Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 43. Bertemu Nenek


__ADS_3


Suara lalu lalang di jalanan adalah satu hal yang membuat Kensie termangu. Begitu lama ia menatap jendela kaca yang menampilkan ramainya jalanan kota. Karena ketidaktahuan mereka ketika perjalanan jauh, terpaksa mereka berakhir di hotel ini. Menggunakan uang Kensie yang mulai menipis, mereka hanya menyewa dua kamar saja. Karel, Sean dan Samuel di kamar yang sama. Sedangkan Kensie di sini bersama dengan Shan.


"Ngapain lo bengong?! Kurang kerjaan aja!" Itu Shan yang keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, mungkin habis keramas. Wajahnya juga terlihat lebih segar dari sebelumnya. Terlihat Kensie yang menoleh ke arahnya, kemudian pandangannya kembali jatuh pada mobil-mobil di jalan. "Gue capek, pengen ngerasain liburan kaya orang lain juga. Setelah kuliah gue jarang banget me time. Siang sampai sore di kampus. Pulangnya ngerjain tugas sampai tengah malem. Di akhir pekan, Papa yang nanya-nanya gue becus apa enggak kuliahnya."


Shan bisa melihat betapa lelahnya menjadi seorang Kensie. Dia tidak tau bagaimana jika seandainya ia dituntut untuk sempurna seperti dia.


Setelah lulus SMA, keduanya memilih untuk kuliah. Shan tidak lagi bermimpi ingin jadi tukang counter seperti dulu. Kensie juga tidak akan membantu Shan mewujudkan mimpinya yang terdengar konyol. Kensie memilih masuk jurusan Ilmu Terapan Fisika dan Shan dipilihkan papanya untuk masuk jurusan Ekonomi dan Bisnis.


Keduanya memang dipaksa untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Kensie yang awalnya akan dikuliahkan di Jerman ternyata memilih jalan sendiri. Walau masih di dalam negeri, universitas yang dipilih juga tidak main-main. Tian mau tidak mau memasukkan Shan ke universitas yang sama dengan Kensie. Ia masih belum percaya bahwa remaja itu bisa hidup sendiri, jauh dari orang tua.


"Ya makanya sekarang kita healing ke sini, Ken! Lo aneh ya? Padahal udah jauh dari kampus, udah jauh dari orang tua masih aja mikirin kesibukan lo itu. Seenggaknya, nikmatin masa muda lo sekarang. Nanti gue jamin, setelah lo udah dewasa pasti bakal  rindu masa-masa remaja lo."


"Gue mau jadi anak yang baik––"


"Emang lo ngelakuin apa sampai lo jadi anak durhaka?!" Shan mencibir.


"Gue juga mau jadi kakak yang––"


"Emang jadi kakak yang baik harus sempurna? Ya enggak lah, Ken! Lo tau si Samuel?! Kalau dia emang mau kakak yang sempurna, kenapa dia masih betah jadi adik gue? Setau gue, dia seneng seneng aja tuh kalau gue ajak nakal." Shan mendekat pada Kensie. Kemudian menepuk bahunya.


"Lo mau orang tua lo bangga, okey itu nggak salah. Yang salah adalah, gimana lo ngorbanin masa muda lo buat ngejar hal tabu kaya peringkat dan nilai!"


Stuck, Kensie terdiam mendengar kalimat Shan. Remaja itu bukan hanya lebih dewasa dari sebelumnya,tapi juga lebih bijak kata-katanya. Yah, semoga bukan hanya kata-katanya yang bijak.


BRAKK ...

__ADS_1


Sean membuka pintu kamar mereka dengan emosi. Nafasnya tak beraturan, sedangkan wajahnya memerah menahan marah. Kedua cowok itu menoleh hanya untuk memastikan keadaan Sean. Bagaimana pun dia jarang sekali marah, yang mereka tau Sean adalah orang tersabar di antara ke–tujuh Chandra.


"Gue–gue nggak tahan sama dua setan itu! Mereka baru aja ngerusakin earphone gue ... huaa, gue mau nangis Kak ..." Sean memegang earphone nya yang berwarna hitam. Itu hadiah ulang tahun dari Kensie, dua tahun yang lalu. Sean itu kalau dikasih hadiah pasti dijaga benar-benar. Tidak peduli merk dan desainnya yang sudah terlihat usang.


"Kenapa lagi itu dua bocah, hah? Emang nggak di rumah, nggak di perantauan sama aja kelakuannya!" Shan baru saja ingin keluar mencari keberadaan Samuel dan Karel. Tapi buru-buru Kensie menahan bahunya, "Biar gue yang kasih mereka pelajaran!"


...🔷💠🔷...


Ray tidak tau apakah hal yang baru saja ia lakukan benar atau tidak. Ia merasa bebas setengah tahun belakangan, eh sudah dikasih ujian lagi. Nampaknya Dewi Fortuna amat membenci Rayyan. Sore ini dia berakhir pulang seorang diri. Rion bilang tadi siang ia daftar ke ekskul basket. Tapi siapa sangka, pulang sampai sesore ini. Ray mau tidak mau harus pulang seorang diri.


"Aah, pengen minum boba buatan Bang Qian!" Keluhnya sambil mengayuh sepedanya.


Srakk ...


