
Banyak hal yang membuat pikiran Ray kalut. Beberapa kali ia sempat di panggil Pak Agung karena tidak memperhatikan ketika di kelas. Sudah lebih dari seminggu sejak ia pulang dari rumah sakit, tapi pikirannya masih berkelana jauh di sana. Rion menghela nafas. Cowok itu diam-diam memperhatikan Ray yang tidak fokus dengan pelajaran. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sering.
"Lo mikirin Ren?"
"Enggak!" Rion berdecak.
"Gue kepikiran, Rion! Ren itu udah paham sama perpisahan Ayah sama Tante Sasha. Dia bilang kalau satu keluarga itu ada anak, ayah dan ibu. Terus dia tanya sama gue, kenapa di rumah nggak ada sosok ibu."
"Maksudnya?! Ren mau Om Arnold sama Tante Sasha balikan gitu?!" Ray menggelengkan kepalanya. Bukan itu.
"Bukan. Dia nggak cari mamanya, bukan Tante Sasha yang dia cari. Maksud Ren itu ... ya ... maksudnya pengganti mamanya gitu ..."
"Om Arnold disuruh cari istri lagi gitu sama Ren?" Ray mengangguk. Rion paham sekarang, walau di rumahnya sudah ada Bang Erik dan Bang Qian pada masa pertumbuhan Renand memang memerlukan sosok ibu yang memantau setiap langkahnya. Sedangkan di rumah, setiap orang sibuk dengan dunianya masing-masing.
"Dia masih anak-anak, jangan diambil hati." Kata Rion singkat.
"Tapi selain itu, kemarin dia juga bilang pengen ketemu Tante Sasha. Itu pas dia sakit sih, waktu udah sembuh dia nggak bilang apa-apa lagi. Tapi gue mikirnya, dia yang diem aja buat gue khawatir. Gue nggak mau dia bernasib sama kaya gue dulu."
"Ehem, itu yang belakang! Kenapa malah gibah di jam pelajaran saya?! Apa yang kalian bicarakan sampai-sampai tidak bisa konsentrasi dengan materi yang saya sampaikan?!" Rion dan Ray saling tatap lagi. Aduh, mereka kena lagi.
"Anu ... anu ..."
"Kalian tau nggak kalau gibah itu adalah dosa? Astaghfirullah, istighfar nak! Kalian ini jangan berbuat dosa pas jam pelajaran saya, ya Allah!" Wajar lah, dia Pak Rizal. Guru agama paling lebay seantero sekolah.
"Kami nggak—"
"Udah, saya nggak mau tau. Sekarang kalian berdiri di lapangan sampai jam saya berakhir!"
"Perasaan kalau duduk sama lo, gue kena hukum mulu, anjir!" Keluh Rion yang sudah berdiri dulu.
"Ya lo yang mancing-mancing gue tadi. Kan gue kelepasan ngomong banyak, kalau gue ngomongnya dikit-dikit kaya lo kan nanggung banget!"
__ADS_1
...🔹💠🔹...
"Cepetan lo ngayuhnya! Pengen minum gue sampai rumah!" Ray yang duduk di depan sambil mengayuh sepedanya berdecih. Rion enak, duduk di belakang. Tidak mengeluarkan banyak tenaga, padahal ia tau Rion cukup kuat untuk mengayuh sepeda di depan. Sesekali Ray sampai berdiri dari duduknya untuk mengayuh lebih kuat. Rion di belakang sana enak saja mengomentari dengan nada sombongnya.
"Lelet banget lo ngayuhnya! Cepetan dikit!"
"Lo berat banget, Rion! Serasa gendong beban hidup ini mah! Padahal tubuhlo cungkring kaya lidi gitu ternyata berat banget woee, ngaku lo! Lo punya banyak dosa 'kan?! Makanya berat badan ko juga nambah!"
"Apa hubungannya, Bambang!" Rion masih menggerutu di belakang sana. Sedangkan Ray, ia tersenyum melihat rumah dengan dua tingkat yang sudah ia rindukan. Ia sudah punya rencana, setelah sampai rumah dia akan mandi lalu tidur, sebelum minum jus buah yang biasa Qian buatkan untuknya.
Sampai di garasi, dia turun dari sepedanya. Tidak peduli bagaimana Rion yang hampir nyusruk di pojok garasi karena kehilangan keseimbangan. Ray benar-benar rindu dengan minuman dingin buatan Qian.
"Aku pulang!" Serunya di depan pintu depan. Tapi tidak ada jawaban dari dalam, walau ia melihat ada ayah, Erik, dan Qian yang sudah duduk di ruang keluarga dengan Ren yang duduk di pangkuan seseorang. Seorang wanita tua yang kini terkejut karena Ren yang tiba-tiba memberontak turun dari pangkuannya. Berlari sambil menyerukan nama Ray berulang kali. Dan memeluk kaki kakaknya dengan erat, seperti yang biasa ia lakukan. Bedanya, kini remaja itu berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
"Kenapa?" Ia mengabaikan pertanyaan Rion. Memilih untuk membawa Ray dalam gendongannya, dan masuk dengan perlahan. Tunggu, seketika Ray lupa bagaimana cara berjalan. Apakah di keluarga Chandra, mereka harus berjalan seperti model? Atau tersenyum bak raja Inggris yang mendapatkan tamu? Atau ...
"Selamat sore, Nenek. Maaf, aku tidak tau Anda akan datang tiba-tiba." Katanya ketika sudah sampai di depan neneknya. Wanita tua itu hanya diam, tidak tersenyum tapi hanya mengangguk.
