
Rumah ini kembali ramai, padahal ini bukan waktunya untuk liburan sekolah. Tapi tetap saja kehadiran lima cowok itu membuat suasana menjadi lebih bernyawa. Bukan berarti sebelumnya rumah itu terasa hampa, hanya saja kehadiran mereka membuat Qian semakin mengeraskan volume musik di kamar untuk melindungi telinganya. Yang Qian tau, keluarga Chandra itu penuh dengan keanggunan. Sama seperti nyonya besar Chandra yang selalu mengedepankan tata krama. Tapi nyatanya mereka tidak.
"Ngaku aja lo, lo yang kentut sembarangan, 'kan?! Ck, udah gue bilang harusnya tadi kita tinggalin dia di jalan aja! Di sini dia malah jadi beban buat kita!" cerocos Karel pada Sam yang dengan seenaknya tiduran dengan kaki menyender pada meja. Berlaku seolah ini adalah rumahnya sendiri.
"Nggak usah cerewet lagi! Berisik tau denger suara lo yang kaya toa!"
Karel mengibaskan tangannya ke udara beberapa kali agar bau tak sedap itu segera pergi dari ruang tamu ini. "Gue yakin dulu waktu lo masih di dalem perut, lo Tante pasti ngidamnya sambel pete!"
"Eh, sambel pete enak tau! Lo aja yang kurang update soal makanan yang kaya beginian! Lo kan orang royal, mana mau makan Pete!"
"Eh, kalau ngeledek orang ngaca dulu, ya?! Di keluarga Chandra emang ada yang makan Pete, kecuali lo?!" Karel tetap tidak mau mengalah. Apalagi jika lawannya Sam, dia akan berjuang mempertahankan kehormatan dirinya. Terlebih kalau mereka bersama, seketika Sam lupa tempatnya. Lupa kalau dia lebih muda dibanding Karel, lupa kalau Karel adalah kakaknya.
"Em, gue pernah, kok makan sambel pete." Sam kembali mengingat-ingat. "Mungkin waktu masih SMP. Diajak Rean terus si Dion ikutan, deh."
"Udah udah kalian berdua! Kalau nggak mau kena omelan nenek kalian, seharusnya kalian bersikap sopan sekarang!" Erik baru saja datang dari dapur. Melihat dua orang yang tengah berselisih, dan tiga orang lain tertidur di sofa. Jujur saja Shan, Kensie, dan
Sean masih terlalu lelah untuk mendengarkan perdebatan dua adik mereka tersebut.
"Bang Erik bohong, 'kan? Lagian mana mungkin Nenek ada di sini, ya nggak?"
"Iya, bener banget!" kali ini Karel setuju dengan apa yang Sam bicarakan. Neneknya itu seorang wanita yang nggak bisa seenaknya pergi dan datang begitu saja.
"Kalian ngomongin siapa?!" Seketika mereka bertiga melihat ke asal suara. Karel terdiam. Ia menurunkan kakinya dari sofa. Begitu pula dengan Sam yang menurunkan kakinya dari meja. Sudah kebiasaan dari kecil, mereka dididik untuk berlaku sopan seperti bangsawan. Tidur, makan, bahkan setiap hari penuh aturan yang membuat mereka tersiksa. Karel menegakkan punggungnya, begitu pula dengan Sam.
Erik melihat mereka terdiam. Wajah tegas sang nenek membuat anak-anak itu seperti terhipnotis. Wajar bila mereka sejak kecil di doktrin untuk hormat kepada neneknya. Dilihat dari sisi mana pun, wanita itu terlihat tega menghukum cucu-cucunya yang melakukan kesalahan.
Wanita itu berjalan dari tangga, mendekat ke arah mereka. "Seperti ini sikap kalian jika di belakang?" Mereka hanya diam. Tugas Erik hanya menonton, ah mungkin kurang popcorn dan soda.
"Kalian meninggikan suara. Sam, Nenek tidak pernah mengajarkanmu menaikkan kaki ke atas meja. Kamu juga, Karel." Mereka masih diam. Keduanya menunduk dalam-dalam. "Tapi karena ini rumah milik Qian, Nenek akan memberikan kelonggaran." Wanita itu duduk di samping Karel, tidak tau bahwa dua cucunya tersebut sudah menegang ketika langkah sang nenek mendekat. Tapi kemudian keduanya tersenyum.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk berbuat tidak sopan." Keduanya serentak mengatakan kalimat tersebut. Qian yang baru datang dengan secangkir teh hangat di tangannya juga menggeleng pelan. Ternyata ada yang bisa menaklukan mereka selain Ray.
"Maaf, saya hanya punya teh biasa. Mungkin rasanya tidak seenak di rumah Anda." Qian meletakkan teh tersebut di atas meja. Lantas ikut bergabung dengan mereka, duduk di sofa.
