Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 32. Dua Cahaya Baru


__ADS_3


Detak dari jarum jam menjadi satu-satunya suara yang mampu mereka dengar dalam suasana kelas yang hening. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 3, seharusnya ini sudah saatnya untuk pulang. Agaknya, jam itu telah rusak hingga membuat seisi ruangan menjadi gelisah. Letak kelas MIPA 3 yang ada di tempat paling jauh dari gerbang, semakin membuat pikiran siswa-siswi itu semakin penasaran. Apakah ini sudah saatnya untuk pulang, atau memang jam pelajaran terakhir memang sengaja diperlambat?


Pak Agung masih menjelaskan materi di depan sana. Tapi ini sudah pukul 15.40, telat 15 menit dari jadwal pulang mereka.


"Seperti yang kita tau, dari banyaknya manusia hebat yang kita sebut sebagai pahlawan, di sana ada sosok-sosok pemimpin yang menjadi sorotan dunia. Kita bangga punya Ir. Soekarno sebagai presiden pertama kita, Ki Hajar Dewantara yang membangun pendidikan Indonesia, juga Pak Habibie yang dikenal dengan Mr. Crack." Penjelasan Pak Agung bahkan tidak tampak akan segera berakhir.


"Sekarang, coba kalian lihat pemimpin-pemimpin Indonesia yang sekarang. Sangat beda jauh dengan pemimpin kita di masa lalu, kenapa coba?" Lanjutnya.


"Ya gimana mau sama?! Zaman kita beda pak, dulu yang mereka lawan itu prajurit sungguhan. Punya rupa, punya senjata yang nyata. Jadi mudah untuk tahu bahwa mereka adalah musuh negara, lah sekarang?! Katanya kita sudah merdeka, punya banyak sumber daya yang bahkan bisa dibilang luar biasa. Tapi hingga sekarang masih juga menjadi negara berkembang, itu menunjukkan bahwa musuh Indonesia yang sebenarnya ada dalam jiwa bangsa itu sendiri. Nggak keliatan, makanya mereka pikir kita sudah merdeka. Nyatanya kita masih jadi budak dunia, korupsi dimana-mana, yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Itu realitanya." Semua orang menoleh pada satu orang, membuat Pak Agung tersanjung hingga terharu. Ternyata masih ada remaja seperti dia, itu tandanya ada satu yang mendengarkan ocehannya selama ini.


"Siapa nama kamu? Biar bapak kasih nilai tambahan." Kata Pak Agung. Tapi anak itu menggeleng.


"Nama saya ... Rayyan Chandra Arrega. Murid pindahan dari Malang satu semester lalu. Ayah saya nanya Arnold, tapi bukan chef Arnold dari Master Chef Indonesia." Katanya disertai dengan cengiran khas seorang Rayyan.


"Bonus buat kamu, bisa pulang duluan." Yang lain melotot, sedangkan Ray sudah merapikan alat-alat tulisnya. Dimasukkan dalam tas, dan beranjak dari tempatnya.


"Pak, saya juga pengen pulang!"


"Iya pak, kasihan ayam saya belum dikasih makan seharian!"


"Ini udah lewat jam pulang pak!"


"Tunggu lima menit lagi, kalian ini kasih muda kok loyo kaya lansia." pak Agung menimpali. Ray menyalimi tangan pak Agung, sebelum ...


"Pak, saya seneng sama bapak kalau sering-sering kasih bonus kaya gini, tapi sayang ..."


"Sayang kenapa?!"


"Ya sayang aja sama bapak!" Katanya sambil berlari dari tempat itu. Menghindari amukan teman-teman sekelasnya yang kini sudah mulai bersorak memekakan telinga.


"Dasar bocah jaman sekarang!"


Dalam langkah lebarnya, dia punya hidup baru yang bahkan bisa dibilang sangat luar biasa. Berbeda dengan dirinya di masa lalu, kini ia juga menjadi sosok yang berbeda. Punya ayah yang sayang dengannya, punya adik yang lucunya luar biasa, dan juga dua paman yang bahkan baru tahu keberadaan. Siapa? Ya ada. Tunggu saja setelah ini, Ray akan mengajakmu untuk berkeliling dunianya.


Kayuhan pada sepeda berwarna biru tua itu menjadi saksi bahwa dia yang sekarang punya banyak kekuatan untuk menopang kehidupannya. Dan juga melewati banyak hal yang dulu membuatnya seakan ingin memutus urat nadinya.

__ADS_1


Tapi kini, dia berbeda. Inilah Rayyan yang baru.


...🔹💠🔹...


Dari banyaknya waktu yang dia punya, 30% ia gunakan di sekolah. Selebihnya ia bisa mengatakan bahwa sisa waktunya adalah untuk keluarga barunya.


Keluarga baru?


Ia kini tinggal di sebuah rumah berlantai dua. Tanpa ia tahu bagaimana dalam rumah itu ia bisa merasa nyaman sekaligus aman. Yang dia tahu, kini ia punya dua paman dari bundanya. Raina bahkan tidak pernah bilang padanya punya saudara yang tinggal jauh di sana.


Sepeda Ray memasuki pekarangan rumah bernuansa putih dan coklat. Di teras rumah, ada anak kecil yang bersorak karena kedatangannya. Itu adalah adik kecilnya yang sekarang duduk di bangku TK. Ia memarkirkan sepedanya di garasi. Sedangkan Ren sudah berlari mengejarnya, dan mendekap kakinya kala Ray sudah meninggalkan garasi.


