Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 40. Hubungan Ibu dan Anak


__ADS_3


Malam menjelang, rumah yang biasanya ramai kini sangat sepi bagai kuburan di tengah malam. Erik sendiri hanya diam menatap anak kecil yang sedari tadi diam tak mengatakan apa-apa dalam pangkuannya. Ren sendiri bisa mendengar suara detak Erik yang konstan kala ia mendekatkan telinganya untuk bersandar.


"Ren mau makan? Abang buatin sesuatu, mau apa?" Sejenak, Ren berpikir. Namun kemudian ia kembali bersandar pada Erik.


"Ren nggak mau apa-apa, Ren cuma mau Ayah ..." Erik menghela nafasnya.


"Ayah 'kan lagi nungguin Kak Ray yang sakit."


"Ren juga sakit, kenapa Ayah nggak di sini sama Ren?" Kali ini Erik terdiam lebih lama. Kata-katanya tidak menggambarkan seorang anak berumur 5 tahun, tapi ia bisa memaklumi itu. Bagaimanapun kini Ren hanya memiliki ayah, karena ibunya sedang ada dalam tahanan.


Hingga sebuah pintu terbuka dengan lebar. Menampakkan sosok remaja yang tulang pipinya sedikit terlihat menonjol. Ah, Ray sampai lupa bagaimana suasana rumah. Dia rindu di sini setelah hampir seminggu dia bergeming di atas ranjang rumah sakit. Diikuti dengan Qian yang menenteng tas super besar berisi pakaian dan barang-barang yang sudah ia siapkan untuk kebutuhan Ray di rumah sakit. Di samping Ray, Arnold terlihat membantu remaja itu untuk berjalan dengan langkah pasti. Walau sudah diizinkan untuk pulang, tentu saja keadaan Ray belum seratus persen sembuh.


"Kak Ray!" Anak itu melompat dari pangkuan Erik, tapi langkahnya limbung karena tubuhnya masih belum pulih benar dari demamnya kemarin. Namun untunglah Ray berhasil menangkap tubuh mungil adiknya, anak kecil itu segera memeluk sang kakak dengan erat.


"Kakak kenapa baru pulang? Ren kangen sama Kakak ... Ren takut Kakak ninggalin Ren kaya Mama ..." isaknya. Ray terdiam dalam tempatnya.


"Kakak nggak akan ninggalin Ren, kok. Tenang aja ya?" ia mengusap punggung adiknya yang bergetar.


"Ituloh, adek kangen kemarin ngapain Abang nggak vidcall?! Ray 'kan juga kangen sama Ren!! Katanya kemarin Ren juga sakit, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit sekalian?! Ray 'kan juga khawatir!"


Puk ...


Qian memukul kepala Ray pelan. "Baru sembuh masih juga cerewet! Masih untung lo nggak gue tinggal sekalian di jalan!"


"Tapi 'kan—"


"Nggak ada yang sempet mikirin itu, dasar bocah!" Erik juga ikut dalam pembicaraan mereka.


"Aduh aduh, kalian ini baru sampai rumah aja langsung buat pusing!" Itu Arnold yang tidak kuat dengan percakapan keduanya. Sedangkan kakak beradik itu masih dalam posisi yang sama. Ray bisa merasakan nafas Ren yang sedikit panas. Membuatnya mengambil Ren dalam gendongannya. Anak kecil itu tidak menolak ketika tubuhnya yang ringan diangkat begitu saja oleh sang kakak.


"Ngomong-ngomong ... kapan kamu bisa ngucapin 'r' dengan jelas? Perasaan kemarin Kakak belum denger kamu bisa bilang 'r' dengan benar ..."


Ada hening yang tiba-tiba datang tanpa mereka duga. Qian dan Arnold berpandangan.


"Sudah 3 hari, gue yang ngajarin ..." kata Erik dengan ringan, sambil membuka kantung kresek yang tadi dibawa Qian. Membukanya satu-persatu. Tanpa memperhatikan raut terkejut dua orang di belakangnya.


"Ren beneran udah bisa ngomong 'r'? Coba Abang tanya, nama kamu siapa?" Ren di gendongan Ray menoleh ke arah Arnold dan Qian yang terlihat antusias mendengarkan jawabannya.


