Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 33. Qian Sakit


__ADS_3


Matahari sudah berada di ujung timur, bersiap untuk naik ke tahtanya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, rumah itu selalu terdengar ramai dari rumah-rumah sebelahnya. Entah itu suara ribut dari Ray dengan Erik yang berebut kamar mandi. Atau suara tangisan Ren yang kehilangan dasinya. Belum lagi Arnold yang kini sudah duduk di meja makan semakin membuat Qian mempercepat gerakan tangannya.


"Bang, jangan bikin gue kaya gini! Itu tolong bantu cariin dasinya Ren, elah. Ngapa malah bengong?!!" Sentaknya pada Arnold yang seakan ingin menerkamnya kalau ia tak segera menyelesaikan masakan itu.


"Aku nggak tau tempatnya. Kamu aja yang cari!"


PRANGG ...


Suara itu sukses membuat Arnold terkejut setengah mati. Qian sudah menatapnya nyalang, sendok yang ia pegang menimbulkan suara cukup keras karena jatuh ke lantai.


"Aku ada kelas pagi hari ini, kalau Abang nggak mau bantu itu anak-anak, nih silahkan masak!" seketika Arnold menjadi merinding dibuatnya. Qian menakutkan juga kalau marah. Akhirnya ia mau beranjak dari sana, membantu Ren yang masih menangis sesenggukan mencari dasinya.


"Hah, rasanya gue ngurusin bocah semua! Itu pak tua emang nggak tau umur!" Qian kembali menghela nafasnya. Dia seperti seorang ibu rumah tangga di sini. Mengambil sendok yang terjatuh tepat di sebelah kakinya. Hari ini ia merasa sangat lelah, apa dia bisa menjalani hari dengan baik kali ini?


Lupakan hal itu, yang harus dia lakukan saat ini adalah membuatkan makanan untuk empat bayi raksasa yang sedang ribut itu. Kemudian ia bisa sedikit beristirahat kala mereka sudah berangkat semua. Ia menggelengkan kepalanya menghalau rasa pening yang tiba-tiba dia rasa.


Di sudut ruangan yang lain, Rayyan sedang menyetrika bajunya yang kusut karena tidak ia gantung dengan benar kemarin. Untung saja, ia sudah diberitahu bagaimana caranya suntuk menghidupkan dan mematikan setrika. Jadi ia tak merepotkan Ayah atau Bang Qian.


Ia sudah siap dengan seragam dan tas yang tersampir di bahu kanannya. Bersiap untuk turun ke bawah memakan sarapannya. Tapi yang kini menjadi atensinya bukan lagi makanan yang masih mengepulkan asap di atas meja makan. Tapi sosok Qian yang merebahkan tubuhnya di sofa, dengan wajah pucat. Membuat Ray buru-buru melangkahkan kakinya menuruni tangga.


"Bang Qian? Kenapa? Sakit?" Qian yang menutup matanya hanya memijit Pangkah hidungnya. Menahan pening yang membuat kepalanya berputar.


"Cuma pusing biasa, lo cepet sarapan sama yang lain panggil ke bawah. Keburu dingin!" Ray berdecak.


"Bang Qian yang buat Ray khawatir sampai tujuh tingkatan. Kalau capek ya istirahat, Bang. Jangan dipaksa, nanti kasian Abang juga. Sekarangโ€”"


"Lo nggak usah cerewet deh sekarang, cuma pusing biasa ini. Cepetan sarapan, lo nggak mau telat 'kan?" Kata Qian masih menutup matanya.


"Ray nggak mau makan kalau Bang Qian nggak makan?" Gerutunya sambil mendudukkan diri di samping Qian. Tapi laki-laki berumur 21 tahun tersebut hanya diam kali ini. Tidak ingin membuat kepalanya semakin berat dengan berselisih dengan remaja itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Qian?" Suara tegas itu membuat pendengaran Ray dan Qian semakin tajam. Laki-laki itu turun dengan Ren di gendongannya. Sudah siap dengan seragam dan dasinya.


"Bang Qian kayanya lagi sakit, Yah." Adu Ray.


Arnold menurunkan Ren, menempelkan punggung tangannya pada dahi Qian. Hanya rasa hangat yang bisa dia rasakan. Terkejut kala Qian mulai terbatuk-batuk tanpa henti. Membuat Qian langsung bangkit dari baringnya.


Ray berlari ke dapur mengambil segelas air untuk Qian minum. Pandangan Qian mengabur seiring dengan banyaknya pertanyaan yang Arnold dan Rayyan lontarkan. Ia bisa melihat wajah ketakutan Ren yang mulai khawatir dengannya.


