
Daun-daun mulai berguguran. Membuat jalanan kian berantakan. Di tengah-tengah kerumunan berpakaian hitam, dia hanya menatap papanya sekilas. Lantas beralih menatap mamanya yang kini sudah lemas menangisi kepergiannya.
Rion menatap kakak sulungnya. "Kak ... ini cuma mimpi 'kan?" Shan bahkan tidak berani menatap manik kelam Rion.
"Bukan, ini nyata." Rion beralih menatap Sam yang menangis sambil berdiri di sampingnya. Berulangkali menyeka air yang memaksa keluar dari matanya.
"Sam ... ngapain nangis?" lirih Rion pada remaja itu. Tapi hal itu hanya membuat tangis Sam semakin menjadi. Isakan yang keluar dari mulut Sam tak bisa ia tahan. Membuat Sam, Kensie, dan Sean menangis sangat kencang. Karel memeluk Sam, menguatkan remaja itu untuk tetap berdiri.
Rion beralih pada papanya. "Pa, Ray emang bisa napas kalau ditimbun sama tanah?" Abra bahkan tidak menjawab. Lantas anaknya mendekati tanah yang masih basah di hadapannya. Lantas mengais tanah itu dengan tangannya. "Ray nggak akan bisa napas kalau ditimbun sama tanah!" Remaja itu semakin brutal menggerakkan tangannya. Sebelum sosok Abra memeluknya dengan erat.
"Rion ... dia udah tenang ..."
"Tapi dia nggak bisa balik lagi, Pa! Dia nggak akan bisa temuin Rion lagi!!" Tangis Rion pecah. Diperhatikan oleh orang-orang berbaju hitam di sekitarnya. "Dia nggak akan bisa balik lagi, Pa!"
"Tenang oke? Dia baik-baik aja, sekarang dia udah tenang ... dan nggak merasakan sakit lagi."
"Ray perginya jauh banget ya, Pa?" Rion kehilangan tenaganya. "Rayyan?!! Balik sekarang juga! Gue bunuh lo kalau nggak balik sekarang!" Teriak Rion. Tapi setelahnya hanya gelap yang ia lihat.
Sasha menerima hukuman yang pantas. Keluarga Chandra menahan Sasha dalam rumah sakit jiwa. Tapi ternyata hal itu cuma berlangsung selama sehari, setelah wanita itu berusaha kabur dari kamarnya dan melompat dari lantai 3 di rumah sakit. Dan meninggal beberapa jam setelah dilarikan ke UGD. Balasan yang setimpal 'kan?
...🔹💠🔹...
Ia bis merasakan cahaya melewati matanya. Membuat ia terganggu dan perlahan mengerjapkan matanya. Silau, itu hal pertama yang ia lihat. Dia bisa melihat hamparan luas dengan bunga-bunga yang bermekaran di mana-mana.
"Di mana ..."
"Aah, ya ampun!!" Rion terlonjak kaget karena suara teriakan seorang wanita. Wanita berambut panjang dengan dress berwarna putih. Senyumnya mengingatkan Rion pad seseorang. "Ini beneran Rion?! Huh, dulu waktu kita ketemu kamu tingginya lebih pendek dari Rayyan. Sekarang udah jadi tiang, aku jadi merasa tua." Rion terus menatap wajah wanita tersebut. Raina ... bunda Rayyan. Iya, dia adalah ibu kandung dari Rayyan.
"Tante?"
"Kamu ingat Tante? Wah, senangnya ..." Raina memeluk Rion dengan erat lantas, tangannya mencubit pipi Rion dengan gemas. "Kamu gemesin banget, sih!" Rion masih belum percaya bahwa yang ada di hadapannya ini adalah sosok yang sudahlah lama tiada. Perilaku Raina sangat mencerminkan sikap Ray padanya.
Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"T-tante kok bisa?"
"Kamu mau ketemu Rayyan?" Rion membelalakkan matanya. "Emang boleh?" Raina tersenyum hangat. "Tentu saja boleh!"
"RIONAAAAA!" Teriakan itu, Rion hapal dengan sangat. Dia ... adalah saudaranya yang pendek dan cerewet.
"Ray?!" Rion bangkit dari tempatnya. Melihat ke arah remaja yang berlari ke arahnya.
"HUAA, RIONAA GUE KANGEN-"
BRUKK ...
Ray terjatuh. Membuat Raina dan Rion tertawa terpingkal-pingkal. "Ya ampun makanya jangan lari-lari, jatuh 'kan? Gimana enak?" Itu bukan Rion melainkan Raina.