"Tidak apa-apa. Sudah lama sekali tidak minum teh naga. Dulu harganya hanya lima ratus perak." Nenek mencoba untuk mengingat-ingat. Puluhan tahun lalu, saat ia belum memulai bisnisnya, teh naga adalah minuman kesukaan suaminya.
__ADS_1
"Sekarang juga nggak terlalu mahal, cuma tiga ribuan. Kemarin nggak sengaja liat di pasar." Dua orang itu masih sibuk dengan percakapannya. Melupakan Karel dan Sam yang masih bingung dengan keadaan. Sejak kapan nenek mereka suka ngobrol dengan orang asing seperti Qian?
...🔹💠🔹...
Ray mengerjai bingung. Adiknya rewel lagi, bahkan ayahnya sendiri tidak tau harus melakukan apa. Kini, anak kecil itu menangis sesenggukan di pangkuan kakaknya.
"Badannya agak hangat," Ray memeriksa kening Ren, merasakan suhu hangat dari kulit adiknya. "Apa karena kemarin nggak makan malam? Jadi sakit lagi?" Ray mulai berspekulasi. Berbeda dengan Arnold yang hanya terdiam.
"Terus bagaimana? Apa perlu panggil dokter?" Pria itu mulai bingung. Ray menatapnya lelah. Bertanya pada ayahnya tidak akan membuahkan solusi.
"Kak ... Ren mau susu ..." lirih anak kecil itu saat tangisnya sudah mulai mereda. Sang ayah mendekat. "Kamu mau susu?! Susu apa, Sayang? Biar nanti Ayah belikan. Kamu mau yang rasa apa, hmm? Atau kalau perlu Ayah belikan satu pabrik biar nggak cepet habis?" Ray berdecak. Lantas remaja itu berdiri. Menggendong adiknya ke dapur untuk dibuatkan makanan. Kalau dipikir-pikir, perutnya kembali mual. Mungkin karena kemarin malam dia melewatkan makannya. Ah, sudahlah. Yang penting adiknya sudah tidak menangis lagi.
"Ayah, jangan berlebihan! Stok susu di rumah masih banyak!" Arnold membuntuti anaknya tersebut. "Tapi kemarin cepat habis, Qian yang suruh beli rasa coklat!"
"Ren gampang bosen sama rasanya. Kadang minta vanila, kadang minta yang coklat. Kemarin yang rasa vanila masih dua kotak, habis karena dibuat cemilan sama Bang Erik." Saat itu Arnold kembali terdiam. Karena apa yang anaknya katakan memang benar adanya. Sebab, di depannya, Erik berdiri di depan lemari. Dengan sendok susu di tangan dan buliran susu di bibirnya.
"Hei, what's up, Bro!" Seru Erik ketika menyadari Arnold yang menatapnya terkejut.
"Itu susu buat Ren! Ngapain kamu makan kaya cemilan? Nggak ada makanan lain apa? Kalau tiba-tiba Ren mau yang rasa vanila gimana?!" Tanya pria itu dengan serius.
"Ren nggak mau susu putih ... mau coklat ..." mendengar suara sang anak, Arnold tertohok kalimatnya sendiri.
...🔹💠🔹...
Sedari tadi, Rion terus menggerutu. Bukan tanpa alasan, tapi mamanya yang tengah hamil muda itu memborong seluruh mangga muda yang ada di pasar. Lihatlah, ada 6 kantung plastik besar berisi mangga muda. Tapi apakah semua bisa habis? Bagaimana kalau terlanjur busuk? Seolah tuli, Nia, si pelaku juga hanya diam saja sambil mengupas mangga muda di tangannya dan melahapnya dengan senang hati.
"Ma, Pa? Masa kita ke rumahnya Om Arnold bawa mangga muda sih? Di depan rumah mereka 'kan ada. Lagian—"
"Eits, siapa yang bilang mangga itu buat Arnold? Itu 'kan punya Mama! Mama yang akan makan semuanya!"
"Tapi Ma, ini 'kan banyak banget! Mama juga nggak akan habis makan semua mangga ini sendirian!"
"Mama makan sama Papa, kok. Iya 'kan Mas?" Abra hanya mengangguk pasrah. Mengingat kemarin ia dipaksa untuk makan buah masam itu oleh istrinya. Kehamilan Nia kali ini benar-benar merepotkan. Sangat berbeda dengan saat dia mengandung Rion dahulu.
Mobil itu berhenti di halaman rumah. Matahari sedang terik-teriknya, jadi wajar saat ini Rion dan Abra mulai gerah. Bukan cuma karena barang belanjaan Nia untuk Qian tapi wanita itu juga bersikap seolah-olah dia adalah bos di sana. Dengan seenaknya menyuruh mereka berdua mengangkat dua kantung plastik ukuran besar dengan berat yang jangan ditanya berapa totalnya. Tadi wanita itu sengaja membeli cemilan, buah, bahkan bahan-bahan makanan. Dia tau, sejak berada di rumah tersebut Arnold dan Ray santan jarang makan makanan instan. Mereka harus berterima kasih dengan Qian dan tangan ajaibnya yang bisa melakukan apa saja.
