Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 39. Uang Dicari, Tapi Dia Tak Bisa Kembali


__ADS_3


Gelap yang dia lihat semakin nyata dengan hening yang merayap tiba-tiba. Seperti yang Ray rasa saat ini, ketika sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya. Matanya terpejam seiring dengan gema yang orang-orang di dekatnya pantulkan. Namun karena terlalu nyaman, ia memilih untuk memejamkan mata. Dan kemudian tenggelam dalam tidur yang membawanya pada suatu tempat yang sangat terang.


Baru saja dia ingin melangkah lebih jauh, netranya menangkap seseorang yang bergerak dengan lincah dengan gaun berwarna putihnya. Ray terdiam sejenak. Mencoba untuk mengamati lebih dekat. Wanita itu tersenyum padanya, suatu senyum yang ia lupa tentang bagaimana indahnya. Mungkin Ray lupa, tapi ia masih ingat benar tentang manik yang  selalu membuatnya tersenyum. Dan saat itu, Ray berjalan lebih cepat untuk mendekat.


"Ray, kamu udah tambah tinggi sekarang ... Tambah ganteng juga! Aduh, tapi kok masih imut juga!" Wanita itu kini berada di hadapan Ray sambil memegang pipinya dengan gemas. Remaja itu tak berkedip menatap wajah wanita itu tanpa henti. Hatinya berdesir hangat ketika merasakan elusan di pucuk kepalanya.


"Kamu juga tambah dewasa sekarang ..." Wanita itu tersenyum. Hembusan angin melewati keduanya, bersama dengan air mata yang jatuh dari pelupuknya. Rindu yang membuncah membuat Ray tak lagi menahan tangannya untuk memeluk wanita itu.


"Bunda kangen sama kamu. Jangan nangis, udah gede masa nangis?" Kata Raina mengusap wajah anaknya. Tapi remaja itu menenggelamkan wajahnya dalam pundak Raina yang tingginya tidak seberapa.


"Ray kangen sama Bunda, tapi Bunda nggak pernah mampir ke mimpi Ray ..." lirihnya dalam pelukan Raina. Wanita itu tersenyum, memeluk putranya semakin erat sambil mengelus punggungnya.


"Cukup kangen aja yang kamu rasa, Nak. Jangan sakit lagi, Bunda nggak suka kamu jadi kaya begini." Ray mengangguk antusias. Dia seperti ini hanya karena bermimpi melihat ibunya kembali. Dan sekarang, rasanya, ia tak mau lagi membuka mata. Karena setelah ia bangun, semua yang ia lihat tadi akan musnah dan menghilang begitu saja. Termasuk Raina, yang ia anggap hanya ilusi semata.


...🔹💠🔹...


Remaja itu terlihat lebih kurus setelah terakhir kali ia melihatnya. Tangan-tangannya yang ramping bahkan hanya seperti sapu rotan yang digunakan banyak orang untuk menyapu halaman. Nia mengelus tangan Ray, kata Rion hari ini kondisinya buruk. Walau tidak separah kemarin hingga membuatnya tidak sadar, tapi banyaknya cairan yang keluar dari tubuhnya membuat Ray semakin lemas.


"Arnold belum pulang?! Kenapa saat anaknya sakit seperti ini, dia tidak ada di sini?!" Cerca Nia. Dia hanya tidak ingin kecolongan seperti mereka kehilangan Raina. Tapi sayangnya, Arnold juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin tak lama lagi laki-laki itu akan datang dengan banyak bingkisan di tangannya.


"Kamu tenang aja, dia sudah membaik. Kamu liat sendiri dia tertidur nyenyak sekali sampai tidak menyadari ada kita di sini. Soal Arnold, aku yakin dia sedang berusaha untuk meluangkan waktunya. Bagaimana pun dia juga punya tanggung jawab di kantor, di rumah dia juga punya anak kecil yang seharusnya tetap dalam pengawasan orang tua. Jadi sabar aja dulu~" Abra tersenyum getir ketika istrinya hanya mempautkan bibir. Dia lebih sensitif belakangan ini, mungkin karena dia sedang hamil muda—bawaan bayi katanya—jadi tidak heran apa pun, siapa pun dan bagaimana pun akan dia kritik sampai mampuss.


"Ma, udah dong jangan marah-marah terus." Kini Rion juga ikut bicara. "Gimana nggak khawatir, cuma ada kamu di sini! Keluarganya juga nggak ada—"


"Maaf ... maaf ... maaf baru datang ..." Qian membuka pintu dengan tiba-tiba. Nafasnya terasa berat kala ia mulai berlari saat sudah turun dari motornya. Membawa plastik yang diduga adalah makanan kesukaan Ray dan beberapa buah-buahan.

__ADS_1


"Loh, kamu darimana saja, Qian?! Kenapa baru datang sekarang?!" Lagi-lagi Nia menyerukan protesnya. Kali ini Qian hanya mengambil napas dalam-dalam, meletakkan tas dan barang bawaannya di sofa. "Maaf Tan, tadi Qian ikut kuis dulu. Habis itu Qian cepet-cepet ke sini kok, suer!" Nia mengangguk paham. Harusnya dia tidak mendesak orang-orang di sekitarnya untuk terus peduli dengan sosok Ray. Mereka juga punya kehidupan masing-masing, namun nyatanya mereka juga sangat memprioritaskan Ray.


"Iya, nggak apa-apa. Kamu udah makan atau belum? Udah sore loh ini." Qian buru-buru membuka plastik bawaannya. Mengeluarkan Noah yang tadi dia beli.