"Renan Candra Ar ... rega ..." Qian memekik girang, mengambil Ren ke dalam gendongannya. "Aduh, pinter banget anak Abang ... sini Abang Qian mau cium dulu!" Ren hanya diam ketika pipinya menjadi korban ciuman Qian berkali-kali.

__ADS_1


"Kok kemarin Ayah nggak tau sih, Ren bisa bilang 'r' ?"


"Ayah aja yang nggak peka, padahal anak sendiri! Sekarang dia lebih cocok jadi anaknya Bang Qian sama Bang Erik, hahahaha ..." Ray tergelak.


"Dia anak Ayah, kamu juga anak Ayah! Nggak ada yang boleh ngambil anak Ayah!"


Lupakan dengan Arnold yang bersungut-sungut, Ren masih menjadi korban pelukan Qian. Dafi dulu, mengucap huruf itu memang menjadi kelemahan Ren. Sudah diajari berapa kali, tapi tidak kunjung membuahkan hasil.


"Ren mau apa? Nanti Abang Qian beliin ..."


"Ren mau Mama ... sebentar aja ..."


...🔹💠🔹...


"Senangnya dalam hati ... Kalau ber-suami dua ..." Rion menggelengkan kepalanya. Semakin hari semakin terlihat keanehan Nia dengan tingkah gesreknya. Ia jadi khawatir, kalau adiknya nanti akan jadi seperti mamanya, atau bahkan lebih dari itu.


"Ma, ngapain sih nyanyi-nyanyi nggak jelas? Kalau denger Papa—"


"Kenapa kalau denger Papa kamu?! Sering kok Mama nyanyi lagu ini di depan papamu!" Rion mengusap wajahnya. Ia tahu siapa papanya. Seorang yang dingin, dengan pemikiran yang sulit ditebak, dulu papanya sering marah kalau mamanya bersenandung dengan melibatkan nama laki-laki lain dalam liriknya, walau mamanya hanya bermaksud bercanda. Tapi kini, laki-laki itu nampak seperti suami yang takut istri. Misalnya saja, kemarin Nia menangis minta dibelikan mangga muda. Abra rela pergi pagi-pagi ke pasar untuk membelikan istrinya mangga, walau jelas kemarin Rion lihat papanya masih menggunakan piyama.


Sabar Pak, itu mau anakmu ...


"Oh iya Ma, tadi Papa pergi ke kantor. Ada urusan mendadak katanya ..."


Wanita itu punya firasat yang buruk. Tapi dia berusaha untuk menepis pikiran buruk itu. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Karena itu ia segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Rion kembali menjadi saksi orang yang tengah menahan sakit di perutnya, kemarin Rayuan sekarang Mamanya.


Dia melempar ponselnya ke sembarang tempat. Kemudian menyusul mamanya ke kamar mandi. Sekedar mengusap punggung Nia yang masih saja memuntahkan cairan dalam perutnya.


"Masih sakit, Ma? Mau Rion ambilin air hangat?" Rion mulai bertanya. Tapi dia hanya mendapatkan dehaman dari Nia yang kini mengusap bibirnya.


"Udah nggak apa-apa kok, Mama nggak apa-apa ..."


Rion bingung, tidak apa-apa yang mamanya maksud itu baik dalam arti sebenarnya atau...


"Mama mau tidur aja deh, ngantuk.kamu tidur juga ya?" Perlahan Nia beranjak dari tempatnya. Lengkap sudah kebingungan Rion, wanita itu penuh dengan rahasia.


...🔹💠🔹...


"Kamu mikirin apa lagi? Baru juga sembuh penyakitnya, udah jadi sadboy! Sini cerita sama Ayah." Arnold duduk di pinggir ranjang. Memperhatikan setiap gerak-gerik Ray yang terlihat kebingungan ingin melakukan apa. Remaja itu tersenyum tipis.


"Soal Ren tadi ..."

__ADS_1


"Kamu nggak usah berpikir yang enggak-enggak. Ayah nggak akan rela buat mempertemukan Ren sama ibunya. Enggak sampai wanita itu sadar akan kesalahannya."


"Ayah, kemarin ... aku ketemu sama Bunda ..." kata Ray lirih. Namun yang mampu dia tangkap adalah sendu yang anaknya pancarkan. Ada luka yang tersirat dalam pandangannya.


