Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 37. Kembali Sakit dan Kabar Si Kembar


__ADS_3


Ray kira, setelah dia di sini dengan semua keadaan yang ada, tidak akan ada lagi masalah. Ia pikir semua akan berjalan semestinya ketika Sasha sudah tertangkap dan kini mendekam di penjara. Ternyata tidak.


Semuanya baik-baik saja, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Dan dia, juga tak pernah mengeluhkan karena kecelakaan yang pernah ia alami. Namun anehnya, saat ini dadanya terasa sangat sesak. Seolah oksigen enggan untuk masuk dalam paru-parunya. Tubuhnya menggeliat tak nyaman di atas tempat tidur. Ia bangkit dari tempatnya. Dengan gugup meraih gelas di atas meja tepat di samping tempatnya.


Setelah beberapa detik menjelang, ia tidak merasa lebih baik. Malah merasakan sakit yang luar biasa di dalam setiap hembusan nafasnya. Bagaimana bisa ia berteriak memanggil Qian atau ayahnya bila sekarang bernafas saja ia sangat susah.


Mau tak mau ia turun dari tempat tidur. Walau hanya beberapa langkah, kemudian terjatuh dengan keras. Tangannya gemetar, ia tidak lagi sanggup untuk bergerak lebih jauh.


"A–ayah ... " Dia berusaha sekuat yang ia bisa tapi percuma. Bibirnya sudah membiru, seakan akan ia benar-benar kehilangan udara. Lalu dengan terpaksa ia menendang meja dengan kakinya, membuat gelas berisi air yang tadi ia minum terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara pecahan kaca yang keras.


Dia benar, ada yang salah dengan tubuhnya. Ia selalu makan dengan teratur, minum air putih seperti yang Qian perintahkan, tidak kelelahan atau semacamnya. Aneh ...


Sedangkan di ruangan lain, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi ia belum juga merasa lelah dan mengantuk. Alhasil, Qian menyibukkan diri dengan kembali membuka buku mata kuliahnya hari ini.


Tapi ia tidak bisa fokus dengan tulisan di hadapannya. Hingga ia mendengar suara haduh dari kamar sebelah, ia beranjak dari tempatnya. "Perasaan udah malam, ada yang belum tidur jam segini?" Tanyanya penasaran. Dia mau tak mau harus mengecek keadaan di sekitar. Takut ada apa-apa, atau kemungkinan besar yang dia pikirkan adalah maling.


Tok ... Tok ...


"Ray, lo udah tidur? Tadi suara apa?" Pertama, Qian mengetuk pintu kamar Ray. Tapi dia tidak menjawab. Membuat Qian semakin yakin bahwa di dalam Ray sedang tidak baik-baik saja. Dalam hening sepi yang Qian dengar saat itu, ia bisa mendengar suara Ray yang memanggilnya. Karena itu, tanpa ragu, dia membuka pintu kamar bersamaan dengan matanya yang menangkap Ray di atas lantai sambil terbatuk-batuk.


Tak menunggu waktu ke ih lama, Qian langsung berlarik ke arah Ray. Remaja itu sudah terkapar di atas lantai dengan memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Seketika Qian berteriak memanggil Erik dan Arnold. Walau Qian sering menghadapi Ray yang sedang sakit, tapi ia belum terbiasa dengan itu. Tangannya sedikit bergetar menunggu langkah kaki yang kian mendekat. Semuanya akan baik-baik saja.


...🔹💠🔹...


Dalam lorong bernuansakan putih itu, Qian menggigit ujung jarinya. Ia tak akan pernah terbiasa dengan Ray yang sering bolak-balik ke rumah sakit. Remaja itu pertama kali bertemu dengannya juga di rumah sakit saat ia di tabrak oleh Sasha dan menimbulkan luka yang cukup serius hingga memerlukan waktu pemulihan yang lama. Setelah keluar dari rumah sakit, Qian kira Ray akan lebih hati-hati dengan tubuhnya. Ternyata tidak, ia sering sakit karena telat makan. Qian dan Erik tidak bisa terus di rumah karena jadwal kuliah yang padat. Begitu pula Arnold yang sibuk dengan kantornya.


"Bang, jangan khawatir sama Ray! Gue yakin dia baik-baik aja, palingan dia telat makan aja kaya biasa." Erik di sampingnya menenangkan Qian. Tapi sayang sekali, kakaknya terlalu kalut.

__ADS_1


Keduanya berdiri saat mendengar suara pintu terbuka. Arnold yang keluar dari kamar inap Ray menghela nafas sesaat setelah dua adik iparnya menatap dengan penasaran akan apa yang terjadi.


"Ray nggak telat makan, katanya dia keracunan makanan!"


"Hah?! Keracunan makanan kaya gimana?!!" Arnold menghela nafasnya, lagi. Dia ingat bagaimana susahnya menjelaskan keadaan Ray kepada Qian. "Ya keracunan..."


"Ya mau keracunan kaya gimana?! Perasaan dia nggak makan jamur beracun atau makanan basi!" Qian terus membantah. Belakangan, dia ada di rumah. Jadwal kuliahnya juga tidak sepadat dulu. Jadi otomatis dia tahu apa yang anak itu makan selama di rumah. Kecuali di sekolah atau di luar lingkungan rumah, Qian tidak tahu lebih tepatnya.