"Ya ampun, Mbak. Harusnya nggak usah bawa bawaan segini banyak. Sekarang 'kan Qian punya Bang Arnold, dia dompet berjalannya Qian."
__ADS_1
"Lho, nggak apa-apa. Aku yang harusnya makasih, karena kamu sekarang ipar Mbak yang satu itu nggak jadi ngenes. Makasih juga udah mau perhatian sama anak-anak ya? Tau juga sekarang kamu punya tamu tak diundang." kata Nia sambil melirik ke arah 5 orang di ruang tamu bersama Ray dan Rion. "Pasti bahan makanan cepet habis." Qian cuma tertawa.
"Oh iya, Mbak. Kata Rion kemarin dia mau punya adik—"
"ADIK?!" lima pemuda itu berseru dengan terkejut. Kensie masih mencerna kalimat Qian, mulutnya menganga walau di dalamnya masih ada camilan yang masih utuh bentuknya. Karel menutup mulutnya, ia tidak percaya, Rion akan punya adik?! Rion yang itu?! Sama dengan Karel, Sam juga terkejut.
"Gue nggak salah denger tadi?" Shan mengguncang tubuh Sean yang tiba-tiba kaku. Maksudnya, nanti nenek mereka akan menimang satu cucu lagi? Akhirnya Sean hanya menganggukkan kepala dengan lirih. " Iya Kak, bener. Nggak salah denger."
"Ck, kenapa sih reaksi kalian gitu? Gue yang mau punya adik aja biasa aja, tuh." Rion kembali memainkan game di ponselnya. Berusaha acuh dengan hingar bingar di sekitar.
"Siapa mau punya adik?" Nenek keluar dari kamar tamu. Tadi sempat mendengar suara ricuh dari luar. Membicarakan soal adik. Langkahnya mendekati Nia yang terdiam.
"Aku, Ma." Abra menarik Nia dalam pelukannya. "Aku mau nambah anak lagi, sekarang udah jadi kacang di perut istri aku. Iya, 'kan, Beb?" kata Abra sambil mengusap perut Nia. Nenek hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Lantas mendekat ke arah mereka berdua.
"Maaf, Ma ..." lirih Nia.
"Kenapa kamu minta maaf, harusnya dia yang sadar diri!" Nenek menarik telinga Abra. Membuatnya berteriak kesakitan. "Umur kamu udah 40 tahun, Nia. Itu bisa bahaya buat kamu sendiri. Dan bocah ini dengan gampangnya bilang, biji kacang udah tumbuh di perut istrinya!"
"Iya, Ma. Ampun, nggak lagi deh."
"Kamu pikir hamil itu gampang?! Kamu jangan enaknya aja! Aduh, punya anak pinter-pinter tapi soal istri dan rumah tangga pada goblok semua! Dipakek akal kamu dong, Abraham!" olok si nenek.
"Tapi kamu nggak apa-apa 'kan? Nggak ada yang sakit 'kan?" Nenek mulai bertanya pada Nia. Dan wanita itu tersenyum, kemudian menggeleng. Dia merasa lega. Yang ia tau, saat dulu mengandung Arnold—putra bungsunya—umurnya sudah 40 tahunan. Dan ia tau bagaimana susahnya kala ia mengandung saat itu.
"Dijaga kesehatannya ya, Nak. Jaga juga makan sama tidurnya. Jangan kebanyakan stres juga."
"Iya, Ma. Mas Abra udah jaga aku dengan baik."
"Kalau dia macem-macem, sentil aja ginjalnya!" Abra hanya tersenyum getir. Ketika keduanya bersama rasanya seperti dua monster yang bersatu. Entah apa jadinya jika mereka tinggal serumah. Ah, mungkin yang harus dia khawatirkan adalah dirinya sendiri.
"Kalau sama istri aja takutnya luar biasa, sama adiknya sendiri aja nggak pernah dengerin!" Arnold yang ada di samping Abra mulai menggerutu. "Dih, si duda ngenes. Iri bilang aja kali!"
Belum juga keduanya kembali mengucap satu kata, Ren lebih dulu datang dari ruang tamu sambil berlari. Kemudian berhenti ketika memeluk ayahnya.
"Ayah, Ren boleh minta sesuatu, nggak?" Arnold dan Abra saling tatap sebelum keduanya berjongkok untuk menjajarkan tingginya dengan Ren. "Boleh, Sayang. Kamu mau minta apa? Nanti Ayah belikan."
"Ren mau minta adik, bisa nggak."
__ADS_1
...🔹💠🔹...