Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 26. Alasan Kematiannya


__ADS_3


Ray tercekat tiba-tiba. Ia bangkit dari tidurnya, dan bangun dengan keadaan nafas tersengal serta keringat sebiji jangung di keningnya. Pikirannya terasa kosong ketika ia menatap sekitar, masih dengan detak jantung yang berdegup kencang.


"Lo tidurnya lama banget!" Itu adalah suara pertama yang mampu Ray dengar. Dan kini ia mengalihkan atensinya pada sang sumber suara. Rion ada di sana, dengan wajah khawatirnya.


"Hah, syukur deh kalau cuma tidur..." Ada helaan nafas lega keluar dari mulut Ray. Jika yang ia alami tadi hanya sebuah bunga tidur semata, buat apa ia berdegup kencang seolah itu nyata?!


Ray tersenyum lega, tangan Rion mengulurkan segelas air putih dan ia meminum separuhnya. Ada janggal yang ia rasakan ketika saat pertama ia membuka mata. Ada rasa takut berlebihan ketika ia melihat Rion semakin diam ketika ia sudah tak lagi di alam bawah sadar.


"Rion, gue mau ketemu sama Rean. Nanti temenin gue ke panti asuhan, ya?!" Rion nampak tenang. Tapi, ia bisa dengan jelas mendengar helaan nafas Rion.


"Tunggu sampai kesehatan lo pulih dulu. Nanti gue anter kalau emang bener mau ketemu sama Rean." Katanya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Ray. Ray jelas menolak, ia merasa baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengannya, kecuali kepalanya yang sedikit pusing setelah bangun tadi.


"Gue mau ke dapur sebentar. Soal ini bisa kita bicarain nanti." Katanya sambil melangkah pergi. Menutup pintu dengan perlahan. Ray mendengus kesal. Entah kenapa mulutnya lancar sekali melafalkan protes kepada Rion. Ia hanya tidak tau,di luar, Rion menahan kegelisahan dan rasa khawatirnya. Bahwa apa yang ia alami kemarin bukanlah mimpi, itu nyata. Rean sudah tidak ada.


"Bagaimana?! Dia udah sadar, 'kan?!" Pertanyaan Nia menjadi hal pertama yang ia dengar ketika melangkahkan kakinya di ruangan itu. Rion mengangguk, dan orang-orang di sana menghela nafas lega. Senyap yang ada di antara mereka membuat keadaan lebih canggung dari sebelumnya.


"Terus?!" Rion duduk di samping Kensie, ada jeda sejenak sebelum ia mengatakan hal yang sebenarnya.


"Dia mengira kejadian kemarin itu mimpi..." Dan kalimat itu membuat orang-orang itu tercekat.


"Terus kamu nggak bilang yang sebenernya?!" Nia menatap Rion dengan khawatir.


"Rion takut, ma. Rion nggak bisa bilang apa-apa sama dia. Takutnya nanti malah buat dia drop lagi. Atau...bisa lebih buruk dari itu."


"Maafin Sean, tan. Harusnya, Sean bisa jaga Ray. Kemarin dia drop juga gara-gara Sean. Maafin..." Nia menatap Sean pilu, lantas mengusap punggungnya dengan lembut.


"Ini bukan salah kamu, kamu udah jaga dia dengan baik. Tante yang makasih sama kamu, udah mau jaga dia baik-baik. Kamu udah sabar sama sikapnya Ray aja tante udah seneng banget. Soal dia yang kemarin drop, itu bukan salah kamu. Dia cuma kaget aja, setelah itu dia bakal kaya semula. Percaya sama tante." Nia menghela nafasnya.


"Harusnya tante yang minta maaf, nggak bisa luangin waktu buat dia. Tante terlalu sibuk sama pekerjaan. Harusnya, tante lebih utamakan waktu luang sama dia!"


Kemudian senyap, yang bisa mereka dengar setelah kalimat panjang dari Nia hanyalah suara lalu lintas di sebrang sana yang terdengar hingga ke dalam ruangan.


"Tapi...kalau Ray nggak bisa kaya semula gimana?!" Pertanyaan Kensie membuat keadaan kembali hening. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Namun, semua pandangan tertuju pada kamar Ray. Terkejut karena suara bantingan benda yang terdengar keras hingga ke luar. Mereka saling berpandangan sebelum melangkahkan kaki dengan cepat menuju ruangan itu.


Dan yang mereka lihat adalah Ray yang sudah berantakan dengan rambut acak-acakan serta tatapan mata yang kosong. Pecahan kaca lemari tersebar kemana-mana. Nia segera menghampiri dan memeluknya. Semuanya terpaku melihat remaja itu berbeda sekali dengan kepribadiannya yang ceria. Sangat jauh berbeda.