"Kakak, tadi Len dapat bintang empat lho ... Gambal Len bagus banget, jadi sama Bu gulu dikasih bintang empat. Hehe" anak itu kini sudah ada di gendongan Ray.


"Ah, masa sih?! Emang Ren gambar apa?" Ren buru-buru turun dari gendongan Ray. Mencari gambaran yang dia maksud pada kakaknya. Dia melangkahkan kaki memasuki rumah, yang dia temukan adalah suara ribut dari dapur. Perdebatan antara dua orang yang memang seperti ini dari dulu.


"Ini, kak Lay!" Ren menunjukkan Gambarannya pada Ray. Remaja 17 tahun tersebut tersenyum. Ada empat orang di dalam gambaran tersebut yang mirip seperti gambaran anak TK pada umumnya. Dan juga orang-orang dengan tubuh lidi di jauh di belakang empat gambar utama.


"Ini kak Lay, ini Len, telus ini ayah sama bang Qian."


"Loh, bang Erik nggak ada?" Tanya Erik yang tiba-tiba sudah di sana. Iya, dua adik bunda yang Ray tidak tahu adalah sosok Erik dan Qian. Tiba-tiba mereka datang tanpa Ray duga, dan ayahnya yang biasanya tidak bisa dekat dengan orang lain mampu tinggal bersama dua adik dari istri pertamanya.


"Heh, lo kalau baru pulang sana mandi, abis itu ganti baju! Pantesan, gue cium bau bunga bangkai. Ternyata keringet lo!"


"Eh, enak aja keringat Ray dibilang kaya bangkai. Sikat aja. Ray, jangan kasih ampun!!" Teriak bang Qian dari dapur. Ia memang kompor alami, jadi sudah dapat dipastikan Erik berrlari terbirit-birit karena menghindari amukan Ray. Dan Ren tertawa terpingkal-pingkal, menjadi saksi bahwa kini mereka sudah ada di tempat yang benar.


"Haah, capeknya!! Mana minuman buat kepala keluarga?!!" Seru Arnold yang datang menyeret kakinya dan duduk di sofa sambil meregangkan otot-ototnya.


"Eh, Anda siapa?! Main nyuruh nyuruh aja! Mau minum, ini bekas cuci piring yang ada. Mau emang?" Sarkas Qian yang berjalan mendekat dengan minuman dingin di tangannya. Meletakkan minuman itu di depan Arnold.


"Beneran air bekas cuci piring?"


Tolong sadarkan Qian, bahwa dia adalah kakak iparnya. Mantan lebih tepatnya. Yang harus dia hormati setelah berubah status menjadi kepala keluarga di rumah ini.


"Iya, Bang. Tadi juga udah aku campur sama racun tikus. Jadi kalau Abang minum, lima detik setelahnya pasti langsung isdet!" Arnold berdecak sebal. Oke, dia akui adik iparnya yang satu ini sedikit gila.


"Bagus deh kalau berkurang satu, gue bersyukur nanti beras nggak ceper habis!"

__ADS_1


Oke, bukan sedikit. Qian memang gila.


...🔹💠🔹...


Erik dan Ren mungkin sedang mencari gara-gara karena telah menghabiskan donat buatan Qian yang sengaja ia taruh di atas meja. Untuk ia unggah di Instagram, tapi sebelum ia datang membawa gadgetnya piring itu sudah kosong, hanya menyisakan daun seledri yang ia gunakan sebagai hiasan dan juga remahan coklat juga keju.


Sekarang, jangan tanyakan bagaimana keadaan Qian setelah melihat hasil karyanya yang hanya meninggalkan udara.


"Siapa yang main-main sama Aqiannugraha Rendianaka Jawaragupta?!!" Sontak, Erik dan Ren yang mendengar suara Qian bergidik ngeri.


"Bang Elik? Gimana kalau Bang Qian malah? Len 'kan takut," anak kecil itu memeluk kaki sang paman. Erik hanya mengibaskan tangannya.


"Alah, palingan juga ngomel-ngomel sedikit. Terus habis itu-"


BUKK ...


"Bang Elik!!" Seru Ren yang terkejut karena Erik sudah tersungkur di atas lantai karena timpukan bantal dari sosok Qian.


"Erik ... uang jajan kamu kakak potong!"


"HUAAA, BANG QIAN BELUBAH JADI MONSTEL!!" anak itu berlari dari tempat itu.


"RENN!!! NGGAK ADA LAGI PERMEN BUAT SEMINGGU!!"


Yah, itulah pemandangan yang Rayyan lihat setiap hari di sini. Bersiap-siaplah untuk membaca cerita mereka.


Di sisi bumi yang lain, seorang remaja membawa koper di tangannya dan tas di punggungnya menghela nafas. Masker yang ia kenakan membuatnya sesak ketika berjalan di antara banyaknya orang. Sempat bingung, ia akan pergi kemana setelahnya.


"Halo, Pa! Aku kayanya kesasar, jemput 10 menit lagi di bandara!" Katanya pada seseorang di telpon.


"Oh, maaf! Perjanjian tetaplah perjanjian, datanglah dengan selamat ke rumah. Tanpa di jemput, sekian terima kasih!"


Tut ... tut ... tut...


Ah, kelihatannya dia benar-benar harus berjalan kaki dari sini. Lagipula, dimana alamat rumah papanya?! Dia memijit pangkal hidungnya. Oke, tidak sulit untuknya mencari tumpangan. Tapi bagaimana caranya menemukan alamat yang bahkan dia tidak pernah tahu?!


...🔹💠🔹...

__ADS_1



__ADS_2