Ray bangun dan sedikit membersihkan bajunya yang kotor. "Huaa, Bunda! Ray jatuh!" kata remaja itu dengan manja ke arah Raina.
"Lagian ..."
...🔹💠🔹...
Rion menatap hamparan luas itu. Terlihat sangat tenang dan nyaman. Ia menyaksikan bagaimana sosok Raina merangkai bunga untuk dijadikan mahkota. Lantas setelah selesai, wanita itu berlari ke arahnya.
"Hmm, cocok buat kamu!" Raina memakaikan mahkota itu pada Rion.
"Emang cocok? Rion kan nggak suka sama bunga ..."
"Terus sukanya?"
"Sukanya kalau kalian ada di dunia nyata ..." lirih anak remaja itu. Raina hanya tersenyum.
"Kalau itu maaf, kita nggak bisa."
Keheningan menyelimuti keduanya. Tapi tiba-tiba Rion terkejut saat ada bunga-bunga jauh mengenai kepalanya. Membuat tubuh dan rambutnya penuh dengan bunga. Tak lain dan tak bukan adalah Ray. Remaja itu sengaja mengumpulkan banyak bunga untuk dia berikan pada Rion. Ralat, bukan berikan tapi mengotori.
"Wah, ada putri kerajaan bunga!" seru Ray sambil bermain-main.
__ADS_1
"Sialan lo!" Keduanya saling kejar. Membuat Raina tertawa lepas.
"Huwaa, Bunda tolongin!" hingga keduanya kelelahan, sampai memutuskan untuk menghentikan aksi kejar-kejaran.
Rion terbaring di atas rumput sambil mengatur napasnya. Begitu pula dengan Ray yang juga berbaring di sampingnya.
"Rion ... asik ya?"
"Hmm, lumayan."
"Lo sedih?"
"Enggak gue seneng."
"Kenapa lo nangis?" Ray yang memperhatikan kilat Maya Rion yang berair juga mengernyitkan keningnya.
"Karena gue terlalu seneng."
"Gue juga seneng tau! Udah lama banget kita gak main kejar-kejaran. Itu pun pas kita masih kecil. Lo sih resek banget pas kecil, gue jadi sering nangis 'kan! Emang si Rion nyebelin!"
"Iya, gue nyebelin. Sampai-sampai lo nggak mau balik lagi." Ray menatap Rion yang kini menutup matanya dengan lengan kanan.
"Ini kita lagi bareng, siapa bilang Ray nggak mau sama Rion!"
"Nyatanya, lo nggak akan bisa."
"Oke, ini yang terakhir kalau gitu. Riona jangan suka nangis ih! Cengeng benget kayak cewek!"
"Lo juga suka nangis!"
"Enggak kok! Cuma kemasukan debu aja!"
"Cerewet ya lo!" Lantas Ray tertawa karena sudah membuatnya kesal. Hal itu sering sekali terjadi, tapi kali ini ... berbeda.
"Gue mau di sini aja ..." lirih Rion. Tapi hal itu malah membuat Ray memukul kepalanya dengan keras.
"Akh ... sakit bego!"
"Perempuan? Kok lo tau?"
"Ya pokoknya nanti kalau Adek lo perempuan, dia akan jadi ratu di tengah-tengah para pangeran di keluarga Chandra." Ray tersenyum. "Lagian, gue juga udah nggak bisa jaga Ren lagi. Jadi, lo satu-satunya orang yang bisa gue percaya buat jaga mereka. Jangan sekali-sekali berpikir buat nyusulin gue! Lo nggak mau kan gue siksa nanti di alam kubur?!"
"Heh, emang lo malaikat apa?!"
"Pokoknya, lo harus jaga mereka sampai titik darah penghabisan. Sampai nanti Lo emang ditakdirkan buat nyusulin gue ... gue akan sedia menjemput."
"Pakek apa?"
"Hmm, gak tau. Angkot mau gak?"
"Boleh."
Ini adalah terakhir kali mereka bertemu. Sampai batas waktu yang ditentukan.
...🔹💠🔹...
10 tahun kemudian ...
Seorang remaja berlari menuju kamar mandi. Dengan seragamnya yang sudah rapi tapi dasinya masih acak-acakan.
"Ini gimana buat dasinya sih?! Ngapain juga sekolah wajib pakek dasi kan ribet!! Nyusahin orang aja! Nggak guna-"
"REN! BERHENTI MEMAKI SIALAN!"