"Bang, tenang dulu!" Qian kembali terduduk mengacak-acak rambutnya. Bagaimanapun dia bukan orang yang gampang frustasi seperti ini. Tapi kalau sudah menyangkut Ray sama Ren beda lagi. Alhasil, karena bingung mau bagaimana, Erik akhirnya mengeluarkan ponselnya. Melemparnya ke arah Qian, dan untung saja kakaknya itu cekatan untuk menangkap.


"Gue nggak tau kenapa akhir-akhir ini lo jadi kaya cewek pms. Gue juga jarang liat lo bucinin si cewek Korea, kita nggak tau apa yang ada di kepala lo, Bang. Tenang dulu, jangan buat orang-orang ikut panik!" Perlahan, Qian menghembuskan nafasnya pelan sambil memandangi layar ponsel milik Erik.


"Lo dapet dari mana foto cewek gue?"


"Di google banyak kali, Bang. Bukan cuma punya lo, dia punya banyak orang!" Qian berdecak. Kemudian kembali diam sambil menggulirkan layar ponsel di tangannya.


"Bisa jinak juga itu bocah, kamu kasih apa sampai bisa buat dia diem kaya gitu?" Tentu saja Arnold juga penasaran dengan apa yang  terjadi dengan Qian. Erik hanya tersenyum.


"Siapa?"


"Winter Winter itu loh Bang!"


"Oh, banyak fotonya di google?! Oke, besok kita print yang banyak terus di tempel di setiap sudut rumah biar dia gak kaya serigala ngamuk lagi!"


...🔹💠🔹...


Ketika membuka mata, hal pertama yang remaja itu lihat adalah sebuah langit-langit bercat putih. Matanya terasa silau dengan cahaya yang ada, butuh menyesuaikan diri ketika ia mulai bergerak untuk mendudukkan tubuhnya.


Tidak ada siapapun di sana, membuatnya kembali menghela nafas dan mengusap kepalanya yang kembali terasa sakit.

__ADS_1


"Udah bangun?" Suara itu familiar, ternyata ada orang lain di dalam ruangan itu yang Ray tak sadar akan keberadaannya. Rion menghela nafas, ia tahu remaja yang kini berada di atas brangkar itu adalah si keras kepala yang sering membuatnya sakit kepala. Tak lagi heran ketika Ray lagi dan lagi berakhir di rumah sakit. Sama seperti dulu.


"Gue heran, berulang kali gue bilang jaga kesehatan lo. Lo bukan anak kecil lagi, yang harus dijaga setiap saat! Susah banget sih jadi penurut!" Sekali lagi Ray mendengar Omelan Rion. Remaja itu berdecak pelan, sambil meremas selimut yang ia kenakan.


"Gue udah berusaha tau nggak! Gue udah makan tiga kali sehari dan nggak pernah telat! Gue nurut setiap kali Bang Qian minta gue minum vitamin! Gue nurut tiap kali Ayah suruh buat konsultasi kesehatan tiap dua minggu sekali! Di sekolah gue juga nggak makan sembarangan, gue bawa bekal tiap hari! Gue harus nurut kaya gimana lagi?!" Lama-lama Ray juga kesal selalu di suruh jadi penurut. Dia juga ingin jadi seperti remaja lain yang ingin makan makanan jalanan. Ray sangat ingin ketika teman-temannya hangout di rumah makan dan memesan makanan yang pedas.


"Kalau gitu lo harus cepet sembuh, nanti gue ajak makan makanan kaki lima!" Lirih Rion sambil mengalihkan pandangan. Terkadang Ray bingung dengan pola pikir Rion, dia sangat temperamental ketika Ray jatuh sakit. Selalu menyalahkannya ketika dia sudah terlanjur masuk rumah sakit. Tapi seketika ia bisa jadi seorang yang sangat peduli dan perasa.


"Nggak usah! Nanti kalau sakit lagi, pasti lo nyalahin gue lagi! Padahal cita-cita gue jadi penjelajah kuliner Indonesia, tapi karena lo di sini nggak jadi, deh! Gue makan makanan berminyak aja lo pasti langsung berubah jadi maung!!" Ray memajukan bibirnya. Tapi jari Rion sangat gatal, dan berakhir menjitak kepala remaja di atas berangkar.


"Aduh ...!"


"Ck, gue cuma bilang jaga kesehatan lo! Gue nggak larang lo buat makan apa aja, yang penting nggak berlebihan. Cuma itu aja, pola tidur juga di jaga terus itu pikiran juga jangan––"


"Tuh, 'kan lo cerewet lagi!" Rion menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk kembali diam duduk di samping Ray. Remaja itu masih mengomel tentang Rion yang selama ini terlalu mengekangnya. Tapi di telinga Rion, suaranya bahkan terdengar seperti suara kicauan burung yang tidak jelas.


"Btw, lo bener hari itu!" Ray kembali diam. Merasa bingung dengan apa yang Rion maksud.


"Maksud gue,lo bener soal Mama."


"Tante Nia kenapa?"


"Mama hamil lagi!" Dan saat itu, Ray benar benar terdiam. Ia bisa melihat ketidakrelaan di wajah Rion.


"Beneran? Ya bangus, dong! Lo nggak sendirian lagi kalau begitu! Berapa bulan? Udah diperiksa ke dokter?" Rion mengangguk.


"Kemarin udah, dan kemungkinan ... adik gue kembar."


"KEMBAR?!" Teriak mereka. Bukan cuma Ray yang terkejut dengan apa yang di ungkap Rion, tapi juga Erik, Qian dan Arnold yang baru saja membuka pintu kamar.

__ADS_1


...🔹💠🔹...



__ADS_2