"Belum, Tan. Qian belum laper, kok." Katanya sambil mengupas salah satu buah di tangannya. Sekilas, ia melihat ke arah nampan berisi bubur dan minuman di atas nakas.


"Ray belum makan?"


"Belum, Bang. Tadi gue suruh makan tapi dianya kekeh nggak mau buka mulut, padahal udah berkali-kali muntah."


Qian menghela nafasnya. Tidak menyadari ada dua orang yang begitu kagum dengan ketelatenan dan tanggung jawab Qian terhadap Ray. "Arnold itu belum ke sini?!" Tanyanya lagi, bahkan kini dia terlalu berani menyebut Arnold tanpa embel-embel Abang. Qian tidak peduli, walaupun dia mengatai laki-laki itu dengan sebutan seburuk-buruknya tidak akan ada yang melarangnya. Mungkin karena keluarga Chandra merasa bersalah akan Raina, dan menganggap Arnold pantas mendapatkan sebutan itu dari adik iparnya.


Perlahan, Nia meraih buah di tangan Qian. Menyuruhnya untuk duduk sebentar, untuk menghilangkan lelah sejenak. Dari tadi dia perhatikan, Qian belum duduk bahkan tidak peduli bahwa nafasnya belum bisa bernafas dengan teratur.


"Kamu juga perlu istirahat, Qian. Ini sebenarnya tanggung jawab Arnold sebagai ayah, bukan kamu ..."


"Tapi Ray juga tanggung jawab aku, Tan ..."


"Ra—" pergerakan Rion terhenti kala ia melihat Ray yang kejang-kejang di atas tempat tidurnya. "Papa, Mama!! Ray kenapa, Pa?!!" Suara gaduh Rion membuat tiga orang yang sempat berdebat kembali mengatensikan pandangannya pada sumbernya. Mereka panik seketika, namun dengan cepat Qian mencari bantuan dari petugas medis. Sehingga Ray cepat ditangani. Nia terpaku pada tempatnya, begitu pula Abra yang dipeluknya dengan erat. Rion mengacak rambutnya frustasi, mengapa semakin ke sini dia semakin khawatir dengan anak itu?!


Beberapa saat sebelum mereka disuruh untuk keluar dari ruangan, sempat Rion melihat tangan Ray yang meremat bantalnya dengan sangat erat. Matanya tak bisa berpaling dari remaja yang kini dikerumuni oleh petugas medis itu. Hingga pintu kamar tertutup, matanya tetap setia melihat ke arah Ray yang masih dalam keadaan yang sama.


"Di mana si brengsek itu?!! Kenapa dia belum juga kemari, hah?!!!" Abra yang juga merasa gelisah menelpon Arnold. Tapi telponnya hanya berdering. Qian pun berinisiatif menelpon Erik, siapa tahu mereka sedang bersama.


"Halo, Rik?!! Abang mana?! Kenapa belum ke sini juga?!"


"Ada apa Bang?"

__ADS_1


"Nggak usah kebanyakan ngomong, Abang ada sama lo apa enggak?!!"


"Abang tadi pulang, sekarang lagi di kamar sama Ren. Tadi anaknya sempet demam juga, emangnya—"


"SURUH KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA!!!"


...🔹💠🔹...


Arnold tegang, sempat dikabari oleh Qian bahwa Ray mengalami kejang-kejang membuatnya kelabakan. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hampir menabrak bak sampah dan juga rela dikejar polisi karena menerabas lampu merah. Dan kini ia menghadap Dokter Jhonatan, dokter yang menangani Ray.


"Ini bukan keracunan makanan biasa, Pak. Kemungkinan, racun pada makanan yang ia konsumsi cukup kuat hingga membuatnya kejang-kejang. Saat ini, kami sudah bisa mengatasi gejalanya. Sekarang Anda bisa tenang, cukup pastikan keadaan Ray tetap stabil. Biarkan ia makan makanannya dengan teratur hingga cairan dalam tubuhnya kembali seperti semula."


Hal itu membuat Arnold kembali bernafas lega. Setelah ia kembali ke kamar sang anak, ternyata Nia dan Abra masih di sana. Rion sama sekali tak beranjak dari tempatnya, Qian kini juga berada di sampingnya.


"Ray, sekarang kamu makan ya? Abang tadi beli bubur ayam loh, kamu nggak mau emang?" Ray mengangguk.


"Ray mau Bang, tapi perutnya selalu nolak ..."


"Nggak apa-apa, dikit aja ya?" Ray mengangguk. Mereka mengamati betapa sabarnya dia mengurus Rayyan. Qian bahkan tahu apa yang anak itu suka ketika sakit seperti ini. Tidak heran ia dilahirkan sebagai adik kandung seorang Raina.


"Kok nggak ada ayamnya?" Qian menghela nafasnya.


"Makan buburnya dulu, nanti Abang kasih ayamnya yang gede!"


Arnold tersenyum, kemudian ia terduduk di samping Abra. "Maafin aku, Kak. Tadi Ren juga demam. Tapi sekarang udah ada Erik, jadi aku bisa tenang. Maaf sekali lagi ..."


"Denger, Arnold! Uang bisa dicari, kerja juga bisa kita tinggalkan sebentar saja. Tapi kalau kamu kehilangan dia, kamu nggak akan bisa cari dia dimana pun. Kalau kamu emang nggak mau kejadian Raina terulang lagi!"

__ADS_1


...🔹💠🔹...



__ADS_2