"Ini cuma pusing biasa, kan aku udah bilang. Jangan ada lagiย  pertanyaan, aku nggak bisa jawab sekarang!" Katanya.


"Kita ke rumah sakit sekarang, panggil Erik. Ayah sama Erik bawa Qian ke rumah sakit, kamu di rumah dulu. Jagain adik kamu, ya?"


Ray hanya bisa mengangguk, memeluk sosok Ren yang kini juga ketakutan. Tak lama, Erik turun dengan raut bingung melihat keadaan.


"Kenapa?"


"Ayo ke rumah sakit!"


Pagi itu, tidak ada yang berangkat sekolah. Tidak ada yang menghadiri kelas pagi, apalagi pergi ke kantor dengan tepat waktu. Alasannya adalah, Qian.


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...


Dia hanya mengikuti arahan, pergi ke ruang guru. Meminta bantuan untuk kedatangannya ke kelas baru. Menuntunnya agar tak salah kelas.


XI MIPA 3


Remaja itu berdiri di samping wali kelasnya. Menunggu giliran untuk memperkenalkan diri. Dan tiba saatnya sang guru mempersilakannya memperkenalkan diri. Tapi, yang semua orang bisa tangkap hanyalah suara dinginnya untuk beberapa saat.


"Perkenalkan, namaku Rionald Chandra Arrizco." Dia menghela nafas, ketika mendengar suara bisik-bisik dari beberapa siswa di sana. Kelihatannya dia akan susah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...

__ADS_1


"Kak ... " suara Ren terdengar bergetar. Membuat atensi Ray yang baru saja mengganti bajunya beralih pada sang adik yang duduk di pinggir ranjang.


"Bang Qian nggak apa-apa, 'kan?" Ray mendekat. Memberikan pelukan untuk adiknya, merasakan bahu kecilnya bergetar. "Bang Qian nggak apa-apa, Ren jangan nangis. Mau kakak ambilin es krim?" Anak itu menggeleng. Mengeratkan pelukannya pada Ray.


"Bang Qian yang selama ini antelin Len ke sekolah. Bang Qian juga yang nunggu dan jemput Len sekolah. Masak makanan enak walau banyak sayulnya. Siapin selagam Len setiap hali. Jadi, kalau Bang Qian gak ada, Len bisa apa?" Lirih anak kecil itu. Sudah sampai mana anak itu berfikir. Jika umur sekecil ini sudah paham dengan hal semacam ini. Kalau ia sudah 10 tahun, apa yang anak ini kira-kira lakukan? Membantu ayahnya bekerja?


"Ren nggak boleh gitu, nanti Bang Qian baik-baik aja. Ren tenang aja, ya?"


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...


Arnold menatap laki-laki yang kini terbaring di atas brangkar rumah sakit. Dia tampak begitu pucat, dengan tubuh yang kurus.


"Anda tenang saja, Qian cuma perlu istirahat yang cukup. Cukup pastikan dia makan dan istirahat dengan teratur. Jangan biarkan dia memaksakan diri," kata dokter itu pada Arnold. Dan laki-laki biru hanya mengangguk.


"Aku cuma punya Bang Qian. Setelah Kak Raina pergi, cuma Bang Qian sama nenek yang mau peduli. Dan kala nenek pergi pun, Bang Qian melakukan semua pekerjaan yang dia bisa dalam sehari. Tidak peduli bagaimana nilainya turun karena ia tak punya waktu lebih untuk belajar. Dia tetap memaksakan dirinya, sampai kadangkala aku menemukan dia jatuh pingsan dan mimisan beberapa kali. Jadi, kalau Abang mau tahu, Bang Qian ... segalanya buat aku."


Arnold masih ingat bagaimana khawatirnya Erik ketika tahu kakaknya sakit. Arnold pun juga merasa banyak hal yang anak itu harus lakukan bahkan setelah semua kebutuhannya terpenuhi olehnya. Alasannya, sudah dua kali Arnold melihat pemuda itu mimisan di malam hari. Tapi dia hanya diam, dan berlari ke kamar mandi tanpa mengucap apa-apa. Kalau ditanya, pasti akan dijawab 'tidak apa-apa'.


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Arnold merasa bersalah telah membuat Qian jadi seperti ini. Mungkin ini saatnya untuk di mencari pembantu di rumah. Tidak mungkin dia akan membuat Qian repot lagi.


"Bang ... ?" Suara lirih Qian membuat lamunannya hilang. Ia mendekat pada adiknya itu.


"Kenapa? Mau minum?"


"Bang ..."


"Iya"


"Tadi Ren ke kamar mandi, gue lupa siram klosetnya ..."


Dan, nyatanya anak itu masih saja memikirkan hal tidak penting seperti ini.

__ADS_1


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...



__ADS_2