduli apa yang akan mereka lakukan. Tapi, ia terkejut ketika jarum tajam itu mengenai lengannya. Kemudian, merasakan kesadarannya kian melemah. Tatapannya meredup, ia bisa melihat kegelapan yang semakin mendekat. Dan yang kini ia rasa hanya gelap.


Arnold mengepalkan tangannya. Melihat anaknya yang sudah tak sadarkan diri dipindahkan ke atas brangkar. Harusnya tidak seperti ini.


...☘️☘️☘️...


Rion merasakan letih pada kakinya. Berjalan cukup jauh untuk melampiaskan emosi. Syukur saja, dia tidak memukuli siapa saja yang ia temui. Ia menghentikan langkahnya. Mengambil jeda sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak ingat kapan ia semarah ini. Jujur saja, untuk kesalahan yang lain mungkin Rion akan memaafkan Ray. Tapi, untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa. Ia tau bagaimana efek dari obat penenang itu. Melihat berbagai berita di layar kaca juga sudah cukup membuktikan bahwa obat itu memang memberikan efek penenang. Tapi, sekali kecanduan juga membuat penggunanya rusak jiwa raganya. Kini anak itu tidak bisa berfikir logis, namun beberapa saat kemudian ia menghela nafasnya.


Ray sebenarnya tidak membutuhkan perhatian lebih dari Rion. Ada banyak orang yang menyayanginya. Bahkan mamanya lebih memilih merawat Ray sekarang. Ia tak habis pikir, dulu Nia dan Abra sering meninggalkannya seorang diri di rumah. Ia iri melihat kedekatan saudara-saudaranya yang lain terhadap orang tuanya. Dia hanya bisa melihat dari jauh, ketika Septian memarahi Shan karena sudah bolos sekolah.  Cuma bisa tersenyum tipis ketika Ferdinan menghukum Sean berdiri di pojokan ruangan ketika nakal. Ia berfikir, bagaimana jika ia ada dalam posisi Shan dan Sean. Karena memang dia tidak pernah mengerti bagaimana rasanya. Dan juga, ia ingin merasakan bagaimana jika memiliki keluarga yang peduli dengannya.


Ray mendapat perhatian dari semua orang. Teman-teman di sekolah-pun juga menyadari bahwa Rayyan berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia akui itu semua memang benar. Tapi jika ingin memilih, ia juga tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa bergaul seperti ini.


Mungkin ini saatnya ia peduli dengan diri sendiri. Fokuskan tujuannya pada satu arah. Di sana ada banyak orang yang menjaga Ray, dan mungkin saja dia juga sudah tidak dibutuhkan.


"Rion...?!" Suara itu cukup asing di telinga Rion. Ia buru-buru menoleh ke arah sumber bunyi. Dia mendapati seorang gadis yang lebih pendek darinya tengah berdiri di belakang tubuhnya. Nisha. Gadis yang dulu pernah ia patahkan hatinya. Membuatnya berharap lebih karena Rion memperlakukannya dengan baik di hadapan banyak orang.


"Kamu ngapain di jalanan kaya gini?! Tengah malam lagi, nggak takut diculik orang?!" Nisha masih tetap sama. Dia memamerkan senyum manisnya, sama seperti Nisha yang ia kenal dulu.


"Ah, i-iya..." Nisha mengernyitkan keningnya. Kelihatannya Rion memang sedang butuh teman untuk bicara.


"Kamu kenapa?! Ada masalah?!" Rion  menggeleng. Nisha menghela nafasnya.


"Ya udah, aku pergi dulu. Kamu juga cepet balik, aku tau kamu masih berduka karena kepergian kakekmu. Tapi jangan lama-lama sedihnya."


"Maaf..." Nisha kembali mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan Rion?! Bukankah anak itu tidak pernah meminta maaf atau semacamnya?!


"Mau ngobrol sebentar?!" Rion menatap Nisha lekat lekat. Kemudian ia mengangguk lemah.

__ADS_1


...❄️❄️❄️...


Semua kafe hampir tutup di tengah malam. Tapi berbeda dengan kafe yang satu ini. Terlihat dari raut wajah pelayan di dekat kasir yang menatap Rion dan Nisha dengan tatapan tak suka. Bagaimana ada orang mampir di kafe hampir tengah malam?! Sang pelayan cukup tau sopan santun untuk tidak menanyakan kapan kedua remaja itu akan pulang. Mereka tidak banyak bicara, hanya percakapan ringan saja sambil meminum coklat hangat di atas meja. Rion bukan orang yang gampang untuk di ajak ngobrol seperti ini. Dari dulu hingga sekarang, Nisha berusaha keras untuk sekedar bercakap ringan tapi Rion selalu menolak dengan lantang. Tapi, kali ini sepertinya Nisha sudah diberi kesempatan yang sangat luar biasa. Dan sayangnya, dia sudah terlanjur move on dari perasaannya terhadap Rion.


