Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 35. Rujak Mangga Muda


__ADS_3


Dunia berasa milik berdua saat dua orang itu kini duduk berdampingan di atas sofa sambil menonton TV bersama. Kejadian yang memang luar biasa, saat Nia dan Abra bisa duduk dengan tenang apalagi kini wanita itu menyenderkan kepalanya di pundak Abra.


Abra menggenggam tangannya, seakan tidak ingin kembali terpisah. Sudah cukup beberapa bulan wanitanya pergi dari sampingnya, setelah ini tidak boleh ada yang mengganggu mereka.


"Kenapa? Tumben banget mau manja kaya gini di rumah. Kalau mau sesuatu bilang aja, nggak usah kaya gini. Jadi lupa umur, 'kan?" Abra mengomel, sedangkan wanita itu memajukan bibirnya.


"Nggak tau, pengen aja. Aku kangen sama Rayyan, kangen juga sama Ren. Mereka sehat 'kan?" Abra mengangguk. Nia bergerak dengan gelisah di samping Abra. Membenarkan letak kepalanya yang terasa tak enak. Dan tiba-tiba saja, wanita itu ingin dibuatkan rujak mangga muda.


"Mas, di rumah ada mangga muda nggak?" Abra menatap Nia bingung, dia tidak suka makanan yang manis atau masam. Buah pun jarang ia beli.


"Ngapain sore-sore nyari mangga muda?! Di rumah nggak ada, adanya cuma buah apel. Mau?!" Nia menggeleng ketika suaminya mengatakan hal itu. Perlahan ia kembali menggerakkan tubuhnya, tanpa mengucap apa-apa dia langsung pergi ke dalam kamar. Membuat sosok Abra yang ada di sana menjadi kebingungan setengah mati. Nia jarang seperti ini, kalau marah wanita itu akan meledak-ledak seperti biasa. Tapi kali ini yang dia khawatirkan adalah, Nia tidak banyak bicara.


Dengan helaan nafas, Abra kemudian berdiri dari tempatnya. Membuka pintu kamar dengan perlahan, tubuhnya mematung lebih lama di pintu kamar. Melihat Nia yang kini mengusap bulir-bulir bening di matanya. Kemudian, kakinya melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Mengusap surai milik Nia, tapi wanita itu malah menangis lebih kencang.


"Kamu kenapa?! Punya masalah?! Ngomong aja, jangan cuma diem kaya gini. Aku nggak tahu apa yang kamu mau kalau kamu nggak bilang apa-apa."


"Hiks ... aku mau mangga ... aku mau rujak mangga muda ... hiks ... kamu tega banget Mas sama aku ... aku nggak minta apa-apa dari kamu sebelumnya ... aku cuma mau minta mangga muda ..." Abra semakin dibuat bingung dengan ibu satu anak ini. Pasalnya, toko buah mana yang jual mangga muda di musim ini.


"Bukan gitu, ini bukan musimnya mangga masak. Mana ada mangga dimana-mana?! Lagian ini udah sore, masa mau keluar. Ini 'kan waktu istirahat–"


"Ya udah kamu tidur di luar nanti! Nggak usah masuk kamar!"


Sungguh Abra semakin bertanya-tanya, ada apa dengan istrinya kali ini?!


"Buah yang lain aja ya? Apel atau anggur misalnya ..."


"Aku nggak mau yang lain, maunya mangga muda. Jenis mangga madu, yang baru dipetik dari pohonnya."


"Besok aku beliin ..."


"Maunya sekarang!!"


🔹💠🔹


Rion duduk dengan kaku di atas sofa. Memandang sosok Erik yang kini melipat tangan di depan dada sambil menatapnya intens. Sebelumnya, Erik kenal betul siapa remaja di hadapannya. Dia tidak pernah berfikir kalau Rion akan mengejar Ray sampai ke sini hanya untuk meminta maaf. Tapi, jujur saja dia salut dengan remaja itu.


"Bang Erik beneran punya hubungan darah sama Rayyan?" Rion memulai percakapan. Tidak tahan dengan kecanggungan yang ada walau dirinya memang tidak berharap mantan kakak kelasnya itu banyak bertanya, apalagi menghujatnya karena masalahnya dengan Rayyan.

__ADS_1


"Hmm, kenapa?!"


"Enggak"


"Lo kapan ke sini? Sama siapa? Om Abra?!" Rion menggeleng. Ia masih bisa ingat papanya yang mengatakan bahwa jika Rion benar-benar ingin meminta maaf dan bersekolah di tempat yang sama dengan Rayyan, maka dia harus ke sini seorang diri. Tanpa ada yang menjemput atau membantunya. Ia masih ingat juga bagaimana susahnya ia mencari taksi untuk membawanya pulang, dan setelah sampai di rumah ia malah melihat kedua orang tuanya bersantai sambil nonton TV.


"Sendiri, Bang. Papa nggak pernah mau bantu, apalagi soal masalah ini ..."


"Nggak apa-apa," Rion menatap Erik lamat-lamat. Dia bisa melihat senyum Erik yang mengembang saat ini. "Semua orang pernah salah, semua orang pernah melakukan itu. Tapi, bagian terbaik darinya adalah ketika mereka belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama."


Keheningan tiba-tiba datang di antara mereka. Datang tanpa mereka minta, tanpa tahu ada dua orang yang mengamati keduanya dari pintu dapur. Qian dan Ray kini saling bertatapan.


"Dia Rion?" Ray mengangguk.