Rion menatap ponselnya yang tergeletak di atas lantai dengan layar yang retak dan goresan di beberapa bagian. Ia yakin sekali, ketika Ray sadar bahwa apa yang ia lalui kemarin bukan hanya mimpi, ponsel itu menjadi sasaran yang sangat bagus untuk dilempar kemana saja untuk melampiaskan tekanan yang ada di dalam batinnya.


Rion benar, Ray melakukannya. Tapi ada alasan lain kenapa remaja itu kini menjadi se-terpuruk ini.


...🍂🍂🍂...


Ketika Rion pergi dari kamarnya, ada sesuatu yang membuat Ray berdecak. Soal mimpinya yang terlalu nyata. Ray menggeleng pelan, dia mencoba untuk mengusir hal negatif yang ada dalam pikirannya.


Ting...


Suara itu berhasil membuat Ray kembali pada dunia nyata. Suara dari ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia meraihnya, ketika membuka ponselnya ia mendapat pesan dari seorang yang tak diketahui siapa.


..._____________________________________________...


...+62 838.......

__ADS_1


Unknown


Bagaimana pertunjukannya, tuan muda Ray Chandra Arrega?! Pastinya menyenangkan, bukan?!


^^^Me^^^


^^^Siapa?^^^


Unknown


Hah, bagaimana kamu bisa lupa sama saya?! Saya adalah orang yang akan menghancurkan hidupmu nanti, tunggu saja...


^^^Me^^^


^^^Maksud Anda apa?! Kenapa Anda tiba-tiba memberikan ancaman seperti ini?!^^^


Unknown


Kalau kamu berani mengatakan hal ini pada siapa saja, maka satu-persatu orang yang penting bagimu akan bernasib sama seperti anak itu!


^^^Me^^^


^^^Maksud Anda?!^^^


Unknown


Mereka akan bernasib sama seperti anak dari panti asuhan itu. Kamu sudah melihatnya, 'kan?! Bukankah indah melihat noda merah itu tercecer di jalanan dan menjadi tontonan?! Kalau kamu mau melihatnya lagi, saya bisa melakukannya kembali dengan membunuh saudara-saudara mu satu persatu. Camkan itu...


Unknown


_____________________________________________


Ray termenung. Jadi benar apa yang ia lihat kemarin. Rean benar-benar sudah tidak ada lagi. Dan ini semua karena orang yang mengiriminya pesan itu.


Sasha...


Ia ingin berteriak, tapi suaranya tak bisa keluar. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah mengering. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menggenggam ponselnya dengan kuat. Dan kemudian ia melemparkannya ke arah lemari. Membuat kaca-kaca nya pecah dan berhamburan di atas lantai.


Jadi, Rean mati sia-sia dan itu karena dirinya. Rean mati karena orang itu ingin membuktikan omongannya bukan hanya bualan belaka. Rean tidak tau apa-apa soal permasalahannya. Remaja yang lebih muda darinya itu dulu sering mengatakan ingin hidup damai bersama semua anggota panti. Ia ingin semua anak di sana merasakan tawa dan bahagia bersama ketika dewasa.


Namun, sebelum ia bisa mewujudkannya ia sudah tidak ada di sana menemani mereka. Sekali lagi, mereka telah kehilangan kakak.


Ray masih diam ketika ia merasakan ada pelukan hangat yang menyapu tubuhnya. Ia merasa ada pergerakan kuat yang membuat dirinya kembali di hiasi dengan kenyamanan. Tapi hanya bisu yang mampu ia ungkap dengan jelas.


...🍁🍁🍁...


Karen meletakkan semua berkas-berkas yang ia baca di atas meja. Ada kerutan di dahinya dan juga sedikit hitam di bawah matanya. Kali ini, ia benar-benar kehabisan akal. Ia tau bahwa apa yang menimpa keluarganya bukanlah kebetulan belaka. Untuk itu, ia harus mencari informasi lebih. Tentang hubungan antara Rayyan dan meninggalnya tuan Chandra secara tiba-tiba.


Karen anak paling tua, ia diberi kepercayaan lebih oleh adik-adiknya untuk mengurus hal ini. Namun, nyatanya sampai saat ini belum juga membuahkan hasil yang sepadan. Yang ia tau adalah bahwa ayahnya mati karena di bunuh.