Kini ia menghentikan laju sepedanya. Melihat sosok wanita yang berdiri di dekat mobilnya. Sang sopir terlihat melihat ke arah ban yang sepertinya bocor. Ray tau benar siapa wanita tua itu. Wajahnya sudah keriput. Tapi masih terlihat cantik.


"Itu Nenek ..." Lirihnya. Bingung, ingin menyapa atau tidak. Tapi setelah berdebat dengan pikirannya, akhirnya Ray turun dari sepedanya. Menuntunnya mendekat sang nenek yang kini di depan mobil hitamnya.


"Selamat sore, Rayyan. Di mana jemputan kamu? Sopir? Atau ayah kamu?" Ray menggeleng dengan kikuk. "Ray sendiri, Nek. Nih, bawa sepeda." Ray menunjukkan sepeda di tangannya. Wanita tua itu terdiam.


"Kamu sekolah bawa sepeda? Sendirian? Nggak, itu nggak benar. Sepeda nggak aman buat kamu, Ray. Harusnya ayah kamu ngerti dong, gimana cara jaga anaknya! Emang si Arnold biar nenek tel—" tapi sebelum Nenek menyelesaikan kalimatnya, Ray tiba-tiba menyahut.


"Nek, mau ikut Ray? Bannya bocor 'kan? Pasti lama benerinnya, di dekat sini ada kafe. Mau mampir sebentar?"


...🔹💠🔹...


Dan begitulah kedua insan itu berakhir di sini. Di kafe tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Wanita itu menatap kepulan yang keluar dari dalam cangkir miliknya. Berbeda dengan Ray yang saat ini mengaduk es boba rasa taro di hadapannya.

__ADS_1


"Minuman itu nggak sehat, kenapa kamu nggak pesan susu hangat aja? Lebih sehat, buat kamu tambah tinggi juga." Ray tersedak, kenapa semua orang membicarakan tinggi badannya? Dia tidak pendek-pendek amat. 170 cm itu wajar kan ya? Hanya saja bila ia berdiri di samping enam saudaranya yang lain, ia memang kelihatan sangat pendek.


"Ya ampun, Nek. Masa Ray pesen susu anget, sih? Malu dong, lagian Ray nggak mau tinggi-tinggi kaya yang lain. Cukup segini aja!" katanya sambil mengerucutkan bibir.


"Ngomong-ngomong Nenek mau ke mana?"


"Cuma jalan-jalan, kenapa?" Ray menghela nafas. Ia bisa melihat sorot neneknya yang tidak bersahabat. Ia kemudian menggeleng, sambil menyesap minumannya. "Kenapa nggak minta kendaraan bermotor?" Ray mengangkat kepalanya.


"Apa?"


"Saya bilang, kenapa kamu nggak minta kendaraan bermotor? Sepeda motor mungkin? Atau mobil?" Ray meletakkan minuman bobanya di atas meja. Ada dua hal yang membuatnya trauma menggunakan kendaraan bermotor. Pertama, karena bundanya pergi karena kecelakaan kendaraan bermotor. Kedua, Rean adiknya di panti asuhan juga berakhir tragis di atas aspal yang panas.


Dulu waktu pertama kali ia tiba di sini, Ray sama sekali tidak bisa pergi ke luar. Setiap suara mobil terdengar, ia akan berlari sejauh mungkin. Dan akhirnya traumanya perlahan terobati dengan Qian yang berinisiatif membelikannya sebuah sepeda. Tidak terlalu mahal memang, tapi hal inilah yang Ray benar-benar butuhkan.


"Enggak, Ray nggak suka."


"Kenapa?"


"Takut." Hanya itu yang bisa Nenek dengar. Remaja itu tersenyum simpul. Bisa dipastikan bahwa saat ini Ray tengah menyimpan sesuatu yang penting. Takut? Takut kenapa? "Orang-orang yang Ray sayang pergi karena kecelakaan kendaraan bermotor." Remaja itu tersenyum, tapi terpaksa. Ia ingat benar bagaimana Raina pergi meregang nyawa karena pengendara yang ugal ugalan. Atau Rean yang darahnya memenuhi jalan. Dia benci menggali ingatan itu. Nenek bisa mengerti bagaimana remaja itu mendapat trauma karenanya.


"Nek, kalau di keluarga Chandra harus ikut kelas tata krama ya?" Nenek berfikir sebentar, kemudian mengangguk. " Tapi Ray nggak mau ikut kelas itu. Baru juga pindah satu semester di sini, masa pindah lagi." Nenek menghela nafasnya.


"Siapa bilang kamu harus pindah?! Nenek yang akan mengajarimu tata krama di sini. Nenek tau benar bagaimana keras kepalanya Arnold. Ayahmu itu nggak akan biarin kamu pergi dari sisinya." Ray tersenyum.


"Ya udah, sekarang pulang ke rumah dong, Nek." Kata remaja itu sambil memegang tangan wanita tersebut. "Itu ban nya aja belum beres gimana mau pulang, kamu ini ada-ada saja!"


"Lah, 'kan Ray bawa sepeda. Nanti Ray yang bonceng, Nenek tinggal duduk di belakang. Ray bonceng Rion aja bisa apalagi Nenek, iya 'kan?" Nenek memandang remaja itu tidak percaya. Ah, ia berharap ketika sampai rumah nanti dirinya tidak hanya tinggal nama.

__ADS_1


...🔹💠🔹...



__ADS_2