"Katanya dia kesini penuh perjuangan, nggak dibantu sama orang rumah. Om Abra juga nggak bantu dia buat pulang kerumahnya. Sungguh malang sekali nasibnya." Qian mendengus ketika Ray dengan dramatis mengatakan kalimat terakhir.


"Dia mau tinggal di sini atau gimana?! Tambah banyak dong tanggungan gue, mana beras bentar lagi habis—"


"Enggak Bang, dia tinggal sama Om Abra. Tenang aja, jangan dibuat pusing." Qian beralih pada tempatnya. Memilih untuk menyibukkan diri dengan membuat minuman untuk tamunya.


"Oh, iya, Bang. Kemarin Ayah kayanya pengen cari pembantu buat bantu-bantu Bang Qian, deh." Qian menghentikan gerakan tangannya sebentar. Kemudian beberapa saat, ia melanjutkan gerakkannya.


"Bilang sama ayah lo, kita nggak butuh pembantu. Gue aja cukup buat ngurus kalian berlima."


"Tapi gue beneran nggak butuh––"


"Bang Qian kalau dibilangin jangan keras kepala lagi, nggak mau 'kan kejadian terakhir berulang lagi?!" Qian kemudian menghela nafas.


"Bukan begitu, Ray. Masalahnya, nggak bisa sembarang orang bisa bareng sama kita. Sama ayah lo yang diktator, sama Erik yang tingkahnya kaya orangutan, atau sama gue yang bucin sama Winter. Dan yang lebih parah, nanti gimana kalau Ren lebih suka gaul sama orang asing daripada sama kita sendiri?! Gue mikirin sampai kaya gitu, bukan nggak beralasan."


Ray terdiam seketika. Benar apa yang Qian katakan, tapi kalau dia terlalu memaksakan dirinya seperti kemarin, mungkin juga akan berbahaya pada kesehatan laki-laki itu.


Kembali dengan dua orang di ruang tamu, yang kini kecanggungan yang tadi sempat membuat keadaan menjadi beku, berangsur melebur bersama dengan banyaknya topik yang mereka bahas. Dan percakapan keduanya berakhir dengan Rion yang tiba-tiba mendapat panggilan dari Abra.


"Halo, kamu di mana?!"


"Aku di rumah Om Arnold, kenapa?" Rion bisa mendengar helaan nafas papanya.


"Mama kamu aneh banget hari ini, masa sore-sore begini minta rujak mangga muda?!"

__ADS_1


"Hah?! Mana ada jam segini rujak mangga muda!"


"Kamu harus cari sampai dapat, kalau nggak mau liat mama kamu nangis semaleman."


"Tapi, Pa––"


"Pokoknya kamu harus dapet itu rujak mangga muda!" Final Abra. Laki-laki itu memutus sambungan telpon. Membuat Rion berdecak malas, melihat reaksi Erik yang kini mulai tersenyum jahil padanya.


"Bau-bau anggota keluarga baru nih!" Rion menghela nafas. Erik memang selalu begini, dulu ia sering sekali menggodanya, dan kini bahkan tak jauh berbeda.


"Mana ada, Bang! Mama udah hampir 40 tahun, mana bisa punya anak lagi."


"Lo jangan sok tau, dia tetep Mama lo. Seorang istri yang punya suami." Erik mendekat hanya untuk kembali membisikkannya lagi. "Seorang istri yang punya suami ..." Bisik Erik tepat di telinga Rion. Mereka sampai tidak menyadari kedatangan Ray dan Qian yang membawa segelas minuman.


"Hah?! Siapa punya suami?!" Qian menyaut. Tapi dua orang yang duduk di sofa itu terlihat aneh.


"Gini Bang, tadi Papa nelpon. Suruh beliin rujak mangga muda, Mama yang minta."


"Hah?! Kayanya bakal ada Chandra baru nih!!" Seru Ray yang kini melompat tepat di samping Rion. Qian terkekeh mendengar dua orang itu menggoda Rion yang kini melipat wajahnya.


"Gue nggak mau punya adik, Bang ..."


"Eh, gue bilangin ya? Anak itu rahmat dari Yang Kuasa, lo nggak boleh bilang kaya gitu. Coba aja dulu mama lo bilang nggak mau punya anak kaya lo, eh sekarang lo bisa jadi manusia enggak?!!" Rion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayah cuma suruh beliin rujak mangga muda, bukan bilang mau punya anak lagi."


"Jam segini emang ada rujak mangga?" Qian bertanya lagi. Sedangkan Rion, anak itu hanya menggeleng tidak tahu.


"Terus gue cari di mana ini rujaknya, elah ..." Ray dan Erik malah menertawakan Rion.


"Daripada lo cari rujak mangga di luar, lebih baik lo panjat itu mangga depan gerbang. Gue kemarin liat udah ada buahnya, cuma agak tinggian dikit. Nanti gue yang buatin bumbunya, gimana?"


"Tapi—"


"Nggak usah tapi tapi, itu Tante Nia kasian di rumah nangis. Udah ditawarin Abang gue juga, nggak bersyukur amat lo. Ayo!!" Erik menarik tangan Rion dengan paksa.


"Ayo, gue bantuin. Demi keponakan baru, gue rela." Rion kini memukul pelan lengan Erik. Merasa kesal dengan sikapnya yang seperti anak kecil.


"Ray juga mau bantu!!! Demi adik baru!!!"

__ADS_1


...🔹💠🔹...



__ADS_2