Untuk kali ini, ia benar-benar ingin istirahat. Perusahaan yang ia kelola sudah ditangani dengan baik oleh Septian dan juga Arnold. Untuk Arnold, untung saja kali ini laki-laki itu bisa di ajak kompromi.


Sedangkan untuk beberapa cabang sudah ditangani oleh dua adiknya yang lain. Abraham (papanya Rion) dan Ferdinan (papanya Sean).


Betapa susahnya mengatur empat adiknya itu. Yang satu tempramental, yang satu egois, yang satu lagi nggak mau kerja bareng saudara, dan yang terakhir terlalu santai. Wah, komplit sekali saudaranya itu.

__ADS_1


Karen meregangkan tubuhnya kemudian duduk di atas sofa. Menikmati teh buatan istrinya. Lantas ia menatap seseorang yang dengan lancang masuk ruang kerjanya tanpa permisi. Dan dengan santai duduk di kursinya. Siapa lagi kalau bukan Ferdinan.


"Gimana kak?! Masih belum ada kemajuan?!"


Karen menghela nafasnya. Sejujurnya, ketika di dekat Dinan hatinya terasa tentram. Mengingat adik-adiknya yang lain serasa es batu, eh lahir lah yang beda. Yaitu Dinan. Dia jarang di rumah, sukanya traveling dan nongkrong sama teman-temannya. Ia punya rumah di luar kota, dekat dengan rumah paten milik Abra.


"Iya, belum ada. Kamu ngapain ke sini?! Mau nambah beban?!" Dinan menampakkan wajah terkejutnya. Kemudian mengacungkan jari telunjuknya.


"Beban gimana sih?! Kemarin katanya suruh bantu ngurus cabang, sekarang udah beres."


"Hah, kamu nggak mau istirahat?! Aku lelah, mau istirahat!" Kata Karen sambil bangkit dari duduknya.


"Lha terus aku ngobrol sama siapa?!"


"Ngobrol sama tembok juga nggak apa-apa!"


...🥀🥀🥀...


Shan menghela nafasnya. Ia merasa beberapa hari belakangan sangatlah berat. Ia tak ingin melupakan kenyataan, bahwa kini Renand sudah seperti anaknya sendiri. Dalam hati, ia mengutuk Sasha yang meninggalkan anaknya lagi. Dengan alasan pekerjaan yang tak bisa ia tinggal begitu saja. Dan hingga satu pekan menjelang, ia belum kembali. Membuatnya susah melakukan aktivitasnya karena Renand tidak ingin tinggal olehnya.


Dan kini, waktunya anak itu untuk tidur siang. Namun, hingga kini anak dalam gendongannya belum juga menutup mata. Wajahnya ia sembunyikan dalam tengkuk sang kakak. Pikiran Shan kini mulai kemana-mana.


"Ren kok belum tidur?! Kakak capek lho gendong Ren terus..." Katanya pelan. Tapi anak itu mendengus kesal. Kemudian meronta untuk turun dari gendongannya.


"Ya udah, Len mau tidul sendili!" Katanya sambil melangkah pergi. Lucu sekali. Seru Shan dalam batinnya.


Lhah, tapi kok makin ke sini makin mirip sama Rayyan...


Shan melangkahkan kakinya untuk mengejar anak itu. Kemudian menangkapnya dalam dekapan. Anak itu berusaha untuk meronta, tapi Shan lebih kuat.


"Ren jangan kaya gini, maafin kakak. Ren tidur ya?!"


"Tadi katanya capek..."


"Ya udah, kalau gitu kita tidurnya di kasur aja ya?!" Akhirnya Renand menyetujui. Dan di sana-pun dia terlihat masih marah dengan Shan.


"Ren marah sama kakak?! Maafin ya?!" Renand hanya berdeham.


"Kak..."


"Iya"


"Kak Lay kemana?! Kok gak pulang pulang sih?"


"Kak Ray sakit, makanya belum bisa pulang. Ren doain kak Ray aja ya?!" Ren mengangguk.


"Tapi kak Lay gak malah kan?! Dulu kan kak Lay pelnah dipukul sama mama..." Dan kalimat itu membuat Shan terkejut. Jadi sekarang, Sasha sudah berani main tangan dengan Ray?!


"Kak Lay gak malah kan, kak San?!"


"Enggak kok, kak Ray nggak marah. Kamu mau ketemu sama kak Ray?!" Kini Ren yang menatap Shan dengan penuh harapan.


"Emang boleh?!"


"Tanya sama papa Arnold dulu, kalau boleh nanti kak Shan anter!" Dan kini Ren hanya bisa bersorak gembira.

__ADS_1



__ADS_2