"Bunda bilang ... aku sudah tambah tinggi. Bunda bilang, kalau aku juga tambah dewasa ... tapi bukan itu yang aku mau. Aku cuma mau Bunda kembali, tapi seberapa banyak aku berdoa dan memohon sama Tuhan Bunda nggak akan pernah lagi kembali ke sini." Hati Arnold bergetar. Apa yang ia lakukan selama ini?! Ia tidak pernah tahu bahwa anaknya akan se-terluka ini ketika kehilangan ibunya. Arnold lah yang paling bersalah atas kepergian Raina. Andai saja dulu, ia tidak bertindak bodoh dengan menikahi wanita bernama Sasha mungkin Raina masih di sini bersama mereka. Membuat keluarga lengkap dan harmonis seperti yang Ray inginkan.


"Ayah ... ini sudah satu tahun ... tapi kenapa masih sakit ... Kenapa mengingat Bunda bisa sesakit ini ...? Aku nggak mau apa-apa ... aku cuma mau Bunda balik lagi ke sini ... nggak apa-apa tidak punya uang dan harta, yang penting Ray bisa sama Bunda ..."


"Cukup, Ray ... Ayah nggak bisa biarin kamu seperti ini. Ini salah Ayah! Ini salah Ayah sudah bodoh melepaskan kalian dalam waktu yang lama! Maafin Ayah ... maafin Ayah ... Ayah janji sekarang akan jagain kamu! Ayah janji nggak akan buat kamu terluka lagi!"


"Kalau begitu, biarin Ren ketemu sama ibunya!"


"Tapi—"


"Ayah nggak mau buat aku terluka, tapi sekarang dengan jelas Ayah buat hati anak kecil seperti Ren retak. Tante Sasha ibu kandungnya, dia berhak ketemu Ren." Arnold terdiam sebentar.


"Ini nggak ada hubungannya sama aku, Ayah nggak kasian liat Ren seperti itu?"


"Tapi, kamu nggak tahu—"


"Pertemukan Tante Sasha sama Ren, setelah itu terserah Ayah mau apa. Aku nggak bakal larang."


...🔹💠🔹...


Di sisi lain, seorang tengah berbicara dengan orang di sebrang telepon. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya. Keduanya berdebat hingga kadang mengeluarkan umpatan.


"Aku bodoh emang! Sekarang aku cuma mau anak aku, Mas! Aku kira kalau dia nggak nada, aku bisa bebas ngapain aja. Bisa senang melakukan apa yang aku mau. Tapi nyatanya, tanpa dia aku yang nggak bisa apa-apa ..." Wanita itu menyeka wajahnya. Sudah beberapa kali meneteskan air mata, tapi ia berusaha untuk tetap kuat.


"Berhenti bicara omong kosong! Kamu nggak pernah peduli dengan anak kamu sendiri! Kamu cuma wanita egois yang selalu menuruti apa yang kamu mau tanpa memikirkan orang lain! Sekarang anak kamu sudah berada di tempat yang aman, di tempat di mana ia selaku dijaga dan diperhatikan. Kamu tidak perlu khawatir."


"Aku janji nggak akan lukain siapapun, aku janji nggak akan melibatkan orang lain ... termasuk Rayyan! Aku nggak akan lakuin apa-apa sama dia! Aku mau ketemu sama anak aku ..."


"Kamu wanita nggak tahu malu, setelah membuat Arnold meninggalkan Raina dan berusaha membunuh anaknya sekarang kamu minta lebih?! Dulu kamu nggak bisa jaga anak kamu sendirian, kamu bahkan berusaha untuk melukai anak sekecil dia dengan pukulan—"


"Tapi waktu itu aku nggak bermaksud—"


"Tapi niat kamu yang dibilang 'nggak bermaksud' itu hampir buat dia celaka! Kalau saja nggak ada aku yang menabanmu waktu itu dan jika saja Arnold tidak bercerai denganmu, aku yakin anakmu nggak akan bisa hidup lama!" Wanita itu terisak. Terduduk karena tidak lagi mampu menahan tubuhnya yang begitu lemas mendengar pernyataan orang di seberang sana.


"Aku akan berubah, Mas. Aku janji ... sekarang biarkan aku ketemu sama Renan ..."


...🔹💠🔹...

__ADS_1



__ADS_2