Kakaknya selalu berusaha keras untuk membuat adiknya tersenyum hangat. Ia bahkan sudah lupa kalau ada Rion di sekitarnya. Yah, kakaknya berhasil membuat Nisha melupakan sosok Rion yang ia anggap telah mematahkan hatinya.


Tapi satu hal yang Nisha ingat. Vier melakukan kesalahan besar terhadap saudaranya Rion. Ia tau, keluarganya bukanlah keluarga yang benar-benar baik. Bahkan jauh dari itu. Tapi, kakaknya juga tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan sang ayah. Nisha tidak akan mengatakannya pada Rion. Ini rahasia besar yang menyangkut hidup kakak dan ayahnya. Ia juga tak ingin ketika rahasia ini terbongkar, ayah dan Vier dimasukkan kedalam penjara dengan tuntutan seumur hidup.


"Kita harus pulang..." Suara Rion menyadarkan lamunan Nisha. Nisha mengangguk. Kemudian beranjak pergi dari sana. Kali ini, Rion yang mentraktir Nisha. Anak itu tidak kelihatan seperti orang yang kekurangan uang. Karena itu ia biarkan dia membayarnya.


"Mau aku antar?" Nisha tersenyum. Kemudian menggeleng.


"Tidak usah. Aku sudah cukup tau tempat ini, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih untuk hari ini."Rion mengangguk.


"Tapi ini sudah sangat malam..."


"Kapan kamu peduli?! Biasanya kamu nggak akan seperti ini, aku yakin masalah kamu berat. Tapi kamu juga harus tau, kalau kamu juga perlu istirahat. Jangan pikirkan orang lain dulu, pikirkan dirimu sendiri!"


"Aku tau." Nisha terkekeh mendengar gumaman Rion. Kemudian ia beranjak pergi dari sana.


"Hati-hati..." Nisha mengangguk. Perlahan ia sudah tidak dapat melihat punggung gadis itu lagi. Dia tidak pernah tau akan sikapnya. Gadis itu sangat baik, kenapa dia menolaknya dengan sangat kasar?! Ah, sekarang dia menyesal.


...🍁🍁🍁...


Sudah pukul 7 pagi. Sedangkan Arnold, ia masih tetap duduk di atas sofa tepat beberapa langkah dari tempat Ray berbaring. Anak itu belum juga terbangun, kata dokter dia perlu tidur yang cukup untuk menenangkan pikirannya. Dan semalaman juga, Arnold tidak dapat menutup matanya. Ia berulang kali menghela nafasnya. Ia terkejut ketika melihat tubuh anaknya penuh dengan luka lebam. Kata Nia, dia tidak tau asal dari luka itu. Tidak mungkin dia dapatkan dari saudara-saudaranya yang lain. Mereka cukup emosional, tapi tetap tidak akan melukai Ray seperti ini.


Ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Melangkah pelan mendekati anak sulungnya. Perlahan ia meraih tangan Ray yang sudah terpasang infus. Mengusapnya secara perlahan. Berharap sang anak tetap dalam keadaan nyamannya. Arnold menutup mata, bahkan tidak sadar mata Ray sudah terbuka. Mendapati sang ayah yang tengah memegang tangannya.


"Ayah..." Suara itu lirih, sangat lirih. Tapi berhasil membuat Arnold membelalakkan matanya. Kemudian menghembuskan nafas kasar. Merasa apa yang ia lakukan membuat Ray terganggu.


"Maaf, kamu bisa istirahat lagi. Ayah akan keluar!" Ray menggeleng. Ia rasa, bukan itu yang membuatnya terbangun. Adanya Arnold di sini membuat Ray semakin merasa aman. Arnold benar-benar membuatnya seperti seorang pangeran yang harus dijaga selama 24 jam.


"Ayah gak ganggu, di sini aja. Aku mau ngomong." Katanya. Ia sudah merasa tenang. Berbeda dengan malam tadi, emosi yang melanglang buana seperti seorang induk yang kehilangan anaknya.


"Kamu memang harus ngomong. Tentang segalanya." Ray menarik garis di bibirnya.


"Ayah tau sesuatu?!"


"Tentang luka di tubuhmu. Siapa yang melakukannya?" Ray terdiam. Memikirkan kalimat yang tepat untuk ia katakan pada sang ayah.


"Em, katanya om Karen menyelidiki soal kematian kakek ya?!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan yang sejujurnya!" Ray terkekeh.

__ADS_1


"Bukan itu masalahnya, soalnya om Karen juga perlu tau. Biar sekalian aja."


"Saya yang ayah kamu di sini, bukan dia. Kalau ada apa-apa panggil ayah aja!"