"Selamat sore," Rion di belakangnya dengan santai bergabung dengan mereka. Dan Ray tau, bagaimana tatapan neneknya berubah menjadi lunak ketika melihat sosok Rion.
"Ren, sini duduk sama Nenek." Ucap nenek sambil menepuk pangkuannya. Tapi Ren menggeleng dengan lucu.
"Tidak, Nek. Ren mau sama Kakak. Ren sudah berat, kasian Nenek kalau berat." Ucap anak itu dengan polosnya. Masalahnya bukan pada Ray, tapi jelas-jelas Nenek melihatnya dengan tatapan yang aneh.
"Ren, Nenek rindu sama Ren. Ren mau ya duduk sama Nenek?" Tanya Ray.
"Dia mau duduk dengan kamu, bukannya tadi dia sudah bilang?!" Ray jadi serba salah. Mungkin, sebaiknya mulai sekarang dia harus diam saja.
"Bagaimana dengan keadaan di sana, Ibu?" Arnold membuka topik. Berusaha untuk menyelamatkan anaknya. Hingga mereka jatuh dalam percakapan ringan yang cukup menyenangkan. Sesekali Qian dan Erik juga ikut dalam pembicaraan, ternyata mereka bisa mengikuti alur percakapan yang Nenek inginkan. Hingga ekor matanya mengamati Ray yang selalu menunduk dan membuat wanita itu sedikit tidak nyaman.
"Apa benar kamu mengajari anakmu dengan baik, Arnold?!" Ray menatap neneknya bingung. Ia bingung di mana letak kesalahannya.
"Anggota keluarga Chandra selalu duduk dengan tegap. Menatap orang yang bicara dengan sopan. Tapi Ibu belum melihat Ray melakukan hal itu selama ibu di sini!" Ray menegakkan punggungnya. Menatap Nenek dengan takut, tapi Ren yang ada di pangkuannya menggenggam dengan erat lengannya. Seakan anak itu tau bahwa kini, kakaknya tengah gugup berada di depan neneknya.
__ADS_1
"Sepertinya, ini sudah waktunya Arnold. Ibu akan menagih janjimu!" Ray mengernyitkan dahinya. Janji?!
"Tapi, Ibu ... dia masih kecil. Aku belum bisa melepasnya untuk hidup sendirian di sana tanpa pengawasanku!" Kini Ray benar-benar bingung dengan percakapan keduanya. Begitu pula Qian dan Erik yang juga bingung dengan arah percakapan mereka.
"Tunggu, Bang. Maksudnya apa?! Melepas Ray?!"
"Dulu Arnold sudah bilang sama saya, dia butuh waktu 7 bulan untuk membuat Ray kembali sehat. Dan yang seperti kalian lihat, Ray sudah sehat seperti sedia kala. Saat itu saya mau mengajukan Ray untuk masuk ke dalam sekolah tata krama."
"Bang ... Abang nggak pernah bilang sama Qian!" Ucap Qian tidak terima.
"Tapi, Ibu ..."
"Keluarga Chandra itu bukan keluarga biasa Arnold. Keluarga kita punya nama di dunia bisnis. Terkenal akan tata kramanya yang bagus. Melihat Ray yang memang belum pernah dipoles sebelumnya, Ibu tidak heran kalau dia belum memenuhi syarat menjadi keluarga Chandra yang sebenarnya. Chandra bukan cuma nama yang tersemat dalam akta kalian, Chandra itu adalah simbol keindahan, bukan cuma indah dipandang."
"Soal tata krama, Ray bisa ikut kelas privat setelah sekolahnya. Aku masih belum mau berpisah lagi dengan anak aku, Ibu!"
"Itu yang membuatnya jadi manja, Arnold! Dia sudah besar, umurnya sudah 17 tahun! Kalau kamu masih mau melindunginya,maka dia tidak akan pernah bisa hidup mandiri." Ray terdiam. Berarti dia harus pindah sekolah lagi?! Dia harus mengikuti semua aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh mereka? Itu bukan Ray. Apa dia bisa hidup di sana?!
"Dan kamu, Renand. Kamu harus tau, kalau Ray bukan kakak kandungmu! Jadi, kamu harus menjaga—"
"Maksudnya apa?" Ren bertanya, tapi matanya sudah berkaca-kaca.
"Jaga jarak dengan Ray, karena itu yang memang harus kamu lakukan dari dulu!"
"Nenek!" Itu Ray. "Dia cuma anak kecil, belum tau apa-apa tentang hal ini. Ray mohon maaf bila kehadiran Ray membuat Nenek tidak nyaman. Tapi tolong, jangan buat persaudaraan kami merenggang seperti ini. Kamu cuma berbeda ibu, ayah kami orang yang sama. Itu sudah cukup buat Ray dan Ren jadi kakak dan adik."
"Kamu tidak sopan sekali menjawab perintah orang tua, Arnold—"
"Maaf, Nek. Tapi itu adalah aku. Kalau jalan pikiranku tidak sejalan dengan apa yang nenek pikirkan mohon maaf, sekali lagi. Tapi jika memang aku—"
"Ray, kamu tau apa akibatnya jika persyaratan tadi tidak kau penuhi?!" Semuanya terdiam. Begitu pula dengan Ray.
"Kamu akan kehilangan marga Chandra di belakang namamu!"
__ADS_1
...🔹💠🔹...