"LO JUGA, BANG!" Ren pergi ke dapur sudah mendapati Erik yang membaca koran sambil meminum kopinya. Qian, dia selalu berada di depan kompor. Memasak untuk mereka. Dia bahkan sudah melebihi ibunya.
"Bang ~ gimana cara makek dasinya?!" Qian mematikan kompor. Menghela napas.
"Udah gede juga masih belum bisa makek dasi! Kamu itu biasanya apa sih?! Heran Abang tuh jadinya!"
"Gak tau Abang! Gue mau makan nih! Laper banget!"
__ADS_1
"Cerewet banget lo! Tinggal nunggu sebentar habis itu duduk terus makan, apa susahnya?! Heran banget gue sama lo! Pusing deh lama-lama!" Erik menimpali.
Setelah selesai memakai dasinya, Ren duduk di depan meja makan. Lantas menyantap apapun yang ada di depannya.
"Nanti, gue berangkat bareng Bintang ya? Kasian dia kemarin pulang jalan kaki."
"Lo ke mana emang? Biasannya juga bareng."
"Kemarin itu, dia ada kumpul sama calon ketua OSIS-"
"BINTANG JADI KETUA OSIS?!" Erik dan Qian memekik.
"Bukan! Dia jadi wakil!"
"Wah, hebat banget si Bintang ya?"
"Gue juga jadi OSIS kali Bang!"
"Eh,emang bisa?!" REN menggebrak meja.
"Tinggal nunggu pemilihan OSIS aja lah ini! Gue sih udah fiks jadi anggota! Abang sih, nggak percayaan!"
"Ciee jadi OSIS nih!"
...🔹💠🔹...
Pemuda itu menatap anak-anak SMA yang berlalu lalang. Sesekali, dia melihat ke arah pintu masuk kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.
"Sudah hampir jam 7 segera masuk ke kelas masing-masing!" serunya. Lantas anak-anak itu berlarian masuk ke dalam kelas dengan terburu.
"Tunggu!" Pemuda itu mencekal lengan seorang murid. Hingga mata keduanya bertemu. "Laporan!"
Bintang menghela napasnya. "Gue duluan ya?" Ren hanya mengangguk.
"Ya ampun, Kak Rion! Masih aja disuruh laporan segala!" Rion menghela napas.
"Berangkat naik apa?"
"Motor."
"Helm?" Ren menu Jul ke arah motornya yang terparkir dengan dua helm di dua sisi spion nya.
"Kalung?"
"Hah?"
"Kalungnya mana?" Ren menghela napasnya lagi. Mengeluarkan bandul kalung berbentuk bulan dari balik kerah bajunya.
"Oke, silahkan ke kelas!"
"CK, Kak Rion mah! Kebiasaan banget deh! Gue 'kan malu di periksa mulu kaya orang yang menyelundupkan narkoba!" Rion terkekeh, melihat punggung adik sepupunya yang perlahan mulai menjauh.
"Haah, Ray ... liat tuh adek lo udah gede! Makin kewalahan aja gue ngawasin nya!" keluhnya pada diri sendiri. Rion tersenyum kemudian menatap langit yang biru.
"Lo juga ngawasin dia 'kan?"
Memang, Rion sekarang mengajar di sekolah Ren. Anak itu semakin brutal saat dewasa. Sama seperti Ray. Tapi ini berbeda, Ren lebih sarkas dan kasar lagi. Beda lagi dengan adik Rion. Adik perempuannya itu kini seperti ratu, berada di tengah-tengah pangeran keluarga Chandra. Namun sayangnya sosok yang Rion panggil Gladys itu mewarisi bakat ibu ya yang pandai bela diri. Pernah beberapa kali dia kena tinju darinya. Berakhir dia yang berbaring di ranjang selama dua hari.
Adik-adik kita keren ya ...
Rion menoleh. Ia merasa mendengar sesuatu. Padahal di sana hanya ada dirinya sendiri. Dia berdecak sebal. Bahkan saat dia sudah tidak ada pun dia masih bisa mengganggu Rion. Dasar menyebalkan.
...End...
...🔹💠🔹...
......**Dan begitulah bagaimana akhir kisah Rayyan Chandra Arrega. Aku tutup kisahnya di sini dengan tanda titik (.)......
...Titik terakhir untuk Rayyan. ...
__ADS_1
...Terima kasih✨**...