"Kebiasaan, kan?! Tadi nggak dengerin penjelasan Ray. Iya, aku seneng ayah udah ada di sini. Dulu kalau ada apa-apa, aku kan selalu disuruh bilang sama om Karen."


"Selama ayah ada, jangan panggil siapa-siapa!"


...☘️☘️☘️...


Semalaman, Rion tidak pulang ke apartemen. Juga tidak pulang ke rumah utama. Jika ditanya dimana dia berada. Jawabannya bukan di depan kedai kopi yang buka 24 jam. Bukan juga di emperan toko, dan tidur beralaskan kardus bekas. Dia tidur dengan nyaman di tempat yang cukup layak. Dengan selimut yang juga membalut tubuhnya. Ia sendiri heran, kenapa bisa berada di sini. Tapi ia benar-benar tidak ingin pulang ke rumah sementara waktu. Ia perlu waktu. Dan di sinilah ia berakhir. Kos-kosan milik kakak kelasnya. Erik.


Sebenarnya, mereka berdua tidak cukup dekat untuk menjadi teman sekamar. Tidak juga cukup dekat untuk bercakap-cakap. Yang Rion tau, Erik adalah seniornya yang hampir lulus dari SMA sama seperti dia kakaknya di rumah. Ia tau namanya karena sering disebut pelatih basket karena kemampuannya yang hebat. Dia cukup merakyat, bisa bicara sama siapa saja. Karena sikapnya yang hangat, ia punya banyak teman. Rion juga jarang berbincang dengannya, tapi remaja itu dengan baik hati menawarkan kamar kosnya untuk Rion tidur.


Erik baru saja pulang jam setengah satu malam. Pekerjaannya di restoran itu menuntutnya untuk istirahat cukup larut, mengetahui tempat kerjanya juga tutup tengah malam. Ketika ia melewati sebuah toko yang sudah tutup, ia melihat seorang tengah duduk di teras. Matanya tertutup, menandakan orang yang ia lihat tengah butuh istirahat juga.


Tapi, orang itu berpakaian bagus. Bercelana jeans yang ia sendiri sudah duga harganya sangat mahal. Mengenakan jam tangan trendi pula. Ia menghentikan langkahnya. Berusaha untuk memastikan bahwa itu bukanlah orang gila atau semacamnya. Semakin dilihat dari dekat, ternyata wajahnya mirip seseorang. Dan Rion-lah orangnya.


Ia berfikir, bagaimana remaja seperti Rion bisa berakhir seperti gelandangan di tengah malam seperti ini. Latar belakang keluarganya yang kaya memang tidak menjamin hidupnya tidak akan menjadi gelandangan. Nyatanya, anak itu sudah tidur di teras toko dan sewaktu-waktu bisa diusir. Erik menghela nafasnya.


Ia mendekati tubuh Rion, kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya. Berharap ia akan segera bangun. Ketika remaja di hadapannya sudah membuka mata, ia bisa mendengar namanya diseru dari mulut Rion.


"Lo ngapain jadi gelandangan di sini, hah?! Keluargamu sudah bangkrut atau apa?!" Rion mengerjapkan matanya.


"Bang Erik..."


"Ya udah lah, kuy ikut gue ke kosan. Malam ini lo tidur di tempat gue."


Dan dari situlah, nasib Rion dianggap lebih beruntung daripada siapa saja. Ketika dia butuh kamar, seseorang menawarinya. Saat butuh selimut, eh di kasih sama kakak kelasnya.


Pagi ini, dia cukup tau diri untuk tidak bangun terlalu siang. Jam setengah enam pagi, dia sudah melipat selimut yang ia kenakan. Juga sudah membereskan kamar kecil ini dengar rapi. Erik bilang, dia menyewa dua kamar. Satu kamarnya ia gunakan untuk tidur, sedangkan satu lainnya ia gunakan untuk meletakkan barang-barangnya. Walau terbilang kecil, tapi kamarnya cukup bagus untuk ia tempati.


"Udah bangun?!" Ada kepala seseorang yang muncul dari balik pintu. Rion mengangguk. Erik memperhatikan kamarnya yang terlihat rapi. Dan perlahan ia mengulas senyum.


"Padahal nggak dirapiin juga nggak apa-apa. Biasanya juga gue berantakin lagi."


"Aku cukup tau diri, bang."


"Ya udah, sana ke kamar mandi! Pakek sabun punya gue, eh...tapi lo nggak punya panu kan?! Takut ketularan gue!"


"Nggak punya, bang. Ya kali aja, aku punya panu!"


"Ya udah sana cepetan! Sikat giginya udah gue siapin, tenang aja. Gue punya yang baru kok."

__ADS_1


"Iya-iya..."



__ADS_2